
Nio dengan langkah cepat dan terlihat gusar terus saja melangkah keluar dari kamarnya, ia berniat ingin menghindari Sonia untuk sejenak sembari ingin menenangkan pikirannya yang kembali jadi tidak menentu.
"Haissh!! Kenapa bayang-bayang wanita itu masih saja terus mengusikku, bahkan karenanya aku hampir saja melakukannya lagi dengan Sonia." Gerutu Nio dengan suara pelan seorang diri.
Namun ketika melintasi ruang bersantai, tiba-tiba saja Rudy menghentikan langkah Nio.
"Nio? Ada apa denganmu? Kenapa sepertinya kau nampak begitu gundah?"
Nio pun sedikit terkejut saat menyadari keberadaan Rudy yang sudah terduduk seorang diri di sebuah sofa dengan selembar koran di tangannya.
"Owh pa?? Hmm tidak, aku hanya..."
"Kemarilah Nio, duduk disini sebentar!"
Nio pun terdiam sejenak, dan akhirnya mau tak mau mulai duduk di samping Rudy.
"Ada apa?" Tanyanya."
"Kamu sudah lulus sekarang, bagaimana perasaanmu?" Tanya Rudy berbasa basi.
"Cukup lega!"
"Hmm itu sudah pasti hehe." Rudy pun tersenyum.
"Lalu, apa kamu ada memikirkan tanggal yang pas untuk melangsungkan pertunangan dengan Sonia?"
"Tunangan??"
"Ya, bukankah kalian akan bertunangan lebih dulu, tidak lama setelahnya baru langsung menikah??"
Nio pun lagi-lagi terdiam, sungguh ia benar-benar tidak punya persiapan sama sekali untuk hal itu, bahkan sejujurnya, untuk saat itu ia justru tidak ingin membahas hal itu dulu.
"Nio, papa pikir kau sudah setuju untuk menikah dengan Sonia, kalian juga sudah nampak semakin dekat sekarang, bukankah begitu?"
"Pa, bisakah kita membahas ini nanti saja?? Mak,, maksudku, saat ini kita sedang liburan, jadi aku ingin menikmati waktu liburan ini dengan tenang tanpa harus membahas hal yang sangat serius."
"Oh sure. Maafkan papa sebelumnya jika hal itu mengganggumu, kita akan membahasnya nanti saja saat di rumah."
"Iya pa, begitu lebih baik." Nio pun tersenyum singkat.
Rudy pun ikut kembali tersenyum dan menepuk singkat pundak Nio.
"Aku ingin menyegarkan otakku yang sebelumnya banyak dipaksa untuk berpikir saat proses skripsi dan sidang, jadi aku mau berkeliling menikmati udara segar." Ungkap Nio yang langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Owh ok, apa kamu tidak mengajak Sonia untuk ikut bersamamu?"
"Aku butuh menyendiri untuk sejenak pa, biarkan Sonia beristirahat."
"Hmm baiklah, take your time son."
"Thanks pa."
Nio pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari Villa, ia berjalan dengan tenang menuju sungai yang keberadaannya tepat di belakang bangunan Villa itu. Namun sepertinya semesta seolah sudah mengatur agar Nio kembali dipertemukan dengan Rena di situasi yang berbeda, dimana hanya ada mereka berdua di tempat itu.
Secara kebetulan, Rena saat itu juga terlihat berdiri seorang diri, ia berdiam diri di tepi sungai seolah terlihat sedang begitu menikmati suasana, dimana suara aliran air sungai yang cukup deras, benar-benar mampu menenangkan pikirannya.
Nio pun seketika menghentikan langkahnya saat mendapati punggung wanita yang tentu saja sangat ia kenal. Rena yang merasa seperti mendengar suara langkah seseorang di atas batuan krikil, sontak membalikkan badannya dan langsung membulatkan kedua matanya saat mendapati adanya sosok Nio yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Sorry, aku tidak tau kamu ada disini, aku akan pergi!" Ucap Nio pelan yang kemudian langsung bersiap untuk melangkah pergi.
Namun ucapan Rena seketika menghentikan langkah Nio.
"Tidak perlu!" Ucap Rena.
Nio pun kembali menoleh ke arahnya dengan wajah yang masih nampak datar, tidak ada senyuman seperti biasanya, kala memandang wajah Rena saat itu.
"Kamu tidak perlu melakukannya! Aku sudah selesai disini, jadi akulah yang akan pergi!" Tambah Rena lagi yang kemudian langsung melangkah,
Ia terus melangkah melewati Nio yang kala itu masih terdiam memandanginya, namun entah hal apa yang kala itu ada dipikiran Nio hingga secara spontan ia menahan tangan Rena.
"Tunggu!" Ucap Nio pelan dengan tatapan yang begitu lekat menatap wanita yang hingga saat itu masih sering menghantui pikiran dan hatinya.
"Ada apa?" Tanya Rena yang seolah enggan menatap mata Nio.
"Sampai kapan kita akan terus bersikap seperti ini?" Tanya Nio.
"Maksudmu?" Rena pun seketika mengernyitkan dahinya.
"Bersikap layaknya dua orang yang tidak pernah saling mengenal satu sama lain, bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita."
"Hmm bukankah kamu yang memulai bersikap dingin padaku??"
"Ya ku akui, hal itu kulakukan karena aku sangat kecewa padamu dan ingin segera melupakanmu!" Ungkap Nio.
"Ya, aku mengerti, dan aku senang sekarang usahamu untuk melupakanku akhirnya berhasil." Rena pun mencoba menampilkan senyuman yang terlihat begitu tenang.
"Berhasil?? Hmm." Nio pun seketika mendengus pelan dan tersenyum lirih.
"Ya, hal itu jelas terlihat bagaimana dekatnya kamu sekarang dengan calon istrimu."
__ADS_1
Nio pun terdiam sejenak dan kembali menatap Rena dengan tatapan yang tidak biasa.
"Rena," panggilnya.
Rena tidak menjawab, namun sorot matanya seketika langsung menatap ke arah kedua mata Nio.
"Boleh aku minta kejujuranmu tentang satu hal?"
"Apa?"
"Apa,, kamu benar-benar sudah melupakan aku?" Tanya Nio tiba-tiba.
*Degg*
Mendapat pertanyaan seperti itu sontak membuat Rena seketika menelan ludahnya, perasaan gugup pun kini mulai menjalar begitu saja menyelimuti seluruh bagian tubuhnya.
"Ap,, apa maksudmu menanyakan hal itu sekarang?"
"Tolong jawab saja, apa,,, apa kamu tidak pernah sekalipun merindukan aku??" Tanya Nio lagi yang seolah penuh harap.
"Jadi,, kamu minta sebuah kejujuranku saat ini??" Tanya Rena lagi.
Nio pun mengangguk pelan.
"Hmm baiklah, karena aku harus jujur, maka jawabannya adalah,,, aku, saat ini, sangat merindukanmu!" Ungkap Rena dengan kedua mata yang mendadak nampak berkaca-kaca.
Mata Nio seketika nampak sedikit membesar saat mendengar hal itu,
"Rena, apa kau tau hingga detik ini aku masih terus berusaha mati-matian agar aku bisa membencimu?? Tapi, semua usahaku nampaknya tidak membuahkan hasil bahkan tidak sedikit pun berhasil!!"
"Nio, kenapa kamu harus mengatakan hal ini disaat kita sepertinya sudah sama-sama sepakat untuk tidak saling mengusik satu sama lain?" Tanya Rena yang tatapannya mulai terlihat sendu.
"Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku saat ini, kamu tau setiap hari aku merasakan dadaku seakan terasa sesak setiap kali aku melihatmu, namun sudah tidak bisa lagi memelukmu seperti dulu."
Rena pun hanya diam dan mulai menundukkan kepalanya dengan air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.
"Rena, kenapa kamu menangis??"
Namun Rena masih diam sembari langsung menyeka air matanya.
"Rena?? Katakan sesuatu, kenapa kamu menangis?"
"Ya, aku menangis karena hingga detik ini aku juga merasakan hal yang sama!!" Ungkap Rena secara spontan.
Lagi-lagi Nio pun tercengang, namun seketika ia tersenyum lirih dan tanpa berkata apapun lagi, ia pun langsung saja mendekati Rena dan seketika mengecup bibir mungilnya begitu saja selama beberapa detik lamanya.
__ADS_1
...Bersambung......