Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Hanya berdua


__ADS_3

"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku, bukankah aku ini hanya ibu tirimu?"


"Hmm, kalau begitu maafkan aku ibu." Ucap Nio menggoda Rena.


Mendengar hal itu, Rena pun seketika menoleh ke arah Nio dan menatapnya dengan tatapan seolah tidak senang.


Nio yang melihat hal itu pun akhirnya terkekeh geli dan kembali mengeratkan pelukannya,


"Hehehe iya, iya maaf sayang. Maafkan aku, ya?" Rayu Nio lagi.


Rena hanya mendengus pelan dan melanjutkan aktivitasnya dalam mencuci piring. Hal itu pun membuat Nio akhirnya mulai merengek layaknya anak kecil saat tidak diperdulikan oleh Rena.


"Haaisshh sayangggg,, kamu masih marah karena hal itu? Kalau sikap Sonia begitu membuatmu kesal, kenapa kamu tidak langsung memarahinya saja?? Kenapa selalu melampiaskannya ke aku?"


Rena tetap saja diam.


"Nah kan, padahal sebelumnya kamu sendiri yang menyarankannya untuk menginap disini, sekarang kamu merasa kesal dan cemburu karena sikap berlebihannya, tapi malah aku yang jadi korbannya." Tambah Nio lagi.


"Benar juga, seharusnya aku tidak perlu bersikap begini pada Nio, bukankah ini memang salahku yang menyuruh Sonia untuk menginap disini. Lagi pula, hari ini adalah hari ulang tahun Nio, sangat tidak pantas rasanya jika aku justru bersikap dingin di hari specialnya." Gumam Rena dalam hati.


Rena pun akhirnya menghela nafas panjang dan kembali menatap Nio dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya,


"Menurutmu, apa aku bisa tahan lama-lama marah denganmu saat kamu bersikap seperti ini padaku?" Tanya Rena yang akhirnya mulai menampilkan sebuah senyuman.


Nio yang melihat hal itu pun seketika ikut tersenyum lebar.


"Jadi kamu tidak marah lagi?"


Rena pun menggelengkan pelan kepalanya.


"Aaaaah terima kasih sayang." Nio yang senang, akhirnya kembali mencium dahi serta pipi Rena.


"Apa hari ini kamu kuliah?"


"No!." Nio pun menggeleng singkat.


"Hari ini tidak ada kelas, tapi besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan karena jadwal penuh."


"Benarkah??"


"Iya, maka dari itu aku butuh semangat darimu untuk besok."


"Caranya?"

__ADS_1


"Bukankah di rumah ini hanya ada kita berdua??" Tanya Nio lagi dengan cara setengah berbisik.


"Iya, lalu?" Rena pun mulai tersenyum penuh tanda tanya.


Nio pun tersenyum, lalu perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Rena.


"Kamu pasti paham apa maksudku." Bisik Nio pelan, lalu mulai mencium singkat bibir Rena.


Rena pun semakin tersenyum, lalu mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Nio.


"Haruskah kita melakukannya disini?" Tanya Rena yang juga setengah berbisik.


Hal itu membuat Nio semakin mengembangkan senyumannya.


"Why not?" Jawabnya yang kemudian langsung menyambar bibir Rena lagi.


Nio mengangkat tubuh Rena, kali ini ia mendudukkannya di atas meja makan, kedua bibir mereka kembali bertautan dengan hembusan nafas yang seolah saling beradu dan saling memburu.


Tangan Nio yang liar mulai meraba-raba paha mulus Rena, lalu beralih menuju gundukan dagingnya dan mulai mremasnyaa hingga membuat Rena mulai melenguh dengan kedua mata yang terpejam,


"Nio, kita tidak seharusnya melakukannya disini." Ucap Rena dengan nafas yang mulai terengah di sela-sela ciuman hangat mereka.


"Kenapa tidak? Tidak ada siapapun disini!" Jawab Nio yang kala itu terus asyik menciumi leher serta rahang Rena.


"Aku ingin memiliki moment denganmu, di setiap bagian di rumah ini, aku yakin ini akan menjadi pengalaman pertama bagi kita berdua saat melakukannya di atas sini." Ungkap Nio yang kemudian kembali membungkam mulut Rena dengan lidahnya hingga Rena tak bisa berkata apapun lagi selain mengeluarkan suara lenguhan yang terdengar begitu merdu di indera pendengaran Nio.


Tanpa disadari pakaian yang sebelumnya berada di tubuh masing-masing, entah bagaimana bisa tercecer di lantai, kini tubuh Rena sudah dalam keadaan terbaring di atas meja, dengan Nio yang berdiri di antara kedua pahanya sembari terus menarik ulur keperkasaannya di bagian inti Rena.


Hingga entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan di meja makan, kini keduanya telah mencapai puncak kenikmatan bersama-sama dan dan terkulai lesu dengan saling memeluk satu sama lain.


"Entahlah, aku benar-benar sangat mencintaimu Rena!" Ucap Nio dengan nafas yang masih terengah.


Rena pun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Nio.


Waktu terus bergulir, kedua insan yang tengah di mabuk cinta itu benar-benar menikmati waktu berdua mereka di rumah itu. Tidak ada batasan, tidak ada sembunyi-sembunyi, mereka bahkan bebas melakukannya dimana pun mereka inginkan.


Siang itu, demi mengisi waktu kosong, Rena memutuskan untuk membuat kue bolu tart di dapur.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Nio yang kala itu sedang duduk bersantai di sebuah sofa yang ada di ruang Televisi.


"Aku ingin ke dapur, aku berpikir untuk membuatkan kue untukmu, kita berdua belum merayakan ulang tahunmu secara resmi kan?"


"Kamu sungguh ingin membuat kue itu sekarang?"

__ADS_1


Rena pun mengangguk.


"Hmm baiklah, biarkan aku membantumu." Nio pun akhirnya bangkit dari duduknya.


"Ah tidak perlu, kamu bersantai saja lah disitu, tidak perlu repot-repot membantuku."


"Tidak apa-apa, aku tidak pernah merasa repot jika melakukan sesuatu bersamamu." Jawab Nio yang tersenyum sembari mulai merangkul Rena dan mengajaknya melangkah bersama menuju dapur.


"Kamu yakin ingin membantu?"


"Tentu saja," Nio pun mengangguk penuh keyakinan.


"Hmm baiklah." Rena pun menghela nafas dan tersenyum.


Lalu mulai menyiapkan segala bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue itu. Nio yang sebelumnya tidak pernah punya pengalaman apapun dalam hal memasak apalagi membuat kue, hanya bisa mengikuti segala arahan dari Rena dalam melakukan sesuatu, contohnya ketika ia membantu memixer telur dan tepung.


"Apa ini sudah?" Tanya Nio yang memang sama sekali tidak paham apapun.


"Belum, mixer lagi!"


"Tapi ini sudah tercampur rata."


"Iya, tampi adonannya belum mengembang!"


"Bagaimana mengetahui jika ini sudah mengembang atau belum?" Tanya Nio lagi yang terlihat semakin bingung.


Rena pun hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, lalu kemudian langsung mengambil alih wadah itu dari tangan Nio.


"Sini, biar aku saja."


"Jangan, kita lakukan bersama saja!" Jawab Nio yang kembali berdiri di belakang Rena dan mulai memegang tangannya.



Rena pun hanya bisa tersenyum lebar, begitu pula dengan Nio, memasak kue benar-benar menjadi pengalaman yang baru baginya, dan juga menjadi pengalaman yang begitu menyenangkan saat melakukannya bersama dengan wanita yang begitu ia cintai, Rena.


Begitu pula dengan Rena, senyuman kegembiraan juga terus terpancar dari wajahnya selama proses membuat kue bersama dengan Nio. Tak jarang pula tingkah lucu Nio saat itu turut membuatnya jadi terkekeh geli, di tambah pula saat melihat ada bercak tepung yang mengotori wajah tampannya, juga turut mengundang gelak tawa bagi Rena.


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Nio sembari mengerutkan dahinya.


"Hahaha, lihatlah wajahmu, penuh dengan tepung hahaha. Bagaimana bisa tepung-tepung itu beralih ke wajahmu ha? Hahhaa." Ungkap Rena yang terus tertawa.


Nio yang tak terima di ejek, akhirnya memutuskan untuk membalasnya dengan cara mengambil tepung di salah satu wadah, lalu menyapukannya ke wajah Rena.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2