
Nio, dengan perlahan tapi pasti, semakin mendekati wajahnya pada Rena, Rena pun saat itu hanya terdiam seolah sedang menantikan hal apa yang akan dilakukan Nio padanya. Dan tanpa berkata sepatah katapun lagi, Nio pun langsung mengecup lembut bibir Rena.
Lalu, perlahan mulai meluumattnya dengan gerakan sangat pelan. Kedua mata Rena dibuat mulai terpejam, menikmat sentuhan bibir Nio yang terasa begitu lembut.
Tak lama, Nio kembali melepaskan tautan bibir mereka, ia tersenyum memandangi wajah Rena yang saat itu terlihat begitu natural tanpa polesan make up.
"Aku berjanji, tidak akan melakukan hal-hal yang sekiranya bisa melukaimu, Rena!" Ucap Nio lembut sembari terus mengusap lembut pipi Rena yang basah.
Rena pun hanya mengangguk, lalu kembali tersenyum, membuat Nio semakin mengembangkan senyumannya dan kembali melahap bibir Rena. Ciuman yang lembut perlahan berubah menjadi penuh tuntutan, membuat Rena kembali memejamkan matanya dan membuka lebar mulutnya demi membiarkan lidah Nio bisa leluasa menjelajahi isi dalam rongga mulutnya.
Ternyata Nio benar-benar membuktikan ucapannya pada Rena, rasa dingin yang sebelumnya dirasakan seolah menusuk tulang, kini seakan tak terasakan lagi, bahkan saat ini hanya perasaan hangat lah yang mulai menjalar ke seluruh tubuh Rena saat bercumbu dengan Nio di tengah alam bebas.
Rena semakin terbuai dan tentu saja tidak mau kalah dalam membalas ciuman maut Nio. Bahkan kedua tangannya saat ini mulai menguasai leher Nio.
"Kita bisa melakukannya disini jika kamu menginginkannya, hanya kalau kamu menginginkannya!" Ucap Nio di sela-sela ciuman hangat mereka.
"Aku mau!" Jawab Rena yang langsung mengangguk cepat, seolah seperti sudah tidak bisa menahannya lagi.
Nio pun tersenyum lebar, lalu mengajak Rena berenang ke tepian kolam. Rena menyandarkan tubuhnya di bebatuan berukuran cukup besar yang seolah tersebar di pinggiran kolam ini. Lalu Nio mendekatinya lagi dan kembali menyambar bibirnya untuk kesekian kalinya. Tanpa perlu menunggu lama, kedua tangan Nio sudah bergerak menuju punggung rena, melepaskan kawat pengait pada bra Rena, nampaknya Nio sudah semakin lihai dalam melakukan hal itu.
Kedua mata Rena kembali terpejam, dengan kepala yang mulai terdongak ke arah langit yang cerah saat Nio mulai menguasai serta memainkan gundukan daging miliknya. Nafas Rena mulai terengah, hawa panas semakin menguasai dirinya, Rena tak terkendali, begitu pula dengan Nio yang tengah dimabuk cinta.
Bebatuan besar yang ada di tepi kolam, menjadi saksi bisu bagaimana kedua insan itu yang terus saling mencumbu satu sama lain. Nio tak peduli apapun lagi yang ada di sekitarnya, yang ia tau adalah jika saat itu Rena adalah miliknya, miliknya seorang.
"Aaaghhh!!" Erangan Rena kembali mengalun indah saat Nio akhirnya mulai menerobos bagian intinya yang sejak tadi mulai basah karena gairah.
Nio benar-benar menguasai permainan pada saat itu, menguasai tubuh Rena di bawah kendalinya. Entah sudah berapa lama mereka bercinta di tepi kolam, kini dengan kedua nafas yang terengah seolah saling bersahut-sahutan, Nio pun kembali mengusap lembut wajah Rena.
"Aku benar-benar semakin candu padamu, Rena. Jika sudah begini, aku bisa apa?" Ungkap Nio lembut.
__ADS_1
Rena hanya tersenyum.
"Dari semua lelaki yang pernah dekat denganku, kamu sangat berbeda Nio. Terima kasih sudah mencintaiku." Ucap Rena tak kalah lembut.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Rena. Terima kasih karena kamu bersedia menjalani hubungan yang rumit ini bersamaku."
Rena tak kuasa menahan haru, ia pun langsung memeluk erat tubuh kokoh Nio.
Beberapa saat berlalu, Rena dan Nio akhirnya naik untuk kembali ke area rerumputan? Tempat dimana mereka menanggalkan pakaian mereka.
"Jadi kamu tidak mau memakai bajuku?" Tanya Nio sesaat setelah mereka kembali ke tempat piknik.
"Tidak usah, lagi pula bajuku tidak basah. Hanya saja..." Ucapan Rena seketika terhenti saat ia memandangi pakaian dalamnya yang sudah terlihat basah kuyup.
Nio yang mengerti hal itu pun sontak kembali tersenyum bahkan terkekeh pelan.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Rena yang merasa sedikit bingung.
"Hmm, ya sudah, aku bisa tetap memakainya walaupun basah." Ucap Rena enteng sembari mulai meraih pakaiannya.
"Jangan! Aku tidak mau kamu masuk angin!" Cegah Nio yang nampak cemas.
"Lalu bagaimana? Apa kamu punya solusi lain?" Tanya Rena sembari mengangkat kedua alisnya.
Nio pun lagi-lagi tersenyum, lalu kembali mendekati Rena untuk berbisik padanya,
"Kamu bisa saja tidak memakainya, ya kan Rena?" Bisik Nio tepat di telinga Rena.
Hal itu membuat Rena seketika jadi mendengus dan tersenyum.
"Jadi maksudmu aku harus pulang hanya menggunakan dress dan cardigan ini saja? Tanpa menggunakan dalaman? Begitu??"
"Bukankah itu bisa saja terjadi?"
__ADS_1
"Dasar mesum!!" Rena pun sontak langsung memukul lengan Nio.
"Hehehe aku mesum hanya denganmu!"
Rena pun terus tertawa pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi akan sangat risih rasanya kalau tidak memakai pakaian dalam. Jadi biar saja aku tetap memakainya. Bukankah setelah ini kita akan langsung pulang?"
"Hmm ya, memang kita sudah mau pulang. Lihat lah langitnya mulai gelap, sepertinya sebentar lagi akan hujan, dan akan sangat tidak baik kalau hujan turun, tapi kita masih di area hutan pinus ini."
"Kenapa begitu?"
"Karena jalanannya akan jadi sangat licin dan berlumpur, akan sulit mengendarai mobil di kondisi jalan licin berlumpur, di tambah jalanannya uang menanjak."
"Ohhh." Rena pun mengangguk tanda mengerti.
"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita berpakaian sekarang agar bisa langsung beres-beres." Tambah Rena lagi.
"Ok." Niopun mengangguk tanda setuju.
Beberapa puluh menit berlalu, Rena dan Nio akhirnya kembali ke mobil dan siap untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, Rena terus bersandar manja di pundak Nio, Nio sama sekali tidak terganggu akan hal itu, justru ia begitu menyukai prilaku Rena yang terlihat manja itu.
Untung saja, hujan turun disaat mereka telah keluar dari kawasan hutan pinus yang jalanannya belum di aspal. Hujan turun dengan sangat lebat, beberapa kali petir juga terdengar begitu menggelegar hingga membuat Rena sedikit ketakutan.
"Kamu kenapa Rena? Kamu takut petir??" Tanya Nio saat Rena sontak menyembunyikan kepalanya di balik kedua tangannya saat petir dan kilat muncul,
"Ya, aku sangat takut dengan petir, dari kecil sudah begitu, dulu setiap kali ada petir yang begitu menggelegar seperti sekarang ini, aku pasti selalu menangis."
"Kalau kamu takut, kamu bisa bersembunyi di balik pundakku."
"Jangan, kamu harus fokus mengemudi, hujannya sangat deras, bahkan disertai angin kencang, jalanan juga jadi kurang terlihat jelas, jadi kamu fokus saja menyetir, jangan terlalu memikirkan aku." Ungkap Rena.
...Bersambung......
__ADS_1