Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menghibur diri


__ADS_3

Lagi-lagi Nio mendengus pelan.


"Rambut sama hitam Rena, tapi hati seseorang siapa yang tau??" Ucap Nio sinis.


"Oh ok, kalau begitu hiduplah bersama pemikiranmu sendiri!!" Ucap Rena yang juga mulai menggeram.


"Owh! Jadi benar, kamu bahkan tidak sanggup untuk membantah segala ucapanku Rena!! Jadi benar kamu masih memiliki perasaan pada lelaki itu?? Itulah sebabnya kamu langsung melepaskan pelukanmu dariku dan melarangku untuk menghajarnya bahkan disaat lelaki itu berkata tak senonoh padamu??" Nio pun nampak semakin emosi tak terkendali.


"Percuma aku membantahnya kalau kamu sudah punya pemikiran seperti itu, kamu tidak akan mempercayaiku!"


"Ok fine, fine!! Bahkan sekarang pun kamu masih tidak bisa memberi penjelasan apapun padaku. Maka ku anggap semuanya benar!! Thank you!!!" Nio pun langsung keluar begitu saja dari kamar Rena dan menutup pintu itu dengan sedikit kasar.


Hal itu membuat Rena terdiam dan mulai meneteskan air matanya.


"Kenapa jadi begini?? Kenapa sulit sekali bagimu untuk mengendalikan emosi jika menyangkut laki-laki lain?" Gumam Rena lirih dalam hati.


Sedangkan Nio, dengan langkah cepat langsung masuk ke kamarnya dan kembali membanting pintunya. Dengan kasar ia menghempaskan jaket yang ia bawa ke atas sofa, dan langsung terduduk lesu dengan wajah yang masih nampak memerah karena amarah dan rasa cemburu yang tidak terkendali.


"Kenapa Rena?? Kenapa?? Kenapa kau begitu kejam padaku yang benar-benar mengasihimu." Gumamnya kesal dalam hati.


Nio benar-benar di landa frustasi hari itu, perasaan bahagia yang sebelumnya ia rasakan seolah sirna begitu saja ditelan oleh perasaan emosi dan cemburu. Entah bagaimana bisa terjadi, namun bayang-bayang Rena yang tengah bercinta dengan lelaki itu dengan begitu ganasnya benar-benar mengganggu pikirannya saat itu.


Nio mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan cara mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, ia terdiam, tertunduk mendengarkan lagu itu dengan kedua mata yang mulai ia pejamkan.



Namun yang malah terjadi justru tidak sesuai keinginannya, bayang-bayang itu kembali terlintas sesaat ketika ia memejamkan mata hingga dengan spontan Nio berteriak sembari langsung melempar kasar earphone yang sebelumnya ia gunakan ke sembarang arah.


"Aaaghhhh!!!!"


*Bruuakkk*


Nio semakin merasa tertekan hingga memutuskan untuk kembali keluar rumah, melajukan mobilnya dengan sangat cepat tanpa tujuan yang pasti. Rena yang mendengar suara mobil Nio, hanya bisa terdiam pasrah memandangi ke arah balkon kamarnya.


Nio yang tidak memiliki arah tujuan, akhirnya memutuskan untuk pergi ke kampusnya, meskipun saat itu sedang tidak ada kelas, namun ia berniat untuk mengunjungi perpustakaan kampusnya untuk mencari beberapa buku yang bisa ia baca agar amarahnya bisa teralihkan.


Nio memarkirkan mobilnya di tempat biasa ia memarkirkan mobilnya, lalu mulai melangkah dengan tatapan nanar untuk langsung menuju ke perpustakaan yang jaraknya sedikit jauh bila dari parkiran mobil.


Siapa sangka, di tengah jalan ia berpapasan dengan Sonia yang saat itu langsung menyapanya dengan ramah.


"Nio?? Kamu disini?"


"Sonia?"

__ADS_1


"Kenapa kamu ke kampus disaat tidak ada kelas?" Tanya Sonia yang tersenyum sedikit bingung.


"Hmm tidak apa, hanya sedang bosan dirumah."


"Owhh." Sonia pun mengangguk singkat.


"Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu bisa disini disaat tidak ada kelas?"


"Owh iya, aku ingin ke perpustakaan, ingin memulangkan buku yang beberapa hari lalu ku pinjam untuk skripsiku."


"Wah kenapa bisa kebetulan sekali?" Celetuk Nio sembari tersenyum tipis serta mendengus pelan.


"Kebetulan?? Apanya yang kebetulan?"


"Aku juga ingin ke perpustakaan!"


"Oh ya? Aaah ya sudah, kalau begitu kenapa kita tidak datang kesana bersama??" Ajak Sonia menawarkan.


"Hmm boleh, kenapa tidak?" Nio pun tersenyum singkat dan mulai kembali melanjutkan langkahnya.


Sonia pun tersenyum lebar dan akhirnya ikut melangkah di samping Nio. Mereka memasuki perpustakaan yang sangat luas itu, yang kebetulan saat itu perpustakaan itu tidak terlalu ramai.


"Kalau begitu aku ingin berkeliling dulu mencari buku." Ucap Nio yang langsung melangkah memasuki lorong-lorong rak buku yang begitu panjang.


"Hai." Sapa Sonia saat berhasil menemukan Nio yang kala itu tengah berada di salah satu lorong di antara rak buku.


"Oh hai, sudah selesai memulangkan buku?" Tanya Nio dengan tenang.


"Sudah hehehe."


"Lalu, apa kamu juga akan mencari buku lain?"


"Iya bisa di bilang begitu,"


"Ok, aku tidak akan mengganggu konsentrasimu dalam mencari buku." Jawab Nio yang tersenyum tipis.


Melihat senyuman Nio lagi-lagi membuat perasaan Sonia kembali bergejolak, senyuman Nio yang begitu berkharisma benar-benar sudah memikat hatinya dan begitu sulit untuk dilupakan begitu saja, terlebih Sonia yang sudah merasakan bagaimana perkasanya Nio saat di ranjang, hal itu jugalah yang membuatnya semakin sulit untuk berpaling begitu saja, meskipun di sekitarnya masih saja ada banyak lelaki yang dekat dengannya, namun tetap Nio yang menjadi target utamanya.


Setelah satu jam berkeliling, Nio akhirnya mulai putus asa karena benar-benar tidak bisa menemukan satu buku pun yang sesuai moodnya hari itu untuk dibaca. Ia pun menghela nafas kasar dan membuat Sonia yang berada di dekatnya kembali mengerutkan dahi.


"Nio, jujur saja, apa kamu sedang ada masalah? Karena kuperhatikan sejak tadi kamu terlihat gelisah."


"Sejujurnya iya, tapi aku tidak bisa memberitahukan padamu apa masalahnya, anggap saja ini privasi."

__ADS_1


"Hmm jadi benar tebakanku?? Lalu jika ada masalah kenapa malah lari ke perpustakaan?"


"Ya kamu benar, seharusnya aku tidak kesini dan membuang banyak waktu, terbukti hingga saat ini tidak ada satu bukupun yang menarik bagiku untuk dibaca." Jawab Nio sembari tersenyum lirih.


"Hmm kalau begitu, ayo kita menghibur diri, kebetulan aku juga sedikit stress belakangan ini karena skripsiku."


"Menghibur diri??" Nio lagi-lagi mendengus pelan sembari melirik ke arah Sonia dengan menaikkan sebelah alis matanya.


"Iya, kamu tau ada beer house yang baru buka tidak jauh dari kampus kita?"


"Tidak, aku tidak tau."


"Haish, bagaimana bisa kamu tidak tau! Hmm bagusnya beer house itu buka di siang hari, mau kesana?"


"Hmm bukan ide yang buruk,"


"Hmm ayo kita bisa minum sepuasnya untuk melampiaskan segala rasa stress ini, kali ini aki yang traktir." Ungkap Sonia dengan bersemangat.


"Tidak perlu, aku masih punya cukup uang jika hanya untuk membayar semua minuman disana."


"Haishh kesombonganmu kali ini sangat aku sukai." Sonia pun kembali tersenyum.


"Kita pergi sekarang??"


"Ahh ayo," Sonia pun langsung menarik tangan Nio begitu saja untuk keluar dari perpustakaan.


Sesampainya di beer house mereka mulai memesan sebotol minuman berjenis vodka dan mulai meminumnya bersama. Siang itu beer house juga tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang datang karena biasanya beer house akan ramai di malam hari.


Berhasil menghabiskan setengah mobil dan diminum hanya berdua, sudah cukup membuat wajah Nio mulai memerah karena mulai mabuk meskipun masih bisa mengendalikannya.


Ia memandangi Sonia yang kala itu ada di hadapannya yang tengah asyik meneguk minumannya seolah tanpa beban,


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu mulai menyukaiku saat ini ha?" Tanya Sonia sembari tersenyum,


Nio pun hanya mendengus pelan ia tersenyum tipis sembari menggelengkan pelan kepalanya,


"Bukan, bukan itu." Jawabnya,


"Lalu??"


"Aku justru sedang bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa menyukaimu saja? Kenapa aku harus memilih kisah cinta yang rumit?" Ungkap Nio yang mulai merasa begitu ringan untuk mengungkapkan isi hatinya saat mulai mabuk.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2