Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Piknik


__ADS_3

Akhirnya kedua mata Rena nampak begitu membulat sempurna ketika disuguhkan oleh pemandangan alam yang begitu indah di tengah hutan. Dimana di tengah hutan pinus itu, terdapat hamparan rerumputan yang cukup luas, lalu di tengah-tengahnya terdapat sebuah air terjun yang begitu indah beserta sebuah kolam yang menjadi tempat penampungan air terjut tersebut,


"Waahhh, tempat apa ini? Indah sekali." Celetuk Rena yang nampak berdecak kagum saat memandangi pemandangan yang begitu indah di depan matanya.


"Selamat datang di tempat favoritku." Ucap Nio sembari tersenyum.


Rena pun terus melangkah mendekati kolam yang airnya terlihat begitu bening dan terus beriak akibat jatuhan air terjun yang tiada hentinya.


"Jangan terlalu dekat jika kamu tidak ingin basah." Ucap Nio santai.


Benar saja, masih beberapa meter berdiri tak jauh dari tepi kolam, tempiasan dari air terjun yang begitu deras sudah mulai terasa melembabkan tubuh Rena.


"Gimana, apa kamu suka tempat ini?"


"Suka! Aku suka sekali tempat ini, ini sungguh di luar ekspektasiku." Jawab Rena sembari tersenyum begitu sumringah.


"Syukurlah, aku jadi ikut senang."


"Terima kasih Antonio, terima kasih sudah mau membawaku ke tempat yang sangat indah ini." Ungkap Rena yang kemudian mulai memeluk hangat tubuh Nio.


"Tidak perlu berterima kasih, misiku saat ini adalah membuatmu merasa bahagia saat bersamaku." Jawab Nio yang langsung membalas pelukan Rena.


Rena pun akhirnya tersenyum dan mulai melepaskan tautan tubuh mereka,


"Sebaiknya jangan terlalu lama berdiri disini, karena nanti kamu akan basah terkena tempias air terjun." Nio pun segera menarik kembali tangan Rena.


Membawanya untuk sedikit menjauh, yaitu ke area rerumputan hijau.


"Oh sial!! Aku melupakan sesuatu!!" Celetuk Nio sembari menepuk jidatnya.


"Melupakan apa?" Tanya Rena sembari mengerutkan dahinya.


"Rena, kamu tunggulah disini dan jangan kemana-mana, ok?"


"Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Rena yang nampak sedikit cemas.


"Aku mau kembali ke mobil, ada beberapa barang yang ingin aku ambil."


"Biarkan aku ikut!"

__ADS_1


"Jangan! Nanti kamu kelelahan. Tenang saja, aku tidak akan lama! Lagi pula kamu juga tau jika perjalanan dari mobil menuju ke sini tidak terlalu jauh, yakan?" Jelas Nio sembari mengusap lembut kedua pipi Rena demi membuatnya tenang.


"Ok?"


Rena dengan wajah yang sedikit masam, akhirnya mulai menghela nafas singkat dan setuju.


"Hmm, ok!" Jawabnya dengan lesu.


"Ok, aku akan segera kembali." Nio pun tersenyum, ia mengecup singkat kening Rena, lalu langsung berlari untuk kembali ke area hutan pinus.


"Jangan lama-lama Nio!!" Teriak Rena lagi.


"Tidak akan!! Aku berjanji!" Jawab Nio yang juga berteriak sembari terus berlari.


Rena pun kembali memandangi indahnya air terjun, suasana disana benar-benar begitu asri, sangat alami, bahkan seolah seperti belum terjamah, sangat sepi, namun begitu menenangkan hati.


Dan benar saja, bahkan tidak sampai sepuluh menit, Nio sudah nampak muncul dari area hutan pinus, dengan langkah cepat ia terus berjalan menuju tempat dimana ia meninggalkan Rena.


Rena akhirnya bisa kembali tersenyum saat mendapati sosok lelaki yang ia cintai sudah kembali, namun dahinya nampak sedikit mengernyit, dengan sebuah senyuman yang terlihat seperti sedang merasa heran,


"Nio, kamu bawa apa itu?" Tanya Rena.


Dengan nafas yang sedikit terengah, Nio pun mulai meletakkan sebuah keranjang yang terbuat dari kayu yang dibawanya dari mobil ke atas rerumputan.


Lalu, dengan sigap mulai membuka kain penutup keranjang itu, dan mulai mengeluarkan satu persatu isi dari keranjang itu. Mulai dari kain yang akan digunakan sebagai alas mereka duduk, beberapa novel, bahkan berbagai macam makanan, mulai dari buah-buahan, snack-snack, hingga minuman.


Kedua mata Rena pun kembali membesar, senyumannya bahkan terlihat semakin ia kembangkan saat melihat barang yang di bawa Nio lagi-lagi diluar dugaannya.


"Ka,, kamu sungguh menyiapkan semua ini Nio??!" Tanya Rena seolah tak menyangka.


Nio pun tersenyum dan hanya mengangguk. Tanpa buang waktu, Nio mulai membentangkan kain bermotif kotak-kotak itu ke atas rumput, lalu menyusun beberapa novel yang ia bawa di atasnya, tak lupa berbagai buah-buahan juga ia tata sedemikian rupa, juga tak ketinggalan pula aneka cemilan, serta minuman, juga kian memperlengkap hidangan piknik mereka saat itu.


"Silahkan duduk tuan putri." Ucap Nio setelah semuanya selesai ia tata.


Rena pun tak kuasa menahan haru, seumur hidup belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh lelaki, bahkan itu juga kali pertamanya ia merasakan piknik di alam bebas seperti itu. Kedua mata Rena pun mulai nampak berkaca-kaca meskipun saat itu bibirnya nampak begitu tersenyum lebar.


"Niooo,,," Ucapnya yang bukan malah duduk sesuai arahan Nio, ia justru kembali menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Nio.


"Kamu benar-benar membuatku terharu, terima kasih."

__ADS_1


Nio pun ikut tersenyum sembari terus mengusap-usap punggung Rena.


"Apa setelah ini kamu akan semakin mencintaiku?" Tanya Nio yang kembali terkekeh pelan.


Rena pun perlahan melepaskan tautan tubuh mereka, lalu mulai menatap Nio dengan begitu lekat.


"I love you so much," Ucapnya lembut.


Nio lagi-lagi terus mengembangkan senyumannya, lalu mulai mencium singkat bibir mungil Rena.


"I love you more!" Jawabnya saat melepaskan tautan bibir mereka.


Nio menarik tangan Rena untuk membawanya duduk di tempat yang sudah ia siapkan.


"Aku masih tidak menyangka jika kamu benar-benar menyiapkan semua ini untuk hari ini. Dan kamu bahkan tidak memberitahuku juga soal ini."


"Kamu memang tidak perlu tau, kamu hanya perlu ikut saja denganku." Jawab Nio santai yang akhirnya ikut duduk di hadapan Rena.


Nio mulai membuka satu persatu cemilan yang ia bawa, mereka pun mulai mengobrol banyak hal sembari sesekali tertawa lepas. Ini pertama kalinya Nio nampak kembali bisa tertawa lepas, begitu pula dengan Rena yang sudah sangat lama tidak pernah tertawa selepas seperti saat ia dengan Nio seperti sekarang.


Rena bahkan tak ragu menyuapi Nio snack yang ia makan, begitu pula dengan Nio yang tidak mau kalah, juga ikut menyuapi Rena buah Cherry yang begitu ia sukai.



"Ayo ceritakan tentang hidupmu, Rena! Aku ingin mendengarnya." Ucap Nio lembut yang saat itu mulai duduk setengah berbaring.


Mendengar hal itu, Rena yan awalnya begitu sumringah, perlahan mulai menyembunyikan senyumannya.


"Memangnya apa yang ingin kamu tau tentang hidupku Nio? Sama sekali tidak ada yang menarik untuk diceritakan." Ungkap Rena pelan.


"Semuanya, aku ingin mendengar semuanya! Bagiku, semua yang berhubungan denganmu sangat menarik." Jawab Nio dengan tenang.


Rena pun mendengus pelan, lalu kembali tersenyum, namun senyuman itu terlihat sendu.


"Kamu tidak akan suka jika mendengar masa laluku, Nio."


"Biarkan aku mendengarnya dulu! suka atau tidak suka, biar kuputuskan nanti, setelah mendengarnya." Saat itu Nio masih bersikap begitu tenang, ia bahkan tetap menampilkan senyumannya yang menawan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2