
Hal itu membuat Nio jadi semakin tak menentu dan merasa gelisah.
"Astaga!! Dia pasti salah paham saat melihat Sonia memelukku tadi." Gumam Nio dalam hati.
Saat itu, Nio ingin sekali langsung berlari mengejar Rena untuk menjelaskan semuanya, karena ia benar-benar tidak ingin Rena jadi salah paham padanya, namun mengingat semua temannya berada di sana, tentu membuat gerakannya sedikit terbatas.
"Nio, berhubung aku datang terlambat, apa kamu tidak mau menyuapi kue ulang tahun ini untukku?" Tanya Sonia sembari menunjuk ke arah kue ulang tahun yang terletak di atas meja.
"Ah benar juga, Sonia sepertinya ingin memastikan jika kue yang ia beli rasanya enak." Celetuk salah satu temannya.
"Ayo Nio, suapi Sonia." Sorak beberapa temannya lagi.
Hal itu membuat Nio semakin bingung, namun akhirnya dengan terpaksa ia menyuapi Sonia demi menghargai pertemanan mereka. Sonia pun semakin mengembangkan senyumannya saat mengunyah kue ulang tahun yang disuapi oleh Nio. Lalu kemudian ia pun langsung mengambil alih sendok dan sepiring kue ulang tahun itu dari tangan Nio.
"Sekarang gantian ya, aku juga akan menyuapi orang yang berulang tahun hari ini." Ucap Sonia yang dengan semangat langsung mengarahkan sendok yang berisi potongan kue ke arah mulut Nio.
Nio yang nampak ragu-ragu, akhirnya lagi-lagi terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan Sonia menyuapi kue ulang tahun padanya.
"Yeayyy yuhuu." Sorak dan gelak tawa teman-temannya seketika pecah saat melihat adegan Nio yang suap-suapan dengan Sonia di hadapan mereka.
Saat itu Nio hanya terdiam sembari menampilkan senyuman yang kaku, sesekali ia kembali melirik ke arah tangga, tempat dimana sebelumnya ia melihat Rena berdiri memandanginya.
"Dia pasti marah padaku," Gumam Nio dalam hati yang merasa semakin tidak tenang.
Kebetulan, tak berapa lama seorang kurir terlihat muncul di rumahnya dengan sudah membawa banyak bungkusan makanan di tangannya. Nio pun bergegas meraihnya, membayarnya dengan uang tunai, lalu menyerahkannya pada teman-temannya,
"Ini, silahkan dinikmati." Celetuk Nio tersenyum singkat.
Teman-temannya pun mulai terlihat begitu antusias saat menyambut makanan itu datang, hingga tidak terlalu fokus lagi pada Nio. Waktu yang tepat itu pun tentu saja dimanfaatkan oleh Nio untuk bisa beranjak sejenak ke kamar Rena.
"Sementara kalian menikmati makanan ini, biarkan aku naik ke kamarku sebentar," Ucap Nio dengan tenang.
__ADS_1
"Tapi untuk apa kamu kembali ke kamarmu Nio?" Tanya Sonia.
"Ak,, aku ingin mengambil ponselku," Jawab Nio beralasan.
"Owhh, ok." Sonia pun akhirnya mengangguk sembari tersenyum.
"Ok, nikmati saja dulu makanannya, sebentar lagi juga akan datang beberapa botol wine." Ungkap Nio lagi.
"Ok," Sonia pun semakin mengembangkan senyumannya.
Tidak langsung beranjak, Nio justru kembali memotong kue ulang tahunnya, lalu meletakkan potongan kue itu ke dalam sebuah piring kecil. Hal itu pun kembali mengundang tanda tanya bagi Sonia dan beberapa temannya.
"Untuk siapa lagi kue itu Nio?" Tanya Sonia sembari mengernyitkan dahinya.
"Owh, ini,,, ini untukku, aku ingin menyisihkan sedikit untukku dan membawa masuk ke kamar." Jawab Nio yang lagi-lagi berbohong.
"Ohh, aku pikir kau ingin memberikan potongan kue itu pada ibu tirimu, hahaha." Tambah Aldy sembari terkekeh.
Hal itu cukup membuat Nio jadi sedikit tegang karena dugaan Aldy sejujurnya memanglah benar adanya. Namun tidak mungkin ia mengakui hal itu di hadapan teman-temannya, karena hal itu nantinya tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan lagi dari teman-temannya yang akan membuatnya akan lebih banyak lagi berbohong.
"Hmm ya sudah ya, aku naik dulu." Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Nio pun langsung beranjak pergi menuju tangga.
Dengan langkah cepat ia menapaki anak tangga, ia kembali melirik ke arah belakangnya saat ia tepat berada di depan pintu kamar Rena, untuk memastikan jika saat itu tidak ada teman yang mengikutinya dari belakang. Lalu tanpa pikir panjang, mulai mengetuk pelan pintu kamar yang kala itu tengah terkunci.
*Tok,,tok,,tok*
Nio mengetuk pintu kamar itu sembari menekan handle pintu itu, namun ternyata Rena mengunci pintunya hingga membuatnya tidak bisa leluasa masuk ke kamar itu seperti biasanya. Rena yang saat itu masih berdiri di balik pintu, sontak dibuat terkejut.
*Tok,,tok,,tok*
"Rena, ini aku, tolong buka pintunya sebentar." Ucap Nio pelan.
__ADS_1
Sejenak, Rena pun terpaku memandangi pintu kamar itu, perasaan bingung tiba-tiba menyapanya, bingung antara ingin membuka pintu itu atau tidak.
"Rena, aku tau kamu mendengarku, tolong buka pintunya." Ucap Nio lagi.
Namun saat itu Rena nampaknya masih sangat Ragu.
"Rena, kalau kamu tidak mau buka pintunya, maka aku akan berteriak memanggilmu, biar semua teman-temanku mendengarnya." Ancam Nio akhirnya.
Mendengar hal itu, tentu membuat Rena seketika langsung panik dan tanpa pikir panjang, akhirnya membuka pintu kamarnya dengan memasang raut wajah datar.
"Kenapa?" Tanya Rena pelan.
Tak langsung menjawab dengan kata-kata, Nio pun langsung saja masuk ke kamar Rena begitu saja, lalu mengunci kembali pintu kamar itu.
"Kenapa kamu kesini? Bukankah dibawah ada banyak teman-temanmu?"
"Aku kesini karena ingin menjelaskan kejadian yang kamu lihat di tangga tadi, aku tidak ingin kamu jadi salah paham karena itu." Ucap Nio lembut.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku bahkan merasa tidak pantas untuk marah karena hal itu, aku sadar siapa aku!" Jawab Rena sembari tersenyum lirih.
"Tolong jangan bicara begitu, aku dan Sonia tidak ada apa-apa, kami hanya sebatas teman. Dia memelukku karena mengucapkan selamat ulang tahun untukku, hanya itu saja." Jelas Nio sembari sebelah tangannya mulai mengusap lembut sebelah pipi Rena.
"Bukankah itu tindakan yang sangat manis?? Aku,,, aku bahkan tidak bisa melakukan apapun saat ulang tahunmu, bahkan juga baru tau kalau kamu berulang tahun hari ini. Bukankah itu terdengar sangat buruk??"
"Tidak, tidak masalah! Karena aku sendiri pun juga lupa kalau hari ini aku berulang tahun."
Rena pun terdiam sejenak dan mulai menatap Nio dengan tatapan lirih.
"Orang macam apa aku? Aku bahkan tidak menyiapkan kado apapun untukmu, tidak seperti Sonia yang nampaknya benar-benar menyiapkan hadiah untukmu." Ungkap Rena lirih.
"Aku tidak butuh apapun lagi darimu, sayang. Karena kamu, kamulah kado terindah dalam hidupku, jadi aku tidak mau apapun lagi." Jawab Nio lembut.
__ADS_1
"Tolong jangan salah paham lagi ya, aku dan Sonia benar-benar murni berteman sekarang." Tambah Nio, yang terus mengusap lembut pipi Rena.
...Bersambung......