
Satu jam kemudian, akhirnya Rena nampak tiba di sebuah restoran, restoran berbintang yang dimana menjadi restoran yang paling banyak direkomendasikan di Shanghai.
Siang itu Restorannya nampak cukup ramai pengunjung, namun tidak terlalu padat. Rena yang nampak anggun dengan berbalut sebuah dres tanpa lengan bermotif bunga-bunga, nampak mulai melangkah memasuki restoran itu dengan sedikit ragu-ragu karena ini pertama kali baginya datang kesana. Kebetulan siang itu matahari bersinar begitu terik, membuat cuaca dingin tidak terlalu terasa bagi Rena hingga membuatnya sanggup memakai baju tanpa lengan.
Senyuman Nio pun seketika nampak berkembang kala melihat kedatangan sang pujaan hati yang terlihat begitu cantik saat itu. Nio pun bergegas bangkit dari duduknya, sembari memberi kode pada seseorang. Seorang lelaki itu pun nampak mengangguk singkat dan kemudian langsung beranjak.
Nampaknya saat itu Nio benar-benar sudah menyiapkan semuanya. Hal itu terbukti dari tak berapa lama, alunan musik classic yang terdengar begitu indah dan nyaman di dengar mulai dimainkan oleh sekelompok orang yang masing-masing memainkan biola serta cello.
Kedatangan Rena pun seketika disambut oleh seorang pelayan yang mengarahkan Rena untuk melangkah ke arah dimana Nio yang kala itu sudah nampak berdiri dengan begitu gagah, lagi-lagi berbalut jas hitam yang nampak formal, sembari memegang buket bunga mawar merah yang cukup besar.
Rena yang terkejut pun seketika menghentikan langkahnya sejenak kala mendapati Nio yang sudah nampak berdiri beberapa meter darinya.
"Hah! Nio, apa-apaan." Ucap Rena pelan yang nampak terharu namun juga mendadak gugup.
Nio saat itu hanya tersenyum seolah menantikan Rena yang kala itu terus melangkah pelan ke arahnya.
Rena pun nampak terus tersenyum, kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Nio dengan terlihat sedikit gugup.
"Apa aku membuatmu kesal karena sejak pagi menghilang?"
"Bukan kesal, hanya bingung dan cemas."
Nio pun lagi-lagi tersenyum.
"Kalau begitu, aku minta maaf karena sudah membuatmu bingung dan cemas."
Rena pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Ini, terimalah! Bunga ini sebagai tanda permintaan maafku." Ucap Nio sembari menyerahkan buket bunga yang sejak tadi ia pegang.
Rena pun meraihnya sembari memandangi banyaknya bunga mawar merah yang nampak merekah dengan begitu indah dan tentu saja sangat harum.
"Kamu suka?" Tanya Nio lagi.
Rena pun kemudian mengangguk sembari tersenyum.
"Lalu ada apa lagi ini? Kenapa kamu berpakaian begitu formal? Dan itu,, orang-orang yang memainkan biola dan Cello, apa mereka memang bekerja di restoran ini untuk menghibur pengunjung?"
"Tidak, aku yang memintanya."
"Hah? Benarkah? Ta,, tapi kenapa sampai harus melakukannya? Bukankah ini terasa sangat berlebihan jika hanya untuk sekedar makan siang?" Tanya Rena yang nampak bingung.
"Karena aku harus melakukannya secara resmi." Ucap Nio yang kemudian langsung memberi kode pada kelompok pemusik untuk menghentikan sejenak alunan musik yang mereka mainkan. Setelah musik berhenti, Nio pun perlahan mulai mengeluarkan sebuah kontak cincin berwarna biru dongker berbahan bludru, lalu tanpa ragu langsung saja berlutut di hadapan Rena sembari menyodorkan kotak yang berisikan cincin berlian bermata satu itu ke hadapan Rena.
"Sharena Alexandra, kamu tau aku sangat mencintaimu, dan kamu menjadi satu-satunya wanita yang pernah memiliki hatiku, dan ku yakin sampai selamanya akan begitu, aku ingin menua bersamamu, jadi,,, apa kamu mau menjadi ibu dari anak-anakku?" Ungkap Nio dengan tatapan matanya yang nampak begitu tulus pada Rena.
"Menikahlah denganku!" Ucap Nio lagi.
Seketika suara sorakan serta sahutan dari para pengunjung yang datang pun terdengar begitu riak, bahkan ternyata di antara para tamu itu tiba-tiba muncul pasangan yang baru saja menikah, siapa lagi kalau bukan Zayden dan Meichan.
"Terima!! Terima!! Terima!!" Seru orang-orang yang berada di dalam restoran itu.
"Apalagi yang kamu pikirkan? Ayo terima dan cepat pakai cincin itu!" Teriak Zayden yang berada beberapa meter dari mereka.
Rena pun sontak menoleh ke arah Zayden dan nampak sedikit terkejut saat mendapati keberadaan kakaknya yang ternyata juga sudah berada disana dan menyaksikan bagaimana dia di lamar di hadapan banyak orang oleh lelaki yang begitu meratukannya itu.
__ADS_1
Selang beberapa detik terdiam, Rena pun akhirnya mengangguk sembari mulai meneteskan air matanya. Nio pun akhirnya bisa tersenyum puas, lalu mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan mulai menyematkannya di jari manis Rena. Mereka pun langsung berpelukan setelahnya, dengan diiringi suara tepuk tangan yang seolah terdengar bergemuruh di ruangan itu.
"I love you." Ucap Rena pelan yang masih terus meneteskan air matanya, yang tentu saja itu adalah air mata kebahagiaan.
"I love you more!" Jawab Nio.
Nio pun kembali melepaskan tautan tubuh mereka, ia kembali menatap Rena dengan sangat lekat sembari mulai mengusap lembut pipinya yang lembab.
"Beri aku waktu beberapa hari saja untuk menyelesaikan pekerjaanku yang sempat tertunda, dan menyiapkan semuanya, setelahnya kita akan langsung menikah." Ucap Nio dengan lembut.
Rena lagi-lagi hanya mengangguk cepat, membuat Nio kembali tersenyum manis lalu perlahan, tanpa ragu mulai mencium bibir Rena di hadapan banyak orang, hingga hal itu lagi-lagi mengundang sorak dan tepuk tangan yang jauh terdengar lebih meriah dari sebelumnya.
3 hari kemudian...
Setelah pulang dari Shanghai dan beristirahat selama sehari full di rumahnya, akhirnya pagi ini Nio kembali mesuk ke kantor dan langsung menggemparkan seluruh staff di kantornya karena ia mengirimi mereka undangan pernikahan digital, yang dimana undangan tidak perlu lagi menggunakan kartu undangan seperti biasanya, karena cukup mendadak, melainkan via digital yang setiap undangannya sudah dibekali barcode sebagai akses nantinya untuk bisa masuk ke tempat acara, yang dimana ia memilih untuk mengadakannya di rooftop sebuah hotel di kota itu.
Bahkan seluruh staff kantornya pun langsung dibuat gagal fokus karena melihat nama yang tertera disana bukanlah nama Anya yang selama ini mereka pikir jika Nio dan Anya menjalin hubungan.
"Hah??! Jadi wanita yang akan dinikahi pak Nio bukan mbak Anya??!!"
"Iya, tapi bukankah mereka berpacaran? Lalu kenapa malah menikah dengan wanita lain?!" Tanya Staff lainnya yang mulai bergosip saat jam kerja belum di mulai.
Tak lama, Anya pun nampak datang, ia berjalan dengan tenang seperti biasa, dengan gaya yang nampak berkelas dan tentu saja sangat modis. Tidak seperti biasa, hari itu Anya merasa sangat heran karena ada banyak pasang mata yang menatap aneh ke arahnya di sepanjang langkahnya menuju ruangannya.
"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Anya dalam hati sembari kembali memandangi penampilannya, untuk memastikan jika saat itu tidak ada masalah dengan penampilannya.
__ADS_1
"Hmm, kurasa penampilanku baik-baik saja, lalu apa yang salah denganku?" Tanya Anya yang nampaknya memang sama sekali belum mengetahui hal itu mengingat jika sejak berangkat ke kantor, ia belum sempat memegang ponselnya karena bangun sedikit kesiangan.
...Bersambung......