Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Cemburu buta


__ADS_3

Nio bergegas menuruni anak tangga untuk menuju meja makan, perasaan lega akhirnya sedikit membuatnya tenang kala melihat Rena yang saat itu sudah terduduk di salah satu kursi. Nio pun semakin melajukan langkahnya, lalu duduk berhadapan dengan Rena yang kala itu tengah meneguk air putih.


"Hai." Sapa Nio dengan suara pelan.


Rena pun meletakkan kembali gelasnya,


"Hai." Jawabnya sembari mengutas senyuman.


"Apa ada lagi yang kurang bu?" Tanya bi Inah pada Rena.


Rena sejenak terdiam sembari memandangi meja makan yang saat itu telah di penuhi beberapa menu makanan.


"Hmm, tidak ada bi." Jawab Rena akhirnya yang kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Baiklah bu, kalau begitu bibi kembali ke kamar dulu."


"Eh bi, tunggu!" Ucap Rena.


"Iya bu?"


"Bibi sudah makan?"


"Belum bu, bibi akan makan setelah ibu dan mas Nio selesai." Jelas bi Inah singkat.


"Kenapa begitu bi?"


"Memang begitu dari dulu bu."


"Hmm ya sudah, kalau begitu bibi ikut makan disini ya, kita makan bersama." Ucap Rena yang lagi-lagi tersenyum ramah.


Mendengar hal itu, sontak membuat bi Inah terkejut, begitu pula Nio yang dibuat mulai mengerutkan dahinya.


"Kenapa harus mengajak bi Inah makan bersama? Kalau begini bagaimana aku bisa bicara dengannya." Gumam Nio dalam hati.


"Eh ja,, jangan bu. Bibi makan nanti saja." Jawab bi Inah segan.


"Tidak apa bi, ini sudah jam delapan lebih, jangan menunda makan malam lebih lama, tidak baik."


"Ta,, tapi bu.."


"Sudah, duduklah, dan makan bersama kami. Hmm setidaknya selama tidak ada bapak, bibi bisa makan bersama kami."


"Benar bolehkah bu?" Tanya bi Inah ragu-ragu.


"Tentu saja boleh."


Lalu bi Inah mulai melirik ke arah Nio yang kala itu masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Menyadari hal itu, Rena pun ikut melirik ke arah Nio.


"Nio, bi Inah bolehkan makan malam bersama kita di meja ini? Meja makan ini terasa terlalu sepi." Tanya Rena seolah penuh harap.


"Hmm ya, aku tidak punya alasan untuk tidak setuju." Jawab Nio sembari menampilkan senyuman tipis.

__ADS_1


Bi Inah dan Rena akhirnya mulai mengembangkan senyumannya,


"Ok, duduklah bi."


"Baik bu." Bi Inah pun mulai ingin duduk.


"Oh ya bi, dimana pak Eko?" Tanya Rena tiba-tiba.


"Eko sepertinya di kamar bu."


"Hmm akan lebih baik jika dia juga ikut makan malam disini bi, biar tambah ramai."


"Ibu yakin?" Tanya bi Inah memastikan.


Rena pun mengangguk cepat.


"Baik bu, akan saya panggilkan."


"Iya,"


Bi Inah pun bergegas menuju ke arah dapur, karena beberapa kamar untuk ART dan supir, berada di belakang.


Saat itu Nio kembali menatap Rena dengan begitu lekat, membuat Rena lagi-lagi harus merasa gugup dan mulai menurunkan pandangannya. Saat itu menjadi moment yang pas bagi Nio untuk mulai bertanya pada Rena demi menjawab rasa penasarannya sejak tadi sore.


"Kamu tadi kemana?" Tanya Nio dengan tatapan serius.


"Tadi? Hmm aku tadi..."


Namun sayangnya, belum sempat Rena melanjutkan ucapannya, bi Inah dan Eko sudah kembali datang.


Rena pun sontak menoleh ke arah keduanya, lalu dengan penuh semangat mempersilahkan mereka untuk duduk bergabung, hingga melupakan jawabannya untuk Nio.


"Ah pak Eko, bi Inah ayo duduk lah, jangan ragu-ragu."


Saat itu Nio hanya bisa terdiam dan mendengus pelan, nampaknya dia harus lebih lama lagi menyimpan rasa penasarannya.


Makan malam pada malam itu berlangsung damai serta terasa ramai. Rena benar-benar bisa menjadi majikan yang baik karena sama sekali tidak memandang rendah para pekerja yang bekerja dirumah itu.


Di sepanjang makan malam, Rena banyak mengobrol bersama bi Inah serta pak Eko, mereka menjelaskan jika sebenarnya dirumah itu ada 2 supir dan 2 ART, satu ART dan satu supir adalah sepasang suami istri dan mereka sedang cuti pulang kampung.


Tak jarang pula Rena tertawa, saat pak Eko mulai bercerita lucu, pak Eko memang terkenal sedikit humoris orangnya. Hanya dalam beberapa hari saja, Rena nampaknya sudah sangat akrab pada bi Inah dan pak Eko.


"Pak Eko, ini enak, cobalah." Ucap Rena sembari mendekatkan sebuah piring yang berisikan beberapa cup puding buah segar.


"Benarkah bu?" Pak Eko pun meraih satu cup.


"Iya, coba saja. Ini yang kita beli saat mampir di resto tadi." Jelas Rena.


"Ahh iya bu, rasanya sangat segar ya bu. Haaiiss, begini ya rasanya makanan mahal." Ucap pak Eko yang nampak begitu lahap menikmati makanan pencuci mulut.


Bukan hanya itu, Rena nampaknya begitu semangat saat menyodorkan beberapa makanan yang tadi ia beli ke hadapan bi Inah, terlebih pada pak Eko.

__ADS_1


"Pak Eko,"


"Iya bu?"


Rena pun meraih selembar tisu, lalu memberikannya pada pak Eko.


"Apa ibu menyuruh saya untuk mencicipi tisu ini juga bu?"


"Hahaha memangnya bapak mau disuruh makan tisu?" Rena pun nampak terkekeh.


"Hehehe, ya mau-mau saja kalau ibu yang menyuruh, saya tidak bisa nolak kalau ibu yang menyuruh."


"Haaaiss, mana mungkin saya begitu pak. Itu tisu untuk mengelap sisa puding yang ada di tepi bibir pak Eko." Jelas Rena.


"Oh hehehe." Pak Eko pun terlihat sedikit malu dan langsung mengusap bibirnya.


Rena hanya bisa tersenyum, memandangi pak Eko, dari senyuman itu, entah kenapa Nio merasakan hal yang berbeda. Hal itu, entah kenapa berhasil membuat hatinya panas, entah kenapa semenjak berhasil melakukan hubungan ranjang bersama Rena, Nio merasa jika secara tak langsung, Rena juga miliknya.


"Apa-apaan!! Kenapa dia harus tersenyum seperti itu pada pak Eko?!!" Gerutu Nio dalam hati.


Tak lama, Rena melirik ke arah Nio, saking asiknya mengobrol bersama dua pekerja di rumah itu, membuatnya sedikit melupakan keberadaan Nio yang masih duduk di hadapannya.


"Ouhh Nio, kamu cobalah juga, ini benar-benar enak." Ucap Rena sembari tersenyum.


Namun Nio yang sudah terlanjur dibuat panas hatinya, seketika langsung menolak.


"No, thanks!" Ucapnya datar.


"Setidaknya cobalah dulu, kamu tidak akan menyesal." Pujuk Rena lagi,


"Iya mas Nio, coba dulu, puding buahnya beneran seger, sangat pas sebagai pencuci mulut. Bu Rena ini memang terbaik." Tambah pak Eko dengan semangat.


"Haaiss pak Eko, ini jelas pilihan kita berdua." Sanggah Rena sembari terkekeh kecil.


Mendengar hal itu, bukan malah membuat Nio berubah pikiran, justru semakin merasakan panas di hatinya saat melihat keakraban Rena. Karena bila di pikir, untuk ukuran wajah, wajah pak Eko tidak buruk. Untuk ukuran seorang supir, pak Eko sudah cukup menawan meskipun usianya tak lagi muda.


"Aku sudah kenyang!!" Ucap Nio datar, yang kemudian langsung bangkit dari duduknya.


Nio pun berlalu pergi begitu saja, menapaki anak tangga tanpa melirik sedikit pun ke arah Rena. Hal itu cukup membuat Rena dan kedua pekerja jadi tercengang.


"Dia kenapa? Kenapa mendadak sikapnya jadi begitu aneh?" Tanya Rena dalam hati.


"Mass Nio kenapa? Tidak biasanya dia seperti itu." Tanya bi Inah dengan suara pelan, yang saat itu masih terus memandangi kepergian Nio.


"Aku juga tidak tau mbak, mungkin sedang putus cinta, atau bisa jadi terlibat cekcok lagi dengan bapak." jawab pak Eko yang juga nampaknya masih tercengang.


Rena pun sontak menghela nafasnya singkat, lalu kembali tersenyum tipis dan berkata.


"Hmm ya sudah, tidak usah terlalu dipikirkan, Nio sudah dewasa, dia pasti bisa mengatasinya." Ucap Rena lembut.


"Hehehe iya bu." Jawab bi Inah dan pak Eko secara bersamaan.

__ADS_1


Makan malam pun selesai, beberapa menit berlalu akhirnya Rena pun pamit untuk masuk ke kamarnya.


...Bersambung......


__ADS_2