Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Surat wasiat


__ADS_3

1 jam berlalu, kini Nio dengan pakaian serba hitam telah berdiri di hadapan makam Rudy. Dengan tatapan sendu ia terus memandangi batu nisan yang bertuliskan nama sang ayah, lidahnya lagi-lagi terasa bergetar seolah tidak mampu berucap satu katapun kala itu.


"Mas Nio, bibi yakin ada banyak hal yang ingin mas Nio tuturkan pada bapak, jadi bibi akan menunggu mas Nio di dekat mobil, agar mas Nio bisa lebih leluasa." Ucap Bi Inah.


Nio pun hanya mengangguk singkat.


"Terima kasih bi." Ucapnya pelan.


Bi Inah pun pergi, meninggalkan Nio seorang diri yang kala itu terlihat masih begitu terpaku menatap makam Rudy. Dengan menghela nafas pelan, akhirnya Nio mulai berjongkok di sisi makam, dengan tangan yang nampak begitu gemetar, akhirnya mulai mengusap-usap lembut batu nisan itu.


"Hei pak tua, apa sungguh kau yang ada di dalam situ? Apa sungguh kau?" Tanya Nio pelan, dengan bibir yang juga nampak bergetar kala mengucapkannya.


"Bagaimana mungkin kau bisa berbaring dalam waktu yang lama di dalam sana, lalu bagaimana dengan pabrikmu? Rekan kerjamu? Para pegawaimu? Apa kau sungguh mengabaikan mereka kali ini?" Tanya Nio lagi yang seolah masih belum bisa percaya atas apa yang terjadi saat itu.


"Bangunlah pak tua, kau ini orang sibuk, ada banyak hal yang harus kau urus, ayo bangunlah!"


Menyadari sama sekali tidak ada jawaban dari ayahnya, membuat Nio perlahan mulai kembali terdiam, perlahan tapi pasti, isak tangisnya kembali muncul, dari yang awalnya hanya meneteskan air mata tanpa suara, kini akhirnya tangisannya pecah begitu saja, ia menangis sejadi-jadinya sembari menyandarkan kepalanya di nama ayahnya.


"Bagaimana kau bisa pergi secepat ini? Apa yang ada di dalam pikiranmu? Kenapa kau selalu tidak memikirkan perasaanku? Kenapa??" Ungkap Nio yang kembali menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangannya yang tertumpu di atas batu yang sudah terukir nama, tanggal lahir serta tanggal kematian sang ayah itu,


"Huhuhuhu."


"Ayo bangunlah, kita masih perlu bicara! Bangunlah, please!!"


Namun tentu saja sama sekali tidak ada jawaban.


"Maaf pa, maafkan aku, aku sungguh minta maaf, maafkan aku karena di belakang papa aku bermain api dengan Rena, bahkan berani mencintainya, tolong maafkan aku pa, ampuni aku."

__ADS_1


Beberapa puluh menit terus menumpahkan segala kesedihan dan tangisannya, Nio akhirnya mulai merasa sedikit lega, hingga mulai menyeka air matanya.


"Baiklah, mungkin ini memang saatnya papa benar-benar beristirahat dari kesibukan papa, tidak masalah, aku memahaminya, beristirahatlah dengan tenang pa, maafkan aku karena baru sempat mengunjungi rumah barumu, sekarang gantian, akulah yang menjadi sangat sibuk sekarang, ku harap mama bisa memakluminya." Ucap Nio dengan nada lirih sembari sebelah tangannya terus mengusap-usap batu nisan itu.


Nio pun menghela nafas berat, lalu akhirnya kembali bangkit, dan lagi-lagi harus menyeka air matanya yang masih sesekali menetes.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang dan papa bisa melanjutkan istirahat, jika ada waktu dan kesempatan, aku akan berkunjung kembali." Ucap Nio dengan tatapan sendu.


Nio pun akhirnya melangkah pergi, meninggalkan makam rudy dengan perasaan yang sedikit lega, namun juga merasa hancur disaat yang sama.



Keesokan harinya...


Pagi ini, Nio dikejutkan dengan kedatangan seorang pengacara dan satu orang asisten pribadinya.


Pengacara itu pun tersenyum dan melirik ke arah bi Inah yang berada tak jauh dari Nio.


"Maaf mas Nio, bibi yang mengabari pak pengacara ini, karena sudah beberapa kali dia datang dan selalu berpesan agar langsung mengabarinya jika mas Nio sudah kembali." Jelas bi Inah.


"Ohh, ok." Ucap Nio pelan.


"Saya kemari, karena memang ada hal yang perlu saya tuntaskan, ini menyangkut amanat dan surat wasiat dari seseorang yang telah wafat, jadi sebisa mungkin saya harus menyampaikan amanat ini kepada yang bersangkutan." Jelas sang pengacara dengan tenang.


Tak ingin terlalu banyak membuang waktu, sang pengacara itu langsung saja membacakan surat wasiat yang di tulis sendiri oleh Rudy kepada Nio, ada pun isi surat itu tentu membahas masalah harta, yang dimana 60% harta Rudy akan dilimpahkan pada Nio, termasuk juga pabrik dan beberapa usaha lainnya, termasuk juga rumah mewah itu dan aset berharga lainnya. Sementara 10% lainnya, Rudy meminta agar disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan.


Setelah membacakan isi surat wasiat itu, pengacara itu pun meminta Nio untuk menandatangani beberapa berkas.

__ADS_1


"Tapi,,,, tapi aku tidak siap dengan ini semua." Ucap Nio yang masih sangat ragu.


"Siap tidak siap, saya rasa itu urusan pribadi anda mas Nio, saya disini hanya menjalankan amanat saja, dan saya pikir bukankah yang meninggal nantinya akan menjadi lebih tenang jika anda menerima semua ini?"


Nio pun nampak masih terdiam.


"Saran saya tanda tangani saja dulu, selebihnya anda punya kuasa untuk menjual seluruh aset bagian anda, atau mengibahkan harta ini pada orang yang anda percaya, itu hak anda." Ucap pengacara itu lagi.


Akhirnya setelah mendengar hal itu, Nio pun setuju dan mulai menandatangani beberapa berkas yang di sodorkan oleh pengacaranya.


"Oh ya, masih ada satu surat wasiat lagi, tapi kali ini surat wasiat ini lebih bersifat pribadi, sehingga harus anda sendiri yang membacanya langsung, saya bahkan tidak tau apa isi dari surat itu, pak Rudy menitipkannya pada saya dan meminta agar anda lah yang harus pertama kali jadi orang pertama yang membacanya." Ucap pengacara itu sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih yang masih melekat rapat dan rapi.


Nio dengan sedikit ragu mulai menerima surat itu.


"Baiklah mas Nio, saya rasa untuk urusan hari ini dengan anda sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu." Pengacara itu pun mengulurkan tangannya pada Nio.


Nio pun langsung membalas jabatan tangan itu.


"Terima kasih banyak pak."


"Iya sama-sama, ini memang sudah menjadi tugas saya."


Setelah pengacara itu pergi, Nio pun kembali masuk ke kamarnya dengan membawa serta surat itu, ia memilih duduk di tepi ranjang dan dengan rasa yang begitu penasaran, bergegas membuka surat itu.


*isi surat*


"Untuk Antonio Robert, putra yang menjadi kebanggaanku selama ini, tolong maafkan papa yang dipertemuan terakhir kita beberapa bulan lalu, menciptakan rasa kecewa yang teramat dalam bagimu, tolong maafkan papa, maafkan kekhilafan papa yang tanpa berfikir panjang, berani meniduri Sonia bahkan telah terjadi beberapa kali, maafkan papamu ini nak, dan akhirnya papa pun mengerti bagaimana rasa sakit dan kecewa yang tengah kamu rasa, karena sekarang papa pun merasakan hal yang sama. Saat mengetahui kamu dan Rena menjalin hubungan terlarang di belakang papa, saat itu juga papa ikut merasakan seperti yang kamu rasa saat ini, sakit dan kecewa. Meski begitu, kamu tidak perlu merasa cemas lagi, karena papa pun sudah memaafkanmu, mungkin inilah bentuk karma itu nak, kita jadi merasa sakit satu sama lain, mungkin memang begitu seharusnya agar kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kejadian ini. Dan juga ada satu hal penting yang harus kamu tau, papa merasa harus memberitahukan hal itu sebelum papa pergi, tapi tolong setelah mengetahuinya, jangan benci pada papa. Antonio, sebenarnya orang yang selama ini kamu sebut papa dan kamu anggap sebagai orang tuamu, dia adalah pamanmu, maaf harus mengatakan hal ini, tapi kamu juga berhak tau kebenaran yang sudah puluhan tahun papa simpan rapat. Ya, kamu adalah anak dari adik kandung papa, yang dimana kedua orang tuamu meninggal dunia saat kalian bertiga mengalami kecelakaan hebat di jalan tol. Kecelakaan hebat yang kalian alami membuat ibu dan ayahmu meninggal di tempat sedangkan kamu, nampaknya kala itu malaikat sedang melindungimu sehingga tidak ada satu luka pun yang kamu alami, hanya beberapa memar di tanganmu, ya papa masih mengingat hal itu dengan jelas, karena papa lah orang pertama yang menggendongmu setelah kejadian naas itu. Sejak saat itu papa dan mama mengangkatmu sebagai anak, karena sebelumnya papa memang sudah divonis tidak bisa memiliki keturunan karena papa mandul. Antonio, tolong jangan berkecil hati, biar bagaimanapun papa tetaplah papamu nak, meskipun pada akhirnya sering mengabaikanmu karena pekerjaan, tapi percayalah, papa bekerja keras demi membuat hidupmu merasa nyaman tanpa ada keluhan secara finansial. Tolong jalankan pabrik yang sudah papa bangun dari 0, jangan mengabaikannya karena ada puluhan ribu karyawan yang bergantung hidup di pabrik kita, tolong pikirkan juga nasib mereka. Ingatlah Nio, papa tetap menyayangimu dan menganggapmu sebagai anak kandung papa sendiri, tolong jaga dirimu nak, dan papa mengiklaskan jika kamu nantinya kembali pada Rena, dia juga mengasihimu, kalian bisa kembali bersama jika kalian sedikit lebih berusaha. Untuk saat ini, mungkin hanya ini saja yang mampu papa tuliskan, sejujurnya tangan papa bergetar ketika menuliskan semua ini, tapi mungkin hanya dengan cara ini saja papa bisa memberimu informasi sebelum kepergian papa nantinya, salam hangat dari aku, papamu!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2