Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Mengagetkan


__ADS_3

Malam hari...


Benar-benar sangat sesuai dengan harapan Rudy, kini ia akhirnya bisa menciptakan suasana makan malam yang normal di keluarganya layaknya keluarga normal lainnya. Hal yang sejak dulu selalu sering di protes oleh Nio, moment makan siang dan makan malam bersama, yang tidak pernah bisa ia penuhi karena kesibukannya, kini berhasil ia tebus dengan menghadirkan Rena sebagai ibu pengganti untuk anak semata wayangnya itu.


Makan malam kali ini berlangsung dengan damai, tak jarang pula Rena menawari Rudy banyak macam makanan yang ia masak dengan penuh semangat.


"Mas, apa mau coba yang ini juga?? Ini tidak kalah enak." Tawar Rena sembari mendekatkan sebuah piring berisikan Capcai udang.


"Boleh." Jawab Rudy sembari mengangguk pelan.


Rena pun tersenyum dan mulai menuangkan beberapa sendok Capcai udang ke piring Rudy dengan hati-hati.


Nio yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam dengan tatapan tak senangnya. Bagaimana tidak, semenjak kejadian beberapa waktu lalu, Rena telah berubah menjadi cuek dan acuh padanya. Rena bahkan tidak pernah menawarinya ini dan itu seperti Rena menawari Rudy, padahal dulu, Rena pun tak kalah perhatian padanya.


"Hmm, kupikir dengan kembali melakukannya lagi semalam, semuanya akan kembali baik-baik saja, tapi ternyata sikapnya masih sama, masih saja tetap cuek." Gumam Nio dalam hati sembari sesekali mencuri-curi pandang terhadap Rena.


"Mas, mau ayam goreng?" Tanya Rena lagi.


"Astaga Ren, kamu menawariku begitu banyak menu makanan malam ini, lihatlah piringku sudah sangat penuh, apa kamu sungguh ingin melihat aku gendut? Hehehe." Rudy pun terkekeh pelan.


"Hehehe maaf mas, habisnya aku terlalu semangat masak karena mas baru pulang hari ini." Jawab Rena yang kembali mengembangkan senyumannya.


"Hehehe iya, terima kasih sudah memasakkan kami makanan yang enak-enak. Tapi ini sudah terlalu banyak, kenapa kamu tidak tawari pada Nio? Kurasa dia sudah lama tidak pernah makan capcai"


Mendengar hal itu membuat Rena seketika terdiam dan melirik ke arah Nio yang kala itu terlihat sedang mengunyah makanannya dengan tatapan kosong.


"Owhh, hmm ba,, baiklah." Jawab Rena yang langsung tersenyum kecut.


"Nio," panggil Rena kemudian.


Nio pun sontak menatapnya dengan ekspresi wajah yang datar.

__ADS_1


"Ini enak, apa kamu mau mencobanya?" Tanya Rena yang terlihat canggung saat menanyakannya.


Nio pun melirik singkat ke arah piring berisi capcai udang yang saat itu di pegang oleh Rena, lalu kemudian hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara.


Rena dengan sedikit kikuk, mulai menuangkan beberapa sendok capcai itu ke piring Nio,


"Thanks." Ucap Nio pelan sembari tersenyum singkat.


Beberapa saat telah berlalu, makan malam pun telah selesai tanpa adanya masalah.


"Rena, Nio, besok pagi papa akan kembali pergi ke luar kota." Ucap Rudy sesaat setelah berhasil menghabiskan makanan miliknya.


"Mas mau pergi lagi??" Tanya Rena yang nampak sedikit terkejut.


"Ya, bukankah kamu sudah tau kalau aku akan sering pergi dalam beberapa bulan ini?"


"Hmm yaa, maksudku, secepat ini??"


"Hmm baiklah." Rena pun menghela nafas.


"Lalu kapan lagi papa akan pulang?" Tanya Nio kemudian.


"Hmm entahlah, waktu kepulangan papa tidak akan pernah bisa di tentukan, intinya kapan memiliki sedikit waktu luang, maka papa akan langsung menyempatkan untuk pulang."


"Hmm begitu,, ok!" Jawab Nio datar, sembari mengangguk singkat.


"Jaga diri kalian selama aku pergi ya, uang jatah untuk kalian sudah masing-masing ku transfer."


"Iya mas." Jawab Rena pelan.


"Dan kamu Nio, jangan sering pulang larut malam ok? Kamu ingat kalau sekarang kamu sudah tidak akan merasa sepi lagi di rumah, kamu sudah punya ibu sekarang." Tegas Rudy yang mulai menatap anaknya dengan begitu lekat.

__ADS_1


Saat itu Nio hanya kembali mengangguk tanpa ekspresi.


"Ya, ok!" Jawabnya kemudian.


Tik tok tik tok tik tok


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, suasana rumah seperti biasa sudah pasti nampak sepi, beberapa lampu telah dipadamkan, dan seluruh penghuni rumah sudah memasuki kamar masing-masing.


Namun malam itu Nio nampak begitu gelisah di kamarnya, bayang-bayang Rena saat melakukan hubungan intim bersama papanya kambali melintas di pikirannya. Entah kenapa, timbul perasaan cemburu dan tidak rela dalam diri Nio, Nio tidak rela jika wanita yang ia cintai harus berhubungan badan dengan lelaki lain, apalagi lelaki paruh baya yaitu papanya sendiri.


Otak Nio saat itu mencoba meyakinkan jika hal itu akan wajar terjadi mengingat jika Rena memanglah istri dari papanya. Namun nampaknya tidak untuk hatinya yang terus menerus menolak dan tetap merasa tidak rela jika hal itu terjadi.


Nio pun bergegas keluar dari kamarnya, ia berjalan tenang di tengah keheningan ruangan besar yang sudah terlihat begitu remang-remang untuk menuju dapur. Nio mulai hapal pada kebiasaan Rena yang suka keluar di malam hari untuk mengambil dan membawa segelas air putih masuk ke kamarnya. Dan malam itu, Nio berniat untuk menunggu kedatangan Rena.


"Hmm, semoga saja dia belum ada keluar kamar sebelum aku keluar." Celetuk Nio dalam hati.


Nio pun berdiri bersandar di kulkas yang berada di dapur, lalu mulai melangkah mondar mandir demi menunggu kedatangan Rena.


"Kenapa belum muncul juga? Apa dia sudah keluar lebih dulu sebelum aku?" Gumam Nio lagi yang terus memandangi ke arah lantai dua rumahnya dimana posisi kamar Rena dan papanya terletak.


Beberapa menit lagi ia menunggu, akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, Rena dengan sudah memakai gaun tidurnya yang cukup seksi, nampak mulai turun perlahan menapaki anak tangga untuk menuju dapur seperti biasa.


Nio yang menyadari hal itu, sontak langsung tersenyum dan memilih untuk langsung bersembunyi di balik kulkas terlebih dulu, hal itu ia lakukan agar Rena tidak menghindar. Ia cemas kalau Rena melihatnya di dapur, wanita cantik itu justru akan putar haluan dan memilih untuk kembali masuk ke kamarnya dari pada harus kembali berhadapan dengan Nio.


Dengan tenang, Rena terus melangkah memasuki area dapur, lalu meraih sebuah gelas kosong dan mulai menuangkan air putih ke dalamnya. Dan di saat itu lah, Nio perlahan keluar dari persembunyiannya dan langsung saja memeluk erat tubuh Rena dari belakang.


Rena pun begitu terkejut dan ingin menjerit karena syok, namun nampaknya Nio sudah tau lebih dulu jika hal itu akan terjadi, hingga dengan cepat ia pun langsung membekap mulut Rena dengan sebelah tangannya, dan berbisik.


"Tidak perlu berteriak, ini aku." Bisiknya lembut tepat di belakang telinga Rena.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2