
Seluruh bulu kuduk Rena berdiri tegak saat lidah Nio terus bermain-main di bagian intinya. Kepala Rena terdongak, dengan kedua mata yang merem melek merasakan betapa nikmat serta gelinya hal itu.
Suara-suara alunan merdu dari mulut Rena juga mulai sayup-sayup terdengar, dibarengi pula dengan kedua tangannya yang terus meremasi rambut Nio.
Entah sudah berapa lama Nio berada di bawah sana, akhirnya perlahan ia kembali memunculkan wajah tampannya dari balik kedua paha Rena. Nio tersenyum, begitu juga Rena yang ikut tersenyum dengan nafasnya yang mulai terengah.
"Kamu sudah basah Rena," Bisik Nio yang kembali menciumi telinga Rena.
"Kalau begitu, kenapa tidak melakukannya sekarang?" Tanya Rena yang saat itu juga kembali menciumi pundak serta leher Nio.
Lagi-lagi hal itu membuat Nio tersenyum lebar, ia pun langsung bangkit dari posisinya, lalu beranjak menuju sebuah nakas yang ada di sisi tempat tidur.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rena sembari mengerutkan dahinya.
Saat itu Nio memilih untuk tidak menjawab, ia mengambil sebuah bungkusan kecil yang berbentuk pipih, lalu dengan cepat merobek bungkusan itu di hadapan Rena. Rena pun seketika kembali tersenyum memandanginya, karena ia pun cukup tau benda apa yang di ambil oleh Nio.
"Sepertinya kali ini kamu benar-benar telah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang." Celetuk Rena sembari tersenyum memandangi Nio yang saat itu sudah berdiri tegak di hadapannya.
Nio lagi-lagi hanya tersenyum, lalu mulai memasangkan benda yang begitu tipis dan bening itu pada bagian intinya. Ia kembali mendekati Rena, menciuminya lagi dengan penuh gairah.
Beberapa menit berlalu dengan foreplay yang begitu memabukkan bagi keduanya, kini Nio pun mulai memasuki lubang kenikmatan milik Rena. Hal itu membuat erangan Rena pecah seketika, namun langsung di tahan olehnya dengan sebelah tangannya. Rena membekap mulutnya sendiri saat kepunyaan Nio mulai menari-nari di bagian intinya, desahaaannya keluar begitu saja dari mulutnya dan tak bisa ia tahan, hingga membuatnya dengan terpaksa harus meredam suara itu agar tidak terdengar.
"Kenapa kamu menutup mulutmu Rena?" Bisik Nio sembari terus membasahi area leher Rena.
"Ak,, aku aaaghhh." Sesekali suara itu tetap saja keluar meski sangat pelan.
"Aku, aku ingin sekali menjerit saat ini, tapi aku tidak bisa!" Ucapnya lagi.
"Lakukanlah Rena, biarkan aku mendengar suara seksimu. Ayo, keluarkan saja, jangan di tahan!" Bisik Nio lagi yang saat itu masih terus menarik ulur kepunyaannya pada bagian inti Rena.
"Tidak mungkin, aku tidak mau papamu mendengarnya."
"Dia tidak akan mendengarnya, Rena. Menjeritlah sesukamu, aku suka mendengarnya."
"Ke,, kenapa begitu? Apa kamar ini kedap suara?"
"Bisa di bilang begitu." Jawab Nio yang kemudian kembali bermain pada gundukan daging milik Rena.
Erangan Rena pun akhirnya kembali pecah ruah, suaranya benar-benar begitu menggema di ruangan itu tanpa di tahannya lagi. Nio nampaknya begitu menikmati alunan desaahan yang terdengar sangat merdu di telinganya, membuatnya semakin terbakar api asmara kala itu.
Rena tentu tidak mau kalah pada permainan malam itu, ia pun kembali mendominasi dengan duduk di pangkuan Nio dan kali ini ialah penguasa gerakan.
"Kamu benar-benar tidak mau kalah rupanya ya," celetuk Nio yang kembali memunculkan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja sendirian dalam hal ini, aku ingin pertarungan ini seimbang." Bisik Rena sembari mulai berbalik arah membelakangi Nio.
Hingga entah sudah berapa gaya yang mereka lalukan, mulai berbaring, duduk, bahkan berdiri. Peluh kedua insan itu pun mulai bercucuran deras akibat hasil dari kerja keras mereka malam ini. Rena akhirnya terkulai lemas di atas tubuh Nio yang sudah basah bermandikan keringat.
Keduanya terdiam sejenak, dengan nafas yang begitu terengah-engah seolah saling memburu. Kali ini Nio tidak menarik kepunyaannya keluar saat mencapai puncaknya, membuat Rena semakin merasa gila pada kenikmatan itu.
"Huh,, huh,, huh,, terima kasih," bisik Rena pelan.
Mendengar hal itu membuat Nio sontak mengangkat kepalanya untuk menatap Rena.
"Kamu berterima kasih padaku?" Tanyanya dengan dahi yang mengernyit.
"Ya, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya."
"Seperti apa?"
"Merasa cinta yang begitu menggebu, kenikmatan sampai ke ubun-ubun, serta kepuasan." Jawab Rena pelan.
"Benarkah?"
"Ya, hanya denganmu aku bisa merasakan semuanya. Jujur saja, sejak mengenal *3**, bagiku *3** itu sangat penting dalam hidup, bahkan aku cukup kuat dalam hal itu." Ungkap Rena yang mulai terbuka pada Nio.
"Apa kamu secara tidak langsung sedang mengatakan kalau kamu ini hypers3ks?" Tanya Nio santai sembari kembali tersenyum,
"Benarkah?"
Rena pun mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan suamimu yang sekarang?"
Kali ini Rena hanya tersenyum lirih, sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia tidak memuaskanmu dalam hal ini?"
"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi." Jawab Rena yang perlahan mulai bangkit dari atas tubuh Nio.
Rena terduduk lesu dengan bersandar di sandaran sofa sembari menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Nio ikut duduk di sisinya dan meraih kedua pipi Rena agar kembali menatapnya.
"Kalau begitu, biarkan aku yang melakukannya." Ucap Nio pelan, dengan nada begitu lembut.
"Apa maksudmu?" Tanya Rena lirih.
"Demi tuhan aku mencintaimu Rena, aku bahkn rela menjadi budak nafsumu,"
"Hei, jangan bicara begitu!"
__ADS_1
"Lalu aku harus bicara bagaimana? Aku benar-benar serius dengan ucapanku." Jawab Nio dengan raut wajah penuh keyakinan.
"Tapi bukankah yang kita lakukan ini adalah salah? Apa perbuatan kita ini seakan menunjukkan kalau kita seperti tidak memiliki hati nurani?" Tanya Rena yang mendadak terlihat sendu.
"Ya, I know! Tapi cinta bukanlah sebuah kesalahan, kita tidak minta dihadirkan perasaan cinta ini pada hati kita. Tapi kita juga tidak punya pilihan dan bahkan tidak bisa memilih pada siapa rasa cinta ini akan berlabuh kan?"
"Ya tapi,,,,."
"Rena ssssttttt!!" Nio pun dengan cepat menempelkan jari telunjuknya pada bibir Rena yang sudah nampak pucat akibat Nio yang sebelumnya terus ********** ganasss.
"Kamu sungguh mencintaiku kan?" Tanya Nio kemudian dengan raut wajah yang mulai terlihat begitu serius.
Rena pun mengangguk pelan.
"Kita bahkan tinggal serumah, apa setelah ini kamu berpikir bisa menghindariku lagi seperti sebelumnya?" Tanya Nio lagi.
Kali ini Rena menggelengkan pelan kepalanya.
"Kalau begitu, mari kita jalani saja hubungan yang seperti ini, selama itu bisa membuat kita sama-sama bahagia, tolong teruskan saja!" Ungkap Nio.
"Tapi Nio,,,,"
"Demi tuhan aku tidak bisa lagi jauh darimu Rena! Kamu sudah seperti candu bagiku."
"Lalu apa kamu juga diluar sana akan menjalin hubungan dengan Sonia? Seperti aku yang tetap menjadi istri dari papamu?"
"Tidak!! Aku sama sekali tidak ada niat untuk menjalin hubungan apapun dengannya selain hubungan pertemanan." Tegas Nio sembari menggeleng cepat.
"Setelah apa yang pernah kalian lakukan?" Tanya Rena lagi.
"Iya, Sonia bahkan sudah bisa menerimanya dan dia juga yang mengajukan pertemanan. Jadi kami hanya berteman sekarang!"
"Begitu kah?"
"Iya, demi tuhan hanya kamu Rena! Only you! Aku tidak mau wanita manapun lagi!"
"Walaupun aku adalah ibu tirimu??!!"
"Aku tidak peduli!!" Tegas Nio lagi.
Rena pun terdiam sembari terus menatap Nio.
"Please, tetaplah seperti ini! Tidak peduli seberapa terlarangnya hubungan ini, aku tetap mau menjalaninya. Please." Nio terus memohon di hadapan Rena dengan raut wajah sedikit sendu.
...Bersambung......
__ADS_1