Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Aksi yang gagal


__ADS_3

Awalnya Rena nampak terkejut saat tubuh mereka mulai di guyur air hangat, namun kemudian ia hanya tertawa, begitu pula Nio yang ikut terkekeh geli sembari kemudian kembali melahap bibir Rena lagi.



Mereka berdua terus berciuman mesra bahkan terkesan ganas, perlahan tapi pasti pakaian mereka satu persatu juga mulai tercecer di lantai kamar mandi.


Dengan gerakan lembut, Nio terus mengusapi hampir seluruh tubuh Rena dengan sabun cair yang sebelumnya ia tetesi ke tangannya. Rena pun tentu tidak mau kalah dan melakukan hal yang sama pada tubuh Nio, membuat tubuh keduanya kini mulai dipenuhi oleh busa-busa.


Sampai akhirnya, Rena perlahan mulai merendahkan tubuhnya di hadapan Nio, duduk berlutut sembari kedua tangannya mulai memegang bagian inti milik Nio. Saat itu Nio masih diam terpaku memandangi Rena yang kala itu juga menatapnya. Lalu, tanpa berkata apapun lagi, Rena langsung mengulum kepunyaan Nio. Membuat kedua mata Nio sontak terpejam, dengan kepala yang langsung terdongak, disertai pula mulut yang menganga saat merasakan kenikmatan akan permainan lidah Rena.


Beberapa kali Nio terdengar mengerang nikmat atas perbuatan Rena yang berada di bawahnya. Namun, mendadak permainan itu seketika harus terhenti saat Rena yang tiba-tiba mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya.


Rena pun terkejut sembari langsung menoleh ke arah pintu kamar mandinya.


"Ada apa Rena?" Tanya Nio yang juga nampak bingung.


"Aku mendengar seperti ada yang mengetuk pintu." Jawab Rena yang mulai terlihat panik.


"Benarkah? Hmm, kurasa itu hanya perasaanmu saja."


"Tidak, aku sangat yakin!" Rena pun seketika langsung berdiri.


"Jangan-jangan itu mas Rudy!!" Tambah Rena yang seketika membulatkan matanya.


"Tidak mungkin, bukankah pesawat papa sudah take off sejak tadi?"


Tanpa berkata apapun lagi, Rena pun bergegas ingin keluar dari kamar mandi, namun dengan cepat Nio langsung meraih pergelangan tangannya.


"Ka,, kamu mau kemana?"


"Aku ingin melihat siapa yang mengetuk pintu?"


"Hah?! Kamu serius akan membuka pintunya??"


"Iya!" Jawab Rena.


"Lalu bagaimana dengan nasibnya?" Tanya Nio lirih sembari menunjuk ke arah bagian inti miliknya.


Rena pun terdiam sejenak saat memandangi kepunyaan Nio yang sudah berdiri dengan sangat tegak, lalu tak sengaja melirik ke arah sabun cair yang berada tak jauh dari Nio. Dengan cepat Rena meraih botol sabun cair itu, lalu memberikannya pada Nio.


"Untuk kali ini, biarkan sabun cair ini yang membantumu, ok?" Ucap Rena yang tersenyum singkat, lalu kemudian bergegas meraih selembar handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi.


*Tok,,tok,,tok*

__ADS_1


Suara ketukan pintu pun kembali terdengar, dan kali ini terdengar lebih nyaring dari sebelumnya.


"Nah benar kataku, ada yang mengetuk pintu." Celetuk Rena sembari mulai melilitkan handuk itu ke tubuhnya.


Rena langsung keluar begitu saja dari kamar mandi, meninggalkan Nio seorang diri dengan wajah yang nampak memelas sembari memandangi botol sabun cair yang diberikan Rena padanya, lalu dengan lesu kembali meletakkan botol sabun itu ke tempatnya, ia memilih untuk menahan konaknya dari pada harus berurusan dengan cabun cair itu.


"Siapa??" Pekik Rena bertanya saat ia sudah berdiri di dekat pintu, bahkan sebelum membuka pintu itu.


"Bu, ini bi Inah." Jawab seseorang di balik pintu.


Mendengar hal itu, akhirnya Rena bisa bernafas sedikit lega, dan langsung membuka pintu itu.


***Ceklek* **


"Ya bi?"


"Oh ibu baru selesai mandi?" Tanya bi Inah.


"Hmm, sebenarnya saya belum selesai mandi bi." Jawab Rena sedikit cengengesan.


"Oh, kalau begitu maaf bibi sudah mengganggu."


"Iya bi tidak apa-apa. Ada apa bi?"


"Owhh itu, hmm aku tidak apa-apa bi. Mungkin karena sejak tadi hujan deras, jadi membuatku agak malas turun dari tempat tidur." Jawab Rena berbohong.


"Hmm iya, bibi juga agak heran karena sejak selesai sarapan tadi, bibi tidak lagi melihat ibu di sekitar rumah."


"Hehehe iya bi, sejak tadi aku di kamar."


"Hmm baiklah kalau begitu bu, apa ibu akan makan sekarang? Jika iya, maka bibi akan panaskan lagi makanannya."


"Ah iya bi, niatnya setelah mandi aku ingin langsung makan, aku juga sudah mulai lapar." Jawab Rena sembari tersenyum.


"Baiklah bu kalau begitu, bibi panaskan sekarang makanannya."


"Iya, terima kasih sebelumnya bi."


"Iya bu." Bi Inah pun ikut tersenyum hangat.


"Oh ya bu, apa ibu tau mas Nio kemana?" Tanya bi Inah tiba-tiba.


*Deggg*

__ADS_1


Mendengar pertanyaan semacam itu, entah kenapa mendadak membuat jantung Rena berdetak hebat.


"Ni,,, Nio??"


"Iya bu, sebelumnya bibi ada bertemu mas Nio di dapur saat membuat minuman hangat, tapi barusan bibi ketuk kamarnya, tidak ada jawaban."


"Owhh, mu,, apa mungkin dia tidur di kamarnya bi? Sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu."


"Hmm tapi tidak biasanya mas Nio tidak menjawab meskipun lagi tidur. Karena biasanya, kalau pun dia sedang tidur, maka dia akan berteriak mengatakan jika ia sedang tidur dan tidak ingin di ganggu dulu." Ungkap bi Inah.


"Owhh begitu ya? Ak,, aku juga tidak tau kemana dia bi, memangnya kenapa bi?"


"Dia juga pasti belum makan, bibi hanya ingin menanyakan hal yang sama, karena tadi bibi lihat dia membuat minuman jahe merah, bibi curiga apa dia sedang tidak enak badan."


"Hmm, ya sudah untuk urusan Nio biar aku yang pikirkan, aku akan menelponnya nanti, siapa tau dia mengangkat telponnya."


"Oh baik bu, kalau begitu bibi permisi dulu."


"Iya bi."


Bi Inah pun akhirnya berlalu pergi, Rena lagi-lagi langsung bernafas lega sembari kembali menutup pintu kamarnya.


Begitu Rena berbalik badan, Nio pun nampak langsung keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang tak biasa.


"Hmm, sepertinya kamu sudah begitu lihai berbohong." Celetuk Nio sembari mulai melilitkan selembar handuk ke pinggangnya.


"Iya, aku terpaksa harus berbohong karena kamu!" Jawab Rena santai.


Nio pun seketika mendengus pelan sembari mulai duduk di sebuah sofa dengan masih memasang raut wajah masam.


"Kenapa? Kenapa memasang raut wajah seperti itu?" Tanya Rena yang berdiri di hadapannya.


"Aku sangat kecewa, demi bi Inah, kamu bahkan rela mengabaikan aku."


Mendengar hal itu Rena pun seketika terkekeh geli.


"Maaf soal itu."


"Hanya maaf??" Nio pun nampaknya masih tak terima.


"Lalu apa lagi yang kamu harapkan dariku?" Tanya Rena yang akhirnya mulai duduk manja di atas pangkuan Nio sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher Nio.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2