Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Masih sanggup


__ADS_3

Rena pun kembali tertunduk, saat itu ia benar-benar dilanda kebingungan yang teramat sangat. Hati dan pikirannya kini tengah berselisih paham dan dia benar-benar bingung harus mengikuti yang mana.


"Rena, tolong jangan diam saja, katakan sesuatu!" Nio kembali meraih pipi Rena, membuat kepala Rena kembali terangkat dan menatap lelaki tampan itu.


"Seberapa yakin kamu mau menjalani hubungan yang sangat rumit ini Nio?"


"Sangat yakin, asal kamu mau menjalaninya bersamaku!" Tegas Nio.


"Dengan menerima statusku yang juga sebagai istri dari papamu??"


"Sudah kukatakan sebelumnya kalau aku tidak peduli!"


"Ya, tapi apa kamu juga akan rela kalau aku juga harus melayaninya sebagai istri, termasuk juga melakukan hubungan intim dengannya??!"


Mendengar pertanyaan seperti itu, sontak membuat Nio terdiam sejenak.


"Apa aku boleh egois?" Tanya Nio kemudian.


"Maksudnya?" Rena pun kembali mengernyitkan dahinya.


"Kalau aku boleh egois, bolehkan kamu tidak melakukannya dengan papa lagi? Aku,, aku tidak rela kamu melakukannya dengan orang lain lagi selain aku. Biarkan aku yang memuaskanmu, jadikan aku budak nafsumu, Rena!" Nio pun kembali memeluk Rena, seolah benar-benar begitu memohon padanya.


Nio yang begitu cool bahkan sangat datar jika berhadapan dengan para wanita lain yang sibuk mengejar-ngejarnya, kini seolah seperti merengek memohon pada Rena agar bisa selalu dekat dengannya.


"Maka hal itu lah yang membuatku tidak bisa meneruskan hubungan ini, Nio." Ucap Rena lirih.


Nio pun membulat kedua matanya saat mendengar hal itu, lalu seketika melepaskan pelukannya dan menatap Rena dengan wajah terkejut.


"Kenapa?" Tanyanya,


"Aku sudah cukup kejam saat dengan sadar melakukan hubungan ini denganmu, anak tiriku. Aku tidak mau jadi orang yang lebih kejam lagi hanya karena tidak mau melayani nafsu dari suamiku. Kamu bahkan tidak bisa menerima hal itu, bagaimana bisa kita meneruskan hubungan ini?"


Nio pun terdiam sejenak.


"Rena tolong jujur saja padaku, apa kamu mencintai papaku?"


"Aku tipekal orang yang tidak bisa mencintai dua orang sekaligus!! Dan kamu sudah tau siapa yang aku cintai saat ini." Jawab Rena pelan.


"Lalu kalau kamu hanya mencintaiku dan tidak mencintai papa, kenapa tidak berpisah saja??"


"Tidak semudah itu, Nio! Papamu sudah terlalu baik padaku, dia membawaku keluar dari dunia malam yang begitu kelam. Aku sangat berhutang budi padanya, aku juga tulus ingin merawatnya sebagai istri, tidak ada niat lainnya." Jelas Rena dengan penuh penekanan.


Lagi-lagi Nio terdiam sesaat, lalu perlahan menundukkan singkat kepalanya, dan kembali menatap Rena dengan begitu pekat,


"Apa kamu masih bergairah dengannya?" Tanya Nio pelan.


Rena pun menggelengkan pelan kepalanya,

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba untuk menerima hal itu, tapi bisakah kamu berjanji satu hal padaku?"


"Apa?" Tanya Rena.


"Berjanjilah, kalau kamu akan melakukannya hanya saat papa yang memintanya. Berjanjilah, kalau kamu sedang merasa bergairah, tolong lakukan denganku, katakan padaku meskipun aku sedang berada dimana saja, aku tidak peduli aku akan datang padamu."


"Kamu yakin bisa menerima hal itu?"


Nio pun mengangguk.


"Maka berjanjilah Rena."


"Baiklah, aku berjanji!" Rena pun akhirnya mulai memunculkan senyuman tipisnya.


Nio pun tak kalah senang saat mendengar hal itu, ia sontak tersenyum lebar dan kembali meraih kedua belah pipi Rena.


"Sungguh??" Tanyanya seolah masih tak menyangka.


Rena mengangguk dan terus tersenyum,


"Kamu sungguh ingin menjalani hubungan ini denganku?"


Rena kembali mengangguk.


"Aku sudah terlanjur terjebak, aku benar-benar sudah merasa terbelenggu hingga tidak bisa meloloskan diriku lagi." Tambah Rena kemudian.


"Tolong jangan menghindar lagi dariku, ok?" Ucap Nio yang terus menciumi pundak Rena.


Rena lagi-lagi menganggukkan kepalanya sembari mulai membalas pelukan hangat Nio.


"I love you Rena, I love you so much!" Ucap Nio yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Ya, I love you too," Jawab Rena.


"Tolong jangan katakan I Love you too!" Ucap Nio.


"Kenapa?" Tanya Rena yang perlahan melepaskan tautan tubuh mereka dan kembali menatap Nio dengan mengernyitkan dahinya.


"Karena itu seolah-olah kamu hanya sedang ikut-ikutan." Jawab Nio sembari tersenyum tipis.


Rena yang mendengar hal itu pun seketika mendengus pelan dan kembali tertawa kecil.


"Hmm ok, I love you Antonio." Ucap Rena kemudian sembari mengutas sebuah senyuman yang terlihat begitu tulus.


"I Love you more!" Jawab Nio yang juga semakin melebarkan senyumannya, lalu kembali mencium singkat bibir Rena.


"Hmm ya sudah, kalau begitu aku ingin memakai pakaianku sekarang, aku harus kembali ke kamar!" Ucap Rena yang ingin beranjak dari sofa.

__ADS_1


Namun dengan cepat Nio kembali menahan tangannya.


"Ada apa?" Tanya Rena lembut.


"Apa kamu tidak ingin melakukannya sekali lagi?" Tanya Nio dengan suara pelan, sembari menampilkan senyuman yang menggoda.


Rena pun kembali tersenyum geli.


"Apa kamu menstok banyak k0nd0m?"


"Demi kamu, ya! Aku melakukannya." Jawab Nio tersenyum geli.


"Memangnya kamu masih sanggup?" Tantang Rena sembari mulai menggigit bibir bagian bawahnya.


"Aku masih cukup kuat bahkan saat harus melakukannya 3 sampai 4 kali dalam jarak waktu yang dekat."


"Hmm benarkah?" Rena pun mulai mengangkat kedua alis matanya.


"Mari kita buktikan!" Jawab Nio dengan senyuman penuh keyakinan, yang kemudian kembali melahap ganas bibir Rena.


Rena pun pasrah saat tubuhnya harus kembali digeranyangi oleh sang anak tiri yang begitu perkasa dalam hal itu. Bahkan Rena begitu menyukai perlakuan liar Nio yang akhirnya membuatnya juga jadi tidak bisa berpaling lagi darinya.


Suara desaaahan Rena yang terdengar begitu mendayu-dayu kembali memecah keheningan pada tengah malam itu, bahkan terdengar bersahut-sahutan dengan suara desaahan Nio yang juga terdengar cukup gahar di indera pendengaran Rena.


Tidak lagi melakukannya di atas sofa yang sempit, Kini Nio kembali menggendong tubuh polos Rena dan membawanya menuju ranjang. Rena terbaring di atas ranjang empuk milik Nio, lalu Nio menyusul tubuhnya dan semakin leluasa menggeranyangi tubuh wanita itu semaunya.


Dengan Rena, Nio benar-benar tak terkendali, Nio yang cuek sekarang telah berubah Nio yang binal. Di tengah malam yang semakin pekat dan dingin, kedua insan yang gairahnya tak terbendung, terus beradu, saling memangsa dengan ganas hingga membuat tempat tidur jadi begitu berantakan.


Nio terus memangsa tubuh Rena dengan sangat lahap, membuat Rena bahkan tidak punya waktu bernafas lega dan terus terengah.


Hingga tak terasa, jam terus bergulir dan sudah menunjukkan pukul 02.35 dini hari, Rena bergegas memakai kembali pakaiannya saat mereka telah mencapai puncak untuk kedua kalinya.


"Apa kamu tidak merasa kalau kamu terlalu terburu-buru?" Tanya Nio dengan tenang yang saat itu sedang duduk tersandar di kepala ranjangnya masih dalam keadaan polos tanpa busana.


"Ya, aku harus kembali saat papamu masih tidur dengan pulas." Jawab Rena sembari kembali mengikatkan tali kimononya ke pinggangnya yang ramping.


"Tapi aku masih ingin denganmu."


Rena pun mendengus pelan dan kembali tersenyum tipis.


"Waktumu sudah habis untuk malam ini, ok?"


"Aaah benarkah? lalu bagaimana dengan besok? Apa kamu memiliki banyak waktu untukku?"


"Hmm, kita lihat saja besok!" Rena pun kemudian mulai beranjak keluar dari kamar Nio begitu saja.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2