
"Nio!!" Panggil Sonia yang kemudian bergegas mengejar Nio.
Meninggalkan Rena dan Rudy yang masih tertinggal di ruangan itu.
"Rena aku bisa..."
"Apa itu benar mas?" Tanya Rena dengan tatapan sendu.
"Rena, aku hanya..."
"Apa benar mas dan Sonia berhubungan di belakangku dan Nio."
Rudy pun seketika menunduk lesu,
"Maafkan aku Rena." Hanya ucapan itulah yang mampu keluar dari mulut Rudy kala itu.
"Jadi benar?? Sejak kapan?"
"Sejak dia begitu terobsesi ingin mendapatkan Nio, dan mulai terus menghubungiku untuk meminta membukakan jalan untuknya agar bisa menjadi pasangan Nio dengan iming-iming rela melakukan apapun demi itu. Dan salahku juga karena terpancing kecantikannya." Ungkap Rudy yang terus menunduk seolah malu dan merasa bersalah.
"Kalian bahkan sudah saling berkomunikasi tanpa aku tau??"
"Iya, sore itu ketika pertama kali aku bertemu Sonia, saat kamu pergi membuatkan minuman untuknya, kami bertukar nomor ponsel saat itu." Ungkap Rudy.
Rena pun seketika mendengus pelan dan mulai tersenyum lirih.
"Kenapa mas?? Jadi inikah alasannya kenapa kamu tidak pernah menyentuhku lagi? Bahkan sebelum mengenal Sonia, kamu sudah tidak pernah lagi menyentuhku, apa mungkin di luar sana masih ada lagi wanita-wanita muda yang sudah memuaskanmu??"
"Maafkan aku Rena, aku sungguh minta maaf."
Rena pun terdiam, sejujurnya ia tidak terlalu merasakan sakit hati saat mengetahui Rudy yang sudah berselingkuh di belakangnya, namun ia hanya lebih merasa syok, benar-benar tidak menyangka saat mengetahui kelakukan Rudy yang selama ini dianggapnya sangat baik, namun nyatanya begitu binal di belakangnya.
__ADS_1
"Apa kurangnya aku mas? Boleh aku tau?"
"Kamu tidak ada kurangnya, hanya saja akulah yang tidak bisa cukup pada satu wanita. Namun aku merasa kamu yang memiliki sikap dewasa dan keibuan, itulah sebabnya aku menikahimu, juga demi menghadirkan sosok ibu pengganti bagi Nio."
Rena pun lagi-lagi terdiam lesu namun tanpa alasan yang pasti, ia kembali tersenyum meskipun senyuman itu nampak begitu lirih.
"Kalau begitu, maka kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini mas, lebih baik ceraikan aku."
"Hah?! Kamu sungguh ingin bercerai? Rena, tolong maafkan aku."
"Ya, ya aku memaafkanmu mas, aku mencoba memahami kekhilafanmu."
"Benarkah kamu memaafkan aku? Lalu kenapa kamu ingin bercerai?"
"Karena sebenarnya akupun juga bukan istri yang baik untukmu mas. Meski sekarang aku memutuskan untuk setia padamu, namun sebelumnya, aku juga melakukan kesalahan, kesalahan yang juga sangat besar."
"Apa maksudmu Rena? Ja,, jangan bilang kamu juga berselingkuh di belakangku!" Rudy pun nampak mulai tak tenang.
"Iya mas, faktanya aku memang melakukannya."
"Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu ini? Siapa lelaki itu Rena??!!!"
Rena pun mulai menunduk sejenak lalu menyeka air matanya yang mulai menetes, dan kemudian kembali menatap Rudy dengan begitu dalam.
"Maafkan aku mas, aku sungguh minta maaf, ada banyak hal yang terjadi saat kamu sering pergi meninggalkan aku ke luar kota. Maksudku adalah, antara aku dan Nio."
"Apa??!!!" Rudy pun membulatkan matanya.
"Anakmu ternyata menyukaiku sejak pertama kamu mengenalkan kami di acara makan malam, lalu ia terus berusaha mendekatiku, hingga akhirnya akupun terjerumus dalam perasaan yang sulit di pahami saat aku merasakan kesepian karenamu."
Rudy pun nampak semakin melesu hingga terduduk di tepi ranjang karena merasa syok.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf mas, dan sekarang aku akhirnya mendapatkan karmanya, hari ini, aku mengetahui ternyata suamiku juga sudah bermain api dengan wanita yang bahkan akan menjadi pasangan anaknya sendiri, dan sebisa mungkin aku tidak akan marah apalagi sampai menyumpahimu, ini benar-benar akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untukku ke depannya, jadi lebih baik kita bercerai saja." Ucap Rena yang kembali menghapus air matanya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Rudy yang kala itu masih terlihat syok dan terdiam.
Rena terus melangkah cepat, membawa serta tas miliknya dan langsung keluar dari Villa yang jadi terasa semakin menyeramkan baginya. Kala itu ia bertemu dengan Sonia yang terlihat menangis di depan Villa hingga membuat Sonia menghentikan langkahnya.
"Kamu benar-benar salah langkah Sonia! Harusnya kamu tidak melukai kepercayaan Nio yang selama ini mati-matian berusaha untuk menerimamu masuk ke hatinya." Ucap Rena.
Namun Sonia hanya semakin menangis dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun lagi. Membuat Rena hanya bisa menghela nafas lesu, dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya begitu saja, ia juga memilih pergi meninggalkan Villa.
Sepanjang langkahnya, Rena kembali meneteskan air matanya, meratapi nasib yang kini sedang menunjukkan padanya bagaimana karma itu nyata,
"Ya, dan akhirnya aku benar-benar terbakar sekarang, aku di bakar oleh karma karena telah berani bermain api sebelumnya. Dan benar dengan hukum tabur tuai, apa yang kamu tabur, maka itulah yang kamu tuai (dapatkan)" Gumam Rena lirih dalam hati, yang terus berusaha untuk menerima kenyataan pahit, demi menebus kesalahannya.
"Nio, dia pasti yang merasa paling terpukul saat ini, aku mencampakkannya demi setia pada mas Rudy, dan dengan berbesar hati menerima Sonia dan berusaha belajar mencintainya, namun yang terjadi, papanya yang menjadi dalang dari perjodohan antara dia dan Sonia, justru meniduri calon istrinya."
Nio terus melajukan mobilnya menuju rumah, dengan langkah cepat memasuki rumahnya tanpa peduli orang yang ada di sekitarnya.
"Mas Nio, kenapa ada disini? Bukankah mas sedang liburan di Villa?" Tanya bi Inah yang kala itu sedang membersihkan meja.
Namun Nio sama sekali tidak menggubris sedikitpun, bahkan juga tidak menoleh ke arah bi Inah dan terus melangkah menuju kamarnya.
Kala itu Nio benar-benar sudah tidak baik-baik saja, guncangan hebat yang baru dialaminya benar-benar membuatnya sangat terpukul. Ayah yang selama ini di anggapnya sebagai lelaki baik, lelaki yang dipikirnya hanya sibuk mengurus pekerjaan tanpa memiliki waktu luang untuk bermain gila bersama perempuan lain, dengan tega meniduri wanita yang dijodohkan dengannya. Nio pun kembali berteriak untuk meluapkan segala amarahnya, lalu menepis kasar beberapa barang yang ada di sekitarnya hingga membuat barang-barang itu berhamburan ke lantai.
"I'm done! Really-really done! Aku tidak mau lagi hidup dengan orang tua menjijikkan seperti dia!" Gerutu Nio.
Dengan cepat ia pun langsung mengeluarkan sebuah koper yang ada di dalam lemari, lalu mengemasi seluruh barang-barangnya karena ia berniat untuk pergi hari itu juga meninggalkan rumah yang sudah puluhan tahun ia tinggali.
Tak lama Nio pun kembali keluar dari kamar dengan sudah menggeret sebuah koper besar, bi Inah yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa terdiam memandangi kepergian Nio yang nampak masih begitu penuh amarah.
"Ada apa dengan mas Nio? Wajahnya terlihat seperti sedang sangat marah."
Nio kembali melajukan mobilnya, sepanjang jalan ia terus memikirkan tempat pelarian yang cocok untuknya, dan akhirnya ia teringat pada teman lamanya saat duduk di bangku SMA, yang kini telah menetap dan bekerja di negara paling kaya di dunia yaitu Qatar. Nio pun langsung menghubungi teman lamanya itu, untuk memastikan jika ia masih menetap disana. Dan siapa sangka jika hal itu disambut baik oleh temannya yang kini sudah menjadi seorang chef di salah satu restoran di Qatar.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang dan tanpa ragu, akhirnya Nio pun langsung saja memesan tiket pesawat untuk keberangkatannya ke Qatar, dimana negara itu tidak memerlukan Visa jika kesana. Nio pun akhirnya mendapatkan tiketnya dengan waktu penerbangan terdekat, yaitu jam 19.00 malam itu juga.
...Bersambung......