
Rena benar-benar sangat memukau di mata Nio pagi itu, bagaimana tidak, dalam keadaan tubuh yang polos tanpa busana, Rena terus meliuk-liukkan pinggangnya saat duduk di atas pangkuan Nio yang kala itu juga tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kamu sangat luar biasa, Rena." Bisik Nio dengan nafas yang begitu terengah-engah.
Rena pun tersenyum sembari menggigit bibir bagian bawahnya, melihat hal itu tentu membuat Nio merasa gemas dan kembali menyambar bibir Rena.
"I love you," Bisik Nio lagi, di sela-sela ciuman mautnya.
Saat itu Rena masih diam, ia sama sekali tidak menjawab, dan hanya menampilkan senyuman serta erangan yang semakin menggema di ruangan itu.
"Auchh, aku hampir klim4ks," Bisik Rena di sela erangannya.
"Oh ya? Mari merasakannya bersama," jawab Nio yang kembali tersenyum.
Nio pun kembali melumatt bibir mungil Rena dengan ganas, dengan cepat mengubah posisi mereka, dari yang awalnya di posisi duduk, kini Nio mendorong Rena agar kembali berbaring. Nio semakin melajukan ritme gerakannya, membuat Rena semakin melayang hingga erangannya pun terdengar kian melengking tak terkendali memenuhi ruangan itu.
Hingga akhirnya, tubuh Nio ambruk, ambruk di atas tubuh Rena. Rena tersenyum bahagia sembari memejamkan matanya, kedua tangannya pun terus memeluk hangat tubuh Nio yang sudah terasa basah karena keringat.
"Huh,, huh,, huh,," Nio nampaknya masih begitu terengah-engah akibat aktivitas panas pagi itu.
"Lagi-lagi kamu membuangnya di luar," Celetuk Rena sembari tersenyum tipis.
"Hmm ya, dan itu cukup menyiksa." Jawab Nio pelan.
"Kalau begitu, kenapa tidak membiarkannya tetap di dalam?"
Nio pun terdiam sejenak, lalu kembali menatap Rena dengan begitu lekat.
"Memangnya kamu siap kalau harus memiliki bayi dariku?" Tanya Nio dengan tenang, sembari menyingkap sebagian rambut Rena yang menutupi sebelah matanya.
Pertanyaan itu pun membuat Rena terdiam seketika, dan begitu enggan untuk menjawabnya. Namun Nio sama sekali tidak ingin menuntut jawaban atas pertanyaan itu, ia hanya kembali memancarkan senyuman manisnya pada Rena dan kembali berkata,
"Aku hanya sedang berusaha menjauhimu dari masalah yang lebih besar." Ucapnya yang kemudian mulai beranjak dari atas tubuh Rena.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.40 pagi, Nio pun bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Rena. Tanpa ragu, ia langsung saja mandi di kamar mandi yang sebenarnya bukan miliknya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, kini Nio sudah kembali keluar dalam keadaan bertelanjang dada dengan selembar handuk berwarna peach melingkar di pinggangnya.
Rena yang awalnya masih terlihat berbaring lemas di atas ranjang, perlahan mulai terduduk sembari memandangi Nio yang nampak sudah begitu segar.
"Maaf, aku pinjam handukmu." Ucap Nio saat Rena menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
__ADS_1
Rena hanya terus tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Senyumannya kali itu seolah mengartikan bahwa ia benar-benar mulai merasakan rasa yang berbeda pada Nio. Memandangi tubuh Atletis sang anak tiri yang sixpack, benar-benar memicu gejolaknya,
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Nio yang tersenyum tipis sembari mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada." Jawab Rena menggeleng, namun tetap menampilkan senyumannya.
"Kamu terlihat buru-buru, apa kamu mau pergi?" Tanya Rena dengan tenang.
"Ya, aku ada kelas jam 10, kukira kamu sudah mendengar hal itu dari Aldy."
"Ohh." Rena hanya mengangguk singkat.
"Baiklah, aku harus berpakaian di kamarku,"
"Ok." Lagi-lagi Rena mengangguk singkat, namun entah kenapa senyuman yang sejak tadi tercipta, kini seolah perlahan lenyap.
Dalam hati Rena saat itu, ia masih ingin bersama Nio dalam waktu lebih lama lagi, bagi Rena yang hypersex, melakukannya hanya sekali rasanya tidak cukup. Di tambah lagi gejolak api cinta yang mulai menyala dalam hatinya, benar-benar membuatnya di landa kasmaran hingga ingin selalu berada di dekat Nio.
Namun Rena tentu saja tidak mengatakan apa yang dirasakannya saat itu pada Nio, ia memilih untuk menyimpan perasaannya yang baru muncul untuk saat itu.
"See you." Ucap Nio yang dengan cepat menghampiri Rena, dia pun kembali mengecup singkat bibir sang ibu tiri, lalu langsung keluar dari kamar itu begitu saja.
"See you." Jawab Rena pelan.
Rena akhirnya beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi dan memilih untuk berendam air hangat di bathup. Rena duduk setengah berbaring di dalam bathup, kedua matanya kini menatap kosong ke arah langit-langit kamar mandi. Bayang-bayang adegan panasnya pagi tadi bersama Nio seolah terus terbayang, lagi-lagi membuat senyuman Rena perlahan mulai kembali terukir di wajah cantiknya. Rena benar-benar sudah jatuh, ia terperosok masuk ke dalam kubangan perasaan cinta pada anak tirinya sendiri.
Hari ini Nio nampak berbeda dari biasanya. Nio yang biasanya memiliki sikap datar serta jarang senyum, kini seolah terus mengutas senyuman tipis di sepanjang langkahnya. Kehadiran Rena benar-benar mulai merubahnya.
Nio masuk ke kelasnya saat pelajaran sudah di mulai, dengan tenang ia pun masuk begitu saja dan langsung duduk di kursinya.
"Hey, Bro, kenapa lama sekali? Bukankah tadi kau bilang mau langsung siap-siap begitu kami pulang?" Bisik Aldy yang duduk tepat di sampingnya.
"Hmm ya, rencana awalnya memang begitu. Tapi kau tau kan, kadang apa yang terjadi, tidak selalu sesuai sama ekspektasi."
"Hmm apa terjadi sesuatu?" Tanya Aldy penasaran.
"Ya." Jawab Nio datar sembari mulai mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Sesuatu yang benar-benar diluar kendali."
"Contohnya apa?"
__ADS_1
"Hmm bukan apa-apa, lupakan soal itu." Jawab Nio yang tidak mungkin jujur.
"Tapi kau terlihat sangat tenang, apa kau baik-baik saja?"
"Baik, aku baik. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Oww ok." Aldy pun akhirnya hanya mengangguk dan tak mempertanyakan apapun lagi.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14.15 siang, Saat itu Nio dan kedua sahabatnya sedang duduk bersantai di bawah pohon rindang yang ada di taman kampusnya.
Tak lama, Sonia tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan memasang wajah datar.
"Nio." Panggilnya datar.
Nio yang kala itu tengah asik mengobrol sembari duduk bersandar di batang pohon, sontak terdiam memandangi keberadaan Sonia yang sudah berdiri di hadapannya.
"Nio, kita perlu bicara!" Ucap Sonia lagi.
Kehadiran Sonia kala itu benar-benar sangat tidak di harapkan oleh Nio, membuatnya bergegas bangkit dan berkata pada dua temannya.
"Sepertinya aku harus pergi!" Ucap Nio datar yang langsung ingin beranjak pergi.
"Nio, stop!" Tegas Sonia yang sedikit meninggikan suaranya sembari menahan tangan Nio.
"What? What do you want?" Tanya Nio pelan yang kala itu mulai menatap Sonia dengan lekat.
"Kita harus bicara!" Tegas Sonia lagi.
Aldy dan Rio yang mendengar hal itu pun sontak mulai menyeringai memandangi mereka berdua.
"Hei, hei, hei, ada apa di antara kalian berdua ha? Hahaha." Tanya Rio yang mulai terkekeh.
"Hubungan kalian nampaknya sudah semakin serius sejak kencan pertama di malam Minggu tempo lalu, apa sudah terjadi sesuatu yang kami belum tau?" Tanya Aldy yang tak kalah menyelidik.
"Bung, stop! Shut up!!" Ketus Nio yang menatap singkat kedua temannya,
"Sekarang hanya ada dua pilihan, Nio. Kita bicara, atau aku akan berteriak pada seluruh orang di taman ini tentang apa yang telah terjadi antara kita."
Nio pun menghela nafas kasar,
"Hmm ok, ok fine." Mau tak mau akhirnya Nio pun setuju.
Hal itu membuat Sonia sontak tersenyum puas.
__ADS_1
"Kita bicara di tempat lain!" Nio pun bergegas menarik tangan Sonia untuk membawanya menjauh dari kedua sahabatnya.
...Bersambung......