
Jarum jam terus berputar, waktu seolah bergulir begitu cepat, tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Rena tiba-tiba tersentak dari tidurnya karena merasa kedinginan, juga merasa tenggorokannya saat itu terasa kering.
"Haiss, dingin sekali." Celetuknya sembari mengusap-usap kedua telapak tangannya.
Tanpa pikir panjang, Rena pun bergegas keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman, yang memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Namun langkah Rena seketika terhenti saat ia baru saja berada tak jauh dari pintu kamarnya kala mendapati Nio yang seolah seperti sedang mengigau.
"Kenapa?? Kenapa harus seperti ini? Kenapa??" Gumam Nio yang seolah terlihat gemetaran.
"Ada apa dengannya? Apa dia mimpi buruk?" Tanya Rena dalam hati sembari mulai melangkah pelan mendekati Nio.
Saat itu dahi Nio bahkan nampak berkeringat yang padahal udara malam itu terasa begitu dingin, hal itu sontak membuat Rena sedikit terkejut.
"Ti,, tidak!! Jangan lagi, jangan! Sudah cukup, sudah!" Gumam Nio lagi yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya namun dengan kedua mata yang masih nampak terpejam.
Rena yang merasa cemas pun seketika langsung berjongkok di sisi Nio sembari memegang kedua pipinya.
"Nio, heii,,," panggil Rena.
"Tidak,, jangan, jangan,, jangan!!!!" Pekik Nio yang kemudian langsung tersentak dengan nafasnya yang terlihat begitu terengah-engah.
"Kamu mimpi buruk??" Tanya Rena yang nampak semakin cemas.
Namun Nio, sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun saat itu, wajahnya nampak pucat, nafasnya juga masih begitu terengah-engah serta peluh yang nampak membasahi dahinya. Nio benar-benar terlihat seperti ketakutan, membuat Rena semakin merasa cemas hingga tanpa pikir panjang berusaha untuk menenangkan Nio.
"It's ok, it's ok, kamu hanya mimpi buruk." Ucap Rena dengan lembut sembari mulai mengusap dahi Nio yang basah karena keringat.
Namun Nio nampaknya masih belum bisa mengeluarkan sepatah katapun, hingga tanpa ragu Rena pun langsung saja duduk di sofa itu, lalu kemudian berbaring di sisi Nio.
"Kemarilah, ada aku disini, jangan takut." Ucap Rena pelan.
Dengan wajah yang masih nampak sedikit takut bercampur sedih, Nio pun seketika memeluk Rena yang kala itu berbaring disampingnya.
Rena hanya bisa diam dan terus mengusap-usap lengan Nio demi membuatnya jadi lebih tenang. Nio pun kembali memejamkan kedua matanya sembari menyandarkan kepalanya di pundak Rena.
"Terima kasih." Ucap Nio akhirnya dengan suara yang begitu pelan.
__ADS_1
"Sama-sama." Jawab Rena.
"Terima kasih sudah disini, rasanya sangat nyaman." Ucap Nio lagi yang kala itu terus memejamkan kedua matanya.
"Benarkah?"
"Aku merindukan hal ini."
Mendengar hal itu, seketika membuat Rena jadi terdiam sejenak dengan debaran jantung yang mendadak jadi berdetak hebat.
"Ak,, aku juga." Jawab Rena sedikit ragu-ragu saat mengatakannnya.
Nio pun kembali diam dan justru semakin mengeratkan pelukannya, ajaibnya, udara yang begitu dingin, tiba-tiba saja mendadak terasa jadi menghangat bagi Rena.
"Perasaan apa ini? Bukankah aku sudah melupakannya? Tapi kenapa aku masih saja berdebar saat dia memelukku?" Gumam Rena dalam hati.
"Apa itu artinya selama ini aku tidak benar-benar melupakannya? Apa itu artinya aku masih mencintainya?" Tambahnya lagi.
Beberapa jam berlalu, Rena akhirnya kembali tersentak setelah tertidur beberapa saat di dalam pelukan Nio yang hangat. Ia pun melirik ke arah wajah Nio yang tepat berada di sisinya, kala itu Nio nampak tertidur pulas, wajahnya benar-benar nampak begitu polos ketika ia tertidur, dan itu termasuk bagian yang paling disukai Rena.
Tanpa sadar, Rena pun mulai tersenyum tipis kala memandangi wajah Nio, perlahan sebelah tangannya mulai membelai lembut pipi Nio, terlihat jelas jika ia sangat merindukan lelaki yang dulu begitu meratukannya itu. Namun hal itu hanya terjadi beberapa saat, sebelum akhirnya Rena kembali tersadar dan menjauhkan tangannya dari wajah Nio.
"Sangat jelas jika sikapnya sudah berubah padaku, terasa dingin, itu menandakan jika dia sudah tidak memiliki rasa apapun lagi padaku, apalagi yang aku harapkan darinya?! Hubungan kami sudah lama berakhir." Gumam Rena lagi yang kemudian perlahan mulai bangkit dari tidurnya.
Dengan wajah sendu, Rena kembali memandangi sejenak wajah Nio, lalu mulai menyelimutinya kembali, dan kemudian ia pun beranjak ke dapur untuk minum, lalu akhirnya kembali masuk ke kamarnya dengan membawa perasaan yang begitu campur aduk.
Pagi hari yang cerah...
Pagi itu Nio tersentak dari tidurnya saat mendengar suara dari dapur yang berada tidak jauh dari sofa tempat dimana ia tertidur. Ternyata suara itu bersumber dari Zayden yang nampak sedang memasak sarapan.
"Morning." Sapa Zayden dengan tenang kala melihat Nio yang mulai terduduk di sofa.
"Kau sedang apa?"
"Aku?? Menurutmu aku sedang apa? Apa aku terlihat seperti sedang bermain kelereng saat ini??" Jawab Zayden sembari tersenyum geli.
Nio pun hanya mendengus pelan sembari ikut tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?" Tanya Zayden lagi.
"Cukup nyenyak, tapi sepertinya aku mengalami mimpi buruk semalam."
"Oh ya? Mimpi apa?" Tanya Zayden dengan tenang sembari terus memasak.
"Entahlah, mimpinya begitu sulit untuk dijelaskan." jawab Nio yang berusaha untuk mengingat isi mimpinya.
Namun tiba-tiba saja Nio kembali teringat kejadian dimana Rena datang padanya,.
"Apa itu juga mimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata? Hmm tapi tidak mungkin hal itu terjadi, kurasa benar, itu hanya mimpi." Gumam Nio dalam hati.
"Tapi setelahnya, kurasa aku juga mendapat mimpi indah."
"Mimpi indah? Hmm apa kau memimpikan seorang bidadari turun dari kayangan? Hahaha." Gurau Zayden.
"Ya, sepertinya aku memang memimpikan bidadari."
"Wahh, semoga bidadari dalam mimpimu benar-benar bisa datang ke dunia nyata untuk menghangatkan kembali hatimu yang membeku hehehe." Ucap Zayden lagi yang seolah nampak sedang mengejek sahabatnya itu.
Nio lagi-lagi hanya bisa tersenyum sembari mendengus pelan. Tak lama, Rena pun nampak keluar dari kamarnya dengan keadaan rambutnya yang basah, terlihat jelas jika ia baru saja selesai mandi.
"Pagi." Sapa Rena pelan sembari tersenyum tipis pada Zayden, lalu mulai menatap Nio dengan sedikit ragu.
"Hei Na, pagi." Jawab Zayden sembari ikut tersenyum.
Nio yang melihat hal itu, hanya bisa dibuat tercengang sembari tanpa sadar mulai menelan ludahnya sendiri. Bagaimana tidak, rambut Rena yang terurai dalam keadaan basah, selalu berhasil membuat Nio terpesona sejak dulu, dan sekarang pun nyatanya masih sama.
"Kamu masak apa Zay? Aromanya sangat enak." Tanya Rena sembari mulai melangkah dengan tenang ke arah dapur dan melewati Nio yang kala itu masih terdiam memandanginya dengan wajahnya yang nampak masih datar.
Dan lagi, aroma tubuh Rena yang berbau vanilla terasa nyata masuk ke dalam rongga hidung Nio hingga kembali mengganggu ketenangan jiwa Nio, aroma tubuh yang dulu menjadi aroma yang paling disukai oleh Nio, kini kembali bisa terendus olehnya.
"Aku sedang masak sirloin steak, ini sudah pasti enak karena yang memasak adalan chef dari restoran bintang lima hehehe." Jawab Zayden.
"Wah, bukankah ini jadi suatu kehormatan bisa menikmati masakan seorang chef secara gratis." Rena pun tersenyum.
"Ya ya ya, kali ini kubiarkan gratis, tapi next time, akan ku tagih biaya yang mahal hahaha." Zayden pun terkekeh, begitu pula dengan Rena yang ikut tersenyum lebar.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Nio yang kala itu nampak terdiam, ia diam karena tengah bergulat dengan segala macam pikiran dan perasaannya yang kembali terganggu dengan kehadiran Rena yang benar-benar sangat sulit untuk di abaikan keberadaannya.
Bersambung...