
Hujan di siang hari yang masih mengguyur bumi dengan begitu deras itu pun turut menjadi saksi, bagaimana kedua insan yang saat itu tengah dikuasai oleh gairah, terus beradu, memadu cinta dengan berbagai macam gaya. Mereka seolah tidak pernah ada bosannya dalam melakukan hal yang membuat mereka bisa merasakan kenikmatan yang tara.
Beberapa jam kemudian...
Rena kembali terbaring lesu dengan keadaan kepala yang tersandar di atas dada bidang milik Nio, begitu pula dengan Nio yang terus terdiam dengan nafasnya yang masih sedikit terengah efek dari permainan ranjang panas mereka sebelumnya. Ada banyak hal yang saat itu kembali dipikirkan oleh Nio, terutama tentang perdebatan mereka sebelumnya, dimana Rena tidak bisa menjanjikan apapun padanya tentang bagaimana kelak hubungan mereka di waktu yang akan datang.
Namun, Nio lebih memilih untuk memendam sendiri apa yang sebenarnya mulai menjadi kekhawatirannya itu, meskipun cukup mengganggu pikirannya, tapi tetap saja ia tidak mau membicarakan hal itu lagi dengan Rena yang nantinya hanya akan membuat mereka bertengkar. Hal itu cukup membuktikan bahwa Nio sangat berusaha untuk menekan keegoisannya demi hubungan mereka tetap berjalan baik, juga cukup menjadi bukti bahwa Nio sungguh-sungguh mencintai Rena.
"Petirnya sudah tidak ada lagi, tapi kenapa hujannya masih belum juga berhenti?" Tanya Rena pelan dengan sorot mata yang kala itu menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya.
"Aku justru berharap agar hujan bisa terus turun sampai malam." Jawab Nio pelan.
"Kenapa begitu?"
"Entahlah, tapi yang jelas, bagiku hujan itu menyejukkan, dengan memandangi setiap tetesan air hujan yang jatuh, sudah cukup mampu membuatku tenang, mampu menyejukkan hati dan pikiranku, jadi dengan kata lain, aku suka hujan!" Ungkap Nio dengan tenang.
"Hmm, berarti dalam hal ini kita bersebrangan dan tidak cocok, aku tidak suka hujan karena begitu takut akan petir," ungkap Rena.
Namun lagi-lagi saat mendengar hal itu, sontak membuat Nio jadi mendengus pelan serta tersenyum.
"Bersebrangan apanya? aku bilang suka hujan tapi bukan berarti suka petir! hujan tidak selalu memunculkan petir. Kamu jelas takut dengan petir, bukan takut dengan hujan, akan tidak adil bagi hujan jika kamu tidak menyukainya hanya karena takut petir!"
Mendengar hal itu, Rena pun sontak terdiam sejenak dan mulai menatap Nio dengan tatapan penuh makna.
"Apa kamu pernah mandi hujan sebelumnya?" Tanya Nio lagi.
Rena pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Sekalipun tidak pernah? setidaknya kamu pasti pernah mandi hujan saat kamu kecil kan?"
"Tidak, aku tidak pernah merasakan yang namanya mandi hujan dalam hidupku! bagaimana mau menikmatinya jika aku sudah merasa paranoid duluan saat hujan datang, takut kalau ada petir!"
__ADS_1
"Itu berarti, sesekali kamu harus menikmati dan merasakan bagaimana rasanya saat tetesan air hujan berjatuhan mengenai tubuhmu, rasanya seperti kamu memasuki ruang yang berbeda, sangat menyenangkan!"
"Hmm, aku tidak yakin bisa melakukannya," jawab Rena yang mulai menampilkan senyuman lirih.
"Kalau begitu, pakailah bajumu sekarang!" Pinta Nio.
Lagi-lagi hal itu membuat Rena kembali menatapnya sembari mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Karena kita akan ke halaman belakang!" Jawab Nio.
"Hah??!! ke halaman belakang??" Tanya Rena yang nampak sedikit bingung.
Nio pun mengangguk cepat.
"Saat hujan-hujan begini?? ta,, tapi untuk apa?" Tanya Rena lagi.
Akhirnya Rena pun terdiam dengan sebuah senyuman yang kembali terpancar jelas di wajahnya, dan tanpa berkata apapun lagi, Rena akhirnya beranjak dari dada Nio dan mulai memunguti pakaiannya yang berhamburan.
"Kamu menyuruhku untuk segera berpakaian! lalu bagaimana denganmu, apa kamu akan terus berada di atas ranjang dengan keadaan seperti itu?" Sindir Rena pada Nio yang kala itu masih terlihat terdiam memandangi Rena dengan tatapan penuh cintanya.
Mendapat sindiran secara halus seperti itu dari sang pujaan hati, membuat Nio seketika terkekeh, ia tersenyum lalu akhirnya mulai ikut bangkit dengan sisa energi yang dia punya saat itu.
"Huh, sebenarnya aku masih sangat lelah karena pergulatan kita tadi, tapi demi kamu aku rela melakukan hal yang sebenarnya sedang tidak ingin ku lakukan." ungkap Nio yang akhirnya mulai kembali mengenakan pakaiannya.
"Aku sebenarnya masih belum tau pasti apa yang akan kita lakukan di halaman belakang, tapi menurutku, jika kamu sedang tidak ingin melakukannya, maka jangan lakukan!" Tegas Rena.
"Oh tidak, tidak! meski merasa masih sangat lelah, tapi kurasa ini moment yang pas untuk kita melakukannya."
Rena pun kembali terdiam, dan memilih untuk melanjutkan memakai pakaiannya.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, Rena dan Nio turun bersama menapaki anak tangga menuju halaman belakang.
"Apa sedang tidak ada orang di rumah? Kenapa rumah ini terasa sepi sekali?" Tanya Rena pelan sembari sorot matanya terus menyisir hampir ke setiap ruangan yang bisa di jangkau matanya saat itu.
"Bukankah rumah ini memang selalu sepi seperti ini saat siang hari?? itulah salah satu yang membuatku merasa frustasi setiap kali berada di rumah ini."
"Benarkah?"
"Iya, tapi itu dulu, lebih tepatnya sebelum kamu datang ke rumah ini. kalau sekarang, aku bahkan jadi begitu betah di rumah ini." Jawab Nio yang kembali tersenyum hangat saat menatap Rena.
Rena pun tentu ikut tersenyum saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut lelaki yang ia cintai. Mereka terus melangkah dengan tenang menuju pintu yang dapat langsung menghubungkan mereka ke teras belakang rumah.
"Kita sudah berada disini, lalu kamu mau kita melakukan apa sekarang?" Tanya Rena saat mereka sudah berdiri di teras belakang rumah.
Saat itu Nio hanya diam, ia kembali menatap Rena sembari tersenyum, lalu tanpa berkata apapun lagi, Nio pun mulai melangkah menuju halaman, membiarkan tubuh atletisnya perlahan mulai basah terkena guyuran hujan yang masih terbilang cukup deras kala itu. Hal itu pun cukup membuat Rena terkejut hingga membuat mulutnya menganga saat memandangi aksi Nio kala itu.
"Oh my god Nio!! apa yang kamu lakukan?"
Nio menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di tengah halaman rerumputan yang cukup luas, ia terus tersenyum, kepalanya juga mulai terdongak menikmati setiap tetesan air hujan yang terasa begitu sejuk menyentuh permukaan kulitnya.
"Nio, nanti kamu bisa sakit!!" Teriak Rena.
"Rena, kemarilah!" Ucap Nio lembut.
"Kamu bercanda?? tidak mau!" jawab Rena yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Ayo, kemarilah! ini sangat menyenangkan, kemarila!" Ajak Nio lagi seolah tanpa putus asa.
"Aku takut!" ucap Rena yang nampaknya masih sangat ragu.
"Kamu percaya padaku kan? ayo kemarilah, mendekat padaku!" ajak Nio yang mulai menjulurkan tangannya ke arah Rena.
__ADS_1
Bersambung...