Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Pengakuan


__ADS_3

"Oh bro, boleh aku merepotkanmu sekali lagi?" Tanya Zayden tiba-tiba.


"Ada apa?!" Tanya Nio.


"Bisakah kamu mengantarkan Nana pulang ke apartement? Sepertinya dia mulai mabuk karena kebanyakan minum Sampanye."


"Oh, sure!" Jawab Nio dengan cepat tanpa ragu.


Namun berbeda halnya dengan Rena yang seketika kembali menatap tajam ke arah Nio,.


"Ta,, tapi Zay, aku bisa pulang sendiri!"


"Hais, aku tidak akan mungkin membiarkan adikku yang dalam keadaan mabuk pulang sendiri, apalagi sedang berada di kota asing." Jawab Zayden.


Rena pun akhirnya terdiam.


"Ini bro, kamu bisa pakai mobil ini. Flat nomornya tertulis di gantungan kunci itu." Ucap Zayden sembari menyerahkan sebuah kunci mobil pada Nio.


"Ok,"


"Ayo." Ajak Nio kemudian


Rena dengan wajahnya yang nampak tak senang, akhirnya mulai melangkah mengikuti langkah Nio. Setibanya di parkiran mobil, Rena kembali menghentikan langkahnya dan seolah tidak berminat untuk pulang bersama dengan lelaki yang begitu membuatnya kesal.


"Aku pulang sendiri saja!" Ucap Rena yang kembali melipat kedua tangannya ke dada.


Namun Nio, tanpa berkata apapun, langsung menarik tangan Rena dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Apa kamu lupa dengan apa yang dikatakan oleh kakakmu? Wanita yang sedang mabuk dilarang pulang sendiri."


Rena pun hanya mendengus dan akhirnya pasrah. Sepanjang jalan Rena terus diam sembari memandangi jalanan dari kaca jendela mobil hingga setengah perjalanan dilalui dengan suasana yang begitu hening, sedangkan Nio yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu, kembali bersuara dan meminta maaf.


"Rena, aku sungguh minta maaf. Aku mengaku salah dan sangat menyesali tindakanku."


"Menyesal katamu? Bagian mana yang membuatmu menyesal?? Memangnya jika bisa di ulang, tindakan apa yang akan kamu lakukan saat melihatku masuk ke kamar itu bersama Zeyn?" Tanya Rena namun tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nio.


"Hmmm jika bisa di ulang, mungkin aku bisa mengetuk pintunya dengan sedikit lebih sopan." Jawab Nio polos.


Hal itu pun membuat Rena seketika langsung menatap Nio dengan raut wajah yang tak biasa.


"Kamu tetap akan mengetuk pintunya???" Tanya Rena lagi yang seolah tidak menduga jawaban Nio, namun di sisi lain, entah kenapa dia juga merasa senang karena merasa jika Nio masih memperdulikannya dan bahkan terlihat masih merasa cemburu.


"Iy,,, iya!" Nio pun mengangguk singkat.


"Ok, tapi kenapa?" Tanya Rena dengan cepat.

__ADS_1


"Kenapa kamu tetap mengetuk pintu itu? Apa kamu cemburu? Apa kamu masih memiliki perasaan terpendam padaku?" Tanya Rena lagi yang seolah ingin memancing Nio.


Rena tentu berani dan tanpa ragu menanyakan hal semacam itu, mengingat jika saat itu ia sedang terpengaruh alkohol hingga membuatnya jadi lebih leluasa untuk mengatakan hal apapun yang ada di dalam hatinya tanpa beban.


Namun Nio, mendapat pertanyaan spontan seperti itu tentu saja kembali membuatnya seketika terdiam dengan lidah yang nampaknya masih begitu sulit untuk mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Ak,,, aku... ka,, karena aku....."


Rena pun lagi-lagi mendengus sembari tersenyum lirih.


"Ternyata benar, kamu benar-benar tidak tau alasannya kenapa kamu mengetuk pintu itu."


Nio kembali terdiam, entah kenapa saat itu ia menjadi mendadak bodoh dalam hal mengungkapkan perasaannya.


"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi!! Dan kita tidak perlu bicara lagi!" Tegas Rena yang seketika memalingkan wajahnya untuk kembali menatap ke arah kaca jendela.


Saat itu Nio hanya bisa menghela nafas dan menggeram pada dirinya sendiri yang begitu sulit untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Hingga akhirnya tiba di apartement, Rena melangkah cepat dan berjalan lebih dulu di depan Nio. Hal itu membuat Nio merasa semakin tidak nyaman dan benar-benar tidak ingin masalah itu menjadi berlarut-larut.


"Rena, hei! Kamu sungguh masih marah padaku?" Tanya Nio yang terus mengikuti langkah Rena sampai mereka tiba di depan di depan pintu.


Namun Rena masih diam, ia membuka pintunya dan terus melangkah cepat masuk ke dalam.


"Rena, aku sekali lagi sungguh minta maaf jika tindakanku tadi jadi mengganggu kebersamaanmu dengan lelaki asing itu." Ungkap Nio lagi yang masih terus mengikuti langkah Rena.


"I dont care siapapun namanya!!" Jawab Nio dengan nada tinggi.


Rena pun kembali terdiam sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Rena, aku sungguh minta maaf jika itu benar-benar mengganggu, aku salah, ok aku akui itu, tolong maafkan aku." Ungkap Nio lagi yang kembali merendahkan suaranya.


"Bukan hal itu yang membuatku kesal hingga saat ini!!"


"Lalu??" Dahi Nio pun seketika nampak berkerut.


"Tindakanmu itu seolah kamu sedang terbakar api cemburu, tapi nyatanya kamu bahkan tidak tau kenapa kamu bisa melakukannya. Itu yang membuatku marah!" Jelas Rena yang kembali menatap Nio dengan tajam.


"Ya aku bertindak seperti itu karena...."


"Karena apa?"


Lagi dan lagi, Nio terlihat begitu sulit untuk melanjutkan ucapannya hingga membuat Rena muak dan kembali melangkah pergi.


"Ah lupakan saja!!!" Ketus Rena yang ingin melangkah menuju kamarnya.


Hal itu membuat Nio terdiam sejenak, namun entah mendapat keberanian dari mana yang seakan tiba-tiba muncul dalam dirinya,

__ADS_1


"Aaagh persetan dengan rasa malu dan gengsi!!!" Gumamnya pelan.


"Ok aku mengaku!" Ucap Nio akhirnya yang membuat langkah Rena seketika terhenti saat mendengarnya.


"Ak,, aku cemburu!" Tambah Nio kemudian.


Kedua mata Rena pun sontak membesar ketika mendengar pengakuan itu keluar dari mulut Nio. Rena pun perlahan kembali membalikkan badannya ke arah Nio namun dengan tatapan yang masih terlihat datar.


"Ya, aku benar-benar terbakar api cemburu saat melihatmu bersama lelaki itu."


"Zeyn, namanya Zeyn!" Ucap Rena dengan suara pelan.


"Whatever!!" Jawab Nio yang seolah tidak berminat untuk menyebut nama lelaki itu.


"Selama ini, ku pikir aku sudah melupakan semua tentangmu, tapi nyatanya aku keliru, nyatanya aku masih merasa tidak terima dan sangat kesal saat melihatmu dekat dengan lelaki lain, apalagi hingga masuk ke kamar hotel." Ungkap Nio yang mulai melangkah perlahan ke arah Rena.


"Ku pikir aku sudah melupakanmu, tapi nyatanya, rasanya masih sama saat kita kembali bertemu, dan aku sangat kesulitan untuk menepis perasaan bahwa aku masih mencintaimu." Tambah Nio lagi yang akhirnya kini ia tepat berdiri di hadapan Rena.


"Yaa, aku dengan tulus mengatakan bahwa, aku masih sangat mencintaimu, Rena." Tambah Nio lagi terus menatap Rena dengan tatapan yang begitu lekat.


Ungkapan itu pun berhasil membuat kedua mata Rena mulai nampak berkaca-kaca dan akhirnya tanpa ragu, Rena pun seketika memeluk Nio tanpa berkata apapun lagi. Hal itu pun membuat Nio sedikit terkejut dan tidak menyangka, namun tentu saja ia langsung membalas pelukan Rena, dan memeluknya dengan erat.


Kini, Nio bisa merasakan kembali aroma tubuh serta aroma rambut Rena yang sudah begitu ia rindukan, membuat jiwanya seketika menghangat, dan perlahan sebuah senyuman nampak mulai terpancar menghiasi wajah tampannya.


"Aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu." Ucap Nio pelan sembari semakin mengeratkan pelukannya.


Rena akhirnya mulai meneteskan air matanya begitu saja, tentu saja itu adalah air mata kebahagiaan karena ia bisa kembali memeluk lelaki yang ternyata juga masih begitu ia cintai.


"Kamu sejak tadi hanya diam, apa aku boleh tau bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya sembari perlahan mulai melepaskan tautan tubuh mereka.


"Aku juga merindukanmu." Ucap Rena yang terus meneteskan air mata bahagia.


"Jangan mengatakan kata 'juga' karena itu membuatku merasa kamu hanya ikut-ikutan." Ucap Nio dengan tersenyum lembut, sembari menyeka air mata Rena.


Rena pun akhirnya ikut tersenyum.


"Ya, aku sangat merindukanmu, dan masih mencintaimu." Ungkap Rena akhirnya.


Nio yang mendengar hal itu akhirnya semakin mengembangkan senyumannya, lalu perlahan tapi pasti, mulai semakin mendekat ke arah Rena, dan ya, sebuah ciuman hangat akhirnya mendarat sempurna di bibir Rena.


Yuk yang mau lanjut, banyakin likenya dulu yuk di novel ini. Bab-bab yang belum di like, yuk di like dulu biar author bisa makin semangat dan bisa crazy up lagi hehe makin banyak notif maka makin semangat authornya update. Like like ya gengs, kasi komentar yang membangun lebih bermakna dari pada kata Next🥰


Juga jangan lupa follow author agar gak ketinggalan karya author yang lainnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2