
Ini dia waktu yang di nanti-nanti, dimana Nio untuk pertama kalinya, kembali menginjakkan kakinya lagi selama setengah tahun terakhir ke tanah kelahirannya.
Dengan wajah dingin, ia terus melangkah menuju pintu keluar bandara dengan menyeret sebuah koper. Tentu saja kedatangannya kali itu tidak ada di sambut oleh siapapun, tidak ada jemputan, sehingga mengharuskan ia naik taksi untuk menuju ke rumahnya yang lumayan jauh dari bandara.
Nio dengan tatapan sendu, terus terdiam memandangi penampakan kota kelahirannya itu yang tidak banyak berubah.
Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh Nio berhenti tepat di depan gerbang rumah Nio yang megah. Dengan perlahan Nio pun turun, sorot matanya kini mulai menatap pekat ke arah gerbang rumahnya yang kala itu tertutup.
"Apa rumah ini benar-benar kosong semenjak papa meninggal?" Tanya Nio dalam hati yang mulai melangkah pelan mendekati gerbang rumahnya itu.
"Jika iya, apa itu artinya aku tidak masuk ke dalam karena gerbang ini terkunci??" Tanyanya lagi yang mendadak terlihat ragu.
Namun siapa sangka, tiba-tiba saja seseorang membuka gerbang itu dari dalam hingga membuat Nio seketika terkejut ketika mendapati gerbang itu terbuka.
"Gerbangnya terbuka? Apa masih ada yang bekerja dirumah ini? Bukankah ini aneh? Lalu siapa yang mengurus gaji mereka selama ini?" Nio pun terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maaf mas, ada keperluan apa datang ke rumah ini?" Tanya security yang di kenal bernama pak Moqtar.
Ya, jelas saja ia tidak mengenali Nio, selain saat itu Nio memakai topi berwarna hitam, ia juga memakai masker yang juga berwarna hitam.
Tanpa menjawab dengan sepatah katapun, akhirnya Nio pun perlahan mulai melepaskan masker yang saat itu ia kenakan, dan kembali menatap sendu ke arah pak Moqtar.
Tentu saja mendapati sosok yang tentu ia kenali, membuat pak Moqtar sontak terperangah, kedua matanya nampak begitu membulat, disusul pula dengan mulutnya yang juga ikut sedikit menganga karena saking terkejutnya.
"Ma,, mas Nio???!!"
Nio pun tersenyum lirih,
"Iya pak, ini aku." Jawabnya dengan suara pelan.
"Astaga, mas Nio, ini benar-benar mas Nio??! Ya tuhan, akhirnya mas Nio kembali." Pak Moqtar pun nampak begitu sumringah.
"Bi Inah, pak Eko, Mirnaa, mas Nio sudah pulang!! Mas Nio sudah kembali!!!!" Pekik pak Moqtar dengan suara sangat keras ke arah dalam area rumah itu.
Entah mereka yang disebut namanya bisa mendengar atau tidak, mengingat jarak dari gerbang menuju rumah juga tidak dekat, berkisar 10 meter atau bahkan lebih.
__ADS_1
"Ah ayo masuk mas Nio, ayo masuk." Pak Moqtar pun segera mempersilahkan Nio masuk.
"Terima kasih pak."
"Biar saya saja yang bawa koper ini mas," pak Moqtar pun langsung mengambil alih koper yang kala itu berada di sisi Nio.
"Terima kasih banyak pak."
"Iya mas, mari mas masuk."
Nio pun akhirnya kembali melangkah dengan tenang menuju rumahnya, rumah yang memiliki banyak sejarah baginya, sejarah kelam, maupun sejarah yang cukup manis untuk ia kenang.
Namun entah kenapa, tiba-tiba saja bayang-bayang dirinya ketika kecil kembali melintas begitu saja di pikirannya, bayang-bayang dimana saat ia dan Rudy bermain bola di taman depan rumah itu kala ia masih berumur 5 tahun, tak hanya itu, saat melihat sebuah kursi yang ada di taman, ia juga tiba-tiba terbayang bagaimana Rudy dan ia duduk bersantai di pagi hari menikmati beberapa potong kue buatan bi Inah yang lezat.
Hal itu seolah benar-benar kembali ia saksikan di depan matanya, bagaimana dulu Rudy yang begitu sayang dan memiliki banyak moment bersama dengannya, hingga tanpa sadar kedua mata Nio kembali nampak berkaca-kaca kala ia sudah berada di depan teras depan rumahnya.
"Bi Inah, pak Eko, Mirnaa, lihat siapa yang datang!!" Teriak pak Moqtar lagi.
"Siapa yang datang Moqtar??!" Terdengar suara bi Inah dari dalam dengan sedikit berteriak.
Dan suara bi Inah pun sontak seolah menghilang, tidak terdengar lagi.
Lagi-lagi Nio seolah kembali di pertontonkan bagaimana ia dan Rudy yang pernah bermain kejar-kejaran di teras rumahnya yang lebar, penampakan itu benar-benar semakin membuat dadanya terasa sesak.
"Ayo mas, masuklah."
Nio pun hanya mengangguk pelan, lalu kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu-ragu untuk memasuki rumah itu. Begitu selangkah memasuki pintu, tiba-tiba bi Inah muncul dari dapur dengan membawa raut wajahnya yang tak biasa, ia terlihat sedih namun juga nampak senang di waktu yang bersamaan.
"Mas Nio???" Ucap bi Inah yang terdengar lirih.
"Bi Inah." Nio pun akhirnya melajukan langkahnya ke arah bi Inah dan kemudian langsung memeluk tubuh yang nampak mulai renta itu begitu saja.
Nio kembali menangis tersedu-sedu saat memeluk erat tubuh orang yang juga ikut membesarkannya sedari kecil itu.
"Mas Nio, darimana saja kamu nak?? Kemana saja kamu mas Nio?? Kemana??" Tanya Bi Inah yang juga ikut menangis saat membalas pelukan dari lelaki yang kini sudah tumbuh dan memiliki tubuh yang begitu kokoh itu.
__ADS_1
"Kenapa bisa bi? Bagaimana dia bisa pergi begitu saja? Bagaimana dia bisa pergi disaat dia belum berhasil bertemu denganku?! Aku bahkan belum sempat menghajarnya karena telah mengabaikan aku selama ini, kenapa dia harus pergi secepat ini??" Ungkap Nio yang semakin menangis dan semakin juga mengeratkan pelukannya pada bi Inah.
"Jadi mas Nio sudah tau juga hal itu?"
Nio pun hanya mengangguk.
Pak Moqtar yang menyaksikan hal itu akhirnya juga ikut meneteskan air matanya karena merasa sangat terharu.
Setelah beberapa saat memeluk bi Inah dan mencurahkan segala kesedihannya, Nio pun perlahan melepaskan tautan tubuh mereka sembari menyeka air matanya,
"Lalu dimana dia sekarang bi? Bisakah bibi membawaku kesana?? Aku ingin menemuinya!"
Bi inah pun mengangguk cepat sembari langsung mengusap air matanya.
"Tapi mas Nio, sebenarnya bibi sedang memasak, bisakah kita pergi setengah jam lagi?"
Nio pun mengangguk pelan.
"Ya sudah, kalau begitu mas Nio bisa beristirahat sebentar di kamar. Bibi selalu membersihkan kamar mas Nio setiap hari, jadi kamar itu selalu bersih."
"Terima kasih banyak bi."
"Iya mas Nio, sama-sama."
"Ah kalau begitu biar saya antar kopernya ke kamar mas Nio." Ucap pak Moqtar.
"Tidak perlu repot-repot pak Moqtar, biar aku saja, terima kasih banyak sebelumnya."
"Baiklah mas."
Nio pun akhirnya masuk ke kamarnya, melangkah perlahan sembari memandangi seluruh sisi kamar yang tata letaknya benar-benar sama sekali tidak berubah dari terakhir kali ia tinggalkan dulu.
Nio pun duduk di tepi ranjangnya, lalu sebelah tangannya mulai mengusap pelan tempat tidur yang dulu selalu menjadi tempat ternyaman baginya untuk beristirahat.
"Aku benar-benar merindukan ruangan ini, bahkan aroma kamar inipun masih sama seperti terakhir kali aku tinggalkan." Celetuknya seorang diri.
__ADS_1
...Bersambung......