
Rena pun akhirnya terdiam dan ikut memejamkan matanya. Melakukannya tiga kali dalam waktu berdekatan benar-benar cukup menguras tenaganya malam itu, hingga tak berapa lama ia pun tertidur begitu saja.
Pagi hari yang cerah...
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, sinar mentari pagi terasa semakin hangat menyengat permukaan kulit punggung Rena yang polos tanpa busana. Saat itu Rena dan Nio nampak masih tertidur dengan begitu lelap di atas ranjang yang sama dalam keadaan yang juga sama-sama tanpa busana sehelai pun.
Tak berapa lama, suara deringan ponsel tiba-tiba terdengar begitu melengking di ruangan itu, hal itu pun sontak membuat Rena tersentak dari tidurnya, dengan matanya yang masih terpejam, ia pun perlahan meraba-raba ke sekitarnya untuk meraih ponsel itu.
"Ahh dimana ponselku?" Keluh Rena yang saat itu merasa jika matanya masih sangat mengantuk akibat begadang semalaman.
Merasa jika ponsel tak kunjung tergapai oleh tangannya, mau tak mau Rena pun akhirnya mulai membuka matanya. Melihat keadaan sekitarnya yang sudah sangat berantakan, di tambah lagi ada sosok Nio yang masih tertidur pulas di sisinya, cukup membuat Rena terkejut bukan kepalang.
"Astaga!!" Serunya yang seketika menutup mulutnya yang sedikit menganga.
"Oh ya ampun, kami benar-benar melakukannya lagi?" Tanya Rena seorang diri yang bergegas bangkit dari atas tempat tidur sembari membungkus tubuh polosnya dengan selimut.
Rena sangat panik, ia pun terus mencari-cari ponsel yang sejak terus berdering dengan terus menggerutu.
"Aaaghh dimana ponselku??!!!!" Keluhnya menggeram sembari terus memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.
Hal itu pun akhirnya berhasil membuat Nio ikut terbangun.
"Rena, kamu sedang apa? Ayo kembali ke atas ranjang." Gumam Nio yang saat itu masih nampak memejamkan matanya.
"Hah!! Bisa-bisanya kau sanggup berkata begitu padaku!!" Ketus Rena yang merasa kembali emosi pada Nio.
Nio yang terkejut akhirnya langsung mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan sedikit bingung.
"Sayang, kenapa kamu membentakku seperti itu?"
"Berhenti memanggilku sayang!! Lebih baik kau bangun dan bantu aku mencari dimana ponsel yang sejak tadi terus berdering itu!!" Ketus Rena lagi yang masih terlihat fokus mencari-cari dimana sumber suara deringan ponsel itu.
"Haaaiish, kamu ini siapa sebenarnya? Dimana Rena yang lembut dan perhatian itu ha?"
"Rena yang lembut sudah menghilang!!" Jawab Rena ketus.
"Duhh, kenapa aku bisa tidur disini? Matilah aku, matilah aku jika mas Rudy tau."
__ADS_1
"Hmm tenang lah, aku yakin dia pasti tidak pulang semalam."
"Bagaimana aku tau dia pulang atau tidak jika aku sama sekali tidak ada masuk ke kamar lagi sejak semalam!!"
Rena pun bergegas melangkah menuju westafel yang ada di dalam kamar mandi Nio yang cukup luas. Dengan cepat ia membasuh wajahnya demi membuatnya bisa lebih sadar lagi. Hal itu membuat selimut yang sejak tadi terus di dekapnya langsung merosot jatuh begitu saja hingga tubuh polosnya kembali terpampang nyata.
Tanpa sengaja, Nio pun datang menyusulnya ke kamar mandi karena ia merasa sangat heran dan bingung pada perubahan sikap Rena yang sangat jauh berbeda dari semalam,
"Rena aku...." Ucap Nio begitu berdiri di depan pintu kamar mandi.
Namun hal itu cukup membuat Rena terkejut dan kembali ingin mengusirnya.
"Astaga!!! Hei kau, tolong keluar! Aku butuh privasi saat dalam keadaan tidak memakai busana seperti ini!!" Tegasnya yang kembali memungut selimut yang terjatuh ke lantai kamar mandi.
Rena yang kembali merasa kesal, dengan kasar menabrak tubuh Nio yang saat itu berdiri di depan pintu, dengan langkah cepat ia keluar dari kamar mandi dan kembali memakai pakaiannya.
Mendengar hal itu sontak membuat Nio seketika mendengus pelan dan kembali terkekeh geli seolah tak menyangka jika Rena bisa mengatakan hal semacam itu disaat mereka telah saling melihat isi dalam tubuh mereka masing-masing.
"Haha setelah apa yang kita lakukan semalam dan sebelumnya, kamu masih sanggup meminta privasi dariku?? Haisss, yang benar saja!!?" Ucap Nio seolah masih tak menyangka.
"Hmm terserahmu saja mau bilang apa!" Jawab Rena acuh.
"Ya, aku memang tidak menginginkannya!!"
"Tidak menginginkannya tapi bisa sampai mengulanginya sebanyak tiga kali??!"
"Hahaha hal itu terjadi karena aku mabuk Antonio, aku mabuk!!!" Sanggah Rena yang mulai menatap Nio dengan tajam.
"No, no!! tanpa mabuk pun, ku yakin kamu tetap akan melakukannya denganku."
"Kamu jangan terlalu percaya diri, intinya semua itu bisa terjadi karena aku mabuk!!"
"Lalu bagaimana tentang ucapanmu yang mengatakan jika kamu juga mencintaiku? Apa itu juga karena mabuk??!" Tanya Nio yang kali itu mulai menatap Rena dengan tatapan sedikit sendu.
Mendengar hal itu, Rena pun mendadak terlihat gugup serta gelagapan.
"Hmm memangnya aku ada mengatakan hal semacam itu?" Tanya Rena seolah ingin kembali memungkiri perasaannya.
__ADS_1
Nio hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.
"It,, itu,, hmm itu,, sudah pasti itu juga hanya ucapan ngawur. Kenapa juga kamu harus mempercayai ucapan orang yang sedang mabuk??" Bantah Rena yang berusaha untuk kembali terlihat biasa di hadapan Nio.
"Karena terkadang, orang mabuk juga bisa lebih jujur saat mengungkapkan isi hatinya. Dan sampai sekarang aku percaya, jika yang kamu katakan semalam itu adalah benar."
"Aku tidak merasa begitu!!"
Nio pun akhirnya hanya menghela nafas panjang dan kembali terduduk lesu di sofa yang ada di kamarnya.
"Aagh ini dia." Celetuk Rena saat berhasil menemukan tas yang di dalamnya terdapat ponselnya.
"Aaaggh benar kan, 7 panggilan tidak terjawab dari mas Rudy." Gerutu Rena yang bergegas merapikan rambutnya sembari ingin melangkah keluar,
"Jadi kamu akan keluar begitu saja?" Tanya Nio lagi.
"Lalu apa lagi yang kau harapkan?!"
"Tentu saja aku mengharapkanmu untuk tetap disini!!"
"Maaf aku tidak bisa!" Tegas Rena yang kemudian langsung keluar begitu saja.
Meninggalkan Nio yang akhirnya kembali dibuat mendengus kesal serta rasa bingung yang semakin membesar,
"Aaagh ada apa dengannya? Kenapa sikapnya begitu lagi??" Keluh Nio yang langsung mengusap kasar wajahnya.
Rena berkali-kali menarik nafas demi mengatur agar dirinya tetap tenang sebelum memasuki kamarnya.
"Astaga, bagaimana kalau mas Rudy ternyata sudah menungguku di kamar dan mencariku semalaman??" Gumam Rena seorang diri yang saat itu sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Beberapa kali Rena kembali menghela nafas panjang, lalu perlahan mulai menekan handle pintu itu dan membukanya,
"Mass...." Ucapanya seketika terhenti saat tidak mendapati sosok Rudy ada di kamarnya.
Hal itu membuat Rena seketika terdiam sembari melangkah pelan memasuki kamarnya.
"Mas Rudy, apa mas sedang di kamar mandi?" Tanya Rena pelan, namun tetap tidak ada jawaban.
__ADS_1
...Bersambung......