
Sejak saat itu, Rena pun resmi mewarisi 30% dari harta kekayaan Rudy. Meskipun sudah tidak lagi tinggal di rumah megah kepunyaan Rudy, namun dengan uang yang ia miliki, ia bahkan tetap memperkerjakan bi Inah beserta rekannya yang lain untuk tetap bekerja menempati serta membersihkan rumah itu agar rumah itu bisa selalu terawat.
Rena dengan uangnya juga memilih untuk membuka sebuah restoran dan sudah mempekerjakan puluhan pegawai di dua restoran yang ia buka sekaligus di daerah yang berbeda, hal itu terpikir olehnya karena mengingat ia yang memiliki hobi masak.
Siapa sangka, restoran yang awalnya hanya coba-coba, kini malah berkembang pesat karena banyaknya pengunjung yang meminati cita rasa dari restoran itu sendiri. Dan syukurnya, hanya dalam kurun waktu 5 bulan Rena sudah bisa menambah cabang restorannya dari yang awalnya hanya dua, kini sudah menjadi lima dan tersebar di lima titik kota itu.
5 Bulan berlalu...
Tidak terasa, sudah setengah tahun lamanya Nio pergi meninggalkan rumah, dan memilih ikut bekerja dengan Zayden di Qatar. Dalam waktu setengah tahun itu pula, sudah begitu banyak hal yang dilalui oleh Nio. Dengan keseriusan dan kegigihannya saat bekerja, ia pun sempat ditawarkan posisi menjadi Manager resto oleh owner hotel sekaligus resto itu karena ia yang begitu menyukai cara kerja Nio, juga termasuk visual Nio yang begitu berkharisma yang menurutnya sangat tidak cocok bila dipekerjakan hanya sebagai pelayan. Namun sayangnya Nio malah menolak kesempatan emas itu dan memilih untuk tetap menjadi pelayan dengan alasan, ia lebih menyukai pekerjaan itu karena bisa membuatnya jadi sangat sibuk hingga tidak punya waktu untuk memikirkan hal yang selalu membuatnya sedih.
Saat itu, Nio pulang terlebih dulu ke apartement saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Qatar, sedangkan Zayden masih tetap tinggal karena ingin mengecek stok bahan-bahan makanan di bagian dapur.
Nio yang kala itu merasa begitu lelah, namun memilih untuk tidak langsung beristirahat, melainkan melangkah dengan tenang menuju balkon, yang menjadi tempat favoritnya di apartement itu. Ia berdiri terdiam, memandangi suasana malam kota Doha yang seolah tidak ada matinya itu. Tiba-tiba ia kembali terpikir dengan orang-orang yang ada di rumahnya, Rena, Rudy, bi Inah dan lainnya yang mendadak ia rindukan.
"Hal apa lagi yang membuatmu melamun Bro?" Tanya Zayden yang akhirnya baru pulang.
"Oh, kau sudah pulang?" Tanya Nio ketika menoleh ke arah Zayden.
"Ya, baru saja masuk."
"Hmm." Nio pun hanya mengangguk singkat.
"Ada apa lagi? Siapa kali ini yang membuatmu kembali melamun? Apa kamu mulai terpikat dengan seorang gadis disini? Hehehe." Tanya Zayden dengan sebuah senyumannya yang khas.
"Tiba-tiba saja, aku merindukan mereka!" Jawab Nio yang kembali menyorot ke arah pemandangan kota yang disajikan dari balkonnya.
"Mereka? Siapa mereka yang kau maksud?" Zayden pun nampak mulai mengerutkan dahinya.
"Mereka yang sebelumnya begitu ku benci, yang sangat membuatku kecewa hingga akhirnya membuatku datang kesini hanya agar tidak melihat wajah mereka lagi."
__ADS_1
"Owhh, jadi,,, kamu merindukan mereka sekarang?"
"Hmm." Nio mengangguk pelan dengan wajah sendu.
"Ya, kurasa itu hal yang wajar, mengingat mereka adalah keluargamu, jadi walau sebenci apapun, jika sudah terpisah lama, akan merasa rindu juga, ya manusiawi." Ungkap Zayden yang menanggapi hal itu secara bijak.
"Kamu bisa saja menghubungi mereka, untuk menanyakan kabar, yakan?" Tambah Zayden lagi.
"Aku tidak mungkin melakukannya!"
"Why??" Zayden pun kembali mengerutkan dahinya.
"Apa karena gengsi?? Haiss come on bro, kejadiannya sudah setengah tahun yang lalu, apa kamu sungguh ingin mengingatnya seumur hidupmu??" Tambah Zayden lagi.
Nio pun terdiam sembari terus mencerna segala ucapan orang yang kini menjadi orang paling dekat dengannya itu.
Nio lagi-lagi masih terdiam, dalam hatinya juga membenarkan segala yang di ucapkan oleh Zayden.
"Berdamailah Bro, lapangkan dada dan maafkan saja orang-orang yang sempat menyakitimu, dan setelahnya, kamu bisa memulai hidup baru lagi dengan tenang, tanpa ada lagi yang mengganjal di hati dan pikiranmu."
Melihat Nio yang masih terdiam, membuat Zayden akhirnya kembali tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan pundak Nio.
"Ya, pikirkan saja dulu segala ucapanku, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu ya."
"Ya," Nio pun mengangguk pelan.
Zayden pun mulai melangkah dengan tenang untuk kembali masuk ke dalam apartement.
"By the way, thanks bro! Terima kasih kau sudah banyak mengubah jalan pikiranku selama disini, terima kasih." Ucap Nio yang sejenak membuat langkah Zayden terhenti.
__ADS_1
Zayden pun kembali menoleh ke arah Nio, lalu ia kembali tersenyum tipis,
"Ya, you're welcome." Jawabnya yang kemudian langsung melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Nio berdiri seorang diri.
"Kurasa ada benarnya semua yang dikatakan oleh Zayden, hmm haruskah aku berdamai dengan semua hal yang sebelumnya membuatku jadi begitu terpuruk?" Gumam Nio dalam hati.
Nio pun akhirnya kembali melangkah ke kamarnya, membuka salah satu laci yang ada di nakas di sisi tempat tidurnya, lalu dengan sedikit ragu meraih sebuah ponsel dari dalam laci itu.
Ya, saking niatnya Nio untuk melupakan semua hal yang ia tinggalkan, ia pun sampai mengganti ponselnya, dan menyimpan ponsel lamanya selama setengah tahun tanpa ada niat untuk ia lihat walau sebentar. Dan ini pertama kalinya ia kembali mengeluarkan ponsel itu dari tempat persembunyiannya selama 6 bulan, beberapa saat terdiam dan terus memandangi ponsel yang dalam keadaan mati itu.
Lalu dengan tangan yang sedikit bergetar, ia pun mulai menekan tombol power untuk menghidupkan ponselnya yang telah lama ia padamkan. Tampilan ponsel itu bahkan masih sama, dengan segala aplikasi yang ada di dalamnya juga masih sama, tidak ada yang berubah dari ponsel itu selain jaringan internet yang sudah tidak lagi terkoneksi serta masa berlaku kartunya yang sudah habis, juga kartu lamanya tentu saja tidak bisa ia gunakan ketika ia di Qatar mengingat sudah beda server.
Dengan mengandalkan wifi apartementnya, Nio pun mulai menghubungkan ponsel itu ke wifi, membuat jaringan internet kembali terhubung di ponselnya.
"Hmm baiklah, ayo kita mulai." Celetuk Nio sembari mulai berbaring dengan tenang di atas ranjangnya.
"Aku penasaran, apa saja yang sudah terjadi disana yang bisa ku ketahui selama 6 bulan terakhir ketika aku pergi tanpa jejak." Tambahnya lagi.
Tak lama ratusan pesan dari sebuah aplikasi hijau mendadak bermunculan secara bersamaan dan terus menerus, hal itu wajar mengingat selama 6 bulan pesan itu terus menumpuk dan sekarang ketika internet kembali tersambung, pesan yang menumpuk itu langsung masuk dan membuat ponsel itu seolah tidak berhenti berbunyi.
"Benar saja, semua orang nampaknya sibuk mencariku." Celetuk Nio lagi sembari ibu jarinya mulai menyentuh aplikasi hijau itu.
Dengan tenang ia mulai mengusap layar ponsel itu kebawah, ada banyak pesan dari banyak orang yang masuk saat itu hingga ia bingung harus mulai membaca pesan yang mana.
Namun tentu saja ada satu nama yang membuatnya tertarik, yaitu kala melihat nama Rena menjadi salah satu dari banyaknya orang yang mengiriminya pesan.
"Apa dia juga mencariku?" Celetuk Nio yang langsung menyentuh nama Rena hingga terbukalah segala isi pesan dari Rena.
...Bersambung......
__ADS_1