Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menghindari hal tak diinginkan


__ADS_3

"Apa wanita yang kamu cintai saat ini membawamu ke situasi yang rumit?"


"Iya, bahkan sangat rumit." Jawab Nio lirih sembari kembali meneguk minumannya.


"Sekarang katakan, siapa wanita itu? Secantik apa dia sehingga bisa membuatmu jatuh cinta padanya?"


Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Nio terkekeh pelan,


"Tidak Sonia, kamu tidak bisa memancingku dalam hal ini, aku memang mulai mabuk tapi masih bisa mengontrol diri. Aku tidak bisa menyebut namanya, siapapun wanita itu biar aku saja yang tau."


"Haaaissh, benar-benar tidak seru!!" Celetuk Sonia yang langsung memanyunkan bibirnya.


"Tapi jujur kamu adalah wanita yang cantik Sonia, dan mungkin menjadi wanita paling cantik di kampus ini, wajar saja ada banyak lelaki yang menggilaimu, mungkin aku saja yang berbeda dengan mereka." Ungkap Nio lagi yang sontak membuat Sonia kembali tersenyum senang.


"Nio, meskipun saat ini kita sudah sepakat untuk berteman, namun jujur saja, aku masih menyukaimu!" Ungkap Sonia tanpa malu apalagi ragu.


Mendengar hal itu membuat Nio seketika kembali terkekeh pelan,


"Apalagi yang kamu harapkan dariku Sonia? Bukankah sudah jelas kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu."


"Aku tau, tapi apa kamu tidak bisa belajar menyukaiku? Kenapa harus menjalani hubungan yang rumit jika kamu bisa memilih hubungan yang sederhana dan mudah. Hubungan yang di awal saja sudah terasa rumit, bagaimana bisa akan berjalan mulus dan bertahan lama, percuma Nio, tidak akan berhasil." Ungka Sonia.


"Hmm kamu benar, sepertinya hubungan kami memang akan sangat sulit untuk berhasil. Aku mengharapkan hubungan kami berujung ke pernikahan, namun sayangnya tidak dengannya." Ungkap Nio yang kembali terlihat lirih.


"Oh ya?? Jadi kamu sudah melamarnya?? Bagaimana bisa ada seorang wanita yang menolak lamaran dari laki-laki sepertimu? Sedangkan ada banyak wanita yang begitu mendambakan hal itu??" Sonia pun nampak sedikit terkejut.


"Oh tidak Sonia, aku belum melamarnya, namun aku sudah pernah mengatakan jika aku ingin menikah dengannya, namun responnya seolah tidak menginginkan hal itu terjadi."


"Jika sudah begitu, maka lepaskan saja wanita itu, jelas dia tidak cocok untukmu Nio. Itu berarti dia tidak menghargai ketulusanmu."


"Kamu benar, tapi entah aku bisa atau tidak hidup tanpa dia."


"Bisa!! Sebelum kamu mengenalnya kamu juga sudah hidup kan? Maka sekarang juga tetap bisa hidup!"


Mendengar hal itu Nio pun seketika terdiam, ia mulai menunduk lesu sembari mengusap-usap wajahnya. Sonia yang melihat betapa frustasinya Nio saat itu, mulai mendekatinya, ia meraih pipi Nio dan mulai menatapnya dengan begitu lekat.


"Belajarlah mencintaiku Nio, maka aku akan membuat hubungan kita sesimple mungkin," Ucap Sonia dengan nada lembut.


Saat itu Nio masih diam dengan kedua matanya yang mulai sayu saat membalas tatapan Sonia.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untukmu Nio, kapanpun kamu membutuhkan aku, maka tolong belajarlah mencintaiku." Ucap Sonia lagi yang perlahan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Nio.


Perlahan tapi pasti, Sonia semakin mendekat ke arah Nio, saat itu juga Nio seolah tak bereaksi apapun, bahkan juga seolah tanpa penolakan, hanya diam.


"Aku benar-benar menyukaimu sejak dulu Nio, sangat menyukaimu." Ucap Sonia dengan suara yang semakin lama semakin pelan, namun dengan wajah yang semakin dekat dengan wajah Nio.


Hingga akhirnya, kini jarak di antara wajah keduanya hanya berkisah 5 senti, Sonia terus mendekatinya dan mulai ingin mencium bibir Nio yang kala itu masih terpaku menatapnya. Namun, saat baru saja bibir Sonia menyentuh sedikit bibir Nio, Nio tiba-tiba kembali terbayang bagaimana manisnya momentnya bersama Rena hingga ia seketika tersentak.


"Maaf Sonia, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya, aku,,, aku tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi hingga menimbulkan penyesalan yang begitu besar bagiku."


"Kenapa tidak?? Kita bahkan sudah pernah melakukannya dua kali Nio." Pujuk Sonia seolah tanpa putus asa.


"Ya, justru karena itu, aku tidak mau melakukannya lagi karena aku tidak mau lebih melukaimu lagi."


"Tapi Nio,,,"


"Maaf Sonia, sebaiknya aku pulang saja sekarang!" Nio pun langsung bangkit dari duduknya,


"Kamu mau meninggalkan aku sendiri?"


"Sekali lagi aku minta maaf, aku hanya sedang berusaha untuk menghindari hal itu disaat kondisi kita berdua sedang dalam pengaruh alkohol seperti sekarang. Tolong mengertilah!"


"Aku akan membayar semua minumannya, dan akan memesankan taksi online untukmu, ok?"


Sonia hanya terdiam dengan tatapan sendu, Tanpa berkata apapun lagi, Nio pun langsung beranjak menuju kasir sembari memegangi kepalanya yang mulai terasa sedikit melayang-layang. Setelah membayar semuanya, Nio pun langsung melajukan mobilnya untuk kembali pulang menuju rumah.


Entah kenapa saat itu ia jadi begitu merindukan Rena yang sebelumnya sudah sangat membuatnya kesal.


"Bagaimana aku bisa melupakannya jika baru sebentar tanpa dia saja aku sudah sangat merindukannya?" Gumamnya dalam hati.


Nio pun melirik ke arah jam tangannya, tak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul 15.30.


"Apa aku tidak salah lihat? Sudah sore?? Itu berarti sudah berjam-jam lamanya aku dan Sonia duduk bersama." Celetuk Nio seorang diri.


"Kurasa kali ini aku sudah sangat keterlaluan padanya karena meninggalkannya begitu saja, tapi,,, aku memang harus melakukannya karena aku tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi."


Selang beberapa menit, kini mobil Nio kembali terparkir di depan teras rumahnya, saat itu ia merasa jika amarahnya mulai memudar dan ia ingin segera menemui Rena dan ingin kembali mengajaknya bicara. Dengan langkah penuh semangat meski merasa sedikit pusing di kepalanya, Nio terus menapaki anak tangga dan berniat ingin menemui Rena di kamarnya.


Namun lagi-lagi hal tak terduga terjadi, saat Nio sudah berjarak cukup dekat dengan pintu kamar Rena, ia dikejutkan dengan Rudy yang terlihat keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Pa,, papa??!!" Ucapnya yang seketika langsung menghentikan langkahnya.


"Nio? Dari mana saja kau? Kenapa wajahmu memerah?"


"Hmm tidak, hanya sedikit minum."


"Minum?? Saat siang hari seperti ini? Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Rudy yang mulai mengerutkan dahinya.


"Tidak ada, lupakan soal itu. Papa, kapan papa tiba??"


"Hmm tadi siang, kenapa? Kenapa kamu nampak begitu terkejut saat melihat papa?"


"Melihat papa yang tiba-tiba berada di rumah siapa yang tidak terkejut?" Jawab Nio.


Tak lama Rena pun nampak keluar dari kamarnya, ia pun juga nampak sedikit terkejut saat mendapati Nio yang sudah berhadapan dengan papanya di depan pintu kamar mereka.


Nio pun melirik singkat ke arah Rena namun akhirnya mau tak mau mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kalau begitu aku mau masuk ke kamar dulu." Ucap Nio datar dan langsung melangkah melewati Rena dan Rudy,


"Nio," panggil Rudy.


"Kenapa?"


"Seperti biasa, kita akan makan malam di luar malam ini karena papa tidak akan lama di rumah."


"Hmm ok." Jawab Nio singkat yang langsung kembali melangkah menuju kamarnya.


"Ada apa mas? Apa kalian berdebat lagi?" Tanya Rena yang nampak sedikit cemas.


"Sama sekali tidak, aku hanya bertanya kenapa dia harus mabuk?"


"Nio mabuk??" Tanya Rena yang nampak sedikit terkejut.


"Ya, apa dia ada masalah sebelumnya?"


"Ak,, aku,,, aku tidak tau mas. Nio tidak ada mengatakan apapun padaku." Jawab Rena berbohong.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2