
"It,,, itu,,, itu kembali pada Nio lagi, tante orang baru di rumah ini, jadi tidak berani berkomentar banyak tentang urusan pribadinya." Ungkap Rena yang seolah tengah berkhilah.
"Yaa, anggap saja begitu, tapi jika boleh bertanya pada pendapat tante pribadi, apa tante akan setuju bila aku dan Nio berpacaran?" Tanya Sonia lagi yang nampaknya masih belum puas.
"Hmm ya, setuju-setuju saja selama kamu tidak membuat Nio sakit hati dan kecewa." Jawab Rena akhirnya sembari menampilkan senyuman yang terlihat kaku.
"Aaahh terima kasih tante, andai aku dan Nio bisa benar-benar menjadi sepasang kekasih, aku tentu tidak akan mengecewakannya." Sonia pun ikut tersenyum lebar.
"Tapi Sonia, Nio pernah mengatakan jika saat ini kamu sudah setuju untuk berteman saja dengannya dan tidak lebih, apa Nio yang berbohong tentang hal itu?" Tanya Rena yang seolah juga ingin mengorek informasi.
"Ah itu, ya itu benar tante, aku memang ada mengatakan hal itu padanya beberapa waktu yang lalu."
"Lalu ke,,, kenapa,...." Dahi Rena pun nampak mulai kembali berkerut.
"Sejujurnya, itu hanyalah salah satu cara saja agar aku bisa tetap dekat dengannya tante, hal itu karena aku benar-benar menyukai anak tiri tante!" Jelas Sonia tanpa ragu.
Mendengar hal itu, seketika membuat jantung Rena berdetak cepat, perasaan tidak tenang seolah kembali menerpanya, bukan hanya itu, sebagai seorang wanita yang juga sama-sama mencintai Nio, perkataan Sonia benar-benar cukup membuat Rena merasa kesal padanya. Namun apakan daya, meski sangat kesal pada wanita yang tengah ada di hadapannya, Rena nampaknya tetap tidak mampu untuk berbuat apa-apa demi menyuarakan isi hatinya saat itu.
"Hmm ternyata benar saja, apa yang selama ini membuatku masih merasa cemas, ternyata dia tidak murni ingin berteman dengan Nio, ada maksud lain di samping itu semua," Gumam Rena dalam hati.
"Apa itu tidak seperti kamu sedang mempermainkan Nio, Sonia?" Tanya Rena selanjutnya dengan senyuman yang perlahan meredup.
"Oh tidak tante! Ku mohon tante jangan salah paham dulu padaku, ya. Bukankah seseorang yang sedang jatuh cinta, rela melakukan banyak cara demi mendapatkan cintanya? Dan hal itu, itu ku anggap salah satu cara untuk bisa memenangkan hati Nio secara perlahan."
"Hmm tante salut padamu, Sonia. Maksud tante, salut dengan kegigihanmu yang bisa melakukan segala cara demi mendapatkan cinta seorang Nio, hmm good luck untuk itu!" Sindir Rena secara halus.
"Hehehe tolong bantu aku ya tante, untuk bisa lebih dekat dengan Nio, contohnya seperti saat ini, tante menyarankan aku untuk menginap disini, setidaknya bisa membuatku selangkah demi selangkah semakin dekat dengannya," ungkap Sonia yang terus tersenyum manis.
__ADS_1
Namun sangat berbeda dengan Rena yang hanya mampu menampilkan sebuah senyuman lirih.
"Hmm, sepertinya rasa iba dan kepedulianku terhadapnya, akan membuatku terperosok ke dalam lubang sakit hati. Kurasa kali ini aku salah langkah!" Gumam Rena lagi.
"Hmm ya sudah lah, lebih baik kamu istirahat saja dulu karena kamu terlihat sangat lelah, kita bisa lanjut membahas ini nanti." Jawab Rena yang dengan halus menghindari pembahasan itu lebih lanjut.
"Ah iya tante, baiklah kalau begitu, aku juga mulai ngantuk."
"Ya tidur lah, tante mau turun sebentar, mau mengambil air minum di dapur untuk di bawa ke kamar, itu memang sudah menjadi kebiasaan tante sejak dulu."
"Iya tante, Sonia tidur duluan ya tante."
"Iya, semoga tidurmu nyenyak Sonia." Rena pun kembali bangkit dari atas tempat tidurnya.
Lalu melangkah dengan tenang keluar dari kamar, melangkah lesu menapaki anak tangga dengan segala pemikiran yang tengah menari-nari di benaknya kala itu. Kebetulan, saat itu Nio baru saja kembali masuk ke dalam rumah sehabis mengantar kedua sahabatnya sampai teras, langkah Nio seketika terhenti sejenak saat mendapati Rena yang tengah berjalan lesu menuruni anak tangga yang berjarak tak terlalu jauh di hadapannya,
Rena yang juga menyadari hal itu, juga ikut menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di ujung tangga. Lalu tanpa berkata apapun lagi, Nio langsung melajukan langkahnya ke arah Rena, menarik tangannya begitu saja untuk membawanya ke dalam sebuah ruangan, yaitu ruangan kerja rudi yang terletak tak jauh dari tangga itu.
"Sssttt!" Ucapnya sembari terus menarik tangan Rena dan membawanya masuk ke dalam ruangan itu, lalu dengan cepat mengunci pintunya,
"Ada apa Nio? Kenapa kamu membawaku kesini?" Tanya Rena lagi.
"Kenapa kamu malah menyuruhnya untuk menginap disini?" Komplen Nio pada Rena.
"Maksudmu Sonia?"
"Memangnya siapa lagi yang saat ini menginap disini selain dia?"
__ADS_1
"Hmm bukankah sudah kujelaskan tadi kenapa aku memintanya untuk menginap?"
"Haaissh Rena!! Kamu bertingkah seperti orang cemburu saat Sonia mendekatiku, tapi sekarang justru malah kamu sendiri lah yang seolah sedang memberi jalan padanya agar bisa semakin dekat denganku. Sebenarnya ada apa dengan pikiranmu?" Keluh Nio yang merasa tak habis pikir.
Ungkapan itu pun seketika membuat Rena terdiam sembari mulai menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, tapi yang kulakukan hanya karena sebatas alasan kemanusiaan dan sesama wanita, hanya itu." Ucap Rena pelan.
"Tapi bagaimana denganku? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?" Tanya Nio lembut sembari mulai meraih kedua pipi Rena hingga membuatnya kembali menatap Nio.
"Perasaanmu? Memangnya kenapa dengan perasaanmu? Kenapa kamu yang sepertinya sangat terganggu dengan adanya Sonia di rumah ini? Apa sebenarnya kamu hanya sedang berusaha untuk menghindari Sonia agar tidak menyukainya? Karena sangat takut merasa kecewa dan sakit hati saat menyukai seorang wanita yang banyak di sukai laki-laki?" Tanya Rena yang mulai menatap Nio dengan tatapan yang menajam, seolah kobaran api mulai terlihat menyala dari sorot matanya kala itu.
"Hah?! Pemikiran macam apa lagi itu Rena??" Nio pun nampak tercengang.
"Katakan saja kalau iya!"
"Tidak!" Tegas Nio dengan cepat.
"Rena, sayang, kenapa kamu bisa berpikir begitu? Harus berapa kali kukatakan kalau aku hanya mencintaimu!! Aku keberatan dia disini, itu karena aku yang selalu ingin menjaga perasaanmu! Aku tidak mau kamu yang nantinya jadi sakit hati dan salah paham denganku karena melihat Sonia bertindak semaunya terhadapku seperti tadi!" Jelas Nio yang terus mengusap lembut pipi Rena yang mulai nampak memerah karena amarah.
"Aku mati-matian menjaga perasaanmu, jadi aku tidak mau kehadiran Sonia malah jadi mengusik pikiran dan ketenangan jiwamu, hanya itu saja!" Tambah Nio lagi yang kembali merendahkan suaranya,
Rena pun lagi-lagi terdiam dan kembali menatap Nio dengan tatapan sendu,
"Benarkah?" Tanyanya pelan.
__ADS_1
Nio pun hanya mengangguk dengan sorot mata penuh keyakinan.
...Bersambung......