Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menghilangkan ketakutan


__ADS_3

Rena masih terdiam di tempatnya dengan tatapannya yang masih tetap saja menatap ragu ke arah Nio dan tetesan hujan yang jatuh dari langit secara bergantian.


Hal itu membuat Nio yang saat itu bahkan terlihat sudah basah kuyup, perlahan kembali melangkah mendekati Rena.


"Ayo, berikan tanganmu." Ucap Nio lembut sembari kembali menjulurkan tangannya saat ia sudah berada tepat di hadapan Rena.


"Ta,,, tapi Nio, ak,, aku..."


"Tolong percaya padaku, aku jamin ini akan menyenangkan, percayalah! Sekarang, ayo berikan tanganmu." Ucap Nio lagi dengan tatapan seolah penuh keyakinan saat menatap Rena.


Rena terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu, sembari sorot matanya kembali menatap lekat ke arah Nio yang kala itu juga menatapnya dengan penuh harap.


Akhirnya, perlahan tapi pasti, bahkan terlihat masih sedikit ragu, Rena pun mulai meraih tangan Nio yang sudah terasa basah.


Memastikan jika jemari tangan Rena sudah berada dalam genggamannya, Nio pun langsung menarik Rena begitu saja, membawanya ke halaman rerumputan yang basah, hal itu sontak membuat Rena mulai berteriak.


"Aaaghh!" Pekiknya namun terlihat masih bisa tertawa kecil.


Nio membawa Rena ke tengah-tengah halaman, memegang kedua tangannya dengan erat. Tubuh Rena perlahan mulai basah, ia masih terlihat cukup panik, terlihat jelas jika saat itu ia masih seperti ketakutan hingga membuatnya begitu erat menggenggam tangan Nio.


"It's ok Rena, semuanya akan baik-baik saja. Rileks!" Ucap Nio pelan sembari kembali tersenyum.


Saat itu Rena masih terdiam sembari terus mengatur nafasnya yang entah kenapa sedikit terasa engap, karena itu pertama kali baginya berdiri di bawah tetesan derasnya air hujan.


"Yaa, tarik nafasmu dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan lewat mulut, agar kamu bisa sedikit lebih tenang dan tidak tegang seperti sekarang!"


Rena pun patuh dan mulai melakukan sesuai arahan Nio.


"Bagaimana? Kamu sudah merasa sedikit lebih tenang sekarang?"


Rena pun mengangguk pelan.


"Sekarang, tutup matamu!" Pinta Nio lagi.

__ADS_1


"Tu,,, tutup mata?? Kenapa harus tutup mata?" Tanya Rena yang sedikit banyak masih merasakan paranoid.


"Kenapa kamu selalu bertanya saat aku menyuruhmu melakukan suatu hal yang sederhana? Tidak bisakah kamu langsung melakukannya dan tidak bertanya?" Tanya Nio yang kala itu kembali tersenyum tipis.


"Hmm ok, fine!" Jawab Rena pelan yang kemudian akhirnya mulai menutup matanya.


"Sekarang, dongakkan kepalamu perlahan! Biarkan tetesan demi tetesan air hujan yang jatuh mulai menyentuh permukaan kulit wajahmu yang halus, Rena. Lalu, rasakan betapa menyejukkan dan menyenangkannya hal itu." Ucap Nio pelan.


Rena tanpa berkata apapun lagi, terus patuh mengikuti intruksi dari Nio. Dengan sedikit ragu, perlahan tapi pasti, Rena mulai mendongakkan kepalanya menghadap ke langit, membiarkan tetesan air hujan menyentuh wajahnya, dan benar saja, senyuman Rena secara malu-malu mulai terlihat muncul.


Rena mulai tersenyum, saat merasakan bagaimana tetesan demi tetesan mengenai wajahnya. Hal itu membuat Nio yang melihatnya kembali tersenyum, lalu perlahan mulai melepaskan tautan tangannya pada kedua tangan Rena.


"Bayangkan jika saat ini kamu memiliki sejuta kesedihan di hatimu, lalu biarkan tetesan air hujan seolah menghapus satu persatu kesedihanmu itu.


Rena nampaknya begitu menghayati perkataan Nio, layaknya sebuah hipnotis yang membuat rasa takut Rena akan hujan, entah kenapa mulai sirna, kini ia terlihat mulai menikmati apa yang ia lakukan saat itu.


Bahkan meski tanpa intruksi apapun lagi dari Nio, Rena perlahan mulai membentangkan kedua tangannya, seolah membiarkan tubuhnya mendapat serangan bertubi-tubi oleh tetesan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.


Nio semakin mengembangkan senyumannya saat melihat jika saat itu Rena perlahan mulai menikmati hujan, bahkan seolah tak terlihat lagi ketakutan di raut wajahnya.


"Sudah ku katakan sebelumnya, kamu tidak akan pernah menyesal jika melakukannya, ini menyenangkan."


"Iya, sangat menyenangkan!"


Beberapa saat berlalu, Nio dan Rena nampaknya mulai asyik bermain hujan layaknya anak kecil, mereka berpegangan tangan lalu berputar kuat, membuat Rena kembali berteriak senang. Bukan hanya itu, Nio bahkan mengangkat tubuh Rena, lalu kembali memutar tubuh mereka dengan kencang.


"Ahahah Nio, sudah hentikan!" Pekik Rena yang terus tertawa.


Nio dengan senyuman yang lebar, akhirnya menghentikan aksinya dan kembali menurunkan Rena.


"Huh, huh,, huh,, ini menyenangkan, tapi juga cukup membuat kepalaku jadi pusing hehehe." Celetuk Rena dengan nafas yang sedikit terengah.


"Kamu senang Rena?"

__ADS_1


Rena pun kembali menatap Nio dengan sumringah.


"Aku senang, terima kasih banyak Nio."


"Tidak perlu berterima kasih!"


"Lagi-lagi kamu memberiku pengalaman baru, hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, aku bisa merasakannya saat denganmu. Terima kasih banyak." Ucap Rena yang terlihat seakan penuh rasa haru.


"Aku hanya ingin membuatmu merasa lebih baik, terutama saat bersamaku." Jawab Nio yang kembali tersenyum tenang, sembari kedua tangannya kembali memegangi pipi Rena.


"Dan kamu berhasil!! Karena aku merasa jauh lebih baik sekarang, berkat kamu." Rena kembali tersenyum manja pada Nio.


"Syukurlah, mendengar hal itu juga membuat perasaanku jadi lebih baik saat ini." Jawab Nio, yang perlahan ingin kembali mencium Rena.


Awalnya Rena nampak terpaku seolah tanpa penolakan, namun saat kedua bibir mereka sudah sangat dekat, Rena tiba-tiba saja teringat jika mereka sedang berada di halaman belakang rumah, bi Inah serta pak Eko bahkan bisa saja melihat mereka dari dalam rumah.


"Ah tidak Nio! Kita tidak bisa melakukannya disini!" Ucap Rena yang seketika langsung menjauh dari Nio.


Hal itu membuat Nio terdiam dengan tatapan sedikit bingung.


"Kamu tidak lupakan, kalau sekarang kita sedang berada di halaman belakang rumah." Tambah Rena lagi dengan bibir yang mulai bergetar karena kedinginan.


"Hmm ya, maaf! Aku bahkan lupa soal itu." Jawab Nio yang akhirnya tersenyum lirih.


Mendengar hal itu Rena hanya diam dan menghela nafas panjang.


"Rena, kamu sepertinya mulai kedinginan, lebih baik kita masuk saja sekarang." Ajak Nio kemudian.


Rena pun mengangguk, dan mereka pun akhirnya kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah sedikit tergesa-gesa karena pakaian mereka yang telah basah.


Seolah ingin kembali melanjutkan aksi yang tertunda, Nio langsung membawa Rena kembali ke kamar, mulai melahap kembali bibirnya dengan sangat ganas sembari mengunci pintu kamar. Rena tentu tidak menolak, apalagi saat itu mereka dalam keadaan kedinginan akibat baru selesai mandi hujan.


Nio terus mengarahkan langkah Rena menuju kamar mandi dalam keadaan bibir yang masih terus bertautan. Berdiri di bawah shower, sebelah tangan Nio mulai menghidupkan shower itu, mengatur suhu air agar menjadi air hangat.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2