Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Long time no see


__ADS_3

Nio pun tersenyum sembari bergegas menutup kembali pintunya.


"Adikmu sudah sampai? Ah kebetulan sekali, aku membeli banyak makanan dan minuman." Ucap Nio sembari menunjukkan dua kantong belanjaan yang ia pegang.


Mendengar suara yang begitu familiar, sontak membuat Rena jadi mengernyitkan dahinya.


"Suaranya,,, kenapa sangat mirip dengan..." Celetuk Rena dalam hati, namun seketika langsung terhenti saat sosok itu mulai melangkah masuk menuju sofa.


Nio terus melangkah ke arah sofa, tempat dimana Zayden dan Rena terduduk.


"Kenalkan bro, ini Nana, adikku." Ucap Zayden begitu Nio semakin dekat dengannya.


Dan betapa terkejutnya Nio saat menoleh ke arah wanita yang ternyata adalah Rena, yang kala itu tengah terduduk di sofa itu. Sama halnya dengan Nio, Rena pun nampaknya begitu terkejut hingga seketika kedua matanya nampak jadi begitu membulat dengan sempurna.


"Ni,, Nio??!!!" Ucap Rena dengan suara sangat pelan yang dengan refleks langsung bangkit dari duduknya.


Nio yang begitu terperangah, tanpa sadar sontak menjatuhkan kedua kantong belanjaan yang ia bawa. Hal itu tentu mengundang rasa bingung serta tanda tanya besar bagi Zayden yang sama sekali belum mengetahui apapun di antara mereka berdua.


"Ka,, kalian sudah saling mengenal?" Tanya Zayden yang nampak begitu bingung.


Namun Nio masih nampak terdiam dengan tatapan yang seolah tak putus menatap Rena, begitu pula dengan Rena yang juga masih terpaku memandangi Nio dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Hei, ada apa di antara kalian berdua? Kenapa saling diam?" Tanya Zayden lagi yang mulai melambai-lambaikan tangannya di hadapan mereka berdua.


Hal itu pun sontak membuat keduanya tersentak.


"Kalian benar-benar sudah saling mengenal??" Tanya Zayden lagi.


"Belum!" Jawab Nio spontan.


Hal itu sontak membuat Rena kembali mengernyitkan dahinya.


"Belum kenal tapi kenapa respon kalian berdua seperti nampak terkejut saat bertemu?"


Nio pun memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Zayden kali itu, yang dilakukannya saat itu justru kembali melangkah ke hadapan Rena sembari mengulurkan tangannya.


"Hai." Ucap Nio dengan nada bicara serta raut wajah yang datar.


Rena yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan berbeda, akhirnya menyambut tangan Nio dan mereka pun berjabat tangan untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak saling menyentuh.


"Hai." Jawab Rena pelan.


"Antonio." Ucap Nio.


"Ak,, aku Rena." Ucap Rena yang nampak sedikit kikuk saat kedua tangan mereka kembali bertautan.


"Nice to meet you, Rena." Ucap Nio yang masih memasang wajah datar.

__ADS_1


"Ya, nice to meet you too."


Saat itu sama sekali tidak ada senyuman yang terpancar dari wajah Nio seperti biasanya, tidak seperti dulu yang ia selalu tersenyum kala memandang Rena.


"Zayden, jadi Nana dan Rena adalah orang yang sama?" Tanya Nio yang kali ini kembali menatap Zayden.


"Hehehe iya, dia di panggil dengan sebutan Nana di rumah, itu karena ketika kecil dia tidak bisa menyebut nama Rena, yang keluar dari mulutnya justru selalu Nana, itulah mengapa kami memanggilnya Nana." Jelas Zayden secara singkat sembari tersenyum.


Nio pun lagi-lagi terdiam, seakan masih begitu sulit percaya jika saat itu Rena berada di depan matanya. Sementara Rena, saat itu ia pun hanya bisa menunduk dan terlihat begitu kikuk saat Nio, lelaki yang dulu begitu ia cintai dan telah lama menghilang dari hidupnya, kini kembali hadir di depan matanya.


"Perasaan apa ini? Bukankah aku sudah melupakannya? Tapi kenapa rasanya masih sama saat tangan kami bersentuhan?" Gumam Rena dalam hati.


"Hmm Na, kamu pasti lelah kan, aku sudah menyiapkan kamar untukmu, kamar yang seharusnya akan ditempati oleh Nio, tapi karena tau kamu akan datang, dia memilih untuk tidur di sofa." Ungkap Zayden sembari tersenyum.


"Owh, aku bisa saja tidur di hotel kalau memang seperti itu." Ucap Rena.


"Haaiss, kenapa kamu malah lebih memilih tidur di hotel ketimbang disini bersama kakakmu ha? Kalian harus tetap disini, aku butuh teman disini." Ungkap Zayden yang seolah tidak mengizinkan Rena menginap di hotel.


"Tapi aku akan merasa tidak enak hati jika karena aku, seseorang jadi tidur di sofa."


"Aku sudah menawarkan Nio untuk tidur dikamar bersamaku, tapi dia lebih memilih untuk tidur di sofa." Jelas Zayden.


"Haiss, apa harus aku yang tidur di sofa agar kalian tetap disini?" Tanya Zayden lagi yang kembali melirik ke arah Rena dan Nio secara bergantian.


"Apa kamu sungguh tidak apa-apa tidur di sofa?" Tanya Rena pada Nio.


"Hmm ok!" Jawab Rena akhirnya sembari menghela nafas dan melirik ke arah Zayden.


Rena pun akhirnya kembali menggeret kopernya untuk membawanya ke dalam kamar, sedangkan Nio yang sudah kembali terduduk di sofa, hanya terus diam sembari memandangi kepergian Rena.



"Bagaimana aku harus menghadapi semua ini? semesta kelihatannya benar-benar ingin selalu mempermainkan perasaanku!!" Gumam Nio dalam hati.


"Bagaimana adikku bro? Dia cantik kan?" Tanya Zayden yang seolah terlihat bangga saat mengatakannya.


Sedangkan Nio, saat itu ia hanya mengangguk singkat seraya tersenyum tipis.


"Oh ya, bukankah tadi kau bilang lapar?? Lalu apa saja yang kau beli?" Tanya Zayden yang seketika langsung mengambil dua kantong belanjaan yang kala itu terletak di lantai.


Zayden membawa dua kantong itu dan membawanya ke atas meja,


"Wahh, belanjaanmu ini sudah hampir mirip banyaknya dengan belanja bulananku. Kenapa membeli banyak sekali?"


"Tidak apa-apa, lagi pula kita bertiga disini, aku membeli untuk kita semua."


"Kau ini benar-benar orang yang sangat royal, akan sangat beruntung seseorang yang menjadi pasanganmu kelak hehehe."

__ADS_1


Mendengar hal itu, sontak membuat Nio kembali mendengus pelan sembari tersenyum.


"Tapi sayangnya adikmu menolak untuk menjadi wanita beruntung itu." Celetuk Nio dengan suara yang sangat pelan.


"Hah? Kau bilang apa?" Tanya Zayden yang tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Nio.


"Tidak ada, lupakan saja." Jawab Nio dengan tenang.


"Hmm baiklah, berhubung kau yang sudah mengeluarkan uang untuk semua ini, jadi biarkan aku yang menyeduh mie instan ini untuk kita. Ok?"


"Terima kasih Zayden."


"Ok, wait!" Zayden pun bergegas bangkit dan kembali menuju dapur dengan sudah membawa beberapa cup mie instan.


Di sisi lain, Rena yang kala itu terduduk di tepi ranjang, nampak termenung dengan perasaannya yang kembali dibuat tidak menentu. Hal tak terduga yang baru saja terjadi, benar-benar membuatnya seolah seperti orang yang linglung.


Bagaimana tidak, harus kembali bertemu dengan seseorang yang begitu susah payah ia lupakan, membuat perjuangannya selama ini seolah sia-sia, karena ternyata rasanya masih tetap sama saat kembali bertemu dengan Nio.


"Bagaimana semesta bisa sekejam ini padaku? Kenapa kami harus kembali dipertemukan? Dia pun bahkan tidak mengaku kenal denganku." Gumam Rena lirih dalam hati.


Setelah beberapa menit berlalu, ia pun sudah kembali dengan membawa tiga cup mie instan dan meletakkan di atas meja.


"Hmm sudah sangat lama aku tidak memakan makanan instan seperti ini, pasti akan sangat nikmat jika dimakan saat udara dingin seperti ini." Celetuk Zayden yang nampak begitu bersemangat.


Lagi-lagi Nio hanya bisa tersenyum, entah kenapa semenjak kembali bertemu dengan Rena, Nio mendadak berubah jadi lebih banyak diam.


"Kalau begitu aku ingin memanggil Nana, ku yakin dia juga pasti lapar."


Nio hanya mengangguk singkat.


*Toktoktok*


"Naaa..." Panggil Zayden.


"Ya, kenapa Zay?" Sahut Rena dari dalam.


"Apa kamu tidak merasa lapar? Keluarlah, aku sudah membuatkan mie instan untuk kita."


Tak lama Rena pun membuka pintunya.


"Kamu pasti laparkan? Ayo, makanlah, aku sudah menyeduhkan mie instan untukmu."


Dengan sedikit ragu dan melirik sedikit ke arah Nio, akhirnya Rena pun setuju dan kembali keluar dari kamarnya. Mau tidak mau, ia pun duduk di sofa yang sama dengan Nio, meskipun ada jarak yang memisahkan saat itu.


"Maaf ya, hari ini kita makan ini dulu, karena aku sungguh tidak tau kalian akan datang hari ini, aku janji besok akan memasakkan masakan yang special untuk kalian." Ungkap Zayden.


Rena pun hanya tersenyum tipis, sedangkan Nio, memilih kembali diam dan nampak sedikit canggung.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2