
Sonia kembali tersenyum sesaat setelah Nio menghentikan mobilnya tepat di depan pekarangan rumahnya.
"Terima kasih untuk makan malam bersama keluargamu malam ini, aku merasa beruntung."
"Sama-sama." Jawab Nio sembari tersenyum tipis,
"Terima kasih juga sudah mengantarku pulang Nio."
Kali ini Nio sontak mendengus pelan dan lagi-lagi tersenyum.
"Setelah tadi kamu terus meminta maaf, apa kali ini kamu akan terus berterima kasih padaku Sonia???"
"Hehehe bukankah itu memang harus??"
"Iya, sama-sama Sonia."
"Aku turun ya, kamu hati-hati di jalan."
"Iya, good night."
"Good night Nio."
Sonia pun turun dari mobilnya, Nio pun kembali melajukan mobilnya sesaat setelahnya. Saat itu Sonia masih terdiam memandangi kepergian mobil sport yang terus melesat menjauh darinya.
"Huh, mulai sekarang aku harus menjaga sikapku, semaksimal mungkin aku harus menahan diri agar bisa bersikap lebih anggun dan tenang di hadapan Nio, karena kurasa dia kurang suka dengan wanita yang agresif." Gumam Sonia seorang diri.
Sepanjang jalan Nio lagi-lagi terus memikirkan apa yang sedang terjadi padanya, pada Rena, juga pada hubungan mereka. Perasaan hati yang tak tenang, tak menentu, benar-benar sangat mengganggu hingga membuatnya seolah sulit untuk berfikir jernih.
"Dia bahkan sama sekali tidak berusaha untuk meyakinkanku, tidak berusaha membuatku untuk tetap mempercayainya, tidak berusaha memberi penjelasan seperti aku yang selalu memberi penjelasan padanya tiap kali dia marah padaku. Apa benar, jika dalam hubungan ini, memang hanya aku sendiri yang berjuang???" Gumam Nio lirih dalam hati.
Nio pun semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya terasa semakin berkecamuk, seolah dadanya terasa sesak karena dipenuhi dengan banyak pertanyaan akan sikap Rena padanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.50 malam, Nio tiba di rumahnya dan langsung memasuki kamarnya dengan membawa segala perasaan gusarnya malam itu. Ia berbaring di atas ranjang dengan sorot mata menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja terlintas di dalam benaknya untuk kembali mengajak Rena membicarakan hal itu agar hubungan mereka bisa kembali membaik. Ia ingin menanyakan semua hal yang sudah mengganjal dalam pikirannya.
Nio pun bergegas kembali keluar dari kamarnya, seperti sudah sangat paham dengan kebiasaan Rena yang selalu keluar saat malam hari untuk mengambil minum, ia pun langsung menuju dapur untuk menunggu Rena, memadamkan lampu dapur yang kala itu masih menyala agar keberadaannya tidak terlalu mencolok.
Setengah jam menunggu, namun belum ada tanda-tanda kemunculan Rena, namun Nio tetap berusaha sabar dan terus menunggu. Hingga akhirnya sudah sejam lamanya ia menunggu seperti orang bodoh di dapur itu, membuatnya mulai putus asa dan akhirnya dengan langkah lesu mulai kembali melangkah untuk menaiki tangga.
Namun saat baru satu langkah menapaki anak tangga, suara pintu yang terbuka tiba-tiba terdengar, lalu kemudian terdengar lagi suara pintu yang sengaja di tutup. Keheningan malam membuat suara pintu itu jadi begitu jelas terdengar, Nio yang mendengar hal itu sangat yakin jika itu adalah Rena yang keluar dari kamarnya. Ia pun langsung berlari menuju dapur, dan berdiri di dekat kulkas seperti yang sebelumnya pernah ia lakukan,
Dan benar saja, Rena nampak muncul, ia melangkah dengan tenang menuju dapur untuk mengambil minum seperti biasa. Begitu menuangkan air ke dalam gelas, Rena pun seketika dibuat terkejut saat suara Nio berada tepat di belakangnya,
"Senang akhirnya kamu keluar juga dari kamar." Celetuk Nio pelan.
__ADS_1
Rena yang terkejut sontak menoleh ke arah belakangnya dan mendapati Nio yang sudah berdiri menghadapnya, sembari bersandar di kulkas.
"Kau??!" Ujarnya saat terkejut.
Seolah tak ingin lebih lama berhadapan dengan lelaki itu, Rena pun bergegas menuangkan kembali airnya dan bersiap untuk segera pergi, namun tentu saja Nio tidak membiarkan hal itu terjadi, ia pun segera menahan tangan Rena.
"Tolong jangan menghindariku kali ini Rena!!!"
"Mau apa lagi??!"
"Kita perlu membicarakan ini!!" Jawab Nio.
Rena pun menatapnya lekat, lalu mulai menghela nafasnya dalam dan akhirnya setuju.
"Hmm ok!" Ucapnya yang kembali meletakkan gelasnya ke atas meja.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau katakan!" Ucapnya kemudian sembari mulai melipat kedua tangannya di dada.
"Ada apa denganmu Rena?? Bukankah seharusnya aku yang harus marah dengan kejadian tadi? Kamu bahkan tidak sedikitpun memberiku penjelasan ataupun sekedar menenangkan aku!" Ungkap Nio.
"Kurasa semua hal itu sudah tidak perlu lagi!"
"Kenapa??" Nio pun mulai mengerutkan dahinya dengan tatapan yang begitu serius menatap Rena.
"Ka,, kamu bilang apa??"
"Kurasa kamu cukup jelas mendengar ucapanku barusan!"
"Katakan sekali Rena?? Apa yang baru saja kamu katakan?!!" Tanya Nio seolah masih tak percaya dengan ucapan Rena.
Bagaimana tidak, niat hati ingin memperbaiki hubungan, namun justru yang malah terjadi tidak sesuai harapan.
"Aku ingin hubungan yang tidak jelas ini berakhir!! Kamu puas sekarang??!"
"Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
"Aku sudah berpikir panjang dan mulai merasa jika hubungan ini hanya akan sia-sia, tidak akan pernah berhasil dan hanya akan membuat sakit hati dan kecewa."
"Sikapmu seperti ini, ini semakin meyakinkan jika kamu benar masih menyimpan rasa pada mantan suamimu itu? Iya?? Kenapa?? Apa karena kesan pertama diranjang bersama lelaki itu lebih berkesan bagimu?? Iya?!" Tanya Nio yang kembali tersulut emosi.
Mendengar hal itu, sontak membuat Rena mendengus kasar.
"Baguslah jika kau memiliki pikiran seperti itu, jadi akan lebih mudah untuk mengakhiri hubungan yang sejak awal memang sudah sangat rumit ini!!"
__ADS_1
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan keputusanmu Rena??" Tanya Nio lagi.
"Ya, aku sudah memikirkannya! Ak,,, aku,,, aku ingin kembali setia pada suamiku, aku tidak ingin terus bermain api di belakangnya, yang aku tau kelak cepat atau lambat api itu sendiri akan membakarku."
"Bukankah sudah sangat terlambat untuk setia mengingat apa saja yang sudah kita lakukan di belakangnya??"
"Anggap saja itu sebuah kesalahan yang tidak akan pernah ku ulangi lagi. Jadi, tolong jangan berharap apapun lagi padaku, Nio!! Jangan pernah!!"
Nio yang saat itu masih terdiam pun tanpa sadar mulai meneteskan air matanya begitu saja.
"Rena, kau tau aku begitu mencintaimu?! Aku bahkan..."
"Ya, ya aku tau!!" Potong Rena dengan cepat.
"Dan aku juga tau ternyata rasa cintamu juga tidak sebesar apa yang selama ini kau ucapkan. Aku tau jika kau dan Sonia memang tidak murni berteman, karena setauku, tidak ada yang namanya teman, tapi hampir berciuman." Ketus Rena.
Nio pun seketika membulatkan matanya.
"Kamu tau soal itu??"
"Kenapa?? Kamu terkejut aku mengetahuinya??" Rena pun tersenyum lirih.
"Rena, apapun yang kamu ketahui, ku tegaskan itu tidak seperti apa yang ada di pikiranmu saat ini!!"
"Oh ya?? Hmm minum berdua, mabuk bersama, lalu hampir berciuman, apakah tindakan seperti itu bisa dikatakan berteman?"
"Sonia yang ingin menciumku, tapi aku menghindar karena aku ingin menjaga perasaanmu. Aku terbayang wajahmu dan langsung pergi saat itu juga, sungguh!!" Tegas Nio dengan raut wajah sangat serius.
"Sudah terlambat untuk menjaga perasaanku mengingat kau yang sebelumnya justru memilih pergi minum alkohol berdua dengannya."
"Ta,, tapi aku..."
"Cukup Nio! Percuma, aku tetap pada keputusanku!"
"Kamu sungguh ingin pergi dariku Rena?"
"Iya! Tolong bantu aku untuk kembali setia pada suamiku, yaitu papamu."
"Kamu serius dengan ini Rena??" Tanya Nio lagi yang masih terus ingin meyakinkan diri.
"Iya. Pergi lah Nio, menjauhlah! Aku tidak menginginkanmu lagi!!" Ucap Rena dengan bibir yang bergetar saat mengucapkannya.
Karena jauh dari lubuk hatinya terdalam, tentu ia tidak menginginkan perpisahan itu terjadi, apalagi jika mengingat perasaannya yang semakin besar pada Nio. Namun Rena nampaknya sudah berada di ambang batas kesadarannya akan kesalahan pada hubungan mereka, juga di tambah rasa kecewa dan sakit hati atas tindakan Nio dan Sonia yang membuatnya terbakar cemburu.
__ADS_1
...Bersambung......