
"Hmmm, Rena bersikap seperti itu pasti karena sikap Sonia yang terkesan berlebihan padaku. Huh, Rena oh Rena, awalnya kamu memang berniat baik pada Sonia, tapi tanpa kamu sadari, kamu juga sedang menciptakan penyakit hatimu sendiri." Gumam Nio dalam hati.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Nio pun mengajak mereka untuk mulai menyantap sarapan pagi itu. Seperti biasa dan seolah tidak pernah berubah, Sonia saat itu terlihat sangat semangat untuk meminta Nio mencicipi makanan miliknya.
"Sonia, bukankah kita sedang memakan makanan yang sama? Lalu kenapa kamu harus menyuapiku seperti anak kecil?!"
"Ah tidak apa-apa, bukankah banyak orang mengatakan, jika makan dari suapan orang lain, itu akan terasa lebih nikmat." Jawab Sonia yang seolah tanpa putus asa masih saja berusaha untuk membujuk Nio agar mau menerima suapan darinya,
"Hmm ya mungkin pernyataan itu benar, tapi kurasa hal itu hanya akan berlaku jika dengan seseorang yang special saja." Jawab Nio datar sembari melirik singkat ke arah Rena.
Rena yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam, tanpa bisa melakukan tindakan apapun kala itu.
"Hoo!! Jadi menurutmu aku ini tidak special sebagai temanmu? Begitu ha?? Apa begitukah kamu menilai arti pertemanan kita Nio?!" Ucap Sonia yang terlihat seolah tidak senang.
Mendengar hal itu, Nio pun seketika mendengus pelan dan mulai tersenyum geli.
"Hmm ok, ok! Karena kamu sudah terlibat dalam memberiku kejutan semalam, dan atas nama pertemanan, baiklah, kali ini aku tidak bisa menolak," Nio pun mau tak mau, akhirnya menerima suapan dari Sonia, dan hal itu terjadi tepat di hadapan Rena.
Rena seketika terdiam sembari memandang sedikit tajam ke arah kedua orang yang yang saat itu tengah berada di hadapannya.
"Apa-apaan itu? Kenapa dia seperti sengaja melakukan hal itu di depanku? Apa dia sengaja ingin memancing rasa cemburuku?!" Gerutu Rena dalam hati yang tidak di pungkiri, jika saat itu ia cukup merasa kesal.
"Bagaimana?? Enak kan kalau makan dari suapanku?" Tanya Sonia yang tersenyum puas saat memandangi Nio yang kala itu tengah mengunyah makanannya.
"Makanannya memang sudah terasa enak bahkan sebelum kamu menyuapiku." Jawab Nio santai dan jujur.
Sonia pun akhirnya hanya bisa memutarkan kedua bola matanya dan menghela nafas.
"Emm iya deh, susah sekali rasanya membuatmu tersentuh."
Nio hanya tersenyum, lalu memilih untuk melanjutkan melahap sarapan miliknya. Sesekali ia melirik ke arah Rena yang saat itu lebih banyak diam dan menunduk, hal itu membuat Nio semakin yakin jika saat itu Rena benar-benar merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sonia di meja makan itu.
"Semoga setelah ini kamu bisa sadar, dan tidak akan bersikap terlalu baik lagi pada Sonia, apalagi sampai menawarinya untuk menginap lagi." Gumam Nio dalam hati yang diam-diam kembali tersenyum tipis.
__ADS_1
Beberapa puluh menit berlalu, waktu sarapan pun telah usai, kini Sonia tengah bersiap untuk pulang. Ia pun pamit pada Rena sembari memeluk hangat tubuh wanita muda yang sudah di anggapnya sebagai calon ibu mertuanya itu.
"Tante, pamit pulang dulu ya, terima kasih banyak sudah mengizinkan aku untuk tidur di kamar tante yang nyaman, terima kasih juga untuk sarapan pagi ini, makanannya enak hehehe. Semoga tante tidak kapok ya untuk menyuruhku menginap disini." Ucap Sonia yang terus memeluk tubuh Rena.
Nio yang menyaksikan hal itu dan tentu juga bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Sonia, sontak ingin tersenyum namun berusaha ia tahan,
"Hmm, tapi sepertinya dia sudah kapok Sonia, dan semoga saja benar-benar kapok." Gumam Nio dalam hati.
"Iya sama-sama, mampir saja kesini kalau kamu ingin main, tante tidak keberatan." Jawab Rena berbasa basi.
Namun, Nio yang mendengar hal itu lagi-lagi di buat mendengus pelan dan ingin tersenyum.
"Hmm, sudah begitu masih saja sanggup berbasa basi seperti itu," Gumamnya lagi.
Sonia pun akhirnya kembali melepaskan tautan tubuh mereka, lalu mulai menatap Nio.
"Nio, apa kamu tidak mau mengantarku hingga ke depan, seperti dua temanmu semalam?" Tanya Sonia dengan nada sedikit manja.
"Hmm, ok fine! Ya sudah, yuk!" Jawab Nio akhirnya yang langsung saja melangkah lebih dulu menuju pintu utama rumahnya,
"Ya sudah tante, aku pulang dulu ya, bye tante." Sonia pun melambaikan tangannya ke arah Rena dan langsung menyusul langkah Nio dengan penuh semangat.
"Bye." Jawab Rena sembari tersenyum kaku,
"Huh! Ternyata benar-benar tidak mudah menjalani hubungan yang seperti ini." Celetuk Rena dengan suara pelan.
Rena pun menghela nafas panjang, lalu dengan lesu kembali melangkah menuju dapur yang kala itu masih terlihat sedikit berantakan karena bi Inah belum sempat membereskan dapur itu sesudah masak, namun hal itu memang bukan disengaja oleh bi Inah, melainkan Rena yang memintanya untuk tidak usah memikirkan urusan dapur untuk sejenak.
"Hmm baiklah, dari pada aku terus termakan api cemburu, lebih baik aku fokus membereskan dapur ini." Celetuk Rena lagi yang kembali menarik nafas panjang.
Rena mulai mengikat rambutnya hingga menampilkan lehernya yang jenjang dan putih mulus. Lalu dengan sigap mulai membersihkan meja makan, membawa semua piring kotor ke westafel, dan mulai bersiap untuk mencucinya.
Selang beberapa menit, Nio akhirnya kembali masuk ke dalam rumah, melihat Rena yang tengah mencuci piring, sontak membuatnya tersenyum, dan berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu yang mencuci piring? Bi Inah kemana?" Tanya Nio sembari melirik kesana kemari seolah sedang mencari keberadaan bi Inah.
"Bi Inah dan pak Eko sedang cuti." Jawab Rena datar.
"Hah?!! Cuti?" Nio pun nampak sedikit terkejut.
"Iya!"
"Kenapa aku tidak tau kalau mereka mengambil cuti?"
"Mereka cuti hanya untuk hari ini saja, besok pagi mereka sudah kembali dan akan bekerja seperti biasa." Jelas Rena masih dengan nada datar.
Mendengar hal itu, tiba-tiba saja sebuah senyuman kegembiraan nampak terpancar di wajah Nio.
"Benarkah begitu??" Tanyanya lagi.
"Hmm!" Jawab Rena,
"Itu berarti,,, hanya ada kita berdua di rumah ini??" Tanya Nio yang perlahan mulai melangkah semakin mendekati Rena.
Kali ini Rena memilih diam dan tidak menjawab. Kini Nio berdiri di belakang Rena, lalu mulai memeluknya dari belakang sembari menciumi pundaknya,
"Aku tau kamu sedang kesal karena sikap Sonia, iya kan? tapi bukankah akan sangat tidak adil jika kamu melampiaskan kekesalanmu padaku?" Ucap Nio dengan lembut.
"Nio, tolong lepaskan aku! Apa kamu tidak lihat aku sedang mencuci piring??"
"Aku lihat! Tapi aku juga tidak mau melepaskan pelukannya!" Jawab Nio yang justru semakin mengeratkan pelukannya,
Hal itu pun kembali membuat Rena menghela nafas kasar.
"Maaf ya soal tadi, tidak ada yang special dari itu semua, itu murni hanya menghargai Sonia sebagai teman, tolong mengerti." Ungkap Nio yang kembali mencium lembut pundak Rena.
Bersambung...
__ADS_1