Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Sarapan bersama


__ADS_3

Setelah beberapa saat duduk terdiam menunggu di kursi makan, akhirnya Sonia pun mulai nampak muncul menapaki anak tangga dengan langkah tenang.


"Maaf ya tante, jika aku sudah membuat tante menunggu lama." Ucap Sonia begitu menghampiri Rena.


"Ah tidak terlalu lama juga," Jawab Rena sembari tersenyum tipis.


"Oh ya tante, dimana Nio? Kenapa tidak ada disini? Apa dia belum bangun?"


"Nio masih di kamarnya dan mungkin juga masih tidur, sebentar ya, tante bangunkan dia dulu." Ucap Rena yang mulai bangkit dari duduknya.


Namun Sonia dengan cepat mencegahnya.


"Ah tante tidak perlu!" Ucap Sonia seketika.


"Tidak perlu?? Maksudnya???" Tanya Rena yang nampak sedikit bingung.


"Oh hehehe maaf tante, maksudku boleh tidak jika aku saja yang pergi ke atas untuk membangunkan Nio?" Tanya Sonia yang kembali tersenyum seolah penuh harap.


Rena pun seketika terdiam dengan perasaannya yang sulit dijelaskan, di satu sisi ia ingin sekali menolak permintaan Sonia karena ia tidak rela jika lelaki tercintanya didekati wanita lain, namun di sisi lain, ia juga tidak berdaya untuk melakukan hal itu mengingat jika statusnya di rumah itu adalah sebagai ibu Nio, bukan sebagai kekasih.


"Bagaimana tante? Bolehkan jika aku saja yang membangunkan Nio di kamarnya?" Tanya Sonia lagi.


Dengan berat hati, akhirnya mau tidak mau Rena pun setuju, ia menjawab pertanyaan Sonia dengan hanya menganggukkan kepalanya.l


"Ah terima kasih tante." Jawab Sonia yang seketika nampak girang.


Tanpa banyak basa basi, ia pun langsung melangkah cepat menaiki anak tangga untuk menuju kamar Nio, meninggalkan Rena begitu saja dengan raut wajahnya yang seketika nampak sendu.


"Harus sampai kapan kita menjalin hubungan yang seperti ini Nio? Kita jelas memiliki hubungan khusus, tapi untuk melarang wanita lain saat ingin mendekatimu saja aku tidak punya daya." Gumam Rena lirih dalam hati sembari menatap sendu punggung Sonia yang sudah semakin jauh darinya.


Setibanya di depan pintu kamar Nio, Sonia pun langsung saja mengetuk pintu kamar itu dengan penuh semangat.


*Tok,, tok,, tok*


Ketukan pertama, tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari dalam kamar Nio.


"Apa dia benar-benar masih tidur?" Tanya Sonia seorang diri dengan suara sangat pelan.


*Tok,, tok,, tok*

__ADS_1


Ketukan pintu yang kedua pun masih sama, belum juga terdengar adanya jawaban dari Nio.


Merasa tak puas hati, Sonia pun kembali mengetuk pintu itu untuk ketiga kalinya dengan lebih keras.


"Nio!!!!" Panggilnya dengan sedikit berteriak.


Dan ya, kali ini nampaknya usaha Sonia tidak sia-sia dan cukup membuahkan hasil, hal itu terbukti saat akhirnya suara Nio terdengar sayup-sayup menjawabnya.


"Hmmm yaaa?" Ucap Nio yang saat itu memang benar-benar baru bangun dari tidurnya:


"Nio, buka pintunya!!" Seru Sonia yang terus menerus mengetuk pintu kamar Nio.


"Aku masih sangat mengantuk!" Jawab Nio sembari masih terus memejamkan kedua matanya.


"Nio, ayo bangun! Sarapan sudah siap, aku dan ibumu sudah menunggumu untuk sarapan bersama!!"


Mendengar kata "ibu" akhirnya berhasil membuat Nio perlahan membuka matanya yang kala itu sebenarnya masih terasa begitu berat. Dengan lesu, ia pun akhirnya mulai terduduk di atas tempat tidurnya, mengusap-usap kasar wajah serta rambutnya, lalu dengan langkah tak bersemangat, ia langsung menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa Sonia? Bukankah sudah ku katakan aku masih sangat mengantuk, kenapa masih terus mengetuk pintu kamarku?" Keluh Nio dengan kedua mata yang masih nampak sayu, mata khas orang baru bangun tidur.


"Kamu benar-benar baru bangun??" Tanya Sonia yang nampak sedikit tercengang saat melihat penampakan Nio saat baru bangun tidur, karena itu pertama kali baginya.


"Hehehe iya, iya. Ta,, tapi wajahmu kenapa malah semakin terlihat tampan saat baru bangun tidur? Bukankah itu aneh?!"


"Berhenti bergurau Sonia!" Jawab Nio sembari mendengus pelan.


"Ah tidak, tidak!! Aku sama sekali tidak bergurau, apa yang aku katakan adalah fakta. Ka,, kamu,,, kamu benar-benar terlihat begitu tampan dengan wajah seperti ini, bagaimana bisa kamu justru semakin tampan saat dipagi hari, bahkan baru bangun tidur??"


"Aku tidak tau! Haissh sudahlah Sonia, aku masih sangat mengantuk, tolong biarkan aku untuk kembali tidur sejenak." Ucap Nio yang seolah ingin kemali menutup pintu kamarnya.


Namun dengan cepat, kedua tangan Sonia menahan pintu itu.


"Eh tidak boleh!!" Tegas Sonia.


"Ada apa lagi?!!"


"Kamu harus ikut sarapan bersamaku dan juga ibu tirimu, dia sudah menunggu di bawah!!" Ucap Sonia lagi.


Mendengar hal itu, Nio pun seketika terdiam sejenak, entah kenapa jika sudah menyangkut Rena, Nio tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Hmm ya sudah, ok fine! Kalau begitu kamu turun lah duluan ke bawah, lima menit lagi aku turun, aku mau mandi dulu."


"Haruskah kamu mandi disaat wajahmu yang baru bangun tidur ini juga sudah terlihat begitu tampan??"


"Haruskah pertanyaanmu itu ku jawab??!"


"Hehehe baiklah, kalau begitu lima menit, tidak boleh lebih, ok?"


"Hmm ya, ok!"


"Ok aku tunggu kamu di bawah ya."


"Iya!"


Sonia pun akhirnya kembali menampilkan senyuman termanisnya di hadapan Nio. Sementara Rena yang saat itu masih menunggu di bawah, mulai merasa sedikit tidak tenang karena Sonia yang sudah cukup lama, namun belum juga turun.


"Haaisssh, kenapa lama sekali??? Apa yang mereka lakukan di atas sana." Gumam Rena yang semakin merasa gelisah.


Tapi Rena akhirnya bisa sedikit bernafas lega saat melihat Sonia muncul menapaki anak tangga.


"Apa kamu berhasil membangunkannya?" Tanya Rena seolah ingin mengorek informasi.


"Iya tante, tapi dia meminta kita untuk menunggu sebentar karena dia mau mandi terlebih dulu." Jelas Sonia yang akhirnya mulai menduduki salah satu kursi makan yang kosong.


"Hmm ok, tidak masalah!" Jawab Rena santai yang kembali mengutas senyuman tipisnya, dan berusaha bersikap seolah tidak terjadi apapun pada hatinya saat itu.


Sesuai dugaan, enam menit berlalu, dan akhirnya Nio pun muncul, ia nampak begitu tenang saat menapaki anak tangga untuk menuju meja makan, tempat dimana kedua wanita cantik itu sudah menunggunya.


"Pagi." Sapa Nio dengan sedikit datar.


"Pagi." Jawab Rena pelan saat menoleh ke arah Nio.


"Pagi Nio." Jawab Sonia yang nampak kembali girang saat menyambut kehadiran Nio.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu." Ucap Nio dengan tenang sembari mulai duduk di kursinya, tepat di hadapan Rena.


"Ah tidak apa-apa, ya kan tante?" Jawab Sonia yang terus tersenyum manis.


Saat itu Rena hanya tersenyum tipis, sembari mengangguk pelan, namun Nio yang melihat gelagat Rena tentu sangat mengerti apa yang terjadi padanya hingga jadi bersikap begitu kaku seperti itu.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2