
Nio seketika mengusap air matanya yang menetes, lalu menghela nafas singkat dan kembali menatap Rena dengan tegas.
"It's ok, fine!" Ucapnya.
"Sekarang aku mengerti Rena, aku mengerta bahwa sejauh ini, memang hanya aku yang menggilaimu, sementara kamu,,, tidak sama sekali." Tambahnya lagi sembari tersenyum lirih.
"Ya, anggap saja begitu!" Jawab Rena pelan yang kala itu terus berusaha untuk menahan air matanya agar tidak ikut menetes.
Nio pun mendengus pelan.
"Ok, kalau itu maumu, ok! Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Ya, begitu lebih baik." Jawab Rena lagi.
"Ok, semoga keputusanmu ini adalah yang terbaik."
Rena pun mengangguk.
"Tolong mulai sekarang bersikaplah sewajarnya padaku, sebagaimana sikap seorang anak pada ibunya!" Tambah Rena lagi dengan suara pelan.
Lagi-lagi Nio mendengus.
"Entah aku bisa atau tidak menganggapmu sebagai ibuku."
"Suka tidak suka, aku memanglah ibu tirimu sekarang!"
"Ya, ya ya! Menikah dengan papaku, menjadi ibu tiriku, lalu menjalin hubungan terlarang dan tidur denganku, setelahnya kamu mencampakkan aku, dan memintaku untuk kembali menganggapmu sebagai ibu tiri." Ungkap Nio yang terus terkekeh lirih.
"Bukankah hal itu sangat semena-mena???" Tanya Nio lagi.
Namun saat itu Rena hanya diam membisu dengan sorot mata yang terus menatap sendu ke arah Nio.
"Tapi Ok lah, aku mencoba memahami keinginanmu, tidak apa-apa Rena. Semoga kau bisa selalu bahagia setelah ini. Good night!" Ucap Nio yang kemudian langsung berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Rena yang masih diam mematung di tempatnya dengan tatapan yang terus memandang nanar ke arah punggung Nio yang semakin menjauh darinya.
Air mata yang sejak tadi terus berusaha ia tahan, kini seketika tumpah begitu saja sesaat setelah Nio pergi. Ia sontak tersandar lemas di meja dengan kedua tangan yang berusaha menopang tubuhnya.
"Mengakhiri sebuah hubungan disaat perasaan sedang cinta-cintanya, rasanya sungguh sakit sekali, seolah ada ribuan belati yang menancap secara bersamaan di jantung ini." Gumam Rena dalam hati yang terus menangis tanpa suara di tengah keheningan dan kegelapan malam itu.
Keesokan paginya...
Rudy turun dari kamarnya dan berjalan santai menuju meja makan, tempat dimana saat itu Rena nampak tengah menuangkan susu ke dalam gelas.
"Mas, sudah siap?" Tanya Rena begitu mendapati kehadiran Rudy.
__ADS_1
"Sudah." Jawab Rudy sembari tersenyum singkat yang kemudian langsung duduk begitu saja ke kursinya.
"Dimana Nio?" Tanya Rudy begitu ia berhasil duduk.
"Mungkin masih di kamarnya, akan aku minta bi Inah untuk memanggilnya." Jawab Rena yang langsung meletakkan teko yang kala itu tengah ia pegang,
"Tidak perlu, aku disini!" Jawab Nio datar yang kala itu seketika terlihat muncul menuruni anak tangga.
"Hai Nio, morning." Sapa Rudy dengan tenang.
"Morning." Jawab Nio datar yang langsung duduk di tempat biasa ia duduk.
Pagi itu Nio berusaha untuk mencoba bersikap biasa saja di depan Rena, ia ingin menunjukkan pada Rena bahwa ia pun bisa bersikap sama sepertinya, bersikap seolah tidak merasakan sakit apapun, bersikap seolah tidak pernah ada kejadian apapun antara mereka.
"Kamu nampak sudah rapi, apa akan berangkat ke kampus sekarang?"
"Iya pa."
"Pagi-pagi sekali??"
"Tidak apa pa, sebelum masuk kelas aku berencana untuk ke perpustakaan, mencari materi tambahan untuk menyempurnakan skripsiku."
"Ohh baguslah kalau begitu, semangat ya dengan sidangmu nanti, akhirnya tiba juga masa dimana kamu bisa menjalani kuliahmu dengan benar hingga bisa sidang. Papa bangga, nanti setelah sidang, kamu bisa minta apapun, papa akan memberikannya sebagai hadiah."
Beberapa kali Rena sempat melirik secara diam-diam Nio yang kala itu ada di hadapannya, sedikit merasa aneh saat melihat Nio yang bersikap begitu tenang, bahkan tak sekalipun Nio menatap ke arahnya pagi itu.
Tapi Rena lagi-lagi cepat merasa sadar dan tau diri, hal itu bisa saja terjadi karena saking kecewanya Nio padanya, ya begitulah pikirnya.
"Nio sembari menyantap makanan, bisa kita sambil mengobrol?"
"Mau membicarakan apa? Katakan saja!" Jawab Nio yang terlihat tetap fokus menyantap makanan yang ada di piringnya.
"Setelah kamu lulus, papa berniat ingin menjodohkan kamu, dengan Sonia. Papa lihat dia wanita yang cocok untukmu. Papa tau kamu pasti menolaknya, tapi coba kamu pikirkan lagi....."
"Papa atur saja!" Jawab Nio seketika yang langsung memotong ucapan Rudy.
Rudy pun terdiam sejenak seolah begitu terkejut dengan jawaban Nio. Begitu pula dengan Rena yang tak kalah membulatkan matanya, meskipun saat itu ia sedang tertunduk sembari mengunyah makanannya.
"Maksudmu, kamu setuju??" Tanya Rudy lagi.
"Setuju-setuju saja, jika menurut papa Sonia adalah gadis yang tepat, maka terserah saja." Jawab Nio enteng, tanpa beban bahkan saat menjawabnya ia pun sama sekali tidak menoleh ke arah Rudy, masih tetap fokus pada makanannya.
"Ah hahahah benarkah? Haish, sangat mengejutkan rasanya saat mendapatimu yang jadi sangat penurut sekarang, syukurlah Nio, papa senang." Rudy pun akhirnya terkekeh puas.
__ADS_1
Sedangkan Nio, hanya tersenyum tipis dan tetap melanjutkan makannya.
Entah kenapa Rena mendadak kembali merasa sesak di dadanya, tapi apa yang bisa ia lakukan saat itu, hmm dia tetap saja tidak bisa berbuat apapun untuk menunjukkan isi hatinya saat itu.
"Hmm sudah selesai kan bicaranya?" Tanya Nio ketika sudah berhasil menghabiskan makanannya.
"Untuk saat ini memang hanya itu saja yang ingin papa bicarakan."
"Hmm ya sudah." Jawab Nio yang langsung meneguk minumannya dengan cepat.
"Kalau begitu aku pergi ke kampus sekarang ya!" Nio pun langsung bergegas bangkit dari duduknya, dan kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
Meninggalkan Rena dan Rudy yang memandanginya dengan pikiran mereka masing-masing,
"Bukankah dia terlihat sedikit aneh pagi ini?? Kenapa tiba-tiba dia setuju begitu saja?" Tanya Rudy yang nampak terheran-heran.
"Aku juga tidak tau mas." Jawab Rena dengan suara pelan.
Mengetahui jika Nio langsung menyetujui perjodohan itu, cukup menjadi pukulan besar bagi hati Rena.
"Rasanya benar-benar sakit, bahkan saat ini aku sudah tidak tau lagi bagaimana mengekspresikan rasa sakit ini, bahkan jika aku menangis pun, rasanya tidak cukup untuk mengekspresikan rasa sakitku saat ini." Gumam Rena lirih dalam hati.
Malam hari...
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.10 malam, Nio yang merasa frustasi menahan sendiri rasa sakit hatinya pada malam itu, memutuskan untuk menghubungi kedua sahabatnya, ia berniat ingin mengajak mereka untuk minum bersama di bar dengan iming-iming akan mentraktir mereka minum sepuasnya.
Hal itu tentu saja dengan cepat disetujui oleh kedua sahabatnya itu, mengingat mereka yang juga sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama apalagi minum bersama.
"Baiklah, sekitar 20 menit lagi aku akan tiba di sana, pastikan kalian sudah datang saat aku tiba!!" Ucap Nio saat menelpon Aldy.
"Siap bosss." Jawab Aldy bersemangat.
Nio pun bergegas meraih kunci mobil serta dompetnya, lalu langsung keluar dari kamarnya. Namun langkah cepat Nio saat menuruni anak tangga perlahan mulai terhenti saat mendapati Rena yang secara kebetulan juga ingin menaiki anak tangga dengan sudah membawa segelas air putih di tangannya.
Namun tanpa berkata sepatah katapun, Nio pun kembali melanjutkan langkahnya, begitu pula dengan Rena yang mau tak mau juga ikut melanjutkan langkahnya. Nio terus melangkah menuruni anak tangga dengan wajah datarnya, melewati Rena begitu saja bahkan tanpa meliriknya sedikit pun lagi dan terus saja melangkah tanpa menoleh lagi kebelakangnya sedikit pun.
Rena yang telah berada di ujung tangga, sejenak menghentikan kembali langkahnya dan menoleh secara ragu ke arah Nio yang kala itu terlihat keluar dari pintu samping rumahnya yang bisa langsung terhubung ke garasi rumah itu.
"Mau kemana dia malam-malam begini??" Tanya Rena dalam hati yang sebenarnya sedikit merasa cemas, namun kembali lagi ia tetap tidak bisa melakukan tindakan apapun pada Nio kala itu.
...Bersambung......
__ADS_1