
Pernyataan itu berhasil membuat Zayden seketika tercengang, juga sama halnya dengan Rena yang seketika menatap Nio dan ikut tercengang dibuatnya.
"Ka,, kamu sungguh serius dengan hal itu?" Tanya Rena lagi.
Nio tidak menjawab Rena, yang dia lakukan hanya mengusap tangan Rena yang kala itu tengah ia pegang, dan kembali menatap ke arah Zayden.
"Kau tau sejauh ini aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun lagi, itu karena aku masih menyimpan rasa itu untuk adikmu. Dan sekarang aku benar-benar tidak ingin kehilangan Rena lagi, aku ingin menikahinya, tolong restui kami!" Ungkap Nio dengan lugas tanpa ragu.
"Tapi bagaimana bisa kau berfikir untuk menikahi ibu tirimu sendiri?!!"
"Dia bukan lagi ibu tiriku!" Jawab Nio.
"Tapi tetap saja dia mantan istri papa kandungmu!"
"Tidak!" Jawab Nio.
"Apa maksudnya dengan kata tidak?" Tanya Zayden lagi yang nampak tidak mengerti.
"Sebenarnya, dia bukanlah orang tua kandungku, melainkan pamanku!" Jelas Nio dengan bibir yang nampak sedikit bergetar kala mengatakan hal itu.
Jelas saja, karena sejujurnya Nio masih merasa sangat sakit bila mengingat hal itu.
"Apa??" Zayden pun lagi-lagi seketika jadi terperangah kala mendengar pengakuan Nio.
"Ya, orang yang selama ini ku panggil papa ternyata bukan papa kandungku." Ucap Nio yang seketika mulai menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca.
Rena yang menyaksikan hal itu pun mendadak ikut merasa teriris kala melihat Nio yang masih nampak sangat sedih saat kembali membahas masalah itu.
"Sudah cukup Zay!! Kau tidak seharusnya bertindak berlebihan seperti ini padanya!" Tegas Rena yang nampak tak senang pada kakaknya.
"Hei, aku begitu karena kau adikku satu-satunya. Jelas aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu!"
"Ya, kau memang kakakku satu-satunya! Tapi kemana kau selama ini? Apa kau ada mau tau tentangku selama ini? Apa kau tau bagaimana aku menjalani kerasnya hidup seorang diri? Kau dimana saat aku sendiri dan terpuruk, kau dimana Zay? Apa kau ada mau tau? Apa kau peduli?" Ketus Rena yang sontak bangkit dari duduknya dan terus menatap Zayden dengan tatapan mata yang seolah tengah menyala kobaran api kemarahan.
Zayden pun seketika terdiam dan seolah tidak berkutik dibuat Rena yang mengamuk seolah lebih sangar dari amukannya.
"Rena, tolong tenangkan dirimu, jangan seperti itu." Ucap Nio yang kembali menarik tangan Rena.
"Tidak, biarkan saja! Biarkan dia tau dan mengerti jika selama ini dia juga tidak menjadi kakak yang baik untukku!" Jawab Rena yang terus saja menyorot tajam ke arah Zayden.
Nyali Zayden pun seketika menciut kala Rena sudah membahas tentang masa lalu, masa dimana Zayden menghilang bagai ditelan bumi dan memang tidak pernah ada kabar berita lagi.
"Sudah, ayo duduklah lagi, aku tidak ingin kamu jadi ikut tersulut emosi." Ucap Nio yang terus menarik tangan Rena hingga membuatnya kembali terduduk.
"Apa kau sungguh mencintai Antonio?" Tanya Zayden kemudian dengan suara yang mulai sedikit melunak.
"Aku mencintainya! Jika kamu berharap ada seorang lelaki datang padaku dan menjadikanku seolah seperti ratu, maka dialah orangnya!! Karena dialah satu-satunya lelaki yang membuatku merasa diratukan semasa aku hidup, bahkan ayah dan kakak lelakiku, tidak pernah melakukannya!" Ungkap Rena yang lagi-lagi ungkapan itu tentu membuat Zayden semakin merasa bersalah padanya.
"Hmm baiklah kalau begitu," Zayden pun mulai menundukkan kepalanya dengan suara yang semakin pelan,
__ADS_1
"Aturlah kapan kalian ingin menikah." Tambahnya kemudian.
Mendengar hal itu kembali membuat Nio seketika menatapnya dengan sedikit tercengang.
"Apa itu artinya kau merestui kami?"
"Apa restu dariku penting bagi kalian?"
"Tentu saja, kau kakak lelakinya, itu berarti kau walinya saat ini."
"Aku tidak punya daya untuk menahan dua orang yang saling mencintai untuk menikah. Maka menikahlah, menikahlah secepatnya!" Jawab Zayden.
Nio pun akhirnya seketika tersenyum, ia langsung bangkit dan langsung memeluk Zayden begitu saja tanpa perduli jika sebelumnya Zayden telah membuat ujung bibirnya pecah.
"Terima kasih Zayden, terima kasih banyak!"
"Tolong jaga dia!" Ucap Zayden pelan.
"Pasti!"
"Dan maaf, maaf untuk bibirmu yang pecah!" Ucap Zayden sesaat setelah mereka melepaskan tautan tubuh mereka.
"It's ok, aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisimu."
Zayden pun akhirnya bisa tersenyum dan kembali melirik ke arah Rena.
"Hei kau, kenapa masih duduk disitu? Ayo kemarilah!" Panggil Zayden.
"Terakhir aku meninggalkanmu, kau belum dewasa, tapi sekarang, kau bahkan lebih sangar dariku ketika marah." Celetuk Zayden saat mereka saling bertautan.
"Maafkan aku Na, tolong maafkan aku yang selama ini tidak bisa melindungimu, aku sangat minta maaf."
"Ya, maaf juga karena tadi aku terlalu terbawa emosi."
"Ya, itu menandakan jika kau benar-benar mencintai Nio, kau ingin melindunginya dari amukanku kan?"
Rena pun hanya tersenyum.
Keesokan harinya...
Pagi itu, tak terlihat sedikitpun adanya sosok Nio di sofa, tempat dimana ia biasa tidur, Nio seolah menghilang tanpa kabar hingga membuat Rena bingung.
"Kemana dia pergi?" Tanya Rena seorang diri saat sudah memastikan jika Nio benar-benar tidak ada di apartement itu.
"Good morning." Sapa Meichan, yang tentu saja saat itu ia lebih memilih untuk ikut tidur di apartement bersama Zayden ketimbang di hotel yang mereka sewa untuk acara pernikahan sebelumnya.
"Eh hai, morning kak." Jawab Rena yang nampak sedikit tersentak.
"Kamu nampak seperti sedang bingung, ada apa?" Tanya Meicha sembari mulai duduk dengan tenang di sofa.
__ADS_1
"Owh ti,, tidak hehe." Rena pun hanya bisa tersenyum kikuk.
"Oh ya, apa ada melihat Nio? Soalnya sejak aku bangun, aku sama sekali tidak melihatnya." Tanya Rena pada Meichan.
"Nio??! Hmm aku juga baru bangun, jadi tentu aku tidak melihatnya."
"Owh, begitu ya."
"Hmm mungkin saja dia sedang jogging di bawah, setauku di bawah ada taman yang biasa dipakai orang-orang jogging, apalagi saat weekend seperti ini."
"Owh, mungkin saja benar." Ucap Rena akhirnya.
Tak lama Zayden pun nampak keluar dari kamarnya.
"Beib, bukankah kamu sudah bangun sejak tadi, apa kamu tau Nio kemana?" Tanya Meichan begitu melihat suaminya keluar dari kamar.
"Nio?!! Aku tidak tau, mungkin dia sedang berkeliling atau mencari oleh-oleh, mengingat besok dia akan pulang." Jawab Zayden dengan tenang sembari terus melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum.
Mendengar hal itu, sontak membuat Rena seketika jadi terdiam.
"Jika benar dia pergi berkeliling, lalu kenapa tidak mengajakku? Bahkan dia sama sekali tidak memberitahuku jika ingin pergi keluar." Gumam Rena dalam hati yang merasa sedikit kesal.
*Tiktoktiktok*
Jarum jam terus berputar tanpa henti, tidak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 10.41 pagi menjelang siang. Namun anehnya Nio masih belum juga kembali, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali hingga membuat Rena semakin resah serta gelisah.
"Kemana dia???" Gumam Rena yang terus menggigiti kuku pada ibu jarinya sembari terus berjalan mondar mandir di balkon yang ada di kamarnya.
Namun seolah pucuk dicinta ulam pun tiba, tiba-tiba saja ponsel Rena berdering dan menampilkan nama sang pujaan hati pada layarnya.
"Nah ini dia!" Celetuk Rena sembari dengan cepat langsung menjawab panggilan telpon itu.
"Kamu kemana saja? Kenapa tidak memberitahuku saat ining pergi ha?" Tanya Rena saat menyambut panggilan suara itu.
"Sudah, nanti saja marah-marahnya. Apa kamu sudah mandi?" Tanya Nio.
"Kenapa malah bertanya begitu disaat seperti ini."
"Bersiaplah, dan temui aku di sebuah restoran." Ucap Nio kemudian.
"Hah?! Restoran??"
"Iya, nanti akan aku share lokasinya, tidak terlalu jauh dari apartement,"
"Ka,, kamu pergi ke restoran? Sejak tadi?"
"Iya hehehe."
"Baiklah, kirimkan aku alamatnya sekarang, aku akan kesana!"
__ADS_1
"Aku tunggu."
...Bersambung......