
Namun tetap tidak ada jawaban, sama sekali tidak ada suara ataupun tanda-tanda yang mengisyaratkan jika Rudy ada di kamar maupun kamar mandi. Rena pun terus melangkah pelan menuju pintu kamar mandi, ia membukanya dan benar saja, kamar mandi itu terlihat kosong.
Ia pun bergegas meraih kembali ponselnya, untuk memeriksa kembali beberapa pesan yang belum sempat ia buka sejak semalam.
Dan entah kenapa tiba-tiba ia merasakan perasaan lega yang luar biasa saat mendapati beberapa pesan dari suaminya yang mengatakan jika ia tidak bisa pulang karena Joan mengajaknya menginap di hotel akibat mabuk parah.
Bukan malah marah atau pun merasa kecewa, Rena justru langsung terduduk di tepi ranjang sembari menghela nafas penuh kelegaan.
"Huuhh!! Syukurlah, ternyata mas Rudy benar-benar tidak pulang semalam, dengan begitu setidaknya aku bisa sedikit merasa lebih baik." Celetuknya seorang diri.
Setelah beberapa saat terdiam, Rena pun akhirnya memutuskan untuk mandi demi menghilangkan sisa-sisa rasa mabuknya. Ia kembali melucuti satu persatu pakaiannya, dengan tenang ia mulai melangkah menuju shower, dan membiarkan guyuran air mulai membasahi tubuhnya yang sudah tak berbusana.
Entah kenapa, saat itu tiba-tiba saja bayang-bayang adegan panasnya semalam bersama Nio, kembali terlintas begitu saja. Hal itu sontak membuat Rena terdiam sesaat dan mulai menatap sebuah cermin yang ada di sisinya. Rena mendekati cermin itu, lalu mulai memandangi area lehernya, dan ya, saat itu matanya seketika langsung dibuat terbelalak saat mendapati beberapa tanda merah yang dibuat oleh Nio.
"Astaga!!!" Ketus Rena yang seketika langsung mengusap-usap lehernya.
"Lelaki itu!! Berani sekali dia menciptakan tanda merah ini di leherku?? Apa dia tidak bisa berfikir bagaimana dampaknya padaku jika mas Rudy melihatnya??!!" Tambahnya lagi yang terus menggerutu kesal.
Rena pun mempercepat aktivitas mandinya, saat itu ia benar-benar kembali dibuat kesal hingga ingin segera meluapkannya kembali pada Nio. Dengan cepat, Rena langsung memakai pakaiannya, dengan sebuah handuk yang masih melilit di rambutnya, ia pun bergegas keluar dari kamar dan kembali mengetuk pintu kamar Nio dengan sedikit keras.
*Tok,,Tok,,Tok*
Nio yang saat itu terlihat sudah siap untuk berangkat ke kampus, akhirnya membuka pintu kamarnya. Ia pun sedikit terkejut saat mendapati Rena yang kembali mendatangi kamarnya dengan raut wajah penuh kemarahan.
"Nio!! Apa yang kau lakukan pada leherku?!!" Ketus Rena tak senang sembari menunjuk ke arah lehernya yang kala itu sudah ada beberapa tanda merah, tanda kepemilikin yang diciptakan oleh Nio.
Nio yang melihat hal itu pun sontak mendengus pelan dan tersenyum tipis.
"Respon macam apa itu ha??!! Apa kau sudah gila??!! Apa kau benar-benar ingin aku dibunuh oleh papamu?!! Begitu??" Rena pun semakin melotot sembari mulai mengecakkan kedua tangannya di pinggang.
Nio yang saat itu masih diam, mulai menoleh ke kanan dan kiri di sekitar area depan pintu kamarnya, lalu dengan cepat ia kembali menarik tangan Rena untuk membawanya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kita bicarakan ini di dalam." Ucap Nio pelan sembari langsung mengunci pintu kamarnya.
"Ada apa denganmu ha? Kenapa sejak tadi kamu terus marah-marah?" Tanya Nio dengan tenang sembari kembali tersenyum tipis.
"Jangan balik bertanya padaku!! Jawab saja pertanyaanku sebelumnya!" Jawab Rena sembari menepis tangan Nio.
"Memangnya kenapa sih? Apa yang salah dengan tanda merah itu?"
"Hah?!! Kau masih bertanya apa yang salah??!! Ya jelas salah dan akan menjadi masalah nantinya! Bagaimana kalau papamu melihat ha?! Apa kau tidak berfikir sebelum membuat tanda merah ini ha?? Dimana pikiranmu? Kau benar-benar gila Antonio!!" Rena terus mengomel tak terima, sementara Nio saat itu masih saja memilih diam sembari terus tersenyum tenang.
"Haaaiis, aku benar-benar tidak habis pikir padamu!! Sangat keterlaluan!!" Tambah Rena lagi.
"Kamu ini berbicara seolah kamu tidak ada membuat kesalahan padaku." Celetuk Nio yang semakin tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan padamu ha??!! Aku tidak ada melakukan kesalahan apapun selain membiarkan hal itu terjadi lagi semalam." Tegas Rena yang masih tak menyadari apapun.
"Oh ya? Kamu yakin hanya itu?"
"Hmm lalu bagaimana dengan ini?" Tanya Nio sembari menunjuk ke arah bagian lehernya yang ada terdapat tanda merah yang sama, yang tak lain ialah hasil dari perbuatan liar Rena semalam.
Melihat hal itu sontak membuat kedua mata Rena jadi terbelalak.
"Ini, terus ini." Ucap Nio lagi yang kembali menunjuk ke arah sisi lain lehernya,
"Dan,,, bagaimana dengan ini??" Tambah Nio yang tanpa ragu langsung membuka baju kaosnya.
Saat itu, terlihat ada banyak tanda merah kepemilikan hampir di seluruh badan Nio. Mulai dari leher, dada, bahkan mengarah ke perut juga ada tanda merah itu. Hal itu berhasil membuat Rena semakin membulatkan matanya karena begitu syok dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Ti,, tidak! Ini ti,, tidak mungkin." Ucap Rena pelan sembari menggelengkan kepalanya.
"Apanya yang tidak mungkin Rena? Ini bukti dari betapa liarnya kamu semalam terhadap tubuhku. Apa kamu lupa, semalam kamulah yang memperkosaku, Rena." Ungkap Nio yang kembali memancarkan senyuman tipisnya yang terlihat begitu menggoda.
__ADS_1
"Tidak, tidak!! Sepertinya ta,, tadi pagi aku tidak ada melihatnya." Rena terus menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menyangkalnya.
"Itu karena kamu terlalu fokus mencari ponsel dan begitu fokus marah-marah tidak jelas, itulah sebabnya kamu tidak menyadari betapa banyaknya tanda merah ini." Jawab Nio santai yang langsung memakai kaosnya kembali.
Rena pun akhirnya terdiam seribu bahasa dengan wajah yang terlihat begitu merah padam karena menahan malu. Lalu Nio yang menyadari hal itu, lagi-lagi kembali tersenyum dan terus menggodanya.
"Lalu bagaimana dengan nasibku ini Rena? Bahkan tanda merah yang kamu buat hampir memenuhi tubuhku, apa sebaiknya aku juga harus ikutan marah padamu??" Kali ini Nio mulai melangkah perlahan mendekat ke arah Rena.
Saat itu Rena nampaknya masih tidak bisa berkutik karena Nio berhasil membalikkan keadaan.
"Hmm, tapi sepertinya aku tidak akan melakukannya kali ini. Saat ini aku benar-benar tidak berminat untuk memarahimu, karena aku punya cara lain untuk menghukummu." Ungkap Nio yang kemudian dengan lembut mulai meraih pipi Rena dan mengusapnya.
Rena pun mulai membalas tatapannya dengan tak kalah lekat, seolah saat itu ia sedang menantikan hukuman apa sekiranya yang akan diberikan Nio untuknya. Nio pun tersenyum sejenak, lalu perlahan dengan begitu lembut mulai mencium bibir Rena.
*Cuupp*
Ciuman singkat namun terasa begitu hangat.
"Kurasa ini adalah hukuman yang pas." Celetuk Nio pelan.
Rena pun tercengang memandangi Nio yang kala itu terus tersenyum menatapnya.
"Hmm baiklah, aku harus pergi ke kampus sekarang." Tambahnya lagi yang mulai melepaskan tangannya dari pipi mulus Rena.
Nio pun meraih tas ranselnya, dan bersiap untuk melangkah keluar dari kamar.
"Oh ya, kamu tidak perlu minta maaf untuk semua tanda merah ini, karena aku sudah memaafkannya." Goda Nio yang semakin merekahkan senyumannya, lalu akhirnya ia beranjak keluar dari kamarnya begitu saja.
Meninggalkan Rena yang kala itu masih begitu tercengang dan benar-benar tidak bisa marah lagi.
Bersambung...
__ADS_1