
Nio dengan wajah yang nampak begitu penat akhirnya menutup laptopnya saat hari sudah mulai gelap. Ia melirik kesana kemari dan baru menyadari jika perpustakaan saat itu sudah nampak begitu sepi.
"Haishh!! tidak terasa, ternyata hari sudah gelap, sudah hampir 5 jam aku disini." Gumam Nio pelan sembari bergegas memasukkan laptopnya ke dalam ransel miliknya.
Dengan langkah cepat dan terkesan buru-buru, Nio terus berjalan keluar dari perpustakaan yang saat itu sudah nampak mulai redup karena beberapa lampu telah di padamkan.
Kampus yang cukup besar dan luas, membuatnya sedikit membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai di tempat dimana mobilnya terparkir. Nio masuk ke dalam mobilnya sembari melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan saat itu waktu nampak sudah menunjukkan pukul 19.40 malam, hingga membuat Nio tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
"Ini lebih lama dari perkiraanku, hmm semoga saja Rena tidak marah karena menungguku terlalu lama." Gumam Nio dalam hati.
Sisi lain di kediaman keluarga Nio...
Malam itu Rena nampak cukup dibuat gelisah karena Nio belum juga pulang meski hari sudah malam. Bahkan beberapa kali ia nampak berjalan menuju balkon yang ada di kamarnya, berjalan mondar mandir beberapa saat sembari kedua matanya terus menyorot ke arah halaman depan rumah yang tak jauh dari gerbang rumah mewah itu.
"Sudah hampir jam 8 malam, kenapa dia masih belum juga pulang?" Tanya Rena dalam hati yang saat itu nampak sedikit cemas.
Beberapa kali juga Rena sempat berpikir untuk kembali menghubungi Nio, namun lagi-lagi niat itu segera ia urungkan, karena ia merasa tidak enak hati kalau harus mengganggu waktu Nio apalagi saat ia sedang fokus pada skripsinya.
"Apa kali ini aku benar-benar harus menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya?" Tanya Rena seorang diri sembari memandangi ponsel yang saat itu tengah berada di dalam genggamannya.
"Ah tidak, tidak! Aku tidak mau di anggap terlalu posesif, mungkin saja dia lanjut nongkrong bersama teman-temannya, dan aku tidak boleh melarangnya dalam hal itu, karena itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu, bahkan sebelum kami saling mengenal." Tambah Rena lagi yang akhirnya memutuskan untuk kembali menuju ranjangnya dan meletakkan begitu saja ponselnya di atas ranjang itu.
"Lebih baik aku membantu bi Inah menyiapkan makan malam, dan mengajak mereka makan bersama." Pikir Rena yang akhirnya melangkah keluar dari kamarnya.
Rena melangkah dengan tenang menuruni anak tangga, saat itu di meja makan sudah terlihat bi Inah yang tengah menghidangkan beberapa menu makanan yang di masaknya sendiri.
"Ya ampun, apa bibi sudah selesai memasak?" Tanya Rena.
"Sudah bu, baru saja selesai."
"Hmm, sepertinya aku datang terlambat." Ucap Rena yang terlihat sedikit kecewa sembari menopangkan kedua tangannya di atas meja.
"Terlambat? Maksudnya bu?" Tanya bi Inah yang terlihat sedikit bingung.
"Oh hehehe, iya tadi maksudnya aku ingin membantu bibi memasak, tapi ternyata makanan bahkan sudah dihidangkan, hmm aku jadi merasa tidak enak hati."
"Haaaiissh bu, tidak perlu merasa tidak enak hati, karena itu memang sudah tugas bibi hehee." Bi Inah pun terkekeh pelan.
__ADS_1
Membuat Rena akhirnya ikut tersenyum tipis dan mulai duduk di kursi tempat biasa ia duduk.
"Hmm ya sudah, kalau begitu ayo kita makan bersama bi, ajak pak Eko juga sekalian, karena aku tidak mau makan sendirian malam ini." Ungkap Rena sembari mulai membalikkan piringnya.
"Sendirian? Apa mas Nio tidak ikut makan bersama disini bu?"
"Hmm ya, kemungkinan Nio tidak ikut makan malam disini karena dia belum juga pulang sampai sekarang!" Jawab Rena datar.
Namun, tiba-tiba saja suara seseorang yang terdengar begitu familiar terdengar menjawab apa yang di ucapkan oleh Rena sebelumnya.
"Siapa bilang aku tidak akan ikut makan malam disini?" Tanya seseorang yang saat itu terlihat sedang berjalan dengan tenang ke arah meja makan.
Seseorang yang sudah pasti tak lain dan tak bukan adalah Antonio.
Rena yang mendengar hal itu sontak menoleh ke arah sumber suara dengan kedua mata yang nampak membulat sempurna saat memandangi Nio yang sudah berada tak jauh darinya.
"Ni,,, Nio??" Ucapnya pelan.
Dengan tenang, Nio pun akhirnya duduk di hadapan Rena sembari terus menatapnya dengan tatapan datar karena saat itu sedang ada bi Inah di tengah-tengah mereka.
Rena pun akhirnya tersentak dari lamunan singkatnya dan langsung meraih sendok nasi untuk menutupi sikap kikuk serta gugupnya saat itu.
"Ba,, baik bu, bibi panggil Eko dulu." Bi Inah pun langsung melangkah cepat menuju area dapur yang bisa tembus ke kamar para pekerja di rumah itu.
Saat itu Nio akhirnya mulai menatap Rena dengan tatapan sangat lekat dan disertai dengan senyuman yang menawan.
"Maaf ya sayang, aku pulang lebih lama dari prediksi." Ucap Nio lembut.
Rena yang saat itu masih diam, mulai melirik ke arahnya dengan raut wajah datar.
"Kamu kemana saja memangnya?" Tanyanya kemudian.
"Aku?? Hmm, aku tidak kemana-mana, hanya diperpustakaan saja!" Jawab Nio jujur.
"Hmm benarkah?" Tanya Rena yang nampak sedikit tidak percaya.
"Benar sayang, aku tidak bohong!" Tegas Nio.
__ADS_1
Rena yang tak ingin berdebat saat itu, memilih kembali diam sembari mengangkat singkat kedua alis mata serta pundaknya. Nio yang melihat ekspresi itu, cukup mengerti jika saat itu Rena masih belum yakin dengan ucapannya, namun belum sempat Nio menjelaskan lebih panjang lagi, tiba-tiba bi Inah sudah nampak kembali datang bersama dengan pak Eko.
"Ah ayo bi, pak Eko, duduklah, kita makan sekarang." Ajak Rena yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Makan malam pun berlangsung dengan tenang, malam itu Rena banyak diam, namun berbeda halnya dengan Nio yang justru terkesan lebih banyak bicara pada bi Inah dan pak Eko.
Selesai makan malam, Rena yang tanpa banyak berkata-kata, memilih untuk naik ke kamarnya lebih dulu. Meninggalkan Nio, bi Inah serta pak Eko yang kala itu masih terduduk di meja makan sembari menyantap hidangan penutup.
Hal itu pun seketika membuat Nio terdiam sejenak sembari memandangi kepergian Rena.
"Astaga, apa dia benar-benar marah karena aku pulang lebih lama? Atau dia marah karena mengira aku pergi ke tempat lain?" Gumam Nio dalam hati sembari kembali meraih gelas minumannya, dan langsung menenggak minumannya hingga kandas.
"Bagaimana dengan skripsinya mas Nio? Apa sejauh ini tidak ada kendala?" Tanya bi Inah yang kembali menunjukkan rasa perhatiannya pada Nio.
"Hmm ya, sejauh ini masih tidak ada kendala bi, tapi tidak tau nanti." Jawab Nio yang kemudian tersenyum tipis.
"Ah syukurlah, semoga seterusnya tetap lancar dan bisa langsung di terima oleh dosen tanpa harus di revisi."
"Semoga saja begitu bi, terima kasih untuk doanya bi."
"Hehehe iya mas Nio, bibi akan selalu doain yang terbaik untuk mas Nio."
"Ya bi, sekali lagi terima kasih banyak."
"Hmm, hari ini aku pulang telat itu juga karena membuat makalah untuk skripsi di perpustakaan kampus, dan itu membuatku merasa sangat lelah sekarang, apa boleh aku masuk kamar juga?" Tanya Nio dengan sopan yang sebenarnya hal itu hanyalah alasan saja agar ia bisa segera menyusul Rena ke kamar tanpa membuat para pekerja dirumahnya merasa curiga.
Meskipun status bi Inah dan pak Eko hanyalah pekerja di rumahnya, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat Nio pada mereka terlebih pada bi Inah. Yang bahkan sejak Nio kecil, ia sudah membantu merawat Nio.
"Ya ampun, tentu saja boleh mas Nio, mas Nio bahkan tidak perlu meminta izin seperti itu, apa mas Nio lupa kalau kami hanyalah pekerja di rumah ini hehehehe." Jawab pak Eko sembari terkekeh pelan.
"Hmm jangan begitu, apapun status kalian di rumah ini, tetap saja aku harus menghormati kalian sebagai orang yang lebih tua."
"Iya terima kasih untuk hal itu mas Nio hehehe. Mas Nio beristirahatlah dengan tenang, apa mau bibi buatkan minuman hangat sebelum mas Nio tidur?"
"Ah tidak perlu bi, sepertinya aku ingin langsung mandi dan tidur, aku benar-benar sangat lelah." Ungkap Nio yang akhirnya mulai bangkit dari duduknya.
"Hmm ya sudah kalau begitu." Bi Inah pun tersenyum hangat sembari mengangguk singkat.
__ADS_1
...Bersambung......