
Mobil Nio telah terhenti sempurna di garasi rumahnya saat waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ada sebuah pintu di garasi yang langsung terhubung ke ruang tengah rumahnya, dan Nio bisa masuk kapan saja karena telah dibekali kunci cadangan pintu itu.
Nio dan Rena nampak melangkah penuh kegembiraan saat memasuki rumah yang sudah nampak begitu sunyi dan minim cahaya itu. Dengan keadaan menjinjing sepatu hak tingginya, Rena terus melangkah dengan sebuah senyuman yang tak luput ia pancarkan.
Nio pun ikut tersenyum senang dan mulai menggelitik perut Rena dari belakang, hal itu sontak membuat Rena menggeliat geli dan hampir berteriak.
"Aww," ucapnya dengan suara pelan.
"Nio gelii!!" Kedua mata indahnya pun nampak melototi Nio namun dengan sebuah senyuman yang tetap saja nampak begitu merekah.
Saat itu Nio hanya terus tertawa namun tetap tidak menghentikan aksinya, hal itu lagi-lagi membuat Rena tertawa kegelian sembari berlari ke ruang tengah untuk menghindari gelitikan Nio.
"Awww hahaha geli Nio."
"Sssstttt.." Ucap Nio pelan sembari ikut kembali terkekeh pelan namun tetap berusaha untuk mengejar Rena.
"Hahaha jangan! geliiii.."
"Pelankan suaramu kalau tidak mau ada yang mendengarnya, Rena." Bisik Nio yang akhirnya berhasil menangkap Rena dan membekap pelan mulutnya dengan sebelah tangannya.
Rena pun tersenyum dan melepaskan tangan Nio dari mulutnya, lalu ia kembali mengalungkan kedua tangannya ke leher Nio.
"Hanya ada satu cara yang bisa membuatku diam." Ucap Rena pelan.
Saat itu Nio hanya diam tersenyum sembari menaikkan sebelah alisnya, membuat Rena semakin mengembangkan senyumannya dan tanpa segan langsung menyambar bibir Nio.
Nio, tentu saja ia tidak melawan, ia bahkan justru membalas cepat ciuman Rena yang begitu menuntut. Rena tersenyum, ia mulai mendorong pelan tubuh Nio dan kembali melangkah dalam keadaan kedua bibir yang masih saling bertautan.
Nio merasa jika jarak menuju kamar yang berada di lantai dua cukup jauh dari mereka saat itu, ia yang tak sabar akhirnya langsung membawa masuk Rena ke dalam ruang kerja Rudy yang berada di dekat tangga.
Tanpa melepaskan tautan bibir sedetikpun, Nio kembali menutup dan tentu saja mengunci pintu itu. Ia kembali mengangkat tubuh Rena untuk mendudukkannya di atas meja kerja Rudy.
Rena nampak tersenyum kembali disela-sela ciuman maut mereka,
"Kamu, benar-benar anak yang nakal Nio." Gumam Rena di sela-sela ciuman mereka.
__ADS_1
"Ya, kamulah penyebabnya." Jawab Nio yang juga nampak tersenyum dan kembali melahap habis bibir Rena.
Lidah Nio semakin liar bermain-main di dalam rongga mulut Rena, lalu mulai beralih menuju rahang serta leher jenjang Rena yang mulus.
Rena kembali terdongak, kedua matanya bahkan dibuat menutup dan terbuka merasakan sentuhan Nio yang sangat memabukkan.
Lagi-lagi Rena merasa jika posisi seperti itu saja belum cukup baginya, ia yang tak mau kalah pun sontak menolak tubuh Nio, membuat Nio jadi terduduk sedikit kasar di kursi kerja Rudy. Nio terkekeh kecil sembari memandangi lagi tubuh Rena yang mulai mendekat ke arahnya.
Dan benar saja, Rena kembali duduk di atas pangkuan Nio sembari tersenyum menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kamu benar-benar akan memperkosaku lagi?" Tanya Nio yang terus tersenyum sembari mulai melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rena.
"Kalau iya, kenapa? Apa kamu ingin memberontak?" Jawab Rena setengah berbisik sembari kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Nio.
"Sepertinya, bersikap pasrah akan lebih baik." Nio pun semakin tersenyum.
Membuat Rena kembali mengembangkan senyumannya, dan mereka pun kembali menautkan kedua bibir mereka dengan begitu ganas layaknya dua binatang buas yang saling memangsa satu sama lain.
Erangan keduanya kembali pecah saat merasakan betapa nikmatnya saat keperkasaan Nio menerobos begitu dalam milik Rena. Kali ini, mereka bahkan melakukannya tanpa melepas baju mereka.
"Huh,, huh,, huh,," Lagi-lagi Rena terkulai lesu di pangkuan Nio.
Nio pun kembali mendekap tubuh harum Rena dengan sangat erat,
"Kelihatannya kamu harus menstok alat kontrasepsi sebanyak mungkin! next time, aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi." Ungkap Rena sembari menjambak pelan rambut Nio, membuat kepala Nio jadi terdongak menghadapnya.
"Mengerti?" Tambahnya lagi sembari mencubit pelan hidung Nio dan kemudian langsung beranjak.
Seolah tanpa kejadian, Rena pun kembali memakai **********,
"Cepat pakai celanamu, dan kembali lah masuk ke kamar," Ucap Rena sembari tersenyum, lalu ia langsung keluar begitu saja.
__ADS_1
Rena berjalan tenang dan mulai menaiki tangga, dengan terus berpegangan pada pagar pembatas di sisi kiri tangga, ia terus berjalan sempoyongan.
Tak lama Nio pun datang menyusulnya dengan wajah masam.
"Setelah memperkosaku untuk kedua kalinya, dengan mudahnya kamu pergi begitu saja." Gerutu Nio pelan.
"Itu jelas salahmu! Salahmu kenapa mau." Jawab Rena santai, sembari terus melangkah.
Mendengar hal itu Nio pun mendengus dan kembali tersenyum tipis. Lalu tanpa berkata apapun lagi, ia pun langsung saja menggendong Rena layaknya sedang mengangkut karung beras di pundaknya.
"Aaah, kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Rena yang nampak sedikit terkejut, namun justru ia terlihat kembali tertawa.
"Biar adil, kali ini kamu yang akan kusandera." Jawab Nio santai sembari terus melangkah menuju kamarnya.
Nio menghempaskan tubuh Rena ke atas ranjang empuknya, lalu langsung menindihnya dan kembali mencumbunya. Seolah tiada rasa lelah, mereka kembali bergulat dengan begitu liar dan leluasa di atas ranjang Nio.
Seluruh pakaian yang mereka kenakan mulai berhamburan ke segala arah, tempat tidur yang awalnya rapi kini terlihat jadi begitu berantakan.
Alunan-alunan kenikmatan dari mulut Rena terus menggema memecah keheningan malam di ruangan itu. Mereka saling candu, sama-sama tenggelam pada perasaan yang begitu rumit serta sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
Waktu terus bergulir, jarum jam pun kini sudah menunjukkan pukul 03.50 subuh, namun Rudy masih belum juga terlihat pulang ke rumah.
Saat itu Nio nampak mulai terkulai lemas di atas Rena, Rena yang juga tak kalah lemas hanya nampak diam sembari terus mengusap lembut rambut Nio. Kedua mata Rena mulai menatap nanar ke arah langit-langit kamar itu,
"Jam berapa sekarang? Kenapa papamu belum pulang juga?" Tanya Rena dengan suara pelan.
Namun saat itu sama sekali tidak ada jawaban dari Nio yang ternyata sudah mulai tertidur.
"Aku harus kembali ke kamarku." Ucap Rena lagi yang perlahan mulai ingin menggeser tubuh tegap Nio yang saat itu masih berada di atasnya.
"Jangan, disini saja." Ucap Nio dengan sangat pelan, yang kemudian justru semakin mengeratkan pelukannya pada Rena.
"Bagaimana kalau papamu pulang?"
"Tidak akan, dia tidak akan pulang." Ucap Nio pelan dengan keadaan mata yang terus terpejam.
__ADS_1
...Bersambung......