
Dengan disupiri oleh pak Eko, mereka pun kembali menuju rumah sakit, tempat dimana Rudy tengah dirawat. Dengan langkah cemas, Rena terus melangkah mengikuti langkah bi Inah yang seolah menuntunnya untuk menuju ruangan Rudy.
"Ini dia ruangan pak Rudy bu." Ucap bi Inah ketika mereka telah tiba di depan pintu yang bertuliskan "VVIP ROOM 04"
"Bibi tidak ikut masuk?"
"Bibi rasa pak Rudy hanya ingin berbicara berdua saja dengan bu Rena, maka dari itu bibi dan Eko akan menunggu di luar saja."
"Owh baiklah kalau begitu." Rena pun mengangguk pelan.
"Oh ya, ini juga sudah siang, apa bibi sudah makan siang?"
Bi Inah pun menggelengkan pelan kepalanya. Dengan cepat Rena pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pada bi Inah.
"Kalau begitu ajaklah pak Eko untuk makan siang di kantin bi, bibi juga sudah bekerja keras dalam merawat mas Rudy, jadi tidak boleh telat makan."
"Ah terima kasih banyak bu."
Rena pun mengangguk, ia tersenyum singkat dan kemudian langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Kala itu Rudy nampak terbaring lemas tak berdaya dengan sorot kedua matanya yang tengah menatap kosong ke arah langit-langit rumah sakit.
"Mas Rudy." Sapa Rena yang terus melangkah pelan mendekati tempat tidur Rudy.
Dengan gerakan pelan, Rudy pun mulai menoleh ke arah Rena.
"Rena..." Ucapnya dengan suara sangat pelan.
"Apa yang terjadi mas, kenapa bisa jadi begini?" Tanya Rena yang nampak cemas sembari mulai duduk di sisi tempat tidur Rudy.
"Anggap saja tuhan sedang menghukumku saat ini, penyakit ini akan ku anggap sebagai penebusan dosaku."
Rena pun terdiam.
"Rena, aku merasa jika hidupku tidak akan lama lagi,"
"Mas, kenapa bicara seperti itu?"
"Firasatku mengatakan seperti itu, Rena tolong jika masih ada rasa sakit hati di hatimu padaku, tolong maafkan aku Rena."
"Aku sudah memaafkanmu mas, lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga memaafkan aku?"
__ADS_1
Rudy pun mengangguk pelan.
"Rena, apa kamu benar-benar tidak tau dimana keberadaan Nio saat ini?" Tanya Rudy lagi.
Rena pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Aku benar-benar hampir kehabisan waktu, aku ingin sekali bertemu dengannya sebelum aku mati."
"Tolong jangan bicara seperti itu mas, mas akan sembuh dan pasti bisa kembali bekerja seperti biasanya."
"Rena, sebelum kepergianku, ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan."
"Hal apa mas?"
"Sebelumnya aku sudah meminta pengacaraku datang kemari, dan aku ingin memberikan 30% dari hartaku padamu, sebagai mantan istriku. Jadi saat nanti aku benar-benar telah tiada, tolong pergunakan uangmu sebaik mungkin, aku tidak mau kamu kembali bekerja di club malam, karena akan tidak baik untukmu."
"Tidak mas, aku merasa tidak berhak atas itu, aku hanya beberapa saat menjadi istrimu dan bahkan tidak ada melahirkan keturunan untukmu."
"Aku akan tetap pada keputusanku Rena."
Rena pun lagi-lagi terdiam dengan raut wajah sendu saat memandangi wajah Rudy yang nampak begitu memucat.
"Dan ada satu hal lagi yang paling penting yang harus kamu tau."
Setelah terdiam beberapa saat, Rudy pun mulai menarik nafasnya sedikit dalam, lalu mulai memberitahukan satu hal penting padanya, hingga hal itu sontak membuat Rena begitu syok, ia pun sontak jadi langsung bangkit dari duduknya dengan raut wajah yang nampak begitu terkejut,
"Ja,, jadi...."
"Benar Rena, itulah faktanya." Ungkap Rudy yang terlihat kembali melesu.
Tanpa berkata apapun lagi, Rena pun langsung saja keluar dari ruangan itu, terus melangkah dengan cepat sembari meneteskan air matanya.
"Ke,, kenapa?? Kenapa baru sekarang??" Gumamnya dalam hati.
Tiga hari kemudian...
Akhirnya benar, Rudy benar-benar telah menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, ia telah pergi untuk selamanya bahkan sebelum ia berhasil untuk kembali bertemu dengan Nio lagi.
Kepergian Rudy, lagi-lagi membuat Rena syok saat baru saja mendengar kabar itu dari Bi Inah yang menelponnya. Tanpa pikir panjang ia pun langsung pergi menuju rumah duka untuk melayat.
Tak perlu menunggu terlalu lama, kini rumah mewah itu mulai nampak dipenuhi oleh banyak orang, terutama para karyawan pabrik milik Rudy, beberapa teman Nio, juga rekan bisnisnya.
__ADS_1
Saat itu Rena nampak banyak diam, tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain termenung, memikirkan harus dengan cara apalagi ia bisa mendapatkan kabar tentang keberadaan Nio atau sekedar nomor kontaknya yang baru.
"Dimana kamu Nio? Apakah kamu mengetahui hal ini? Tolong pulanglah, lihatlah wajah papamu untuk terakhir kalinya." Gumam Rena dalam hati.
Bahkan hingga saat Rudy dikuburkan, Nio masih saja tidak muncul, hingga banyak mengundang tanda tanya besar bagi hampir seluruh orang yang melayat kala itu.
"Apa Nio sungguh tidak akan pulang untuk melihat jasad papanya?" Bisik Aldy pada Rio.
"Entah dia tau atau tidak tentang kematian papanya ini."
"Entahlah, tapi jika dia masih berada di kota ini, kurasa dia akan tau,"
"Lalu bagaimana kalau ternyata dia berada di luar kota? Atau bahkan luar negeri?"
"Haish entahlah, kepergian Nio benar-benar misterius, dia bahkan tidak ada memberitahukan kita tentang kabar dan keberadaannya." Jawab Aldy.
Tak lama Rena yang tak sengaja melirik ke arah mereka berdua, seketika langsung bergerak untuk menghampiri mereka.
"Tan,, tante??!" Ucap Rio yang sedikit terkejut dengan kehadiran Rena di hadapan mereka.
"Apa kalian sungguh tidak tau keberadaan Nio saat ini?"
"Kami benar-benar tidak tau tante,"
"Bukankah kalian berdua adalah teman dekatnya?"
"Ya itu benar, tapi semenjak kelulusan, kami tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya, dia seolah hilang begitu saja." Ungkap Aldy.
"Maaf tante kalau boleh tau, sebenarnya ada masalah apa? Karena kami juga dengar dari beberapa teman yang lain, jika Sonia juga sangat terpukul hingga depressi akibat gagal menikah dengan Nio."
"Maaf, tapi sepertinya bukan kapasitas tante lagi untuk mengatakan hal itu, mengingat tante bukan siapa-siapa lagi di keluarga ini. Hmm kalau begitu tante permisi." Rena seolah menghindari untuk membahas lebih lanjut tentang masalah itu, dan memutuskan untuk langsung beranjak pergi begitu saja.
Tiga hari berikutnya, seorang pengacara beserta asisten pribadinya tiba-tiba saja mendatangi apartement Rena. Rena yang merasa tidak mengenali siapa mereka, awalnya nampak ragu untuk menyuruh mereka masuk, namun setelah menunjukkan tanda pengenal beserta bukti sebuah foto saat duduk bersama dengan Rudy ketika masih hidup.
Rena yang mulai yakin akhirnya berani mempersilahkan keduanya masuk, dan duduk di ruang tamu.
"Baik bu, maksud kedatangan kami kesini adalah ingin membacakan surat wasiat yang dititipkan oleh pak Rudy pada Kami."
Mereka pun mulai membacakan surat wasiat itu, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, ia memberikan 30% harta kekayaannya untuk Rena, agar bisa ia kembangkan lagi sesuai dengan bidang apa yang ia minati dan kuasai. Sedangkan sisanya, tentu saja ia berikan pada Nio.
Dengan sedikit berat hati dan rasa yang masih tidak percaya, Rena akhirnya menandatangani beberapa surat untuk mengganti nama kepemilikan pada beberapa aset yang sudah Rudy cantumkan.
__ADS_1
"Baik bu, terima kasih untuk waktunya, kalau begitu kami permisi dulu." Ucap pengacara itu saat memastikan jika urusan mereka dengan Rena hari itu telah selesai.
...Bersambung......