
Tak ingin semakin larut pada pikirannya yang liar berkelana, Rena pun akhirnya memutuskan untuk langsung mandi. Guyuran air hangat kini pun mulai menghujani tubuhnya, membasahi mulai dari rambut hingga ujung kakinya yang perlahan mulai memberi efek menenangkan.
Sementara Nio yang saat itu masih terduduk lunglai di tepi ranjangnya, sontak kembali melirik ke arah ponselnya, saat ponsel itu kembali berdering. Dengan lesu ia pun mulai beranjak untuk segera meraih ponselnya, tulisan "Papa" kembali terpampang nyata di layar ponsel itu. Setelah menghela nafas kasar, Nio pun akhirnya mulai menyambut panggilan sang ayah dengan raut wajah yang tidak bersemangat.
"Ya pa, ada apa?" Tanya nya lesu.
"Nio, kemana saja kau? Kenapa baru mengangkat telpon papa sekarang?"
"Ya maaf, tadi aku, aku..." Nio pun mulai terbata-bata.
"Tadi apa?" Tanya pak Rudi kembali.
"Tadi aku, emm..." Nio masih saja tergagu karena ia tidak mungkin mengatakan sebenarnya pada sang ayah.
"Ah sudah lah, sekarang katakan dimana ibumu?"
"Ibu?? Emm bukankah dia di kamarnya? Kenapa tidak menelponnya saja langsung?"
"Papa sudah berkali-kali menelponnya dan sama sekali tidak di angkat, jadi sepertinya tidak mungkin dia berada di kamarnya." Jawab pak Rudi.
"Entah lah, tapi setauku sejak tadi dia tidak keluar kamar, mung,,, mungkin saja dia sedang tidur." Jelas Nio berkilah.
"Kalau begitu tolong berikan ponselmu pada ibumu, papa ingin bicara padanya. Karena tadi pagi ibumu menelpon papa seperti ingin memberitahukan sesuatu." Jelas pak Rudi.
*Deggg*
Nio yang mendengar hal itu pun seketika jantungnya mulai berdebar,
"Apa mungkin tadi pagi dia ingin memberitahu papa tentang aku yang dengan lancang sudah berani menciumnya?" Tanya Nio dalam hati.
"Hallo Nio, apa kau masih disana? Kenapa diam saja?"
Nio pun sontak tersentak dari lamunannya.
"Oh iya pa"
"Ya sudah tunggu apalagi? Ayo berikan ponselnya pada ibumu."
"Iya baik lah, tunggu sebentar."
__ADS_1
Nio pun bergegas keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke kamar Rena. Dengan sedikit ragu-ragu ia pun akhirnya mulai mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.
Kebetulan saat itu Rena baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya berbalutkan sebuah handuk berwarna putih di tubuhnya, ia pun berdiri di depan meja riasnya, memandangi pantulan dirinya di cermin sambil dengan mengusap-usap rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.
*Tok tok tok*
Suara ketukan pintu membuat segala aktivitas Rena saat itu seketika menjadi terhenti.
"Siapa?" Tanya Rena sembari menoleh ke arah pintu kamarnya.
Namun tak ada jawaban, yang ada hanyalah suara ketukan pintu yang kembali terdengar untuk kedua kalinya.
*Tok tok tok*
"Siapa sih?" Tanya Rena lagi namun dengan suara pelan.
Akhirnya Rena pun langsung saja beranjak menuju pintu kamarnya untuk melihat siapa gerangan yang sejak tadi mengetuk pintunya.
*Ceklek*
Rena tanpa berfikir panjang langsung menekan handle pintu, membuat pintu kamarnya pun langsung terbuka, di susul dengan kedua mata Rena yang kembali di buat membulat sempurna saat mendapati Nio yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Sssssttt." Seketika Nio pun menempelkan ibu jarinya ke bibir Rena hingga membuat Rena seketika terkejut dan sontak terdiam.
"Kecilkan suaramu! karena bisa jadi saat ini ayahku sedang mendengarkan dari panggilan ponsel ini." Bisik Nio tepat di telinga Rena.
Hal itu seketika membuat mata Rena semakin terbelalak sempurna. Tanpa basa basi, Nio pun kembali berdiri tegak dan langsung memberikan ponselnya pada Rena.
"Ini, ayahku ingin bicara." Ucapnya lagi dengan sorot matanya yang terus menatap lekat ke arah sang ibu tiri.
Dengan sedikit ragu-ragu, Rena pun meraih ponsel itu lalu mulai menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ha,,, hallo." Ucap Rena.
"Astaga Rena, dari mana saja kamu ha? Berkali-kali aku menelponmu, kenapa tidak di angkat?" Tanya pak Rudi yang terdengar sedikit meninggi.
"Oh itu, ma,,, maaf mas, aku,,, aku sedang mandi tadi, lagi pula aku tidak ada dengar ponselku berbunyi." Jawab Rena dengan sedikit gelagapan sembari melirik ke arah Nio yang saat itu masih berdiri di hadapannya.
"Ya sudah lupakan soal itu! Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan tadi pagi? Apa ada masalah?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan seperti itu dari suaminya, seketika membuat jantung Rena kembali berdegub hebat, bukan tanpa sebab dan alasan, melainkan karena sebelumnya Rena sudah memutuskan untuk tidak jadi memberitahukan hal itu pada suaminya. Di tambah lagi sebelumnya Rena pun nyatanya sempat terbuai dan tergoda dengan permainan bibir sang anak tiri yang sesaat telah berhasil membuat Rena seolah hilang akal sehat hingga begitu menikmati moment itu.
"Halo, sayang." Panggil pak Rudi.
Rena yang sempat melamun sejenak, kini kembali tersentak.
"Eh iya, aku disini." Jawab Rena gelagapan.
"Kenapa diam saja? Apa terjadi sesuatu?" Tanya pak Rudi lagi untuk memastikan.
"Ah tidak mas, hanya masalah kecil saja, tapi sekarang sudah aman, aku bisa mengatasinya." Jawab Rena berbohong.
"Masalah apa memangnya?"
"Emm masalah..." Rena pun mulai berpikir untuk mencari jawaban apa sekiranya yang aman ia lontarkan pada suaminya sembari kembali melirik ke arah Nio yang saat itu masih setia mengawasinya.
Tidak di pungkiri, saat itu Rena nampaknya sungguh gugup dan semakin gelagapan, karena sesungguhnya Rena adalah wanita yang jujur, hingga membuatnya begitu kesulitan saat harus berbohong pada suaminya.
"Oh itu, tadi, emm tadi, oh tadi keran air di kamar mandi yang ada di kamar kita tiba-tiba saja bocor hingga airnya muncrat kemana-mana, dan aku yang panik malah langsung berpikiran untuk menghubungi kamu mas. Maaf ya mas, aku jadi mengganggu waktu kerja kamu." Jelas Rena yang lagi-lagi harus berkilah.
Nio yang mendengar hal itu pun seketika dibuat mendengus sembari tersenyum tipis saat mengetahu jika Rena sedang berbohong pada ayahnya.
"Astaga, jadi hanya itu?"
"Hehe iya mas, sekali lagi maaf ya. Tapi aku sudah meminta bibi untuk memanggil orang yang bisa memperbaikinya, dan sekarang semua sudah beres." Jelas Rena lagi sembari tersenyum tipis.
"Ah ya sudah kalau begitu. Dan bagaimana dengan Nio, apa dia masih sakit? Apa dia ada melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai? Jika ya, tolong beritahu aku ya, biar aku bisa menegurnya."
"Nio, emm Nio... sepertinya Nio mulai membaik meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Dan dia,,, emm dia tidak melakukan apapun yang tidak ku sukai, jadi kamu tenang saja dan bekerja lah dengan baik disana." Jawab Rena dengan sedikit gelagapan sembari melirik singkat ke arah Nio.
Nio pun lagi-lagi dibuat mendengus pelan dan tersenyum saat mendengar pengakuan ibu tirinya yang jelas berbohong.
"Syukur lah kalau begitu, baiklah, sepertinya aku harus lanjut untuk meeting lagi dengan beberapa rekanku, jaga dirimu ya."
"Iya mas,"
Akhirnya panggilan telepon pun berakhir, Rena pun langsung mengembalikan ponsel itu pada Nio sembari menatapnya dengan sedikit canggung.
...Bersambung......
__ADS_1