Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menepati janji


__ADS_3

Sisi lain di kantor...


"Huh, akhirnya." Celetuk Nio yang menghela nafas singkat sesaat setelah mereka selesai meeting dan kliennya pun telah pergi.


Anya yang mendengar hal itu pun hanya bisa tersenyum sembari memandangi Nio yang hari itu nampak rupawan seperti biasa.


"Thanks Anya, hari ini kamu terlihat sangat luar biasa, seperti biasa." Puji Nio sembari menepuk pelan pundak Anya.


Anya pun semakin mengembangkan senyumannya.


"Lebih tepatnya kita berdua, bukan hanya saya pak."


"Hmm ya, sepertinya kamu selalu mencoba ingin menghiburku dalam hal ini hehe." Nio pun ikut tersenyum sembari mulai bangkit dari duduknya.


"Pak." Panggil Anya tiba-tiba yang membuat Nio yang baru saja ingin melangkah, sontak menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Anya.


"Ada apa Anya?"


"Sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan diluar bersama??!" Ajak Anya yang nampak sedikit ragu-ragu saat mengatakannya.


"Ya anggap saja sebagai bentuk atas suksesnya meeting dan presentasi kita hari ini." Tambah Anya lagi.


"Haiss, sebenarnya aku sangat ingin, tapi maaf Anya, aku belum sempat memberitahumu, kalau siang ini aku harus mengantar temanku ke bandara."


"Teman??" Tanya Anya yang nampak sedikit tidak yakin.


"Iya, namanya Zayden, dia temanku yang baru datang dari Qatar, tapi siang ini dia harus pergi lagi ke Shanghai, karena dia akan melangsungkan pernikahannya disana."


"Owhh." Anya pun akhirnya mengangguk singkat sembari tersenyum tipis, meskipun merasa sedikit kecewa, namun di sisi lain ia juga merasa lega karena teman yang dimaksud Nio adalah seorang lelaki.


"Ok." Tambah Anya lagi.


"Oh ya Anya, dan tolong kosongkan jadwalku di lima hari mendatang, karena aku juga akan ke Shanghai untuk menghadiri acara pernikahannya. Hmm, mungkin sekitar tiga atau empat hari."


"Ti,, tiga atau empat hari??" Kedua mata Anya pun nampak membulat.


"Hmm." Nio pun mengangguk.


"Ap,, apa itu tidak terlalu lama??"


"Hmm ya mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji pada sahabatku ini akan datang bahkan dua hari sebelum hari H. Jadi tolong aturkan saja jadwalku, aku yakin kamu bisa." Nio pun kembali mengusap pelan pundak Anya dan kemudian langsung melangkah pergi.


Anya yang masih merasa tak tenang, sontak langsung menyusul langkah Nio hingga kini ia pun ikut berjalan di sisi lelaki itu.


"Boleh saya tau dengan siapa pak Nio pergi?"


"Aku?! Tentu saja aku sendiri."


"Tidak ada pasangan?"


"Hais pertanyaan macam apa itu? Kamu bahkan tau aku tidak memiliki pasangan saat ini."

__ADS_1


"Tapi biasanya seseorang selalu menggandeng pasangannya saat menghadiri pesta pernikahan."


"Hmm benarkah? Sejujurnya aku sangat jarang datang ke pesta pernikahan, jadi aku tidak tau soal itu." Jawab Nio dengan tenang.


"Pak, saya sama sekali tidak keberatan jika saya harus menemani pak Nio datang ke pesta itu." Ucap Anya kemudian.


Mendengar hal itu, membuat langkah Nio seketika terhenti dan kembali menatap Anya dengan raut wajah serius.


"Maksudmu kamu ingin ikut denganku ke Shanghai?"


Anya pun mengangguk penuh keyakinan, karena baginya beberapa tidak bertemu dengan Nio adalah hal yang menyedihkan.


"Anya, aku kurang setuju! Bukan aku tidak mau, tapi jika kamu ikut bersamaku, siapa yang akan menghandle segala pekerjaan disini?!"


Anya pun seketika terdiam dengan raut wajah yang nampak berbeda.


"Anya, kamu tau di kantor ini aku hanya bisa mengandalkanmu, kamu yang terbaik dan paling bisa di andalkan, aku hanya percaya padamu saja." Tambah Nio lagi.


"Ta,, tapi pak..."


"Anya, please! Lagi pula kurasa tidak masalah jika harus sendiri di pesta pernikahan itu, karena niatku kesana hanya untuk menyaksikan moment bahagia Zayden, bukan untuk menjadikannya ajang pameran pasangan."


Anya pun masih terdiam.


"Aku mohon kamu tetap disini ya, handle urusan kantor, aku percayakan kantor ini padamu dalam beberapa hari, ok??" Pujuk Nio sembari meraih kedua pundak Anya dan terus menatapnya dengan lekat.


Saat itu tentu ada beberapa orang yang berlalu lalang melihat adegan itu, dan hal itu tentu saja membuat mereka semakin berspekulasi jika Nio dan Anya memang benar menjalin hubungan.


5 hari kemudian...


Nio menepati janjinya pada Zayden dan benar-benar datang ke Shanghai untuk menyaksikan moment sakral sahabatnya itu.


Siang itu, ada sebuah panggilan melalui aplikasi hijau dari Nio, Zayden tentu dengan semangat menyambutnya.


"Oh bro? Bagaimana? Kamu jadi datang kan?" Tanya Zayden yang kala itu kebetulan tengah bersama dengan calon istrinya, Meichan.


Meichan, berhubung dia berasal dari China, tentu saja ia memiliki kulit putih dan memiliki mata yang sedikit sipit, namun sebuah lesung pipi yang menghiasi kedua belah pipinya, benar-benar membuatnya terlihat menawan.


"Hahaha aku bahkan sudah berada di bandara Pudong sekarang." Jawab Nio sembari tersenyum.


Ya, Bandara internasional Pudong adalah salah satu dari dua bandara yang ada di Shanghai.


"What??!!" Zayden yang nampak begitu terkejut seketika refleks bangkit dari duduknya.


"Kau di Shanghai sekarang??? Really??!!" Tanya Zayden lagi yang terlihat nampak begitu sumringah.


"Yepss, sesuai janjiku bukan??"


"Aaaahh bro, aku sangat senang, baiklah, biarkan aku menjemputmu."


"Ah tidak, tidak! Calon pengantin tidak seharusnya repot-repot menjemputku, lagi pula aku sudah di taksi sekarang,"

__ADS_1


"Hah benarkah? Hmm baiklah, tapi aku tidak mau kau menginap di hotel, karena aku sudah menyewa apartement jadi menginaplah disini bersamaku."


"Benar tidak apa-apa??"


"Ah bro, ayolah!"


"Ok, kalau begitu tolong share lokasinya sekarang, aku akan langsung kesana."


"Nice! Ok, aku kirim sekarang."


Zayden pun segera mengakhiri panggilannya.


"Siapa dia?" Tanya Meichan begitu Zayden menyudahi panggilannya.


"Owh Beib, dia temanku, apa kamu ingat pelayan tampan yang bekerja di resto tempatku bekerja, yang bertubuh tinggi, dia sempat beberapa kali juga melayanimu di resto."


"Ohh ya ya, aku ingat, kamu pernah menunjuknya dan mengatakan itu temanmu, apakah benar itu orangnya?"


"Tepat sekali, benar dia orangnya."


"Jadi dia rela datang ke Shanghai demi menghadiri pernikahan kita?"


"Hehehe ya, dia benar-benar menepati janjinya."


"Hmm sulit dipercaya, dia pasti sudah menguras banyak tabungannya untuk terbang kesini, itu menandakan dia benar-benar teman yang bisa di andalkan." Ucap Meichan sembari tersenyum,


"Oh Beib, sebenarnya tidak seperti itu." Zayden pun mulai nampak sedikit cengengesan.


"Maksudmu?"


"Dia menjadi pelayan, itu hanya karena ingin mencari kesibukan, bukan benar-benar untuk mencari uang."


"Benarkah??" Meichan pun nampak sedikit kaget.


"Hehehe iya, meskipun aku seorang chef dan dia pelayan, tapi kenyataannya dia jauh lebih kaya dariku."


"Ohh, sungguh tidak disangka," Meichan pun mulai terkekeh.


"Hmm tapi benar juga, mengingat visualnya yang lebih mirip seperti seorang CEO, jadi tidak terlalu kaget saat mengetahui fakta ini."


"Hehehe ya begitu lah, dan dia benar-benar menjadi CEO sekarang."


"Owhh, baguslah, itu lebih cocok baginya."


"Hmm tapi saat mengatahui fakta ini, kamu tidak akan membatalkan pernikahan kita dan berpaling ke temanku kan?" Goda Zayden.


"Haaiss, pertanyaan macam apa itu? Di Shanghai ada banyak pengusaha kaya, tapi aku lebih memilihmu, itu menandakan apa?"


"Hehehe iya, iya, love you beib." Zayden pun seketika tersenyum dan langsung memeluk Meichan.


Ya, meskipun hanya seorang chef, namun tidak bisa menutupi fakta jika Zayden adalah seorang chef di restoran di dalam hotel berbintang ada ada di kota Doha, Qatar, yang dimana Qatar merupakan negara terkaya dunia, dan sudah pasti gaji yang ia hasilkan menjadi chef disana juga berkali-kali lipat lebih banyak jika di banding dengan negara asalnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2