Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Sulit menyudahinya


__ADS_3

Awalnya Rena terpaku bahkan secara refleks menutup kedua matanya kala bibir Nio dengan lembut menyentuh bibirnya. Namun hanya beberapa detik saja, perlahan ia kembali membuka matanya saat Nio melepaskan tautan bibir mereka.


"Nio, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak seharusnya melakukan ini lagi." Ucap Rena dengan suara pelan,


"Ya aku tau ini salah, tapi tolong biarkan aku menciummu, untuk terakhir kalinya,"


"Alasan apa yang membiarkan aku untuk harus menyetujui hal itu?"


"Agar aku bisa lebih tenang saat benar-benar harus melepaskanmu." Jawab Nio pelan.


Rena pun terdiam dan kembali menatap Nio dengan begitu dalam, begitu pula sebaliknya, beberapa detik melakukan kontak mata dalam jarak yang dekat, membuat rasa dalam dada Nio seolah kembali bergejolak hebat. Seolah tak perduli dengan apapun lagi saat itu, dengan perlahan Nio pun kembali mendekati Rena, semakin dekat dan terus menuju ke arah bibirnya lagi.


"Tolong jangan bergerak, biarkan ini terjadi sekali lagi saja, aku janji." Bisik Nio pelan yang kemudian kembali mengecup bibir Rena lagi.


Seolah tanpa penolakan, kala itu Rena seolah terbuai lagi karena mengikuti perasaan yang ada di hatinya, yaitu rasa rindu yang menggebu, juga rasa cinta yang masih begitu mendalam.


Rena pun kembali memejamkan kedua matanya, merasakan bagaimana hangatnya bibir Nio kala menyentuh bibirnya lagi setelah sekian lama merindukan sentuhan itu.


Dengan lembut, Nio pun mulai mlumattt pelan bibir Rena dalam keadaan kedua matanya yang juga ia pejamkan. Bahkan tanpa sadar, Rena pun membalas ciuman hangat itu dengan gerakan lembut,


"Nio, sebaiknya kita berhenti melakukan ini."' Bisik Rena di sela-sela ciuman hangat mereka, namun anehnya ia masih terus saja meladeni ciuman Nio.


"Iya, aku tau. Mari berhenti dalam hitungan ketiga." Jawab Nio yang juga terus saja mencumbu Rena.


"Ya, aku setuju." Jawab Rena.


"Satu." Ucap Nio yang terus memainkan bibir Rena.


"Dua." Sambung Rena yang juga masih menyambut ciuman itu seolah belum ada tanda-tanda ingin berhenti.


"Tiga." Ucap Nio.


Namun apa yang terjadi, bukannya malah berhenti, Nio malah semakin menerkam bibir Rena, mlumattnya lebih dalam dan jauh lebih semangat dari sebelumnya.


"Ini sudah melebihi batas, kita benar-benar harus berhenti sekarang!" Ucap Rena lagi.


"Ya, ya, kali ini kita benar-benar akan berhenti setelah hitungan kesepuluh, deal?"


"Deal!"


Mereka pun terus menautkan kedua bibir mereka, hingga pada akhirnya tibalah di hitungan kesepuluh namun nampaknya Nio masih begitu enggan untuk mengakhiri moment yang begitu ia rindukan itu. Begitupun Rena yang seolah juga masih saja ingin terus meladeninya dan merasa kesulitan untuk berhenti meskipun hitungan ke 10 sudah berakhir bahkan beberapa menit yang lalu.


Hingga pada akhirnya kedua mata Rena yang awalnya terus menutup, kini sontak mendelik kala teringat wajah Rudy maupun Sonia yang sudah menjadi pasangan Nio. Dengan cepat ia pun menolak kasar tubuh Nio agar menjauh darinya.


"Hentikan!!" Tegasnya dengan nafas yang terlihat sedikit terengah.

__ADS_1


Nio pun terdiam dengan raut wajah sedikit bingung kala memandangi Rena.


"Semuanya sudah berakhir Nio! Tolong mengerti!"


"Aku mengerti, tapi tadi ku pikir kamu juga menginginkannya."


"Ya, anggap saja ini menjadi kenangan yang terakhir bagi kita, dan tolong jangan mengartikan apapun ciuman kita barusan, karena itu tidak akan merubah apapun."


Nio pun lagi-lagi terdiam dengan raut wajah seolah penuh kekecewaan.


"Bukankah kamu dan Sonia akan segera menikah, jadi setialah padanya dan jangan pernah mengingat apapun tentan kita lagi. Aku juga ingin hidup tenang bersama papamu, jadi tolong jangan pengaruhi aku lagi, aku benar-benar tidak ingin bermain api lagi, benar-benar ingin menjadi istri yang baik, jadi tolong jagalah sikapmu padaku seperti sebelumnya!!"


"Ok, aku minta maaf atas ciuman tadi. Dan kamu benar, seharusnya aku setia pada pasanganku saat ini, yang juga sangat setia padaku."


"Ya," Rena pun mengangguk singkat, dan kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Nio.


Rena terus melangkah cepat menuju kembali ke Villa sembari sekali lagi mengusap wajahnya, memastikan jika tidak ada air mata lagi yang membasahi pipinya.


Ia pun terduduk lesu di sebuah sofa yang ada di ruang keluarga, dan tak lama Rudy pun nampak keluar dari kamarnya sembari memegangi kepalanya.


"Mas, mas kenapa?" Tanya Rena yang seketika langsung bangkit dari duduknya saat Rudy menghampirinya.


"Rena, kepalaku tiba-tiba terasa sakit, apa kamu membawa obat sakit kepala yang biasa aku minum?"


"Benarkah?! Hmm kalau begitu bisakah kamu membelikan obat itu ke swalayan yang ada di dekat puncak? Disana sangat lengkap termasuk obat-obatan."


"Owhh, baik mas, aku akan membelinya."


"Iya, tolong ya Rena, karena ini benar-benar sakit.


"Iya mas, mas tunggulah sebentar."


"Tapi kamu tidak bisa membawa mobilkan? Lalu dengan siapa membelinya?" Tanya Rudy.


"Iya benar juga. Hmm ya sudah, kurasa aku bisa meminta tolong pada Sonia." Rena pun bergegas melangkah menuju kamar Sonia,


Kebetulan kala itu pintu kamarnya terbuka sedikit, dan memperlihatkan jika saat itu Sonia tengah terbaring membelakanginya seperti orang yang tengah tertidur begitu pulas.


"Sonia sepertinya sangat kelelahan akibat perjalanan menuju kesini hingga ia tertidur. Hmm aku akan sangat tidak enak hati bila aku membangunkannya." Gumam Rena dalam hati yang dengan pelan kembali menutup rapat pintu kamar Sonia.


Rena pun kembali melangkah lesu untuk menghampiri Rudy yang kala itu terbaring di sofa tempat sebelumnya ia duduk.


"Maaf mas, tapi ternyata Sonia sedang tidur, sepertinya dia kelelahan akibat perjalanan menuju kesini, aku jadi tidak enak hati untuk membangunkannya." Ungkap Rena.


"Hmm ya sudah, tidak perlu membangunkannya. Aku akan meminta bantuan pada Nio saja." Rudy pun kembali terduduk.

__ADS_1


"Hmm tapi dimana anak itu? Seingatku tadi dia mengatakan ingin mencari udara segar." Ucap Rudy lagi.


"Ak,, aku tidak tau mas." Jawab Rena dengan jantung yang kembali berdegub cepat.


Selang beberapa menit, Nio pun akhirnya nampak kembali memasuki Villa dengan memasang wajah lesu.


"Ah ini dia." Celetuk Rudy saat melihat Nio memasuki Villa.


"Kenapa pa? Papa kenapa?" Tanya Nio yang langsung mengerutkan dahinya saat melihat Rudy yang terus memegangi kepalanya.


"Kepala papa mendadak sakit sekali, tapi ternyata obat sakit kepala yang biasa papa minum habis. Bisakah kamu menemani ibumu untuk membelikan obat itu untuk papa?" Tanya Rudy dengan wajah lirih.


Nio pun melirik singkat ke arah Rena yang kala itu terlihat hanya diam tanpa kata.


"Hmm ok!" Jawabnya akhirnya dengan singkat yang langsung kembali melangkah keluar.


"Ya sudah Rena, kalian hati-hati ya, aku akan menunggu disini." Ujar Rudy.


"Ba,,, baik mas." Rena pun menghela nafas panjang dan akhirnya mau tak mau langsung menyusul langkah Nio menuju mobilnya.


Sepanjang jalan mereka berdua saling diam, bahkan Rena tak sekalipun ingin melirik ke arahnya dan memilih melamun memandangi kaca jendela mobil.


Namun tak sengaja kedua mata tajam Nio melirik ke arah sisi kanannya yang terdapat sebuah apotik yang diketahuinya adalah apotik yang baru saja buka, karena sebelumnya apotik itu tidak ada.


"Hmm kamu beruntung, ada apotik baru buka disini," celetuk Nio yang langsung menepikan mobilnya.


"Jadi kamu tidak perlu berlama-lama berada di dekatku, itu yang kamu mau kan?" Tambah Nio lagi sesaat setelah mobilnya berhenti dengan sempurna di depan apotik itu.


Rena pun menoleh singkat ke arah apotik itu dan langsung membuka pintu mobil.


"Aku tunggu disini!" Ucap Nio datar.


"Iya."


Setelah beberapa menit, Rena pun akhirnya kembali dengan sudah membawa bungkusan yang sudah pasti di dalamnya adalah obat yang ia butuhkan.


"Sudah?" Tanya Nio singkat.


"Iya, sudah."


"Ok, kita kembali ke Villa sekarang."


Nio pun kembali mengebutkan mobilnya, mengemudikan mobil itu dengan laju, hingga hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, mereka sudah kembali ke Villa. Nio memarkirkan mobilnya di tempat semula, yaitu di pekarangan Villa yang cukup luas, yang bahkan keberadaannya cukup berjarak dari Villa itu sendiri, sehingga mereka harus berjalan kaki lagi beberapa meter ke Villa karena akses jalannya memang hanya selebar satu meter, tidak cukup untuk mobil.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2