Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Pengalihan


__ADS_3

"Papaku berencana untuk menjodohkan kita berdua setelah kelulusan kuliah nanti,"


"Hah???!! Oh ya??" Kedua mata Sonia pun seketika nampak membesar.


"Ni,, Nio tolong jangan marah padaku, aku sama sekali tidak tau menau tentang masalah perjodohan ini." Tambah Sonia yang menampilkan raut wajah kecemasan namun sungguh di dalam hatinya ia tentu sangat senang bukan kepalang.


"Ya aku tau." Ucap Nio.


"Nanti, biar aku membantu menjelaskan sekali lagi pada papamu ya, kalau kita benar-benar hanya berteman saja." Ucap Sonia.


"Tidak perlu,"


"Kenapa tidak perlu??"


"Karena aku menyetujuinya!"


Lagi dan lagi, kedua mata Sonia nampak semakin membulat sempurna, ia begitu tercengang dan seketika langsung menelan ludahnya sendiri saking tak menyangkanya.


"Ap,, apa katamu??? Ka,, kamu setuju untuk dijodohkan denganku?"


"Ya, kurasa begitu."


Hati Sonia kala itu benar-benar seolah bersorak senang saat mengetahui hal itu, meskipun kala itu ia terus berusaha untuk bersikap tenang.


"Ta,, tapi Nio, bagaimana dengan kekasihmu? Kenapa mendadak kamu menyetujui perjodohan ini?"


"Kurasa benar katamu maupun papa, di hubungan kami nampaknya hanya aku saja yang berjuang sendiri, hal itu lah yang membuat semuanya sudah berakhir sekarang."


"Hah?! Benarkah?? Mak,, maksudmu kalian sudah putus??"


Nio pun mengangguk pelan, Sonia pun nampak terdiam lesu namun dalam hati lagi-lagi ia kembali bersorak girang, seolah menang undian berkali-kali dalam satu waktu, rasa senang yang dirasakan oleh Sonia seolah berlapis-lapis saat itu.

__ADS_1


"Yesss,, akhirnya!! Apa yang ku idam-idamkan sebentar lagi akan terwujud, seperti mendapatkan jackpot, kesabaranku selama ini berbuah manis, Nio yang tampan dan juga kaya raya, sebentar lagi akan menjadi milikku." Gumam Sonia girang dalam hati.


"Tapi Sonia, sebelum kita benar-benar dijodohkan untuk ke jenjang yang lebih serius, bisakah untuk saat ini kita jalani saja dulu hubungan ini seperti pasangan normal biasa? Hmm setidaknya biarkan aku belajar untuk membuka hatiku dulu untukmu."


Sonia pun dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu sungguh masih menyukaiku??" Tanya Nio lagi yang terus menatap Sonia dengan sangat serius.


"Sangat! Kamu pun tau sejak dulu aku sangat menyukaimu."


"Kalau begitu maukah kamu berubah? Maksudku, aku akan menerima masa lalumu yang seperti itu, tapi tidak untuk seterusnya. Jadi, demi kebaikanmu dan juga hubungan ini nantinya, bisakah kamu berubah ke arah yang lebih baik, aku tidak suka wanita yang liar, juga tidak suka wanita yang banyak dekat dengan banyak lelaki, apa kamu menyanggupi hal itu???"


"Aku akan berubah! Demi kamu, apapun akan kulakukan. Aku janji tidak akan pernah memberi ruang untuk lelaki manapun lagi, juga mulai sekarang aku tidak akan sering keluar rumah untuk hal yang tidak jelas, bahkan jika aku ingin keluar, maka aku akan selalu mengabarimu kemanapun aku pergi." Ungkap Sonia yang terlihat begitu penuh keyakinan saat mengungkapkannya.


Nio pun akhirnya mengangguk pelan.


"Baiklah, kita jalani pelan-pelan saja, biarkan aku jatuh cinta denganmu dengan sendirinya, yang perlu kamu lakukan hanyalah berubah ke arah yang lebih baik."


"Iya, tidak apa-apa, aku akan mengikuti alurmu Nio."


Sonia pun mengangguk penuh kegembiraan.


"Mau tidak mau harus menjalani hubungan dengan seseorang yang bahkan sama sekali tidak ku cinta, hal ini benar-benar sangat menyiksaku, tapi apa lagi yang bisa kulakukan agar bisa segera melupakan Rena??" Gumam Nio lirih dalam hati.


1 Minggu kemudian...


*Tintin*


Pagi itu suara klakson dari sebuah mobil terdengar begitu melengking dari pekarangan rumah Sonia, wanita cantik yang sudah nampak berpenampilan modis itu seketika tersenyum riang kala melihat dari jendela kamarnya dan mendapati mobil yang tak asing baginya, ya tak lain ialah mobil sport milik Nio.


Tanpa membuang waktu lagi, Sonia pun bergegas keluar dari rumahnya dan langsung masuk begit saja ke dalam mobil Nio.

__ADS_1


"Hei sayang, selamat pagi." Sapanya begitu masuk ke dalam mobil sembari mencium singkat pipi Nio.


"Pagi." Nio pun tersenyum tipis.


"Kita jalan sekarang?"


Sonia pun mengangguk cepat sembari terus tersenyum. Mobil pun melesat cepat membelah jalanan, menembus kabut pagi yang kala itu masih terlihat memenuhi jalanan. Hingga 40 menit pun berlalu, kini mobil yang di kendarai oleh Nio sudah berhenti dengan sempurna di parkiran kampus.


Itu pertama kalinya mereka pergi ke kampus bersama, dan ada banyak pasang mata yang menyorot ke arah mereka, dan tak sedikit pula yang cukup terkejut kala melihat Sonia yang berjalan di sisi Nio dengan menggenggam erat tangannya.


Begitu pula dengan para lelaki di kampus, yang juha ikut terperangah saat Sonia dan Nio melewati mereka.


"Sonia? Apa sekarat dia berpacaran dengan Antonio??" Tanya seorang lelaki kepada temannya.


"Wah wah,, Nio tidak pernah sekalipun terlihat mendekati wanita di kampus ini, tapi sekali pacaran, targetnya langsung Sonia, benar-benar bikin iri." Celetuk seseorang lagi.


Meskipun Sonia terkesan liar dan gampangan, namun tetap saja ia juga pemilih dalam menilai setiap lelaki yang ingin mengajaknya berkencan. Bahkan selera Sonia dalam memilih lelaki terbilang tinggi, hanya lelaki yang jelas tampan, gaul, dan kaya yang bisa dilirik olehnya.


"Aku sangat senang hari ini." Celetuk Sonia pelan sembari terus tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Nio dengan tenang.


"Senang karena kamu tidak keberatan saat aku memegang tanganmu seperti ini, bahkan di hadapan banyak orang." Ungkap Sonia.


Nio pun hanya mendengus.


"Tidak ada perasaan siapapun yang harus ku jaga sekarang selain perasaanmu!" Jawab Nio sembari tersenyum tipis.


Nio semakin hari memang berusaha untuk bersikap manis pada Sonia, meskipun masih terkesan kaku, tapi tetap saja ia ingin pasangan yang baik karena sejauh ini Sonia pun terus menunjukkan perubahan yang signifikan. Ia lebih bisa mengendalikan sikapnya, tidak terlalu agresif dan terlihat lebih tenang sekarang.


Hari-hari pun terus berlalu, Nio dan Sonia pun semakin dekat dan cukup sering menghabiskan waktu bersama. Namun meski begitu, hingga kini mereka tidak pernah lagi melakukan hubungan ranjang seperti dulu. Meskipun dalam hati Sonia sangat menginginkan hal itu lagi, namun tetap saja ia tidak bisa menunjukkan atau mengajak Nio secara terang-terangan mengingat ia yang sedang berada di dalam mode kalem di hadapan Nio.

__ADS_1


Sedangkan Nio, rasanya ia tidak akan pernah sanggup untuk melakukan hal itu lagi, karena hal itu hanya akan membuatnya jadi kembali terbayang wajah Rena.


Papa Nio lagi-lagi kembali pergi ke luar kota, demi menghindari Rena, Nio bahkan jadi jarang pulang ke rumah, bahkan dia jadi lebih sering menginap di rumah Aldy da Rio. Hal itu demi membuatnya bisa semakin jauh dari Rena dan untungnya kedua sahabatnya itu begitu mendukungnya.


__ADS_2