Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Kembali bertemu


__ADS_3

Disaat yang sama, kebetulan Rena sedang kedatangan dua orang temannya yang sudah cukup akrab, mereka berteman sejak Rena membuka Restoran, dan kedua orang itu menjadi partner Rena di bisnis kulinernya itu.


Mereka adalah Rynto dan Milla yang keduanya merupakan sepasang suami istri yang baru saja menikah.


Milla yang hari itu tidak ada kegiatan dan merasa bosan berada di rumah, memilih untuk berkunjung ke apartement Rena dan berencana untuk menonton film drama korea bersama karena Milla sangat menyukai drama Korea.


Namun saat baru setengah jam terduduk, tiba-tiba saja Rynto mendapat panggilan dari kakaknya yang meminta bantuannya untuk mengantarkan kakaknya ke rumahnya karena mobilnya mendadak masuk bengkel.


"Sayang, aku pergi sebentar ya, kak Marya meminta bantuanku untuk mengantarnya pulang." Ucap Rynto pada Milla yang kala itu tengah asik bercerita dengan Rena di sofa, bahkan sebelum mereka mulai menonton drama.


"Memangnya ada apa dengan kak Marya? Kemana mobilnya?" Tanya Milla dengan tenang.


"Dia bilang, mobilnya tiba-tiba saja mengeluarkan asap saat di perjalanan, dan untung saat itu dia tidak terlalu jauh dari bengkel," Jelas Rynto secara singkat.


"Oh ya ampun, kasihan sekali kak Marya, ya sudah sayang, cepat sana pergi, jangan bikin kak Marya terlalu lama menunggu."


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang ya?"


Milla pun mengangguk,


"Huh, kenapa mendadak aku jadi ingin buang air kecil ya? Hmm ya sudah, kalau begitu aku ke toilet dulu ya." Celetuk Milla yang seketika langsung bangkit dari duduknya.


Dan disaat yang sama, tiba-tiba saja bell terdengar berbunyi.


"Ada tamu? Apa kamu mengundang tamu lain hari ini?" Tanya Rynto pada Rena yang kala itu masih terduduk di tempatnya.


"Hmm sepertinya tidak." Rena pun menggeleng cepat.


Namun kemudian ia pun ikut bangkit dari duduknya,


"Ya sudah, kalau begitu aku akan mengantarmu sampai depan pintu, sekalian melihat siapa yang datang." Ucap Rena sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Rynto pun ikut tersenyum santai dan mengangguk singkat sembari mulai melangkah menuju pintu. Rena dan Rynto yang memang sudah akrab terus berbincang ringan saat berjalan menuju pintu, mereka pun sesekali tertawa kecil hingga akhirnya Rena tanpa mengecek terlebih dulu siapa yang datang, langsung membuka pintu apartementnya begitu saja sembari masih terlihat tertawa bersama Rynto.


Namun apa yang terjadi, seketika tawa Rena lenyap dengan disusul pula oleh kedua matanya yang nampak begitu membulat sempurna ketika mendapati sosok yang kala itu tengah berdiri di depan pintunya dengan membawa wajah dinginnya.


"Owh, siapa dia Rena?" Tanya Rynto yang merasa penasaran karena merasa begitu asing pada sosok itu.


Sosok yang dimaksud tak lain dan tak bukan ialah Antonio Robert. Mendapati Rena yang kala itu bersama seorang lelaki di dalam apartementnya, tentu juga membuatnya cukup terkejut dan tentu saja berfikir yang tidak-tidak tentang itu.


"Antonio???" Ucap Rena dengan suara pelan, yang kala itu nampak masih begitu terperangah memandangi lelaki yang sudah cukup lama menghilang dari hidupnya itu.


"Owh, sepertinya kedatanganku sudah mengganggu waktu kalian, kalau begitu aku permisi." Ucap Nio yang kemudian langsung pergi begitu saja dengan membawa perasaan yang kini menjadi kian tidak menentu dan benar-benar merasa hilang arah.


Menyaksikan hal itu, membuat Rynto seketika jadi mendengus pelan sembari tersenyum.


"Hah, ada apa dengan lelaki itu? Siapa dia Rena? Apa kamu mengenalnya??" Tanya Rynto lagi.


Namun kala itu Rena nampaknya masih begitu syok, hingga membuatnya jadi begitu terpaku, seolah tubuhnya mendadak beku, tak bisa bergerak, tak bisa merespon apapun.


Mendadak Rena merasakan jika nafasnya jadi sedikit terengah, ia bahkan mulai meraba lengannya dan mulai mencubitinya untuk meyakinkan dirinya jika itu bukanlah mimpi.


"Ini sungguh bukan mimpi?? Benar-benar bukan mimpi?" Guma Rena dalam hati.


"Nio?? Di,, dia sungguh datang kesini barusan?? Dia sudah kembali??" Tanyanya lagi yang mendadak terlesu hingga membuatnya jadi tersandar ke pintu.


Sedangkan Nio, ia terus melangkah dengan perasaan nestapa yang semakin membulat dalam hatinya.


"Jadi dia sudah menemukan pengganti? Dia bahkan nampak tertawa bahagia dengan lelaki itu?" Gumam Nio dalam hati yang benar-benar dirundung kekecawaan yang mendalam.


"Kenapa mudah sekali bagimu? Namun kenapa sulit bagiku?? Bukankah ini tidak adil?"


Nio pun kembali masuk ke dalam mobilnya dengan menghempas kasar pintu mobil itu ketika menutupnya. Lagi-lagi ia harus mengusap kasar wajahnya, karena merasa jika saat itu ia seolah benar-benar sudah kehilangan tempat ternyamannya untuk berkeluh kesah.

__ADS_1


"Kenapa?? Kenapa aku harus merasakan rasa sakit yang beruntun seperti ini?? Tidakkah ini terlalu kejam bagiku??" Keluh Nio dengan suara sangat lirih sembari terus menyandarkan kepalanya ke setir kemudi pada mobilnya.


Merasa sudah tidak ada tempat aman lagi baginya kala itu, Nio pun akhirnya kembali mengebutkan mobilnya, menuju tempat yang begitu sunyi, jauh dari peradaban, jauh dari penduduk, tempat yang merupakan tempat favoritnya, dimana ada sebuah air terjun mengalir deras dengan kolam yang begitu jernih yang menyambut jatuhan air terjun itu.


Tempat dimana ia pernah membawa Rena sebelumnya, tempat dimana ia juga pernah melakukan hubungan tubuh dengan Rena, tempat yang penuh sejarah.


Sedangkan Rena nampak masih berdiri tersandar di pintu dan terus terdiam.


"Ren, apa yang terjadi denganmu? Bukankah tadi ada yang datang? Siapa?" Tanya Milla yang saat itu nampak baru keluar dari toilet.


Rena yang sedikit terkejut, akhirnya menghela nafas singkat, lalu kembali menutup pintu apartementnya dan melangkah lesu menuju sofa.


"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu nampak begitu tegang?" Tanya Milla lagi yang nampak begitu bingung namun juga penasaran dengan perubahan sikap Rena yang mendadak jadi lebih pendiam.


"Ak,, aku..." Ucap Rena yang nampaknya masih begitu gemetaran.


"Hei, ada apa??" Milla yang nampak cemas seketika meraih kedua tangan Rena.


"Tanganmu gemetaran?? Hei, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi saat aku ke toilet??"


"Dia,,, dia,, sudah kembali." Ucap Rena pelan masih dengan tubuh yang masih gemetaran.


"Dia sudah kembali, di,, dia sudah kembali..." Rena pun akhirnya tiba-tiba saja menangis dan langsung memeluk Milla begitu saja.


"Siapa yang kamu maksud sudah kembali? Ayo bicaralah padaku Rena!" Ucap Milla dengan lembut sembari terus mengusap lembut punggung Rena.


"Dia sudah kembali huhuhuhu, kenapa dia harus kembali?? Kenapa?? Kenapa dia harus kembali sekarang??" Ucap Rena yang terus menangis di pelukan Milla.


Milla yang kala itu masih belum mengetahui apapun tentang itu semua, akhirnya hanya memilih diam sesaat, membiarkan Rena menghabiskan dulu tangisannya agar ia bisa lebih merasa tenang setelahnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2