Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Si kecil menggemaskan


__ADS_3

"Hubungan kami sudah lama berakhir, dan kupikir aku pun sudah melupakan semua rasaku padanya, tapi.... kenapa saat melihatnya berkenalan dengan lelaki lain dan saling melempar senyum seperti itu, membuat dadaku seakan terasa panas?" Gumam Nio dalam hati yang mulai merasa tak tenang pada posisinya saat itu.


Sementara Zeyn, yang sebelumnya berhasil membuat Rena tercengang dengan pernyataannya yang terdengar begitu frontal, seketika kembali terkekeh geli.


"Ah tidak, tidak! Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ucapanku barusan, aku hanya bercanda." Ucap Zeyn yang akhirnya membuat Rena kembali tersenyum lebar.


"Hahaha kau yakin hanya bercanda bro? Padahal jelas terlihat jika wajahnya sangat serius saat mengatakannya." Ucap Zayden yang nampak kembali terkekeh.


"Oh ya?"


"Ya, jelas saja bisa begitu, karena memang sulit untuk menolak pesona adikku yang cantik ini." Zayden pun kembali tersenyum sembari merangkul pundak Rena.


"Kamu terlalu berlebihan memujiku Zay, kurasa setelah mendengarnya temanmu akan muntah." Bisik Rena pada Zayden yang jadi merasa malu dengan perkataan kakaknya itu.


"Oh Zeyn, adikku bilang setelah mendengar ucapanku barusan, kau akan muntah. Apa itu benar?" Tanya Zayden yang begitu terang-terangan.


"Oh tentu saja tidak, karena itu benar." Zeyn pun kembali tersenyum manis kala menatap Rena.


"Oh ya by the way, kamu memang terlihat sangat cantik Rena, rasanya tidak sia-sia aku terbang jauh-jauh kesini."


"Terima kasih." Rena mau tak mau hanya bisa menampilkan senyum keramahannya, meskipun dalam hatinya sama sekali tidak merasakan adanya getaran apapun saat pertama melihat lelaki yang kini ada di hadapannya itu.


Tak lama Zayden akhirnya kembali pamit pergi karena ingin menghampiri Meichan yang kala itu terlihat tengah berkumpul bersama keluarganya yang datang dari luar negeri.


"Aku tinggal sebentar ya, kalian lanjutlah mengobrol!" Ucap Zayden sembari mengusap singkat pundak Rena dan Zeyn lalu bergegas pergi begitu saja.


Awalnya Rena nampak tidak nyaman saat harus berbincang dengan Zeyn hanya berdua, namun syukurnya, Zeyn kelihatannya orang yang humble serta pandai memecahkan suasana hingga akhirnya Rena pun perlahan mulai nyaman mengobrol dengannya. Zeyn bahkan bisa membuat Rena terus tertawa dan tersenyum saat mulai mengobrol banyak hal dengannya. Hingga tanpa sadar entah sudah berapa gelas Sampanye yang telah mereka minum sembari terus mengobrol, membuat Nio yang masih memantau mereka jadi semakin tidak menentu saat melihat kedekatan mereka, meski saat itu ia pun tidak mampu melakukan apapun.


Dua jam berlalu begitu saja, kini hari mulai petang, dan Rena nampaknya masih nampak betah bercerita dengan Zeyn yang tentu saja juga seolah merasa tidak ada bosannya saat menceritakan banyak hal dengan Rena. Hingga tiba-tiba, ponsel Zeyn terdengar berbunyi dan ia pun bersigap meraih ponsel itu dari saku yang ada di balik jasnya.


"Ah ini panggilan Video dari Miya," Celetuk Zeyn.


"Miya?"


"Ya, dia keponakanku." Ucap Zeyn yang kemudian langsung menjawab panggilan video itu tanpa ragu.


"Unclee." Suara anak kecil yang terdengar begitu menggemas tiba-tiba terdengar hingga menarik perhatin Rena.


"Oh jadi Miya yang kamu maksud adalah anak kecil?"

__ADS_1


"Ya, umurnya baru 5 tahun." Jawab Zeyn.


"Kenapa sayang? Apa kamu bosan?" Tanya Zeyn yang kembali menatap layar ponselnya yang kala itu tengah terpajang wajah anak perempuan yang begitu imut serta lucu.


"Apakah uncle masih lama di pesta itu? Kapan uncle kembali kesini? Aku sudah tidak sabar mau makan es krim." Keluh anak itu dengan memasang raut wajah yang begitu menggemaskan.


"Ah sabar dulu ya, uncle masih mengobrol dengan tante ini." Jawab Zeyn sembari menyorot wajah Rena agar terlihat oleh Miya.


"Wah, siapa tante cantik itu uncle? Apa tante cantik itu pacar uncle?"


"Hai Miya." Sapa Rena dengan ramah.


"Halo tante cantik. Apa tante pacar uncle Zeyn?" Tanya Miya yang nampak polos.


"Hahaha bukan Miya, tante cantik ini teman baru uncle, tapi mungkin nanti akan menjadi pacar jika dia mau hehehe." Jawab Zeyn yang terus tersenyum sembari melirik ke arah Rena.


Rena yang mendengar hal itu pun seketika mendengus pelan, ia tersenyum sembari mencubit pelan lengan Zeyn,


"Hehehe maaf aku bercanda." Ucap Zeyn pelan.


"Uncle, aku mau bertemu dengan tante cantik itu, bisakah uncle membawa tante cantik itu kesini?" Tanya Miya dengan wajahnya penuh harap.


Mendengar hal itu, membuat Zeyn seketika terdiam dengan raut wajah sedikit kikuk.


"Ayolah uncle, aku sangat bosan, aku ingin bertemu tante cantik itu, ayolah uncle." Rengek Miya terus menerus.


Hal itu membuat Rena yang mendengarnya mendadak jadi merasa tidak tega.


"Apa dia ada di Shanghai?"


"Iya, dia ikut bersamaku dan menginap di hotel ini juga."


"Hah??!! Ja,, jadi dia ada di salah satu kamar di hotel ini??" Tanya Rena yang nampak sedikit terkejut.


"Hmm." Zeyn pun mengangguk.


"Sendirian?"


"Oh tentu saja tidak, aku membawa baby sitter juga untuk membantu menjaganya selama ikut denganku kesini."

__ADS_1


"Owh, tapi kenapa dia bisa ikut denganmu?"


"Jadi orang tuanya, yang kebetulan ibunya adalah adikku sendiri, sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, dan dia memang selalu tinggal bersamaku saat kedua orang tuanya melakukan perjalanan bisnis." Jelas Zeyn dengan singkat.


"Owhh." Rena pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kalau begitu, biarkan aku menemuinya." Tambah Rena kemudian.


"Hah?!! Ka,, kamu serius??" Tanya Zeyn yang nampak terkejut karena sangat tidak menyangka jika Rena setuju dengan permintaan konyol Miya.


"Kenapa tidak? Aku ingin bertemu dengan keponakanmu yang sangat menggemaskan itu."


"Kamu yakin? Mungkin nanti setelah bertemu, kamu akan dibuat pusing dengan banyak pertanyaan aneh yang keluar dari mulutnya."


"Hehehe tidak apa-apa, aku sudah siap dengan segala macam resiko itu hehehe." Jawab Rena sembari terkekeh.


"Ah baiklah, tapi apa sungguh tidak apa harus meninggalkan acara kakakmu?" Zeyn pun seketika melebarkan senyumannya.


"Acaranya juga sudah mau berakhir, lihatlah bagaimana tamu yang berangsur-angsur mulai pergi." Jawab Rena.


"Hmm benar juga, ya sudah kalau begitu, Ayo." Ajak Zeyn dengan penuh semangat.


"Ya, ayo." Rena pun kembali tersenyum dan akhirnya mengikuti langkah Zeyn.


Namun lagi-lagi Nio yang masih memperhatikan Rena, sontak semakin dibuat mengkerut dahinya kala melihat Rena yang berjalan keluar dari ballroom itu.


"Mereka pergi?? Ma,, mau kemana mereka?" Tanya Nio dalam hati yang perlahan mulai melangkah untuk mengikuti langkah Rena dari kejauhan.


"Jadi, ada di lantai berapa si anak kecil menggemaskan itu?"


"Kamarnya hanya satu lantai berada di atas ruangan ini."


"Owhh, ok." Jawab Rena dengan tenang,


Dan entah kenapa, lift yang ingin mereka naiki, nampaknya masih jauh berada di atas hingga memungkinkan akan membutuhkan waktu lama untuk tiba di lantai tempat dimana mereka saat itu.


"Liftnya terlihat masih lama, bagaimana kalau kita naik tangga saja? Lagi pula hanya naik satu lantai." Ucap Zeyn sembari menunjuk ke arah tangga yang berada tepat di sisi lift.


"Owh tidak masalah, lebih menghemat waktu."

__ADS_1


Mereka pun akhirnya memilih untuk menaiki tangga, lalu tak lama Nio pun nampak muncul dan merasa semakin panas saat melihat Rena menaiki tangga bersama Zeyn dan tanpa pikir panjang, ia pun langsung mengikuti mereka tanpa sepengetahuan mereka berdua.


...Bersambung......


__ADS_2