
Layaknya penguntit handal, Nio bahkan bisa terus membuntuti mereka tanpa mengundang rasa curiga dari kedua orang itu.
"Mau kemana mereka berdua sebenarnya? Haiss, apa lelaki itu sungguh ingin mengambil kesempatan pada wanita yang sudah mulai mabuk?" Gerutu Nio yang terus menerka-nerka dalam hatinya, namun juga semakin merasa tidak tenang.
Rena dan Zeyn nampak terus melangkah dengan tenang dan mulai menyusuri koridor yang disisi kiri dan kanannya terdapat kamar-kamar hotel. Dan betapa kesalnya Nio kala mengetahui hal itu.
"What the fck!!! Mereka sungguh ingin melakukannya bahkan disaat pertemuan pertama??!!" Gerutu Nio dengan kedua mata yang mulai nampak membesar.
"Tidak, tidak!! Ku harap mereka tidak benar-benar masuk ke dalam salah satu kamar disini!" Gumam Nio yang seolah masih mencoba untuk berfikir positive.
Namun nyatanya, apa yang di takutkan Nio sungguh terjadi, Rena dan Zeyn nampak masuk ke dalam salah satu kamar hingga membuat kobaran api kemarahan dalam diri Nio mulai menyala.
"What the fck!!!" Ketus Nio dengan suara pelan yang kala itu benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat.
"Silahkan masuk." Ucap Zeyn dengan tenang.
Rena pun tersenyum singkat.
"Terima kasih." Jawabnya yang kemudian langsung masuk lebih dulu ke dalam kamar itu, lalu di susul dengan Zeyn yang kembali menutup pintu kamarnya.
"Haiss!! Kenapa dia selalu tidak bisa menahan diri ketika mabuk?!!! Aaaghh wanita itu benar-benar membuatku gila!!" Ketus Nio yang seketika langsung melangkah cepat menuju kamar itu.
Awalnya Nio berniat untuk langsung mengetuk pintu itu untuk mengegep mereka, namun entah kenapa saat baru saja mengangkat tangannya, tiba-tiba ia menghentikan gerakannya dan mendadak jadi merasa ragu dengan tindakannya.
"Tapi bukankah aku sudah tidak punya alasan untuk hal ini? Bukankah aku sudah bukan siapa-siapa baginya?" Gumam Nio yang mendadak terlihat lirih sembari langsung menurunkan tangannya.
"Dan jika aku benar-benar menggagalkannya, Rena pasti akan marah dan memakiku." Gumamnya lagi yang perlahan mulai melangkah untuk menjauh dari pintu itu dengan raut wajah yang nampak begitu lirih.
Nio pun akhirnya terus melangkah pelan untuk menjauh dari pintu kamar itu, ia memilih untuk tidak mengikuti emosinya mengingat jika statusnya dan Rena sudah bukan apa-apa lagi. Namun saat baru beberapa langkah pergi, entah kenapa tiba-tiba ia membayangkan bagaimana Rena yang tengah dicumbu oleh Zeyn, ia membayangkan bagaimana Zeyn yang mulai membuka satu persatu pakaian Rena sembari terus mencumbunya. Dan ya, hal itu ternyata berhasil membuat Emosi Nio jadi tidak terkontrol, kedua tangannya mendadak jadi mengepal sempurna dan seketika langsung kembali melangkah dengan cepat menuju kamar itu.
"Aaagghh persetan dengan semuanya!! aku sungguh tidak bisa membiarkan lelaki asing itu menyentuhnya!!!" Ketus Nio yang tanpa ragu, langsung mengetuk keras pintu kamar itu.
*Toktoktok*
"Buka pintunya!!!" Teriak Nio tanpa memperdulikan apapun di sekitarnya.
__ADS_1
"Rena!!! Buka pintunya!!!" Ketus Nio lagi.
Tak lama, pintu itu pun dibuka oleh seorang wanita yang sama sekali tidak dikenal oleh Nio. Hal itu sontak membuat Nio terkejut, dan mengerutkan dahinya. Namun tak lama Rena nampak muncul dari dalam ruangan itu dengan sudah menggendong seorang anak kecil yang imut.
"Nio??!!!" Kedua mata Rena pun sontak membulat sempurna.
"Siapa yang datang?" Tanya Zeyn dengan tenang yang ikut muncul dari dalam.
Nio pun menatap mereka semua dengan tatapan bingung dan terus terdiam. Namun hal itu nampaknya cukup membuat Rena kesal padanya sehingga ia pun dengan pelan langsung menurunkan Miya yang tengah ia gendong.
"Miya yang cantik, sebentar dulu ya." Ucapnya dengan lembut sembari tersenyum singkat pada Miya.
Lalu dengan cepat langsung menghampiri Nio dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Nio!! Apa yang kamu lakukan??!! Kenapa kamu bisa ada disini??!!" Tanya Rena dengan setengah berbisik sembari terus melototi Nio.
"Owhh, kalian saling mengenal?" Tanya Zeyn kemudian.
"Ak,, aku...." Nio yang masih terkejut dan bingung, nampak sangat terbata-bata.
"Maaf Zeyn, maaf Miya, sepertinya ada sedikit kesalah pahaman dan aku harus membawanya pergi sekarang!" Ucap Rena yang menatap singkat ke arah Zeyn dan Miya, lalu langsung menarik tangan Nio dan membawanya pergi.
"Apa-apaan barusan Nio?!! Kenapa kamu bisa tau aku ada di kamar itu? Apa kamu mengikuti kami??" Ketus Rena sembari melepaskan tangannya sesaat ketika mereka masuk dalam lift.
"Ak,, aku sungguh minta maaf Rena,"
"Bisakah kamu untuk menjawab sesuai dengan apa yang aku tanyakan? Aku sedang bertanya padamu sekarang, bukan berharap kata maaf mu!"
"Iya aku salah, maaf." Jawab Nio dengan suara pelan.
"Jadi benar kamu mengikutiku?"
"Ya, itu benar!" Jawab Nio sembari mulai menunduk.
"Why??"
"Karena akh pikir,,, kalian akan...."
__ADS_1
"Apa?? Kamu berpikir apalagi kali ini tentangku ha? Berpikir apa lagi??!!" Ketus Rena yang nampak semakin tak senang sembari mulai melipat kedua tangannya di dada.
"Maaf, aku sungguh minta maaf."
"Apa kamu sungguh memikirkannya? Maksudku, apa kamu sungguh berpikir jika aku dan Zeyn akan melakukan hubungan ranjang meski dipertemuan pertama kami?" Tanya Rena dengan tatapan yang mulai meredup.
"Rena, tolong jangan intimidasi aku dengan pertanyaanmu itu, siapapun akan berpikir hal yang sama jika melihat seorang lelaki dan wanita masuk ke dalam kamar hotel. Apalagi jika sebelumnya keduanya banyak minum, lalu apa aku salah jika punya pikiran kotor seperti itu?"
"Lalu jika memang benar itu terjadi kenapa? Apa urusannya denganmu? Kenapa kamu nampak begitu tidak terima jika ada lelaki lain menyentuhku?"
"Karena ak,,,, aku..." Namun entah kenapa tiba-tiba lidah Nio terasa kelu dan begitu berat untuk melanjutkan ucapannya.
Hingga hal itu pun semakin membuat Rena bertambah kesal, dan disaat yang sama pula pintu lift kembali terbuka hingga membuat Rena pun seketika keluar begitu saja dari lift itu sembari mendengus.
"Kau bahkan tidak tau alasan apa yang membuatmu melakukannya kan." Ucap Rena lirih sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari lift.
Namun Nio tentu saja tidak tinggal diam, ia pun ikut keluar untuk menyusul langkah Rena yang kala itu terlihat cukup kecewa.
"Owh Nana, kamu bersama Nio? Hmm ku pikir kamu bersama Zeyn." Ucap Zayden ketika mendapati Rena yang keluar dari lift dan melangkah ke arahnya.
"Zeyn sudah kembali ke kamarnya."
"Owhh, iya dia memang menginap di hotel ini." Zayden pun tersenyum.
"Zayden, maaf sebelumnya, tapi aku merasa jika kepalaku pusing, bolehkah aku kembali duluan ke apartement?"
"Apa kamu mabuk?"
"Hmm bisa dikatakan begitu, tapi it's ok, aku masih bisa mengontrolnya, hanya saja aku merasa pusing sekarang." Jelas Rena yang sebenarnya ia hanya ingin menghindari Nio.
"Ok Na, tidak masalah, lagi pula acaranya sebentar lagi berakhir:"
"Ok kalau begitu."
Tak lama Nio pun tiba di dekat mereka.
...Bersambung......
__ADS_1