
Dan ya, Rena seketika mengurungkan niatnya untuk berteriak, dan justru saat itu ia malah tercengang.
"Ni,, Nio??? Da,, dari mana kamu muncul??" Tanya Rena yang nampaknya masih begitu terkejut.
"Tidak penting dari mana aku muncul," Jawab Nio lembut.
"Apa kamu memang sudah disini dari tadi? Apa kamu sengaja menungguku dan bersembunyi?" Tebak Rena.
"I Miss you, so much." Bisik Nio kemudian dengan nada sedikit lirih sembari kembali memeluk Rena dengan begitu posesif bahkan tanpa menjawab pertanyaan Rena.
Rena pun sejenak terdiam, dalam hatinya terdalam, tentu ia merasakan hal yang sama pada Nio, namun entah hal apa yang membuatnya masih belum ingin sepenuhnya memaafkan Nio.
"Do you miss me?" Tanya Nio tepat di belakang telinga Rena.
Hembusan nafas Nio begitu terasa mengenai daun telinga Rena, hal itu cukup mengganggu baginya karena bisa membuatnya mulai terangsang.
"Nio, apa yang kau lakukan?" Tanya Rena akhirnya yang mulai menoleh ke arah Nio yang masih berdiri tepat di belakang tubuhnya demi mengalihkan rasa gelinya.
"Aku melakukan apa? Aku hanya sedang memelukmu, memangnya salah?" Tanya Nio dengan tenang yang justru semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Rena.
"Tentu saja salah!! Kau pikir ini dimana ha?!" Rena pun mulai berusaha untuk melepaskan tangan Nio yang melingkar erat di pinggang rampingnya.
"Lalu dimana aku bisa memelukmu dengan leluasa ha?" Rengek Nio pelan layaknya anak kecil.
"Nio!! Tolong lepaskan aku, bagaimana nanti kalau ada yang melihat?!" Rena pun mulai nampak panik sembari terus berusaha meloloskan diri, meskipun usaha itu nampaknya sia-sia.
"Tidak mau!" Tegas Nio yang justru malah dengan manja menempelkan dagunya di pundak Rena.
"Nio, jangan begini!! Tolong lepaskan, kamu benar-benar sudah gila ya?"
"Akan ku lepaskan kalau kamu menjawab pertanyaanku!"
"Pertanyaan yang mana?" Keluh Rena.
"Jika bukan disini, lalu dimana aku bisa memelukmu dengan leluasa?"
Pertanyaan itu pun kembali membuat Rena terdiam.
"Apa mungkin di kamarku?" Bisik Nio sembari tersenyum tipis.
Bisikan Nio yang tepat di belakang telinga Rena, lagi-lagi membuat Rena menggeliat geli.
__ADS_1
"Rena, berjanjilah kalau setelah ini kamu akan menyusulku ke kamar." Bisik Nio lagi dan lagi.
"Itu hal yang tidak mungkin!" Jawab Rena pelan.
"Akan menjadi mungkin kalau kamu mau."
"Tidak bisa! papamu masih bangun."
"Oh ya? Hmm sedang apa dia?"
"Menonton tv."
"Ya sudah kalau begitu biarkan dia menonton tv, dan tolong biarkan aku memelukmu seperti ini terus." Nio kembali mengeratkan pelukannya.
Entah kenapa, pelukan Nio kala itu benar-benar terasa menghangatkan jiwa Rena, meski dalam situasi yang cukup berbahaya baginya, namun anehnya ia masih bisa merasakan kenyamanan dari hal itu.
"Tidak, aku tidak mau mengambil resiko, tolong lepaskan aku!!" Ucap Rena lagi.
"Maka berjanjilah, akan kulepaskan kalau kamu mau menjanjikan hal itu padaku."
"Hmm ok, ok fine!" Jawab Rena akhirnya.
"Ya!" Rena pun mengangguk pelan.
"Kamu sedang tidak membohongiku kan?"
"Ti,, tidak!"
"Hmm, ok!" Nio pun akhirnya tersenyum puas, lalu perlahan mulai melepaskan pelukannya.
Nio langsung berdiri di hadapan Rena, lalu menatapnya dengan begitu lekat, dan kembali berbisik.
"Kamu jangan pernah berpikir untuk membohongiku dalam hal ini, karena kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan mengetuk pintu kamarmu." Ucap Nio seolah memberi peringatan pada Rena, namun masih dengan senyuman tipisnya yang terlihat begitu manis.
"Kamu tidak mungkin berani."
"Owh, apa kamu mencoba menantangku saat ini? Hmm sedikit banyaknya, ku yakin kamu pun tau kalau aku adalah orang yang nekat, coba saja kalau mau bukti." Jawab Nio dengan tenang hingga membuat Rena menciut dan kembali terdiam memandanginya.
Nio pun kembali menegakkan tubuhnya namun masih dengan tatapan yang sama.
"Ok, aku tunggu kamu di kamarku, kalau dalam waktu 10 menit kamu belum juga muncul, itu berarti kamu sudah siap kalau aku akan mengutarakan seluruh isi hatiku padamu di depan papa. Ok??" Nio kembali mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
Sementara Rena, ia masih tetap terdiam dengan perasaan yang begitu campur aduk.
"Aku duluan." Ucap Nio yang akhirnya berlalu begitu saja dari hadapan Rena.
Nio terus melangkah dengan tenang menapaki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, namun Rena tetap saja ia masih terpaku, terpaku memandangi punggung Nio yang semakin menjauh darinya.
"Astaga!! Kenapa dia suka sekali memposisikan aku di posisi yang sulit seperti ini." Keluh Rena seorang diri.
Rena berkali-kali menghela nafasnya demi kembali membuatnya lebih tenang. Ia pun kembali menuangkan air minum ke dalam gelasnya sembari terus berpikir panjang.
Dengan ragu, Rena akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membawa gelas berisi air minum di tangannya. Namun langkah Rena seketika terhenti saat ia masih berada cukup jauh dari tempat tidur. Rena terdiam sejenak memandangi Rudy yang ternyata sudah tertidur dengan begitu pulasnya.
"Mas Rudy sudah tidur?" Gumamnya.
Namun akhrinya Rena kembali melanjutkan langkahnya, ia perlahan mulai duduk di tepi ranjang sembari meletakkan air minum yang ia bawa ke atas nakas yang berada di sisi ranjangnya. Rena kembali memandangi Rudy yang saat itu tengah mendengkur dengan lantangnya, perasaan bimbang kembali muncul, antara iya dan tidak.
Rena nampaknya masih mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak menemui Nio, namun entah setan jenis apa yang kala itu tengah merasukinya, hingga membuatnya begitu kesulitan untuk menahan dirinya sendiri. Bahkan malam itu, ia pun mulai merasakan birahi, akibat sebelumnya, Nio mengusik salah satu area sensitifnya, yaitu telinga.
Lagi dan lagi, Rena menoleh ke arah Rudy untuk memastikan lagi jika suaminya itu benar-benar tengah tertidur nyenyak. Dengan sedikit ragu-ragu, Rena pun akhirnya kembali bangkit dari duduknya, berkali-kali ia *******-***** tangannya sendiri demi meyakinkan dirinya.
Dan pada akhirnya, lagi-lagi Rena berhasilkan dikalahkan oleh birahinya. Ia pun melangkah keluar dari kamarnya, menutup pintu kamar itu dengan sangat hati-hati, lalu berjalan pelan menuju kamar Nio.
Rena kembali menghela nafas dalam, lalu perlahan mulai mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu kamar itu.
Saat itu, Nio nampak tengah berbaring di sofanya seolah memang sedang menantikan kehadiran Rena ke kamarnya.
Tak ingin ada yang mendengar, Rena pun mulai mengetuk pintu kamar Nio dengan sangat pelan.
*Tok,,tok,,tok*
Mendengar suara ketukan pintu yang terdengar samar-samar, membuat Nio sontak terduduk.
"Itu suara ketukan pintu?? Aku sedang tidak berhalusinasikan?" Gumam Nio dalam hati yang masih merasa sedikit tidak yakin.
*Tok,,tok,,tok*
Namun saat mendengar suara ketukan pintu yang kedua, senyuman Nio nampaknya kembali merekah, senyuman itu adalah lambang rasa senang dan kepuasan. Nio sontak langsung bangkit dari sofa, dengan langkah cepat menuju pintu dan langsung membukanya.
*Ceklek*
...Bersambung......
__ADS_1