
"Haaish bukan lagi besok bi, jam 12 malam ini juga sudah ganti tanggal, jadi kami ingin memberinya kejutan. Tolong izinkan kami masuk ya bi."
"Iya mas Rio, ini bibi sedang berjalan menuju pintu." Jawab bi Inah.
"Ok kalau begitu bi, maaf ya sudah merepotkan bibi."
"Tidak apa-apa mas Rio."
Panggilan telpon pun berakhir, tak berapa lama bi Inah pun akhirnya membukakan pintu untuk mereka yang telah menunggu di depan pintu.
"Malam bi, apa kami mengganggu waktu tidur bi Inah? Hmm, maaf soal itu ya bi." Sapa Aldy sembari cengengesan.
"Ah tidak apa-apa mas Aldy, justru bibi senang kalian rela malam-malam begini datang untuk memberi kejutan pada mas Nio."
"Hehehe iya bi, sebagai teman yang baik, kami ingin menghibur Nio yang sangat malang dan kesepian itu hahaha." Jawab Aldy yang kembali terkekeh.
"Ah ya sudah kalau begitu, ayo silahkan masuk."
"Baik bi, terima kasih banyak." Aldy pun tersenyum lebar dan mulai melangkah ingin memasuki rumah mewah itu.
"Hei teman-teman ayo kita masuk, tapi tolong jangan berisik ya, jangan sampai Nio menyadari kedatangan kita sebelum kita berhasil memberinya surprise!!" Tegas Aldy yang seolah menjadi pemimpin kelompok saat itu.
Mereka pun mulai masuk dengan sedikit mengendap-endap menuju ruang tengah, lalu mulai menyiapkan berbagai pernak pernik yang mereka bawa.
"Bi, Tapi Nio benar ada di rumah kan? Dia tidak sedang lagi keluar kan?" Tanya Rio memastikan lagi.
"Iya mas Aldy, mas Nio ada di kamarnya, mungkin saja saat ini dia sudah tidur, karena setelah makan siang tadi, dia mengatakan bahwa dia sangat kelelahan akibat mengerjakan skripsinya." Ungkap bi Inah.
"Oh bagus lah kalau begitu." Rio pun kembali tersenyum lega.
"Baiklah kalau begitu bibi akan membuatkan minuman untuk kalian semua, ya." Bi Inah pun tersenyum dan siap untuk beranjak ke dapur.
"Terima kasih sekali lagi bi." Jawab Rio.
Mereka pun mulai menghidupkan lilin yang sudah terpacak di tengah kue ulang tahun, beberapa orang ada yang memegangi balon yang berbentuk huruf dengan bertuliskan "HBD NIO" dan seseorang memegang balon yang berbentuk angka "26"
Bukan hanya itu saja, beberapa juga ada yang membawa party popper, yaitu sebuah benda yang berbentuk seperti pipa berukuran sedang, yang bila di putarkan ke arah atas akan berbunyi seperti petasan dan menyemburkan potongan-potongan kertas kecil berwarna warni. Beberapa juga ada yang membawa terompet kecil, serta topi ulang tahun agar suasana kejutan kali ini bisa tampak lebih meriah dan berwarna.
Aldy pun melirik ke arah jam tangannya lagi, lalu beralih menoleh ke arah teman-temannya.
"Sudah hampir jam dua belas, dimana Sonia dan yang lain? Kenapa dia belum juga datang?" Tanya Aldy sembari mengerutkan dahinya.
"Mungkin sebentar lagi." Jawab Ria.
"Sebentar lagi?? Bahkan lima menit lagi sudah jam dua belas!"
"Hmm, apa tidak sebaiknya kamu telpon Sonia untuk menanyakan keberadaannya saat ini?" Tanya Rio pada Ria.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku telpon dia." Ria pun bergegas mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya untuk langsung melakukan panggilan pada Sonia yang hingga saat itu masih belum juga terlihat batang hidungnya.
"Halo?" Jawab Sonia.
"Sonia, dimana kamu? Kami sudah menunggumu di rumah Nio!"
"Iya maaf, tapi tadi ada sedikit masalah di jalan, apa kalian sudah mau mulai?" Tanya Sonia.
"Iya."
"Ya sudah tidak apa-apa. Kalian mulai saja, aku akan menyusul."
"Hmm ok kalau begitu. Tapi kamu beneran datang kan?"
"Hei!! Tidak mungkin aku tidak datang jika yang berulang tahun adalah Antonio!" Tegas Sonia.
"Ah baiklah, kami tunggu!"
Ria pun langsung mengakhiri panggilan telponnya.
"Dia bilang dia akan menyusul dan menyuruh kita untuk memulai saja duluan!" Jelas Ria singkat pada Aldy dan yang lain.
"Ok lah kalau begitu," Aldy pun mengangguk.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Aldy memastikan lagi.
"Ya sudah, ayo kita naik ke atas, kamarnya ada di atas!" Ajak Aldy tanpa segan, seolah sudah sangat paham dengan tata letak di rumah Nio.
Dengan langkah pelan dan terlihat sangat hati-hati, mereka pun mulai melangkah menapaki satu persatu anak tangga.
"Ssstttt!! Usahakan jangan bersuara sama sekali." Ucap Aldy setengah berbisik pada teman-temannya.
Langkah Aldy dan yang lain akhirnya terhenti saat mereka sudah berada tepat di depan pintu kamar Nio.
"Biar lebih dramatis, ada baiknya kalian bersembunyi dulu, sebagian di sisi kiri pintu, sebagian di sisi kanan." Bisik Aldy mengarahkan teman-temannya.
"Ah ok, ok!" Jawab Rio yang sontak langsung mengambil posisi di bagian kanan pintu.
"Hmm ok!" Aldy pun menghela nafasnya lalu perlahan mulai mengetuk pintu kamar Nio.
*Tok,,tok,,tok*
Sekali ketukan, namun masih belum ada jawaban apapun dari dalam kamar, hal itu membuat Aldy harus mengulangi ketukannya dengan lebih keras.
*Tok,,tok,,tok!!"
Ketukan kedua, akhirnya berhasil membuat tidur Nio terganggu hingga perlahan ia mulaj menggerakkan badannya.
__ADS_1
"Apa ada yang mengetuk pintu kamarku?" Gumam Nio pelan, dengan suara khas orang baru bangun tidur.
*Tok,,tok,,tok*
Ketukan ketiga, akhirnya membuat Nio perlahan mulai menegakkan kepalanya sembari menoleh ke arah pintu kamar.
"Siapa??" Teriak Nio.
Saat akhirnya mendengar sebuah jawaban dari dalam kamar, akhirnya membuat Aldy dan yang lain mulai tersenyum dan semakin terlihat bersemangat saat mengetuk pintu kamar Nio.
Nio yang merasa heran saat tidak ada jawaban dari luar, mulai melirik ke arah jam beker yang terletak di atas nakas.
"Sudah jam 00.05 malam, siapa yang mengetuk pintuku jam segini?" Gumam Nio seorang diri sembari akhirnya mulai bangkit dari tidurnya.
"Apa itu Rena?? Apa dia terbangun dan mendapati aku yang tidak berada di kamarnya? Sehingga datang kesini?" Pikir Nio yang akhirnya dengan cepat mulai melangkah menuju pintu.
Nio terus melangkah cepat sembari mengusap wajahnya, lalu seketika langsung membuka pintu kamarnya dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi dan berpikir jika yang mengetuk pintunya adalah Rena.
"Apa kamu terba....???" Tanya Nio begitu membuka pintu kamarnya, namun seketika ucapannya langsung terhenti saat mendapati jika yang berdiri di depan pintu kamarnya saat itu adalah Aldy.
"Al,,, Aldy???" Tanya Nio yang nampak begitu tercengang.
Saat itu Aldy hanya tersenyum kikuk, lalu tiba-tiba dengan sangat mengejutkan orang-orang muncul dari sisi kiri dan kanan pintu Nio sembari menyanyikan lagu happy birthday untuknya.
"Happy birthday Nio, happy birthday Nio, happy birthday, happy birthday, happy birthday Nio."
"Yeayyyy." Sorak segerombolan orang itu kemudian sembari beberapa di antaranya mulai meledakkan party poppernya hingga membuat potongan kertas kecil berwarna-warni mulai berhamburan dari atas kepala mereka.
*Tooeetttt*
Beberapa terompet kecil juga tak lupa mereka bunyikan demi menambah meriah kejutan ulang tahun itu.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga."
"Ayo tiup lilinnya Nio." Sorak teman-temannya.
Nio yang saat itu masih nampak begitu tercengang, akhirnya perlahan mulai mendengus pelan dan akhirnya mulai memunculkan sebuah senyuman lalu mulai meniup lilin itu.
"Yeayyy happy birthday Nio!!" Sorak mereka lagi dengan penuh suka cinta.
"Astagaaa kalian benar-benar mengagetkanku!!" Ucap Nio tersenyum yang kemudian langsung memeluk Aldy.
"Happy birthday, Bro. Maaf tadi siang sudah mendiamimu, karena itu sebagian dari rencana untuk kejutan malam ini hehehe." Ungkap Aldy sembari memukul-mukul pelan punggung Nio yang kala itu memeluknya.
"Thanks, Bro! Aku sendiri bahkan lupa kalau sekarang aku berulang tahun." Ucap Nio sembari melepaskan tautan tubuhnya.
Nio pun semakin tersenyum lalu beralih memeluk dan mengucapkan terima kasih pada satu persatu teman-temannya yang datang memeriahkan kejutan untuknya pada malam itu.
__ADS_1
Bersambung...