Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Liburan kelulusan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju kembali ke rumah, Rena nampaknya banyak diam, melihat bagaimana dekatnya Nio dan Sonia saat itu, ternyata benar-benar masih mengusik pikirannya dan tentu menyayat hatinya.


"Rena, kenapa kamu akhir-akhir ini banyak diam?" Tanya Rudy sembari mengerutkan dahinya pada Rena.


"Owh tidak mas, aku hanya sedang menikmati perjalanan, karena kalau di pikir-pikir, sepertinya sudah cukup lama aku tidak pernah berjalan-jalan keluar."


"Hmm walaupun aku sering pergi, tapi bukankah aku sudah memfasilitasimu mobil dan seorang supir juga uang bulanan, jadi jangan berdiam diri di rumah, jika merasa bosan kamu bisa mengajak Eko pergi, kamu bahkan bisa menggunakan uang bulananmu untuk berbelanja."


"Iya mas, akhir-akhir ini aku hanya lebih suka menikmati waktu di rumah."


"Owwh, atau uang bulanan pemberianku kurang? Katakan saja jika kurang, tidak perlu sungkan."


"Oh tidak mas, bahkan menurutku jumlah uang bulanan yang mas berikan setiap bulan sangat berlebihan."


"Tidak apa-apa Rena, aku sibuk kerja begini memang untuk kalian, kamu dan Nio."


"Terima kasih mas."


Rudy pun tersenyum lalu mengangguk singkat.


"Oh iya mas, tadi mas mengatakan ingin mengajak berlibur ke puncak untuk merayakan ke lulusan Nio?? Apakah itu benar?! Kenapa tidak memberitahukan rencana itu sebelumnya padaku?"


"Iya tentu saja benar! Dan maaf bukan tidak ingin memberitahumu soal ini, tapi rencana liburan ini juga baru terlintas tadi, setelah melihat Nio diwisuda."


"Aku pernah membelikan sebuah Villa untuk Nio sebagai hadiah ulang tahun, Villa itu sangat indah di tengah pepohonan itulah yang membuatku tertarik dan langsung membelinya, dan kita akan menginap di Villa itu nanti. Hmm ku yakin kamu belum tau tentang Villa itu, karena aku juga lupa memberitahukanmu soal Villa itu."


"Iya mas, aku tidak tau soal Villa itu." Jawab Rena yang sedikit kikuk.


Bagaimana tidak kikuk, hal itu karena ia berbohong, bagaimana mungkin ia tidak tau soal Villa yang pernah ia kunjungi bersama Nio. Nio sendiri yang memperlihatkan Villa indah itu padanya, bahkan mereka sudah melakukan hubungan intim di kamar utama juga di kolam air hangat.


"Persiapkan lah apa saja yang ingin kamu bawa, karena besok pagi-pagi sekali kita sudah pergi."


"Iya mas."


Di sisi lain, Nio yang kala itu sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan Sonia pulang, juga lebih banyak diam. Ia diam karena memikirkan rencana Rudy tentang berlibur ke Villa mereka di puncak, tempat dimana ia pernah membawa Rena menginap dan membuat banyak kenangan manis disana.


"Aku merasa takdir tengah mempermainkan perasaanku saat ini, di satu sisi ia membuat aku dan Rena berpisah. Namun di sisi lain ia seolah ingin membuatku terus mengingat semua kenangan indahku bersama Rena." Gumam Nio dalam hati.


"Aku sangat tidak sabar." Celetuk Sonia tiba-tiba.


"Tidak sabar untuk apa??" Tanya Nio yang seketika jadi tersentak dari lamunan singkatnya.


"Tidar sabar ingin ikut bersama kalian liburan ke Villa yang ada di puncak."


"Owh itu." Nio pun nampak datar saat menanggapi hal itu.


Sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda kesenangan saat mendengar hal itu.


"Baiklah, sekarang katakan sayang, apa saja yang harus kupersiapkan untuk liburan kita besok?" Tanya Sonia dengan semangat.

__ADS_1


"Yaa seperti liburan pada umumnya saat ke puncak, kamu tentu saja memerlukan pakaian yang tebal karena udara disana sangat dingin."


"Hmm ya, masalah itu aku juga tau. Maksudku yang lebih spesifik."


"Selain barang-barang yang kamu gunakan sehari-hari, mungkin kamu memerlukan energi yang cukup, karena pasti akan sangat melelahkan."


"Kalau soal itu, energiku akan otomati terisi dengan sendiri saat aku bisa berada di dekatmu. Seperti sebuah ponsel ketika di charger."


Nio pun hanya mendengus lalu tersenyum tipis saat mendengar hal itu,.


Beberapa menit berlalu, Nio pun menghentikan mobilnya di depan rumah Sonia.


"Sayang, kamu tidak ingin singgah dulu?"


"Hmm sepertinya tidak untuk kali ini, aku sangat lelah."


"Hmm baiklah." Jawab Sonia yang nampak sedikit melesu.


"Jangan begitu, bukankah kamu juga harus mempersiapkan banyak hal untuk liburan besok? Begitu juga denganku, aku juga harus berkemas."


"Hehehe iya, iya." Sonia pun akhirnya tersenyum dan membiarkan Nio langsung pulang.


Nio pun akhirnya langsung kembali melajukan mobilnya tanpa beban.


Keesokan paginya...


Pagi-pagi sekali, Sonia nampak sudah datang ke rumah Nio dengan membawa sebuah koper berukuran sedang, kedatangannya langsung di sambut dengan hangat oleh bi Inah yang membukakan pintu untuknya.


"Mbak Sonia bu."


"Sonia??"


"Hai tante, pagi." Sapa Sonia yang langsung menghampiri Rena.


"Sonia?? Kenapa kamu repot-repot datang kesini? Kenapa tidak membiarkan kami yang menjemputmu sebelum berangkat ke puncak?"


"Ah tidak apa-apa tante, aku kesini agar Nio tidak perlu bolak balik, kasihan dia, aku tidak mau dia jadi kelelahan bahkan sebelum tiba di puncak."


"Hmm sepertinya kamu benar-benar memikirkan dia ya." Celetuk Rena yang langsung tersenyum lirih.


"Itu pasti tante hehe."


Tak lama Rudy pun nampak turun, dan sedikit terkejut saat mendapati sosok Sonia yang sudah berada di dekat meja makan.


"Oh hai Sonia, kamu disini? Kapan kamu datang?"


"Baru saja om."


"Apa Nio yang menjemputmu?"

__ADS_1


"Ah tidak om, aku menyetir sendiri kesini."


"Owhh kenapa harus repot-repot, padahal kamu bisa meminta Nio untuk menjemputmu."


"Sonia bilang dia tidak ingin membuat Nio kelelahan jika harus bolak balik, belum lagi perjalanan menuju puncak yang cukup jauh." Jelas Rena dengan tenang.


"Hmm benarkah begitu?" Tanya Nio yang tiba-tiba saja muncul yang kala itu terlihat tengah menuruni anak tangga.


"Nio?!!" Sonia pun seketika menoleh ke arahnya.


"Benarkah kamu begitu mencemaskan aku Sonia?" Tanya Nio lagi dengan begitu tenang yang saat itu akhirnya berdiri di hadapan Sonia.


"Tentu saja sayang."


"Kamu benar-benar pasangan yang manis, yang selalu menunjukkan effort lebih untuk hubungan kita, seolah tidak membiarkan aku berjuang sendiri." Ucap Nio yang seolah tengah menyindir Rena yang kala itu berada tak jauh darinya.


Mendengar hal itu tentu saja Rena seketika menelan ludahnya sendiri, karena ia sangat paham jika saat itu Nio sedang menyindirnya secara halus.


"Haish, mana mungkin aku membiarkanmu berjuang sendiri seperti pacarmu sebelumnya, aku bukan wanita yang kejam seperti dia." Jawab Sonia dengan penuh percaya diri.


"Hmm syukurlah, aku lega mendengarnya."


"Haish, kalian berdua nampaknya benar-benar sedang kasmaran ya, sehingga lupa kalau di antara kalian ada kami." Celetuk Rudy yang seolah ingin mencairkan sedikit suasana yang tegang antara Nio dan Rena.


"Ya sudah, ayo kita sarapan bersama, agar bisa langsung pergi setelahnya."


Satu jam berlalu, sarapan telah usai dan kini dua mobil mulai bergerak keluar dari gerbang rumah elit itu dan melaju cepat di jalanan. Rudy menyetir sendiri mobilnya dengan Rena yang duduk di sisinya, begitu pula dengan Nio yang tentu saja di dampingi oleh Sonia.


"Ku dengar Villa keluargamu disana sangatlah indah, apa itu benar?" Tanya Sonia memecah keheningan yang tercipta dalam perjalanan.


"Kamu bisa menilainya sendiri nanti, saat sudah tiba."


"Hmm aku jadi semakin tidak sabar."


"Jika kamu tidak sabar, maka kamu bisa tidur saja dulu, dan aku janji saat kamu terbangun, kita sudah tiba di Villa."


"Aah tapi aku tidak ingin membiarkanmu kesepian saat mengemudi sayang."


"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah terbiasa, tidurlah dulu, agar perjalanan jauh ini tidak terasa bagimu."


"Sungguh tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa Sonia."


"Hmm ya sudah, kebetulan sebenarnya aku juga masih sedikit mengantuk karena bangun begitu awal pagi tadi."


"Ya tidur lah dulu."


"Ya, lebih baik begitu, karena disaat-saat seperti ini, aku memang lebih suka berdiam diri, tidak ingin banyak bicara dengan siapapun." Gumam Nio dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2