
Malam hari...
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 19.25 malam, malam itu ponsel Zayden tiba-tiba kembali berdering, terlihat jelas tulisan "My future wife" terpajang di layar ponselnya hingga membuatnya langsung bergegas menjawab panggilan itu.
"Ya Beib??"
"Beib, bisa kesini sebentar?" Tanya Meichan.
"Kesini? Kemana? Kamu dimana?"
"Aku masih di butik langgananku, ayo kesini sebentar untuk fitting akhir jasmu."
"Oh begitu kah? Hmm baiklah, aku kesana sekarang!"
"Ok, aku tunggu!"
Panggilan pun berakhir,
"Kamu mau kemana Zay?" Tanya Rena yang nampak sedikit mengernyitkan dahi.
"Oh itu, calon istriku memintaku untuk datang ke butik langganannya sebentar, aku mau fitting baju untuk terakhir kalinya." Jawab Zayden yang bergegas memakai mantel hangatnya.
"Kalian tidak apa-apa kan kalau aku tinggal sebentar?" Tanya Zayden sembari menatap Rena dan Nio yang masih duduk di satu sofa yang sama secara bergantian.
Saat itu Rena pun mendadak kembali terlihat bingung juga kikuk, begitu pula dengan Nio.
"Aku hanya sebentar, serius!" Tambah Zayden lagi yang nampak begitu buru-buru.
"Kalian lanjutlah mengobrol, agar kalian bisa lebih akrab." Ucap Zayden sembari berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Rena dan Nio yang terlihat sangat canggung.
Beberapa saat saling diam, akhirnya Rena pun berniat ingin masuk saja ke dalam kamarnya demi menghindari situasi yang sangat canggung yang membuatnya jadi merasa tidak nyaman.
"Ka,, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu." Ucao Rena pelan sembari terlihat ingin bangkit dari duduknya.
Namun tiba-tiba saja Nio bersuara, hingga membuat Rena seketika jadi tidak jadi bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu datang sendiri?" Tanya Nio tiba-tiba.
"Maksudmu?" Tanya Rena yang kembali mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kami tidak mengajak pacarmu? Oh atau dia akan menyusul?" Tanya Nio yang mulai kembali menatap Rena dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
Rena pun akhirnya mengerti dan kembali teringat moment disaat Nio yang tiba-tiba datang ke apartementnya, dan seketika langsung pergi lagi saat melihat sosok Rynto,
Rena pun seketika tersenyum tipis sembari mendengus pelan.
"Oh, jadi sebelumnya kita sudah saling kenal? Kukira kita baru berkenalan tadi." Sindir Rena karena Nio yang mengaku tidak mengenalnya di depan Zayden.
"Akan ada banyak pertanyaan yang siap di lontarkan oleh kakakmu jika dia tau kita sudah saling mengenal sebelumnya. Aku hanya mencoba untuk menyelamatkanmu dari situasi yang rumit." Jawab Nio dengan tenang.
Rena pun lagi-lagi bisa mengerti dengan hal itu dan memakluminya.
"Sebelum ku jawab, biarkan aku bertanya lebih dulu, kenapa waktu itu kamu tiba-tiba pergi? Apa karena kamu pikir jika lelaki itu adalah pacarku?" Tanya Rena dengan tenang.
"Saat itu aku datang karena menganggap kamulah satu-satunya tempat paling nyaman untukku berkeluh kesah, dengan harapan jika kamu masih belum melupakanku, tapi ternyata aku salah, kedatanganku saat itu justru jadi mengganggu waktu kalian." Jawab Nio yang mulai menunduk sembari tersenyum lirih.
Lagi-lagi Rena mendengus pelan, ia tampak kembali tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jika kamu ingin tau kebenarannya, maka akan ku katakan jika dia bukan pacarku!" Ucap Rena kemudian.
Mendengar hal itu, Nio pun seketika kembali menatap Rena.
"Namanya Rynto, dan dia sudah menikah. Sepasang suami istri itu adalah rekan bisnisku yang juga sudah berteman dekat denganku belakangan ini." Tambah Rena lagi.
Saat itu Nio nampak masih diam kala memandangi Rena, namun dari sorot matanya, bisa terlihat jelas jika saat itu ia masih butuh penjelasan yang lebih detail,
"Ouh." Nio pun kembali menunduk, namun entah kenapa ia jadi merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Rena kala itu, hal itu terbukti dari munculnya sepintas senyuman di bibirnya saat itu.
"Jika kamu masih belum yakin, aku bisa saja memperlihatkan rekaman cctv di hari itu." Tambah Rena yang seketika nampak ingin mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Oh tidak perlu!" Ucap Nio pelan sembari menahan tangan Rena agar tidak perlu mengeluarkan ponselnya.
"Aku percaya! Dan lagi pula kenapa kamu harus berusaha untuk membuatku percaya? bukankah kita bukan apa-apa sekarang?" Ucap Nio pelan sembari kembali tersenyum lirih.
Perkataan itu pun seketika membuat Rena terdiam dan merasa tersadar.
"Ouh iya, benar juga." Rena pun tersenyum namun juga nampak sedikit kecewa di waktu yang sama.
Mereka pun kembali saling terdiam sejenak dengan segala pikiran mereka masing-masing.
"Jadi,, selama menghilang ternyata kamu pergi ke Qatar dan tinggal bersama Zayden?" Tanya Rena kemudian.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tau? Apa dari Zayden?"
"Tentu saja, dari siapa lagi."
"Apa kamu sudah mengunjungi makam papamu?" Tanya Rena lagi.
Nio pun mengangguk pelan dan tiba-tiba kembali teringat dengan isi surat wasiat dari papanya.
"Setahun belakangan ini banyak hal mengejutkan yang terjadi dalam hidupku, mulai dari Sonia yang menjadi selingkuhan papa, papa meninggal, dan,,,,," ucapan Nio mendadak terhenti dan ia nampak kembali menundukkan kepalanya.
"Dan aku yang ternyata bukan anak kandungnya, melainkan keponakannya." Tambah Nio akhirnya.
Mendengar hal itu Rena pun juga terdiam sembari ikut menundukkan kepalanya. Namun saat menyadari respon Rena yang nampaknya sama sekali tidak terkejut, sontak membuat dahi Nio mengkerut.
"Rena, apa kau juga sudah tau tentang itu?" Tanya Nio seketika.
"Apa kamu tau jika aku bukan anak kandung papa?" Tanya Nio lagi dengan tatapan yang nampak begitu serius menatap Rena.
Akhirnya, Rena yang kala itu masih menunduk hanya bisa menganggukkan pelan kepalanya.
"Ya, aku tau." Jawabnya dengan suara pelan.
Mendapat jawaban seperti itu sontak membuat Nio menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu sudah tau, tapi bagaimana bisa kamu tidak memberitahuku soal ini?"
"Aku baru tau sesaat sebelum papamu meninggal, aku baru tahu disaat kamu sudah bercerai. Lagi pula kamu menghilang dan tak tau ada dimana saat itu." Jelas Rena.
Nio lagi-lagi kembali mengusap wajahnya, mengingat hal itu membuatnya kembali merasakan sedih dan kecewa, saat mengetahui jika ia bukan anak kandung Rudy.
"Kamu tidak tau betapa kenyataan yang kuhadapi ini sungguh membuatku hampir gila, Rena." Ungkap Nio lirih.
"Aku paham bagaimana rasanya, aku cukup paham, pasti sakit sekali rasanya jadi kamu saat itu, tapi,,, kulihat sepertinya kamu sudah bisa melewatinya dengan baik."
"Ya, waktu memang bisa menyembuhkan luka, tapi waktu tidak bisa menghilangkan bekasnya."
"Tidak apa-apa jika masih meninggalkan bekas, tapi setidaknya luka itu sudah sembuh dan kamu tidak merasakan sakit lagi." Jawab Rena yang tanpa sadar mulai mengelus dengan lembut pundak Nio.
Nio pun akhirnya terdiam sembari mulai memandangi tangan Rena yang kala itu berada di pundaknya, mendengar jawaban bijak Rena kala itu, entah kenapa bisa membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Namun Rena yang menyadari tatapan Nio saat memandangi ke arah tangannya, sontak langsung menarik kembali tangannya, karena ia mengira jika saat itu Nio tidak suka disentuh olehnya lagi dan Rena pun jadi merasa sangat tidak enak hati dan merasa malu atas perlakuannya.
"Ma,, maafkan aku sudah lancang! Ka,, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu." Ucap Rena yang seketika langsung beranjak pergi begitu saja.
__ADS_1
Meninggalkan Nio yang kala itu nampak terdiam sembari terus memandangi kepergian Rena dengan tatapan sendunya.
...Bersambung......