
Rena pun terdiam sejenak seolah tengah berpikir,
"Ta,, tapi..."
"Kamu tidak perlu bingung, sudah ku katakan sebelumnya kita bisa menginap disini malam ini, hanya jika kamu berminat, sama sekali tidak ada paksaan." Ungkap Nio dengan tenang.
"Aku,, ak,, aku sangat ingin, tapi...."
"Lalu hal apa yang sekarang tengah membebanimu Rena?"
"Bagaimana dengan rumah yang disana? Apa tidak apa jika dibiarkan kosong?? Dan,,,"
"Dan apa?"
"Kita bahkan tidak memiliki persiapan sama sekali untuk menginap."
"Semuanya bisa dibeli, tidak jauh dari sini juga ada swalayan yang cukup lengkap, sepertinya memang di targetkan untuk para pengunjung puncak. Dan untuk masalah rumah, kurasa aman-aman sama selama masih ada security yang menjaga.
"Hmm benarkah?"
"Iya, dan nanti kamu juga bisa lihat seramai apa swalayan disini."
"Hmm ya sudah."
"Ya sudah apa?" Tanya Nio yang kembali mengeratkan pelukannya sembari mulai menyandarkan dagunya ke pundak Rena.
"Kalau begitu kita bisa menginap disini."
"Hmm baiklah jika kamu sudah memutuskan." Nio pun semakin melebarkan senyumannya.
"Sekarang katakan, bagaimana udara disini saat malam hari?"
"Sudah pasti akan sangat dingin, seolah udara dinginnya begitu terasa menusuk ke tulang-tulangmu."
"Oh ya?"
"Ya, kamu lihat saja tidak ada satupun AC disini, karena tempat ini memang benar-benar tidak membutuhkannya."
"Hmm, apa aku akan tidur di kamar ini?"
"Tentu saja, ini kamar utamanya sudah pasti kamu harus merasakan bagaimana nyamannya tidur di kamar ini."
"Lalu, yang mana kamarmu?" Tanya Rena sembari mulai mengutas sebuah senyuman yang berbeda.
Mendengar pertanyaan Rena yang satu itu, sontak membuat Nio seketika kembali menegakkan kepalanya dan mulai menatap Rena dengan tatapan masam.
"Kamu serius bertanya begitu padaku?"
"Hah?!! Memangnya apa yang salah dengan pertanyaanku?" Rena justru berbalik tanya dan mula terlihat menahan senyumannya.
"Bukankah seharusnya aku juga akan tidur disini malam ini?"
__ADS_1
"Kalau aku tidak mengizinkannya?" Tanya Rena lagi.
"Haaiish, kenapa tidak mengizinkannya? Apa kamu sungguh tega membiarkan aku tidur sendiri di udara yang begitu dingin?" Rengek Nio yang seolah terlihat begitu memelas di hadapan Rena.
Hal itu sontak membuat Rena tersenyum dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Nio.
"Hehehe bagaimana bisa kamu bertingkah seperti anak kecil seperti ini?"
"Biar saja!"
"Hehehe tapi jujur saja, aku sangat suka saat melihatmu bertingkah seperti ini, terlihat sangat menggemaskan." Ungkap Rena dengan lembut, ia tersenyum sembari mulai membelai lembut pipi Nio.
Nio pun ikut tersenyum, lalu mulai menciumi tangan Rena yang kala itu tengah berada di pipinya.
"Entah bagaimana kamu bisa membuatkan bertingkah seperti ini, tapi jujur ini pertama kalinya aku seperti ini, hanya padamu, tidak pernah terjadi dengan wanita lain sebelumnya." Ungkap Nio yang juga kembali menatap Rena dengan begitu lekat.
Kata-kata itu pun berhasil membuat Rena kembali tersenyum lebar dan mulai menghela nafas sedikit panjang.
"Hmm baiklah, karena kamu begitu menggemaskan dan juga sudah menyentuh hatiku dengan kata-katamu barusan, maka aku mengizinkan kamu tidur di kamar ini juga." Ucap Rena akhirnya.
Membuat Nio semakin mengembangkan senyumannya dan langsung mencium singkat bibir Rena.
"Bersiaplah, kamu akan kelelahan malam ini." Bisik Nio pelan tepat di telinga Rena, dan kemudian ia pun langsung berlalu begitu saja dengan membawa senyumannya yang penuh makna.
Rena yang mendengarnya sontak dibuat mendengus pelan sembari ikut tersenyum tipis saat memandangi kepergian Nio.
"Hei tunggu!! Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja??" Teriak Rena kemudian sembari masih terus tersenyum.
Malam hari...
Rena dan Nio kembali ke Villa setelah sebelumnya pergi ke swalayan untuk membeli segala perlengkapan yang mereka butuhkan, terutama bahan makanan.
Dengan sedikit lesu, Rena mulai meletakkan bungkusan yang ia bawa ke atas meja dan langsung terduduk di kursi. Tak lama Nio pun terlihat menyusulnya, meletakkan banyak bungkusan yang ia bawa di atas meja dan langsung mendekati Rena.
"Apa kamu lelah?" Tanya sembari meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Rena.
"Ya, aku lelah tapi juga sangat senang hari ini." Jawab Rena yang kembali tersenyum lembut.
Nio pun kembali tersenyum dan mulai memijit pelan kedua pundak Rena.
"Astaga, rasanya nyaman sekali, sepertinya kamu benar-benar mahir dalam banyak hal." Ungkap Rena yang mulai memejamkan kedua matanya saat mulai menikmati setiap sentuhan Nio pada pundaknya.
"Ya, aku bahkan bisa melakukan segalanya untukmu, tapi hanya untukmu." Jawab Nio lembut yang terus memijat pelan pundak Rena.
"Ternyata kamu benar, swalayan tadi benar-benar padat, itu juga yang membuat kita jadi sedikit lama saat berbelanja di sana."
"Jika kamu memperhatikan, tidak jauh dari swalayan tadi, ada beberapa penginapan yang selalu ramai pengunjung, itu jugalah sebabnya swalayan itu selalu ramai, sang pemilik swalayan benar-benar cerdas dalam memilih lokasi."
"Hehehe iya. Dan ternyata udara malam disini benar-benar sangat dingin ya, bahkan jauh lebih dingin dari ekspektasiku."
"Apa kamu ingin berendam agar tidak terlalu merasa dingin?" Tanya Nio menawarkan.
__ADS_1
"Maksudmu berendam air hangat?"
"Ya, di halaman belakang, ada kolam air hangat, hmm sepertinya aku melewatkan hal itu saat mengajakmu berkeliling tadi."
"Oh ya? Apa itu alami?"
"Tentu saja tidak! Teghnologi lah yang membuatnya bisa berubah menjadi air hangat di tengah udara yang dingin ini."
"Aku ingin mencobanya."
"Baiklah, ayo." Ajak Nio.
"Sekarang??"
"Akan lebih baik jika melakukannya disaat badan terasa lelah, karena bisa membuat ototmu yang tegang kembali rileks."
"Hmm benar juga." Rena pun tersenyum.
Nio pun menjulurkan tangannya ke arah Rena, dengan senang hati Rena menyambut tangannya dan mereka pun mulai melangkah bergandengan tangan menuju halaman belakang.
Nio menghentikan langkahnya saat mereka sudah tiba di depan kolam, lalu menekan sebuah tombol yang berada tak jauh dari pintu.
"Apa itu yang nantinya aka membuat airnya menjadi hangat?" Tanya Rena.
"Benar." Jawab Nio dengan tenang.
Kemudian Nio pun perlahan mulai membuka bajunya, lalu kemudian beralih membuka celana jeans yang saat itu ia kenakan, dan hanya menyisakan sebuah boxer yang masih menutupi bagian intinya.
"Ke,, kenapa kamu membuka pakaianmu di tengah udara dingin seperti ini Nio?" Tanya Rena yang nampak sedikit terkejut.
"Bukankah kita akan berendam?" Jawab Nio santai yang kemudian langsung melangkah pelan mendekati kolam itu.
Nio mulai duduk di tepi kolam, lalu perlahan mulai memasukkan kedua kakinya terlebih dulu ke dalam kolam itu.
"Apa airnya sudah terasa hangat??" Tanya Rena.
"Mulai hangat meskipun belum maksimal." Jawab Nio yang kemudia langsung masuk begitu saja ke dalam kolam itu.
Rena pun terdiam, ia masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan yang terus bersedekap di dada karena udara yang dingin.
"Apa lagi yang kamu tunggu Rena? Kemarilah, airnya sudah semakin hangat, jadi jangan cemas, kamu tidak akan kedinginan lagi saat berada di dalam sini." Ungkap Nio.
Rena pun perlahan mulai melangkah mendekati kolam.
"Apa aku juga perlu membuka pakaian?" Tanya Rena yang sedikit nampa ragu-ragu.
"Akan terasa lebih baik jika iya, permukaan kulitmu bisa langsung merasakan airnya yang hangat dan itu membuat lebih rileks."
"Ta,, tapi Nio, ini ruangan terbuka, bagaimana kalau ada yang melihatnya?" Tanya Rena yang kembali memandangi ke arah sekitar mereka yang dipenuhi banyak pepohonan cemara dan pinus.
"Rena, aku bersumpah tidak akan ada yang melihatnya selain aku, Meskipun tidak ada pagar di yang mengelilingi, tapi aku sendiri yang menjamin keprivasian Villa ini."
__ADS_1
...Bersambung......