Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Selalu ada waktu


__ADS_3

Rena pun kembali terdiam, namun entah kenapa kini ia cukup merasa lega saat Nio rela meluangkan waktu untuk menemuinya disaat ada banyak teman-temannya dan memberi penjelasan dengan caranya yang lembut.


"Ini, aku bawakan kue ulang tahunku untukmu." Ucap Nio lagi yang mulai tersenyum sembari menunjukkan kue yang sejak tadi ia bawa ke hadapan Rena.


"Aku sengaja membawanya, karena aku ingin moment ulang tahunku jadi lebih berarti saat menyuapi kue ini padamu." Tambahnya yang mulai mengarahkan potongan kue itu ke mulut Rena.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Rena pun perlahan mulai membuka mulutnya dan membiarkan Nio menyuapi potongsn kue itu padanya.


Nio pun semakin mengembangkan senyumannya saat menyaksikan itu, namun Rena saat itu juga nampak tidak mau kalah dan ingin menyuapi kue untuk Nio.


"Aku juga mau menyuapimu." Ucap Rena sembari ingin mengambil alih piring yang dipegang oleh Nio.


Namun dengan cepat Nio langsung menjauhkan piring itu dari jangkauan Rena, hingga membuat Rena seketika mengerutkan dahinya.


"Apa kamu tidak mau aku suapi?"


"Aku ingin kamu menyuapiku dengan cara lain." Ucap Nio yang kembali tersenyum.


Lalu tanpa permisi, langsung melahap bibir Rena begitu saja, menciumnya dengan begitu lembut, hingga kue coklat yang sebelumnya di makan oleh Rena, juga ikut terasa di indera perasa Nio. Tak lama Nio pun kembali melepaskan tautan bibir mereka sembari mengutas sebuah senyuman.


"Benar saja, kuenya terasa sepuluh kali lipat lebih enak jika cara menikmatinya seperti yang barusan kulakukan." Ucap Nio.


Rena pun tak kuasa lagi menahan senyumannya, senyuman manis dari bibirnya pun seketika muncul, terpancar nyata di wajah cantiknya. Nio memang selalu tau bagaimana caranya membuat Rena tersenyum, bahkan disaat ia merasa tak karuan sebelumnya.


"Sudahlah, aku tidak marah dan kamu bisa pergi sekarang. Aku tidak mau teman-temanmu menunggu lama." Ucap Rena dengan suara pelan.


"Apa kamu tidak ingin ikut denganku?" Tanya Nio tanpa beban.


Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Rena kembali membulatkan kedua matanya.


"Hah?! Ak,, aku?? Ikut bergabung bersama teman-temanmu???" Tanya Rena seolah terkejut.


Saat itu Nio hanya mengangguk tenang.


"Aaaa tidak, tidak! Lebih baik aku disini saja."


"Kamu yakin?"


"Yakin!"

__ADS_1


"Hmm, tapi aku tidak ingin kamu salah paham lagi denganku saat nanti melihat Sonia berada di sekitarku."


"Tidak, aku mengerti."


"Hmm, ya sudah kalau begitu." Jawab Nio yang nampak melesu.


Nio pun kembali menatap Rena dengan begitu lekat, lalu kembali meraih kedua pipinya.


"Setidaknya, kamu bisa mengucapkan selamat ulang tahun untukku, sebelum aku kembali ke bawah." Pinta Nio dengan nada begitu lembut, namun juga terdengar manja.


Rena pun kembali mengembangkan senyumannya dan akhirnya nampak mulai menghela nafas panjang.


"Hmm baiklah, selamat ulang tahun Antonio, aku tidak berharap banyak, hanya berharap agar kamu selalu sehat, semakin bijaksana, lancar urusan skripsi maupun sidang nanti. Dan maaf, aku belum menyiapkan kado apapun untukmu." Ungkap Rena dengan lembut.


"Hanya begitu saja?" Tanya Nio yang nampak makin cemberut.


"Lalu?" Tanya Rena sembari mengernyitkan dahinya.


Tanpa menjawab dengan kata-kata, Nio pun menunjuk ke arah bibirnya, seolah memberi kode jika ia ingin Rena menciumnya saat itu. Rena tidak bisa menolak, ia hanya kembali mendengus pelan, lalu mulai tersenyum, dan kemudian mulai mencium lembut bibir Nio.


Seolah tak ingin ciuman itu dengan cepat berakhir, Nio pun langsung melingkarkan sebelah tangannya di tengkuk Rena, menekan kepalanya agar tidak melepas ciumannya. Ciuman yang hangat, lembut, akhirnya berakhir jadi ciuman yang lebih menuntut.


Seolah lupa pada teman-temannya yang saat itu sedang berkumpul di teras samping rumahnya, Nio perlahan mulai melangkah, membawa tubuh Rena menuju tempat tidur.


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Nio lembut yang kemudian terus melahap bibir Rena.


"Teman-temanmu, bukankah mereka....."


"Mereka bisa menunggu!" Jawab Nio dengan cepat yang saat itu seolah tidak peduli lagi dengan siapa saja yang menunggunya di bawah.


Nio pun membaringkan tubuh Rena di atas ranjang, lalu mulai menindihnya pelan dalam keadaan kedua bibir yang terus bertautan.


Perlahan, tangan Nio mulai liar meraba area dada Rena hingga tanpa ragu mulai membuka satu persatu kancing baju piyama yang saat itu di kenakan oleh Rena.


Rena tentu tidak bisa menolak, karena ia juga menyukai dan juga menikmatinya. Kini satu persatu pakaian yang mereka kenakan telah terlepas dan terhambur ke segala arah. Alunan-alunan kenikmatan yang keluar dari mulut Rena kala Nio kembali menerobos lubang surgawinya, seolah menggema di ruangan itu.


Rena benar-benar mampu mengalihkan dunia Nio, bahkan membuat Nio melupakan sejenak teman-temannya yang telah menunggunya di lantai dasar.


Hingga entah sudah berapa lama mereka bergelut di atas ranjang, dalam keadaan tubuh yang sudah bermandikan keringat, akhirnya tubuh kokoh Nio pun ambruk di atas Rena.

__ADS_1


"Huh,, huh,, huh,, kamu benar-benar membuatku hilang akal Rena," celetuk Nio pelan.


"Jadi, setelah berhasil melakukannya, kini kamu ingin menyalahkan aku?" Tanya Rena sembari tersenyum.


Nio pun mendengus pelan dan ikut tersenyum.


"Kembalilah pada teman-temanmu, mereka pasti sudah terlalu lama menunggu." Ucap Rena pelan sembari mengusap lembut kepala Nio.


"Tapi aku masih sangat lelah."


"Apa kamu tidak takut mereka akan curiga karena kamu pergi terlalu lama? Mereka bahkan bisa saja menyusulmu ke kamarmu kan?"


Mendengar hal itu, akhirnya Nio pun kembali menghela nafas singkat.


"Hmm baiklah," Jawab Nio akhirnya yang perlahan mulai beranjak dari atas tubuh Rena.


Nio segera memakai kembali pakaiannya yang sudah berhamburan ke sembarang arah, lalu membantu Rena untuk memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.


"Apa kamu akan kembali tidur?" Tanya Nio kemudian.


"Entahlah, tapi rasanya aku sudah tidak mengantuk lagi."


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan di sini?"


"Tidak tau, mungkin menonton film."


"Hmm ya sudah. Kalau kamu merasa jenuh dan ingin aku temani, katakan saja ya, kamu bisa mengirimiku pesan."


"Aku tidak akan berani melakukannya selama masih ada teman-temanmu. Tidak apa, nikmati saja waktumu bersama mereka."


"Kamu tidak akan marah padaku lagi kan?" Tanya Nio memastikan lagi, karena ia begitu tidak ingin Rena marah padanya.


"Tidak, tenang saja." Jawab Rena sembari tersenyum manis.


"Ok, kalau begitu aku ingin kembali ke kamarku dulu, ponselku tertinggal di kamar."


"Ya sudah."


Nio pun akhirnya keluar dari kamar Rena, lalu melangkah dengan cepat menuju ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang saat itu terletak di atas nakas kamarnya.

__ADS_1


Tanpa ingin membuang waktu lagi, Nio pun langsung beranjak untuk kembali turun ke bawah, ke tempat dimana teman-temannya sedang berkumpul.


...Bersambung......


__ADS_2