Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Malam yang panjang


__ADS_3

Malam hari...


"Apa kamu masih belum selesai Ren?" Tanya Rudy sembari memandangi Rena yang kala itu tengah duduk di depan meja riasnya.


"Beri aku waktu satu menit lagi, mas."


"Hmm baiklah, cepat selesaikan dandananmu, aku tunggu di bawah."


"Ok mas." Rena pun mengangguk sembari tersenyum tipis.


Rudy pun keluar dari kamar, lalu langsung beralih menuju kamar Nio yang berada di samping kamarnya.


*Tok,,tok,,tok*


"Antonio,," Panggil Rudy.


*Ceklek*


"Ya pa?" Nio pun membuka pintu kamarnya, saat itu ia terlihat baru selesai mandi dengan keadaan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Kamu juga belum selesai?"


"Papa duluan saja, aku akan menyusul,"


"Hmm baiklah, semoga tidak lama."


"Tidak akan lama!" Jawab Nio menegaskan.


Rudy pun mengangguk dan beranjak pergi untuk menuruni anak tangga menuju lantai dasar rumahnya. Tak berapa lama, Rena pun akhirnya muncul, dengan dibalut oleh sebuah dress bermotif bunga-bunga tanpa lengan, ia nampak begitu anggun dan cantik seperti biasa.


"Kamu sudah siap?"


Rena pun mengangguk sembari tersenyum.


"Ok, kalau begitu kita berangkat sekarang." Rudy pun langsung melangkah lebih dulu, tanpa menggandeng Rena.


Sama sekali tidak ada kalimat pujian untuk istrinya yang malam itu sudah tampil memukau. Hal itu lagi-lagi hanya bisa membuat Rena menghela nafas dalam, dan memilih untuk menyusul langkahnya.


"Ayo kita jalan." Ucap Rudy pada pak Eko yang telah menunggu di dalam mobil.


"Baik pak."


Mobil sedan mewah yang membawa mereka pun mulai bergerak, meninggalkan pekarangan rumah megah itu dan terus melaju cepat menuju restaurant yang sudah di booking oleh Rudy.


Beberapa puluh menit berlalu, Rudy dan Rena nampak memasuki restaurant bintang lima dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Tak perlu menunggu, pelayan pun langsung datang dan siap untuk melayani mereka.


"Pesanlah makanan yang kamu inginkan, Rena." Ucap Rudy saat menerima buku menu dari pelayan.


"Iya mas." Rena pun tersenyum dan mengangguk.


Tak berapa lama, akhirnya Nio pun nampak memasuki restaurant itu, matanya terus menyisir setiap sudut ruangan mewah itu untuk mencari keberadaan orang tuanya.


"Ah itu dia." Celetuk Rudy yang langsung melambaikan tangannya.


Nio pun segera menghampiri mereka, dan langsung duduk di antara Rena dan Rudy.

__ADS_1


"Kau datang tepat waktu, Nio. Ayo pesanlah." Ujar Rudy sembari menyerahkan buku menu miliknya pada Nio.


Pelayan pun bergegas pergi setelah mencatat seluruh pesanan mereka. Lagi-lagi Nio kembali terdiam sembari sesekali melirik ke arah Rena yang nampak begitu cantik malam itu.


"Hais, akhir-akhir ini aku jadi sering sekali buang air kecil, hmm kalau begitu aku ke toilet dulu." Ucap Rudy yang kemudian mulai bangkit dari duduknya.


"Mas,, mas Rudy mau ke toilet?" Tanya Rena yang entah kenapa nampak sedikit panik.


"Iya, kalian lanjutlah mengobrol." Jawab Rudy yang langsung pergi begitu saja.


"Ta,, tapi mas.." Rena mencoba untuk menghentikan Rudy tapi apalah daya, Rudy sudah terlanjur beranjak pergi.


Rena pun kembali terdiam, situasi saat itu benar-benar terasa canggung bagi mereka berdua, terlebih Rena.


Namun ini kesempatan yang baik untuk Nio, kesempatan baik untuk meminta maaf meskipun dalam waktu yang sempit. Ia pun mulai memandangi Rena dengan begitu lekat, lagi dan lagi Rena sama sekali tidak ingin menatapnya.


"Kamu terlihat cantik malam ini." Ucap Nio pelan.


Kata-kata itu membuat Rena refleks melirik singkat ke arahnya.


"Thanks!" Jawabnya singkat dan kembali memalingkan pandangannya.


"Rena,, aku ingin..." Nio mulai ingin mengutarakan permintaan maafnya.


"Nio, sebaiknya kita tidak perlu bicara lagi!!" Tegas Rena yang langsung memotong perkataan Nio.


Nio pun seketika kembali terdiam, Rena benar-benar marah padanya, bahkan tidak membiarkannya untuk sekedar menyampaikan kata maaf. Tak lama Rudy pun kembali dan langsung duduk pada tempatnya, lalu tak lama di susul pula dengan pelayan yang mulai menghidangkan beberapa minuman yang mereka pesan.


Makan malam berlalu dengan tenang, namun terasa tidak sehangat seperti pertama kali mereka makan malam bersama dulu. Malam itu Rena lebih banyak diam, begitu pula dengan Nio.


Rena hanya merespon celetukan itu dengan sebuah senyuman kaku, sementara Nio, memilih tetap diam dengan wajah datarnya,


Namun tiba-tiba, seseorang datang dan menepuk pundak Rudy. Hal itu membuat Rudy terkejut dan langsung menoleh ke arah orang itu.


"Joan??!!"


"Astaga, ternyata benar, kau Rudy hehehe." Lelaki itu pun terkekeh senang.


Rudy pun bersigap bangkit dari duduknya dan langsung memeluk singkat orang tersebut.


"Astaga Joan, kau sudah kembali?!"


"Iya, baru dua hari yang lalu." Jawab Joan yang ikut tersenyum lebar.


Joan adalah teman Rudy sejak jaman kuliah dulu, serta beberapa kali pernah join bisnis bersama. Mereka sangat dekat, apalagi sering terlibat bisnis bersama, hingga akhirnya Joan pergi ke China untuk mengepakkan sayap pada bisnisnya di negara maju tersebut.


"Joan perkenalkan, ini Rena, istri baruku."


"Wahh, lihatlah betapa muda dan cantiknya istrimu kawan, kau beruntung." Celetuk Joan setengah berbisik pada Rudy.


"Halo Rena, aku Joan, sahabat Rudy sejak lama hehehe."


"Halo, senang berkenalan dengan anda." Jawab Rena yang menyambut jabatan tangan Joan sembari tersenyum.


"Dan ini Nio, kau tentu sudah kenal dengannya." Ucap Rudy lagi.

__ADS_1


"Nioo, kau tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan,"


"Halo om," Nio pun hanya tersenyum singkat.


"Wah wah, bagaimana bisa kau setampan ini Nio?? Haiss, dengan wajah seperti ini, pasti kau berhasil menjadi seorang playboy sekarang, benar begitu kan?"


"Hehehe tidak benar, aku tidak punya kekasih."


"Ha?! Benarkah? Haais, kalau begitu kapan-kapan akan aku kenalkan pada keponakanku yang tidak kalah cantik, usianya juga tidak jauh berbeda hehehe."


Mendengar hal itu, Nio pun hanya tersenyum tipis tanpa menjawab dengan kata-kata.


"Astaga,, aku tidak percaya bisa bertemu denganmu disini," Celetuk Rudy yang kembali menepuk-nepuk pundak Joan.


"Hmm ya, aku mencoba menghubungimu kemarin, tapi kau tidak pernah mengangkat telponku. Apa kau masih sibuk seperti dulu?"


"Kau tidak pernah menelponku Joan."


"Aku ada menelponmu beberapa kali, hanya saja tidak dengan nomorku yang lama."


"Haaiss, kau kah itu? Hahaha astaga aku tidak tau, maaf."


"Tidak masalah, yang penting sekarang kita sudah bertemu hehehe." Jawab Joan.


"Apa kau baru mau makan? Dengan siapa kau datang?"


"Oh tidak, aku sudah selesai, aku bersama rekan bisnisku dari China. Kebetulan setelah ini kami ingin lanjut minum di club, kau mau gabung??" Tawar Joan.


Rudy pun terdiam sembari mulai memandang ke arah Rena dan Nio secara bergantian.


"Tapi..."


"Oh tidak masalah, kamu bisa membawa mereka ikut serta. Kebetulan rekanku yang dari China ini juga membawa istrinya, mereka pasangan yang sama-sama kuat minum, jadi kurasa tidak masalah." Jelas Joan.


"Bagaimana Rena, apa kamu mau ikut?" Tanya Joan yang langsung menanyakannya pada Rena.


"Hmm terserah saja, keputusan ada di tangan mas Rudy." Jawab Rena sembari tersenyum.


"Ah ayolah kawan, anggap saja ini perayaan kita yang akhirnya bertemu kembali." Pujuk Joan.


"Hmm baiklah." Rudy pun akhirnya mengangguk tanda setuju.


Nio yang mendengar hal itu pun sontak langsung bangkit dari duduknya.


"Ok, kalau begitu aku bisa langsung pulang sekarang." Ucapnya datar.


"Haaiss, kenapa kau malah pulang Nio?" Joan pun langsung merangkul pundak Nio.


"Ikutlah bergabung, seharusnya laki-laki seusiamu ini akan senang bila pergi ke club. Ikutlah bersama kami, kita akan minum besar malam ini." Pujuk Joan.


Nio pun melirik singkat ke arah Rudy, saat itu Rudy hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju.


"Hmm baiklah, berhubung om memaksaku, akan tidak sopan rasanya jika terus menolak." Jawab Nio akhirnya.


"Nahh good, I like this guy." Ucap Joan yang akhirnya bisa tersenyum puas.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2