Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Liburan kelulusan part ll


__ADS_3

Kedua mata Sonia seketika nampak membesar saat baru saja turun dari mobil ketika memandangi bangunan Villa yang berada tak jauh darinya.


"Wahh, dari luar Villa ini terlihat begitu estetik dan unik sekali." Celetuk Sonia pelan dan terlihat seolah berdecak kagum.


Nio yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis, dan tidak menjawab dengan sepatah katapun.


Sementara Rena, ia melihat Villa itu sudah tak lagi sama seperti saat pertama kali ia mengunjunginya bersama Nio sebelumnya. Rasa kagumnya saat pertama melihat Villa itu, kini seketika merubah menjadi rasa takut. Ia melihat bangunan indah itu seolah berubah menjadi begitu menakutkan, takut karena di dalamnya terdapat banyak kenangan indahnya bersama Nio yang nantinya akan menyeretnya kembali masuk terperosok ke dalam lubang rasa sakit yang lebih dalam lagi.


Kedua matanya bahkan nampak nanar kala menatap bangunan Villa itu, seketika ia pun kembali terbayang bagaimana Nio membawanya menuju Villa dengan cara menutup kedua matanya, lagi-lagi hal itu pun berhasil membuat dadanya terasa sesak.


"Bagaimana menurutmu Villa ini Rena?" Tanya Rudy sembari merangkul Rena.


"Bagus mas, Villanya sangat bagus." Jawab Rena yang denga terpaksa menampilkan sebuah senyuman keterpaksaan.


"Ya sesuai dugaan, kalian pasti akan menyukainya hehehe." Ujar Rudy yang mulai tersenyum puas.


"Ya sudah, ayo kita masuk." Ajak Rudy yang langsung melangkah lebih dulu menuju Villa.


Kedua mata Sonia seolah tak ada berhentinya memandang kagum seisi Villa yang memiliki interior yang sangat apik, benar-benar sangat estetik dan kekinian.


"Tenanglah Sonia, kelak saat sudah menikah dengan Nio, kamu juga akan bisa memiliki Villa ini dan bisa datang kapanpun kamu mau." Ungkap Rudy sembari tersenyum.


"Hehehe iya om, Villa ini sangat bagus, aku benar-benar menyukai gaya bangunannya dan juga interiornya." Ungkap Sonia.


Mendengar hal itu, lagi-lagi hati Rena serasa seperti di iris, karena sebelum kata-kata yang mirip seperti itu juga pernah keluar dari mulut Nio yang mengatakan jika Rena bisa berkunjung ke Villa itu kapan saja yang ia inginkan.


Kini tiba masanya untuk pembagian kamar, kebetulan di Villa itu ada tiga kamar, kamar utama di tempati oleh Rudy dan Rena, lalu kamar kedua di tempati oleh Sonia dan kamar ketiga atau bisa di katakan kamar yang paling kecil di antara ketiganya, ditempati oleh Nio sesuai dengan permintaanya sendiri.


Nio pun masuk dan membaringkan tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur, kedua matanya menerawang jauh ke awang-awang dengan segudang pikiran yang ada. Namun tak lama, Sonia pun terlihat masuk begitu saja ke kamarnya dan duduk begit saja di sisi Ranjang.


"Sonia? Ada apa?" Tanya Nio yang bergegas langsung duduk.


Sonia tidak langsung bersuara dan langsung memandangi ke sekitar kamar yang nampak begitu rapi meskipun berukuran kecil.


"Apa kamu yakin akan tidur disini sayang? Kamar ini kelihatannya yang paling kecil dari kamar yang lain."


"Iya, kamar ini memang seperti dibuat hanya untuk satu orang saja."


"Hmm bagaimana kalau kamu tidur di kamarku?"


"Maksudmu tidur bersama?"


Sonia pun mengangguk sedikit malu-malu. Namun hal itu seketika membuat Nio mendengus dan tersenyum tipis.


"Jangan, aku tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi, biar bagaimana pun aku ini lelaki normal."

__ADS_1


Mendengar hal itu Sonia pun ikut mendengus pelan.


"Haiss, kamu berbicara seperti itu seperti kita belum pernah melakukannya saja."


"Sonia, tolong jangan mengungkit masa lalu kita, kupikir kamu sudah melupakan hal itu."


"Hmm iya, iyaa maaf sayang." Sonia pun langsung memeluk tubuh Nio begit saja.


"Ok, dimaafkan!" Jawab Nio singkat.


Sonia pun akhirnya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang,," Panggil Sonia secara lembut.


"Hmm??"


"Apa kamu sudah mencintaiku??" Tanya Sonia secara tiba-tiba.


"Ke,, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Tolong jawab saja!"


"Aku terus berusaha untuk mencintaimu Sonia, jadi tenanglah! Lagi pula sejauh ini aku setia padamu, bukankah itu cukup??"


"Masih berusaha?? Berarti belum?!" Tanya Sonia lagi yang nampak sedikit lesu.


Sonia pun hanya bisa menghela nafas panjang, lalu membalas tatapan Nio dengan lesu,


"Kamu sungguh ingin terus mencobanya?"


Nio pun mengangguk.


"Kalau begitu buktikan!!" Ucap Sonia.


"Buktikan???" Nio pun mengerutkan dahinya.


"Ya! Tolong buktikan! Setidaknya biar aku merasa agar usahaku selama ini tidak sia-sia dalam meyakinkanmu kalau aku sungguh sudah berubah."


"Caranya?!" Tanya Nio.


"Cium aku!!" Pinta Sonia tanpa ragu.


Nio pun seketika menelan ludahnya.


"So,, sonia,, ak,, aku..."

__ADS_1


"Aku hanya meminta sebuah ciuman, tidak lebih." Tegas Sonia.


Kali ini gantian Nio yang menghela nafas berat.


"Kamu sungguh ingin aku membuktikannya??"


Sonia pun mengangguk penuh keyakinan.


Mau tak mau, sebagai seorang lelaki yang merasa tertantang dan diminta untuk membuktikan ucapannya, Nio pun akhirnya perlahan mulai mendekati wajah Sonia, menatapnya begitu lekat, sangat dalam, hingga entah bagaimana bisa terjadi, tiba-tiba saja wajah Sonia mendadak seolah berubah menjadi wajah Rena yang kala itu tengah tersenyum manis menatap Nio,


"Ka,, kamu??!" Ucap Nio dengan suara pelan sembari perlahan mulai menyentuh sebelah pipi wanita yang kala itu di anggapnya sebagai Rena.


"Sentuhlah aku Nio, aku sangat merindukanmu." Ucap Rena di dalam halusinasi Nio yang kala itu sebenarnya juga sangat merindukan Rena.


Perasaan Nio pada Rena seolah takkan pernah bisa padam, hal itu terbukti dari seberapa keras usahanya dalam menghindari Rena, seberapa sering ia menghabiskan waktu bersama Sonia, namun tetap saja Rena masih sering menghiasi isi kepala dan juga lubuk hatinya terdalam.


Nio pun semakin tidak ragu untuk terus mendekat pada Sonia, lalu akhirnya mulai mencium bibirnya. Kedua mata Sonia sontak terpejam dan langsung membalas ciuman Nio yang kala itu juga mulai memejamkan matanya. Tanpa sadar, sebelah tanga Nio mulai melingkar di pinggang rampingnya, sedangkan sebelah tangannya lagi masih terus mengusap-usap lembut pipinya.


Seolah masih merasa jika saat itu Rena lah yang tengah ia cumbu, Nio pun terus memainkan bibirnya, mengisap bibir bagia bawah serta atasnya secara bergantian, lalu mulai menjelajahi rongga mulut Sonia dengan lidahnya yang terasa bergerak begitu liar.


Sonia tentu begitu menikmati hal itu, hingga tanpa ragu ia mulai menarik tubuh Nio dan ia pun langsung berbaring di atas ranjang itu. Nio yang masih memejamkan matanya, terus saja mencumbunya, beralih menuju leher mulusnya dan mulai membasahinya dengan penuh perasaan. Sonia pun mulai melenguh sembari tersenyum di sela-sela rasa nikmat yang sudah lama ia rindukan dari seorang Antonio.


Seolah tidak ingin membuang waktu, Sonia dengan cepat langsung membuka satu persatu kancing kemeja yang tengah ia pakai sehingga mulai menampilkan bra berwarna maroon yang tengah menutupi gundukan daging miliknya.


"Sentuh aku Nio. Aku merindukan sentuhanmu." Ucap Sonia di sela-sela lenguhannya.


Nio yang mendengarnya mulai tersenyum dan ingin kembali mencium bibir Rena. Namun apa yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan, Nio yang tak sengaja memandang kembali wajah wanita yang tengah dicumbunya sudah beruba menjadi wajah Sonia, sontak dibuat terkejut dan langsung menghentikan seketika aksinya.


"Sonia apa yang kamu lakukan?! To,, tolong pakai kembali bajumu."


Sonia pun terdiam sejenak dengan tatapan sedikit bingung.


"Nio apa yang terjadi??"


"Sonia, tolong pakai kembali bajumu!" Pinta Nio lagi masih secara halus.


"Ku,, kupikir kamu sudah setuju untuk kembali melakukannya."


Nio pun sontak mengusap kasar wajahnya, ia pun seketika langsung bangkit dari duduknya dan langsung beranjak pergi meninggalkan Sonia yang saat itu masih terlihat tengah bertelanjang dada di kamarnya.


"Maaf Sonia, ak,, aku ingin keluar sebentar, tolong segera pakai bajumu!" Ucapnya yang kemudian langsung keluar dari kamarnya begitu saja.


Hal itu pun seketika membuat Sonia menggeram kesal dan langsung memukulkan kasar kedua tangannya ke tempat tidur.


"Hihh!!! Benar-benar menyebalkan!!" Gerutu Sonia yang merasa kesal karena hasratnya yang sudah terlanjur bergejolak harus tertahan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2