
Nio akhirnya berangkat ke kantor, sedangkan Zayden juga ikut pergi berkeliling kota, untuk mengenang masa-masa dulu. Zayden kembali berkunjung ke restoran milik Rena, tapi sayangnya saat itu Rena sedang tidak berada disana. Untungnya, saat itu manajer restoran sedang ada di dekat kasir, sehingga Zayden bisa meminta nomor Rena pada sang manajer agar ia tidak kehilangan komunikasi lagi dengan adik semata wayangnya itu.
Namun sayangnya, saat itu nomor Rena selalu saja sibuk saat ia mencoba menghubunginya, hingga membuat Zayden harus menunda untuk menemui adiknya itu.
Ke esokan harinya...
Ini adalah hari terakhir bagi Zayden berada di kota itu, karena siangnya ia akan kembali terbang menuju China, untuk bertemu calon istri serta menyiapkan segalanya untuk pernikahan mereka.
Pagi itu juga Nio tidak bisa melewatkan meetingnya bersama klien, namun ia juga sudah berjanji untuk mengantar Zayden ke bandara saat jam makan siang.
Tak ingin membuang banyak waktu, Zayden kembali menghubungi Rena.
"Halo?"
"Na,,"
"Zay? Ini kau??"
"Iya, ini aku! Kamu dimana Na?"
"Aku?? Aku masih di apartementku, kau dimana? Apa kau datang ke resto semalam?"
"Iya aku datang tapi kamu tidak ada, nomormu juga sibuk."
"Owh iya maafkan aku, aku memang sangat sibuk semalam,"
"It's ok tidak apa, tapi aku mau bertemu denganmu sekarang."
"Sekarang?"
"Iya!"
"Owh, kalau begitu datanglah ke apartementku, akan ku kirim alamatnya."
"Ok! Aku kesana, tolong kirim alamatnya sekarang!"
"Ok."
Beberapa puluh menit kemudian...
*Tingtong*
Bunyi suara bel pun terdengar nyaring, Rena yang kala itu tengah terduduk menikmati secangkir teh, bergegas bangkit dari duduknya dan langsung melangkah menuju pintu. Sesuai dugaan, orang yang datang adalah Zayden, dan Rena pun langsung membuka pintunya.
"Zay, masuklah." Sambut Rena.
"Terima kasih." Zayden pun tersenyum singkat lalu perlahan mulai masuk ke dalam unit milik Rena.
"Duduklah, kau mau minum apa? Teh atau kopi?" Tawar Rena yang nampak langsung melangkah menuju dapurnya.
"Teh boleh, tapi kopi lebih baik."
"Oh begitu? Tapi bagaimana dengan susu? Apa kau mau?"
Zayden pun seketika tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, buatkan aku minuman apa saja, maka aku akan meminumnya."
"Hmm ok." Rena pun akhirnya tersenyum.
Beberapa menit berlalu, Rena pun datang dengan sudah membawa secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja.
"Zay, berapa lama kau disini? Bagaimana kalau kau tidur disini saja? Disini ada dua kamar."
"Owh tidak Na, sebenarnya kedatanganku pagi-pagi kesini juga karena ingin memberitahumu, kalau siang ini aku sudah harus kembali pergi."
"Hah, benarkah??!! Kau akan kembali ke Qatar secepat ini?"
"Owh tidak, bukan ke Qatar." Zayden pun menggeleng singkat.
"Lalu kemana??" Rena pun nampak mengerutkan dahinya.
Zayden pun nampak kembali tersenyum, lalu mulai meraih tas yang ia bawa,
"Sebentar!" Ucapnya pelan sembari mulai membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah undangan dari dalamnya.
"Ini, untukmu." Ucapnya yang kemudian langsung menyerahkan undangan itu pada Rena.
"Apa ini?" Tanya Rena yang nampak bingung kala menerima sebuah amplop berbentuk persegi berwarna hitam itu.
"Buka saja!"
Rena pun membukanya, dan sama halnya dengan Nio, Rena pun nampak begitu terkejut saat mengetahui jika itu adalah undangan pernikahan sang kakak.
"Ka,,, kau??? Kau akan me,, menikah??!" Tanya Rena yang nampak begitu membulatkan kedua matanya.
Zayden pun mengangguk pelan sembari tersenyum tenang.
"Entahlah, jangan tanyakan hal itu padaku, karena aku tentu tidak tau alasannya."
Zayden pun terdiam, begitu pula dengan Rena yang juga diam sembari kembali memandangi surat undangan itu.
"Shanghai?? Kamu akan menikah disana??" Tanya Rena lagi.
Zayden pun kembali mengangguk.
"Dia asal China? Ba,, bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Dia wisatawan yang kebetulan menginap di hotel yang dimana restoran tempatku bekerja juga ada di hotel yang sama. Selama menginap di hotel itu, dia sering makan di restoran itu dan dia bilang sangat menyukai hasil masakanku, disitulah awal mulanya kami bertemu dan mulai dekat."
"Owhh," Rena pun mengangguk sembari akhirnya tersenyum haru.
"Selamat Zayden, akhirnya kamu bisa menemukan tambatan hati, aku benar-benar tidak menyangka, kembali bertemu denganmu membuatku sangat terkejut, namun lebih terkejut lagi saat menerima surat undangan ini."
"Aku berharap kamu bisa datang Na, kamulah satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini."
"Kamu serius acaranya minggu depan??" Tanya Rena yang kembali nampak terkejut setelah melihat kembali tanggal pernikahannya.
"Iya."
"Haaissh, Minggu ini adalah waktu dimana jadwalku sedang padat-padatnya." Keluh Rena.
__ADS_1
"Tolong luangkan waktumu demi aku, hanya kamu keluarga yang tersisa, aku berharap kamu bisa mendampingiku juga."
Rena pun terdiam sejenak.
"Hmm tapi bagaimana kalau aku hanya bisa datang ketika hari H?"
"Tidak bisa sehari sebelumnya??"
"Hmm akan aku usahakan." Jawab Rena akhirnya.
"Sungguh?" Kedua mata Zayden pun nampak membesar.
"Iya, akan aku usahakan."
"Tolong datang, ini moment penting bagiku."
"Iya, aku akan datang tapi tidak janji bisa datang sehari sebelum hari H, tapi aku akan tetap usahakan."
"Terima kasih banyak Na." Zayden pun seketika langsung memeluk tubuh mungil adiknya.
Rena dengan rasa haru pun tentu saja membalas pelukan Zayden, dengan kedua mata yang nampak sedikit berkaca.
"Oh ya, kamu bisa datang bersama pasanganmu. Aku ingin mengenalnya." Ucap Zayden sembari melepaskan tautan tubuh mereka.
"Pasangan??"
Zayden pun mengangguk, namun hal itu sontak membuat Rena mendengus pelan.
"Ak,, aku,, aku single!" Ucap Rena dengan raut wajah yang mendadak nampak sendu.
"Single?? Oh tidak mungkin,"
"Aku serius!!"
"Bagaimana bisa adikku yang memiliki wajah secantik ini tidak memiliki pasangan?" Tanya Zayden.
Rena pun hanya terdiam sembari menampilkan senyuman lirih. Zayden tentu saja tidak tau ada banyak hal yang sudah terjadi pada kehidupan adiknya itu, termasuk dengan Rena yang sudah menikah dua kali.
"Sendiri memang lebih baik untuk saat ini." Ucapnya pelan sembari kembali meraih gelas tehnya dan memilih untuk meneguk kembali tehnya yang mulai dingin.
Beberapa jam berlalu dengan banyak perbincangan ringan di antara kakak beradik itu, meskipun sejauh itu Rena masih belum juga menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya.
"Oh nampaknya aku harus pergi sekarang, pesawatku akan terbang dalam waktu 3 jam lagi, jadi aku harus bersiap."
"Oh ya? Hais tapi dua jam lagi aku harus menemui rekan kerjaku."
"Tidak apa-apa, kita sudah bertemu sekarang, jadi tidak masalah."
"Tapi siapa yang mengantarmu ke bandara?"
"Temanmu?? Siapa temanmu itu?"
"Nanti, aku akan mengenalkannya padamu jika kamu benar-benar bisa datang ke acara pernikahanku."
"Hmm baiklah, tenang saja aku akan datang."
__ADS_1
"Ok, aku akan menunggu saat itu."
...Bersambung......